Chapter 56
"Kulihat mata kalian telah berselingkuh," kata Argalanang sambil tetap menatap lurus ke arah panggung terbuka.
"Hanya sedikit bersedekah mata agar tidak mengantuk," balas Lawe sambil mencolek pinggang Argalanang.
Gong! Sebuah bende berbunyi, menandakan pertandingan akan segera dimulai. Pranjaya terlihat naik ke panggung. Ragasuci pun menyusul naik. Seorang penengah, seperti biasa, menyampaikan beberapa aturan yang mengikat di atas panggung pertandingan itu.
Gong!
"Hati-hati, sekarang aku tidak bersandiwara lagi," ujar Ragasuci seraya bersiap melakukan serangan.
"Aku telah siap," sahut Pranjaya sambil menyunggingkan senyuman.
Maka terjadilah pertempuran seru antara Pranjaya dan Ragasuci. Mereka bertarung laksana dua ekor harimau yang saling menerkam dan menerjang.
"Luar biasa, tiga hari yang lalu seranganmu tidak secepat ini," puji Ragasuci sambil menghindar dari tendangan beruntun yang dilancarkan Pranjaya.
"Jangan memuji, nanti aku bisa lupa daratan," balas Pranjaya kembali melancarkan serangan dengan pukulan bertubi-tubi.
Demikianlah mereka bertarung dengan sengit. Seratus jurus telah berlalu, namun tidak terlihat ada yang surut tenaganya. Bahkan, semakin lama tenaga yang dikeluarkan semakin dahsyat; mereka telah mengerahkan kemampuan di luar batas fisik.
Wut! Sebuah sambaran tangan dari Pranjaya yang penuh tenaga meleset tipis dari kepala Ragasuci, yang dengan cepat mengelak dan langsung membalas dengan tendangan melingkar.
"Kecepatan dan tenaga mereka seimbang," komentar Raden Wijaya yang menyaksikan pertempuran itu tanpa berkedip sedikit pun.
"Tapi Ragasuci punya banyak muslihat," timpal Mahesa Amping yang ikut menilai pertempuran.
"Muslihat apa yang dilakukan Ragasuci?" tanya Lawe, terusik oleh penilaian Mahesa Amping.
"Pranjaya sudah terpancing jebakan Ragasuci. Ragasuci sengaja menunggu tenaga Pranjaya terkuras," jelas Mahesa Amping.
Apa yang dikatakan Mahesa Amping memang tidak meleset. Di dalam pertempuran itu, Ragasuci sengaja lebih banyak bertahan agar tenaga lawannya cepat habis. Akhirnya, saat yang ditunggu pun tiba; Pranjaya tampak bermandikan keringat.
"Tahan seranganku!" seru Ragasuci yang telah memperhitungkan segala gerakannya. Dengan perhitungan yang tepat mengenai langkah Pranjaya, sebuah tamparan cepat menggunakan punggung tangan berhasil menghantam dada lawannya.
Plak! Pranjaya terhuyung akibat tamparan Ragasuci yang dilambari tenaga kuat. Ragasuci tidak mengejar, ia membiarkan Pranjaya berdiri tegak untuk mengambil napas dan mengatur kembali kuda-kudanya.
Aum! Terdengar geraman harimau besar dari tenggorokan Pranjaya. Itulah tanda bahwa ia telah mengeluarkan ilmu pusaka "Harimau Marah Menggulung Prahara". Ragasuci menjadi lebih berhati-hati; ia diam-diam mengendapkan nalar budinya, mengerahkan kekuatan tersembunyi dengan ilmu simpanannya, "Harimau Sakti Melindungi Patung Budha".
Siapapun yang menyaksikan dua ilmu pusaka itu seolah tidak mampu berkedip. Pranjaya menyerang begitu ganas seperti badai prahara, sementara Ragasuci tetap tenang dan tidak pernah keluar dari lingkaran langkahnya.
"Ketika berlatih denganku, aku berlindung di balik kecepatanku," ujar Raden Wijaya yang pernah merasakan jurus pusaka Pranjaya.
"Sementara Ragasuci berlindung di balik ilmu langkahnya yang indah," sahut Mahesa Amping yang kagum dengan gerakan Ragasuci yang terpusat dalam satu lingkaran bertahan. Sebuah jurus bertahan yang baru kali ini dilihatnya selama pengembaraan.
