Chapter 74
Belum lagi lepas rasa terkejutnya, sebuah tamparan keras langsung menghantam rahangnya. Akibatnya sudah dapat diterka, orang itu langsung limbung tersungkur ke tanah merasakan tamparan tangan Lawe yang sudah terlatih.
Sementara itu, lawan Raden Wijaya telah kembali melakukan serangannya dengan penuh rasa penasaran. Semua serangannya selalu dapat dihindarkan oleh Raden Wijaya dengan begitu mudahnya. Begitu melihat bahwa Lawe telah menyelesaikan permainannya, Raden Wijaya pun ikut ingin menyudahi permainannya.
Maka ketika sebuah serangan mengayun nyaris mengincar dadanya, dengan kecepatan yang tidak terduga dan tidak bisa diikuti oleh pandangan mata biasa, tiba-tiba saja golok itu telah berpindah tangan. Bukan main kagetnya orang itu, golok di tangannya telah berpindah tangan. Belum lagi lepas rasa terkejutnya, sebuah tendangan telah menghajar perutnya.
Bukk!
Orang itu meringsek menahan rasa sesak dan nyeri; isi perutnya terasa terbalik ingin muntah. Tiba-tiba saja senjata itu telah mengancam tuannya sendiri.
"Berikan kembali sekeping emas milikku," ujar Raden Wijaya sambil menempelkan golok tajam di atas kulit leher orang itu.
Gemetar orang itu membayangkan senjatanya yang ia sadari sangat tajam dan telah diwarangi dengan sedikit racun itu akan melukai dirinya sendiri. Maka, tanpa menunggu apa pun, orang itu segera mengeluarkan sekeping emas dan memberikannya kepada Raden Wijaya.
Ternyata apa yang terjadi di halaman telah disaksikan sepenuhnya oleh Juragan Susatpam dari atas pendapa rumah. Ia terkejut bahwa empat orang pengawalnya, yang selama ini diupah untuk menjaga dan melindunginya, telah dapat dikalahkan dengan begitu mudah. Dengan tubuh gemetar penuh rasa takut, dirinya seperti terpaku di tempat manakala Raden Wijaya, Sungut, dan Lawe datang menghampirinya. Apalagi dilihatnya Raden Wijaya masih menggenggam sebuah golok telanjang.
"Kami datang untuk membayar utang, kembalikan putri Paman ini," ujar Raden Wijaya ketika sudah mendekati Juragan Susatpam yang terlihat masih gemetar.
"Tidak ada utang lagi, ambillah apa yang kalian inginkan. Asal jangan menyakiti diriku," kata Juragan Susatpam yang ternyata punya nyali begitu kecil.
"Utang harus dibayar," kata Raden Wijaya sambil melempar sekeping emas di hadapan Juragan Susatpam.
Sementara itu, Sungut sudah tidak sabar lagi. Tahu apa yang harus dilakukannya, ia langsung masuk ke rumah itu untuk mengambil putrinya. Tidak lama berselang, Sungut telah keluar dari pintu rumah sambil menggandeng seorang gadis yang ternyata anaknya yang selama ini disekap di rumah Juragan Susatpam. Tidak bisa dipungkiri, anak gadis Sungut ternyata seorang gadis yang berwajah cukup jelita.
"Pantas Juragan Susatpam terpikat," ujar Raden Wijaya ketika sempat melirik anak gadis Sungut yang cantik jelita.
Namun, lirikan mata Raden Wijaya yang sekejap itu adalah sebuah malapetaka untuknya. Ternyata, waktu sekejap itu telah dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh Juragan Susatpam. Dengan cepat, tidak diduga, dan tidak diperhitungkan, ia melemparkan tiga buah taji beracun dari jarak yang begitu dekat ke tubuh Raden Wijaya.
Setinggi apa pun ilmu Raden Wijaya yang telah menguasai ilmu meringankan tubuh dan dapat bergerak dengan cepat, ia tidak mampu mengelak dari sasaran. Raden Wijaya bukan main terkejutnya; ia tidak menyangka ada serangan yang begitu cepat ke arahnya. Dua buah taji yang mengarah pada jantung, meski sempat dihindari, tetap saja menancap di bahunya.
Setelah melempar senjata rahasianya, terlihat Juragan Susatpam telah melenting jauh melompati pagar pendapa dan berdiri sambil tertawa keras, merasa serangannya telah mengenai sasaran.
"Kalian memang orang-orang bodoh yang mudah tertipu. Aku bukan orang lemah seperti yang kalian sangka. Racun kelabang lorengku segera akan mengambil nyawamu," ujar Juragan Susatpam sambil tertawa di tengah halaman rumahnya.
"Iblis keji!" teriak Lawe yang melihat semua itu, langsung melompat ke halaman menerjang Juragan Susatpam dengan penuh kebencian.
Ternyata Juragan Susatpam bukan orang lemah seperti yang diduga. Dengan sigap, ia dapat mengelak dan berhindar dari serangan Lawe yang telah mengeluarkan dua buah belati senjata andalannya. Juragan Susatpam bahkan dapat melakukan serangan balik yang tidak kalah keras dan berbahaya. Terlihat Juragan Susatpam telah menyerang Lawe dengan sebuah keris berlekuk sembilan yang cukup panjang. Pertempuran terlihat menegangkan dan sangat seru; Juragan Susatpam ternyata dapat mengimbangi ilmu Lawe.
Sementara itu, Raden Wijaya yang menyadari bahwa taji yang menancap di bahunya mengandung racun yang kuat langsung mencabut taji itu. Darah segar keluar dari bahunya. Raden Wijaya terlihat langsung duduk bersila sempurna, mengerahkan tenaga murninya untuk menahan menjalarnya racun yang telah menyusup di dalam aliran darahnya.
"Jangan khawatirkan diriku, lekaslah ke istana untuk menemui kawanku yang bernama Mahesa Amping," ujar Raden Wijaya. Ia tidak mengkhawatirkan dirinya, tetapi mengkhawatirkan Lawe yang tengah bertempur dengan Juragan Susatpam. Raden Wijaya, meski dalam keadaan terluka, masih dapat melihat bahwa tingkat ilmu Juragan Susatpam ternyata berada beberapa lapis di atas ilmu Lawe.
Dengan bimbang, terpaksa Sungut menuruti permintaan Raden Wijaya. Terlihat Sungut telah keluar dari gerbang halaman rumah Juragan Susatpam sambil menuntun anak gadisnya.
"Kembalilah ke rumah, aku akan segera ke istana," kata Sungut melepas anaknya pulang ke rumah, sementara ia sendiri telah melangkah setengah berlari menuju istana.
Ketika tiba di istana, sebagai seseorang yang pernah lama bekerja di sana, Sungut tidak banyak menemui kesulitan dan tahu ke mana harus bertanya. Kepada seorang pengawal, Sungut bercerita apa yang telah terjadi.
"Tamu Baginda Raja terkena racun, dan sekarang Paman ingin bertemu dengan kawannya yang bernama Mahesa Amping?" tanya pengawal itu menyimpulkan perkataan Sungut.
"Benar, itulah maksud kedatanganku," kata Sungut membenarkan.
"Mataku seperti tidak percaya melihat kau, Sungut, ada di istana ini," ujar seorang pengalasan yang ternyata mengenal Sungut, seseorang yang tampaknya sudah tua seumur Sungut sendiri.
"Kalian ternyata sudah saling mengenal, kebetulan sekali. Tolong kamu antar Paman ini," kata pengawal itu kepada orang yang telah mengenal Sungut, memintanya membantu mengantar ke pasanggrahan, tempat yang biasa seorang tamu agung beristirahat dan menginap selama di istana.
Heran sekali Mahesa Amping ketika melihat Sungut yang ia tahu tadi siang telah pergi bersama Lawe dan Raden Wijaya. Panggraitanya yang tajam sudah melihat bahwa sesuatu telah terjadi. Sungut pun dapat mengenali Mahesa Amping sebagai salah satu kawan Raden Wijaya.
"Apakah kamu yang bernama Mahesa Amping?" tanya Sungut mencoba meyakinkan dugaannya.
"Benar, aku Mahesa Amping," ujar Mahesa Amping dengan cepat.
Mengetahui bahwa orang yang akan ditemui adalah Mahesa Amping, Sungut pun langsung bercerita apa yang telah terjadi.
"Antar aku ke sana," ujar Mahesa Amping kepada Sungut.
Ketika mereka tengah mendekati pintu gerbang istana, seorang pengawal yang sebelumnya telah bertemu dengan Sungut menghampiri mereka.
"Kami akan mengirim beberapa prajurit," ujar pengawal itu.
"Terima kasih," kata Mahesa Amping tanpa berhenti dan terus berjalan setengah berlari keluar dari pintu gerbang istana.
Cerita tentang Raden Wijaya yang terluka terkena racun ternyata begitu cepat menjalar beritanya di istana hingga akhirnya sampai ke telinga Baginda Raja Ragasuci.
"Racun kelabang loreng?" ujar Ragasuci terkejut ketika mendapatkan laporan salah seorang perwiranya.
"Kami telah mengirim beberapa prajurit ke tempat kejadian," kata perwira itu.
"Kirim utusan dan pengawal ke Gunung Kahuripan, jemput Ayahandaku Gurusuci Darmasiksa. Hanya beliau yang dapat membuat penawar racun kelabang loreng," ujar Ragasuci memberi perintah.
"Hamba segera melaksanakan perintah," kata perwira itu berpamit diri.
"Katakan, yang terluka adalah cucunda tercinta, Sanggrama Wijaya," ujar Ragasuci kepada perwira itu menambahkan.
Gunung Kahuripan adalah nama lain dari Gunung Galunggung, tempat Gurusuci Darmasiksa mengasingkan diri dari keramaian, menjadi orang suci jauh dari kehidupan dunia. Jarak perjalanan dari istana Saunggaluh ke Gunung Galunggung hanya berkisar setengah hari berkuda. Ketika mendengar racun kelabang loreng, Ragasuci langsung teringat pada ayahnya yang juga gurunya, yang bukan saja menguasai ilmu kanuragan yang tinggi, namun juga menguasai ilmu pengobatan. Darmasiksa pernah bercerita kepadanya bahwa beliau ketika masih muda pernah berguru kepada seorang sakti yang ahli dalam bidang pengobatan. Guru Darmasiksa itu bergelar Tabib Pemberi Nyawa. Konon, begitu ahlinya ia, pernah menghidupkan orang yang sudah mati.
Kembali kepada Raden Wijaya yang tengah berusaha menahan racun kelabang loreng di dalam tubuhnya lewat taji Juragan Susatpam. Dengan kekuatan jiwa dan penguasaannya menyalurkan tenaga murni yang bersembunyi di dalam diri, Raden Wijaya telah dapat menahan racun agar tidak masuk lebih jauh lagi ke arah jantung. Raden Wijaya telah menutup beberapa jalan darah. Terlihat bahu kanannya sudah berwarna biru, tanda bahwa darah di sekitar bahu itu tertahan.
Sementara itu, Lawe tengah bertempur habis-habisan. Ternyata serangan Juragan Susatpam sangat berbahaya dan cukup membingungkan Lawe.
"Punya ilmu tanggung sudah berani mencampuri urusan orang lain," ujar Juragan Susatpam sambil memutar kerisnya ke arah Lawe.
Kembali Lawe bersiap dan menduga-duga ke mana arah keris itu menyerang. Karena sebelumnya, keris itu hampir merobek kakinya. Keris di tangan Juragan Susatpam memang nampak begitu aneh; dapat seketika berubah arah tanpa diduga dan ke arah yang tidak dapat disangka-sangka.