Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 127

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 127

Akhirnya mereka pun saling menyelamatkan diri masing-masing.

Ki Arya berkata, "Aku berharap kalian dapat beristirahat di Padepokan ini."

Empu Dangka menjawab, "Kami hanya pengembara tanpa tujuan. Dua tiga hari tidak masalah bagi kami," katanya sambil tersenyum memandang Mahesa Amping, seolah meminta persetujuan.

"Sebuah kenikmatan terhindar dari angin dan hujan selama dua tiga hari," sahut Mahesa Amping, sepertinya menyetujui.

Terdengar suara pintu berderit dari dalam. Seorang lelaki tua yang dikenal Mahesa Amping dan Empu Dangka muncul membawa beberapa hidangan.

"Silakan dinikmati hidangan malamnya, mumpung masih hangat," ujar Ki Arya Sidi mempersilakan tamunya.

Setelah menikmati hidangan, mereka mengisi malam dengan perbincangan. Banyak hal yang mereka bicarakan.

"Ternyata Empu Dangka adalah pemerhati masalah para penguasa pura saat ini," kata Ki Arya Sidi. "Aku pun berpendapat sama bahwa para penguasa pura umumnya telah keluar dari garis kekuasaan pendahulu mereka sebagai pelayan rohani."

"Bukankah Ki Arya Sidi adalah guru bagi para pangeran penguasa pura di Balidwipa ini?" tanya Mahesa Amping.

"Secara turun-temurun, para pangeran penguasa pura di Balidwipa ini menjadi sisya di Padepokan Panca Agni. Namun tahun ini, hanya pangeran dari Pura Pusering Jagad yang mengirimkan para pangerannya. Aku belum tahu apakah keberadaan Padepokan ini sudah mulai luntur dalam pandangan mereka," tutur Ki Arya Sidi.

"Jadi, hanya empat orang pangeran dari Pura Pusering Jagad yang ada di Padepokan Panca Agni ini?" ujar Mahesa Amping.

"Berapapun jumlahnya bukan masalah bagiku. Aku hanya mewarisi apa yang telah ayah dan buyutku lakukan, yaitu membina para pangeran penguasa pura, menjadi guru para sisya di Padepokan Panca Agni ini," kata Ki Arya Sidi.

Malam pun semakin larut di Padepokan Panca Agni. Angin semilir dingin menghembuskan kantuk yang mulai menggelayut. Ki Arya Sidi akhirnya memaklumi kedua tamunya yang terlihat memerlukan istirahat dan mempersilakan mereka masuk ke peraduan yang telah disediakan.

"Aku ini memang tuan rumah yang tidak tahu diri. Sudah tahu tamunya suntuk, masih diajak berbincang," ucap Ki Arya Sidi sambil tersenyum.

"Berbincang dengan Ki Arya Sidi memang mengasyikkan, tapi kantuk ini datang tanpa diundang," kata Empu Dangka sambil berdiri.

Malam berlalu dalam keheningan, sesekali diselingi suara angin mendayu-dayu di puncak Bukit Pejeng yang gundul. Terdengar pula suara burung tekukur jantan menjaga betinanya yang sedang mengerami dua butir telur. Itulah suasana malam di sekitar Padepokan Panca Agni yang sunyi, jauh dari keramaian.

Malam pun beranjak pergi, berganti pagi yang ditandai dengan pecahnya warna awan biru oleh sinar kuning terang di ufuk timur. Keindahan alam pagi, saat matahari masih di bawah cakrawala, membuat suasana begitu bening. Batang pohon, tanah, dan rumput terlihat jelas dalam nuansa kehijauannya.

Dalam suasana pagi yang indah itu, Mahesa Amping dan Empu Dangka terlihat duduk di pendapa Padepokan Panca Agni, menikmati suasana.

"Ternyata kalian sudah bangun mendahului aku," ujar Ki Arya Sidi yang baru saja datang dan bergabung di pendapa.

"Sang Maha Karsa telah menciptakan awal pagi sebagai keelokan wajah bumi, memberi mata ini memandang tak pernah jemu," tutur Empu Dangka.

"Aku iri dengan kehidupan kalian, setiap hari menikmati lukisan alam pagi yang berbeda di tempat dan waktu yang sama," kata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

"Ki Arya Sidi tanpa disadari telah melihat warna pagi yang berbeda ketika menerima para pangeran muda sebagai sisya pertama di Padepokan," ujar Empu Dangka.

"Apa yang Empu katakan memang dapat kurasakan. Ada keindahan yang kurasakan saat menerima para pangeran muda di padepokan ini," Ki Arya Sidi membenarkan perkataan Empu Dangka.

Sementara itu, matahari telah merayap naik, menerangi halaman Padepokan Panca Agni.

"Mari kita ke sanggar melihat para sisya berlatih," ajak Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

Ketika mereka tiba di sanggar, keempat sisya Padepokan Panca Agni terlihat sedang berlatih ketahanan tubuh dengan beberapa alat yang tersedia. Namun, melihat guru mereka datang bersama dua tamu yang sudah dikenalnya, mereka menghentikan latihan dan menghampiri.

Ki Arya Sidi memperkenalkan keempat siswanya kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka. "Mulai dari yang paling tua bernama Wayan Dewa Bayu, adik keduanya bernama Made Dewa Apah, adik ketiga bernama Nyoman Dewa Teja, dan adik terkecil bernama Ketut Dewa Akasa," kata Ki Arya Sidi.