Di tengah pertarungan yang mendebarkan, sepasang mata jelita milik Dara Jingga diam-diam mencuri pandang ke arah Mahesa Amping. "Akhirnya aku dapat melihat pemuda gagah itu lebih jelas," bisik Dara Jingga kepada kakaknya, Dara Petak.
"Hus!" hanya itu tanggapan Dara Petak sambil meletakkan telunjuk di bibirnya.
Napas Pranjaya mulai memburu. Ragasuci, yang merupakan murid dari Prabu Darmasiksa—seorang Resiguru yang sedang mengasingkan diri—terlihat lebih berpengalaman. Setelah sabar bertahan dengan langkah ajaibnya, Ragasuci mulai melancarkan serangan balasan.
Des! Sebuah tendangan telak menerobos pertahanan Pranjaya hingga ia terlempar ke pinggir panggung. Ragasuci yang ingin segera menyelesaikan pertandingan melompat mendekati Pranjaya.
Buk! Sekali lagi, sebuah pukulan keras masuk telak menghantam perut Pranjaya yang masih goyah. Pranjaya pun terlempar keluar panggung. Gemuruh suara penonton pecah menyaksikan akhir dari pertempuran tersebut.
Pranjaya bangkit dan naik kembali ke atas panggung. "Tuanku memang pantas mendapatkannya, aku mengaku kalah," katanya sambil menyalami Ragasuci.
"Aku juga senang bertanding dengan pemuda yang berbakat luar biasa sepertimu," jawab Ragasuci sambil memeluk erat Pranjaya. Sekali lagi penonton bergemuruh menyaksikan dua ksatria yang memiliki jiwa besar. Yang menang tidak merasa angkuh, yang kalah pun tidak merasa rendah diri.
Gong! Suara bende bergema di alun-alun istana. Sayembara memperebutkan putri raja telah berakhir.
"Aku mengundang kalian besok menghadiri upacara mandi damai," ujar Baginda Raja kepada Datuk Belang dan rombongannya yang berpamitan.
Sementara itu, sepasang mata indah kembali mencuri pandang. Kali ini, pencuri itu tertangkap basah. Dua pasang mata bertemu. Mahesa Amping memberikan senyuman, yang dibalas oleh Dara Jingga dengan senyuman penuh arti. Percik api asmara pun menyala.
Upacara mandi damai berlangsung meriah. Ritual ini menandakan calon pengantin telah sah menurut adat istiadat tanah Melayu. Setelah dimandikan dengan bunga, pengantin wanita harus bersembunyi di antara puluhan wanita tua yang didandani serupa, dan pengantin pria harus menemukan yang asli.
"Ragasuci akan cepat mendapatkan pengantinnya," ujar Mahesa Amping kepada Argalanang.
"Bagaimana kau begitu yakin?" tanya Argalanang heran.
"Ragasuci akan menggunakan penciumannya," jawab Mahesa Amping. Ternyata benar, Ragasuci dengan mudah menemukan Dara Puspa di antara para ninik mamak.
"Kamu memang serba tahu, tapi untuk yang satu ini ternyata kamu bodoh," celetuk Argalanang.
"Untuk hal apa?" tanya Mahesa Amping penasaran.
"Ada seorang dara jelita yang selalu mencuri pandang ke arahmu, dan saat ini dia masih memandangimu," bisik Argalanang.
Mahesa Amping menoleh dan mendapati sang dara jelita memang sedang menatapnya. Debar jantungnya makin keras ketika seorang dayang tua menghampirinya.
"Tuan putri mengundang Ki Sanak besok untuk menemaninya bermain layang-layang hias di tepi pantai," ucap dayang itu dengan hormat. "Anggukkan kepalamu sebagai tanda menerima undangan ini langsung kepada tuan putri."
Mahesa Amping memberikan anggukan kepala. Dara jelita itu membalas dengan senyuman yang tersembunyi di balik saputangan sutra jingga.
"Kebahagiaanku sepertinya menjadi sempurna, menemukan keponakanku di negeri orang," ujar Ragasuci saat menerima ucapan selamat dari Raden Wijaya.