"Namaku Mahesa Amping, dan ini Empu Dangka. Kita sudah bertemu beberapa hari yang lalu," ujar Mahesa Amping memperkenalkan diri kepada keempat sisya.

"Saudaraku Mahesa Amping ingin melihat kalian berlatih. Lakukanlah dari awal," kata Ki Arya Sidi kepada keempat siswanya.

Keempat sisya Padepokan Panca Agni mengambil tempat yang luas di dalam sanggar. Mereka secara bersamaan dan perlahan melakukan gerakan-gerakan jurus perguruan mereka.

"Sebuah jurus yang indah," kata Mahesa Amping melihat keempat sisya melakukan gerak jurus mereka. Yang dilihat Mahesa Amping adalah gerak awal. Gerak selanjutnya terlihat semakin cepat. Sebagai ahli kanuragan dengan daya tangkap luar biasa, Mahesa Amping sudah dapat menghafal setiap jurus yang dilihatnya.

Ketika keempat sisya selesai memperagakan semua jurus perguruan mereka, Mahesa Amping dengan penuh hormat meminta Ki Arya Sidi untuk memperlihatkan hasil rancangannya mengenai jurus yang baru saja diperagakan.

"Ijinkan aku yang bodoh ini memperlihatkan beberapa penyesuaian, mudah-mudahan berguna," ujar Mahesa Amping sambil melangkah ke tempat yang agak lapang.

Mahesa Amping melakukan gerakan jurus perguruan Panca Agni dengan perlahan. Ki Arya Sidi sangat tercengang melihat gerakan Mahesa Amping yang nyaris sempurna, tidak ada beda sedikit pun dari gerakan yang diperagakan para siswanya. Ki Arya Sidi semakin tercengang ketika memperhatikan lebih teliti lagi. Ternyata penyesuaian yang dikatakan Mahesa Amping memang benar-benar diperlihatkan.

"Terima kasih. Sebuah penyesuaian yang nyaris sempurna," kata Ki Arya Sidi penuh kegembiraan melihat beberapa bagian jurus perguruannya telah diubah menjadi begitu sempurna.

"Hanya sedikit penyesuaian," sahut Mahesa Amping yang telah menghentikan gerakannya.

"Dengan terpaksa aku meminta Saudaraku Mahesa Amping tinggal lebih lama sedikit di Padepokan Panca Agni," kata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping. "Untuk memberikan bimbingan langsung tentang penyesuaian jurus perguruan kami kepada para siswaku."

"Apa artinya sebuah waktu dan hari bagi seorang pengembara?" ujar Empu Dangka kepada Mahesa Amping. Mahesa Amping tersenyum mendengar perkataan Empu Dangka.

"Semoga tuan rumahnya tidak bosan menanggung dua orang pengembara," kata Mahesa Amping, disambut tawa oleh Ki Arya Sidi.

"Untuk dua orang pengembara seperti kalian, kami akan merasa gembira dapat menahan kalian agar tidak keluar dari gerbang Padepokan ini," ujar Ki Arya Sidi dengan gembira bahwa permintaannya untuk tinggal beberapa hari lebih lama sepertinya dapat dikabulkan.

Demikianlah, pada hari itu Mahesa Amping langsung membimbing keempat sisya Padepokan Panca Agni dengan beberapa jurus penyesuaian. Para sisya Padepokan Panca Agni adalah orang-orang yang cerdas. Mereka dengan mudah mengikuti bimbingan Mahesa Amping.

"Hanya perlu beberapa pengulangan, kalian akan terbiasa dengan beberapa bagian yang berubah," kata Mahesa Amping kepada para sisya yang dilihatnya telah dapat melaksanakan bimbingannya.

"Terima kasih. Kami akan berlatih terus," kata Wayan Dewa Bayu mewakili saudaranya.

"Bagus. Aku melihat kalian sangat berbakat," ujar Mahesa Amping.

Hari itu, Mahesa Amping, Empu Dangka, dan Ki Arya Sidi melihat para sisya berlatih dengan penuh semangat.

"Saatnya aku yang mulai berlatih," kata Ki Arya Sidi sambil maju beberapa langkah dan langsung melakukan gerakan jurus perguruannya. Sebagai seorang guru, Ki Arya Sidi terlihat sudah dapat langsung melakukan perubahan penyesuaian sebagaimana yang diperlihatkan oleh Mahesa Amping.

Seharian mereka berada di sanggar Padepokan Panca Agni berlatih jurus perguruan mereka yang telah disempurnakan oleh Mahesa Amping. Ketika matahari telah turun mendekati ufuk barat, barulah mereka keluar dari sanggar.

"Semangat Ki Arya Sidi ternyata masih membara," kata Mahesa Amping ketika mereka duduk di pendapa menghabiskan waktu senja.

"Kehadiran kamulah yang telah membangkitkan semangatku, terutama penyempurnaan jurus perguruan kami," ujar Ki Arya Sidi.

"Melihat kawanku Mahesa Amping yang selalu berbagi, aku jadi iri. Sekarang giliranku yang akan berbagi sedikit ilmu cambukku kepadamu," kata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment