Chapter 81
Kesempatan sedetik itu dipergunakan Mahesa Amping untuk menendang pinggul Ki Bancak yang terbuka.
Bukk!
Tubuh Ki Bancak terlempar jauh. Untungnya, Ki Bancak memiliki daya tahan yang kuat dan dapat menjaga keseimbangan tubuhnya dengan cara jatuh berguling di tanah.
Namun, ketika Ki Bancak telah berdiri tegak kembali, sorot mata Mahesa Amping telah menghancurkan batu besar di sebelahnya hingga luluh lantak menjadi debu halus.
Berdesir seluruh darah Ki Bancak membayangkan seandainya dirinyalah yang menjadi sasaran sorot mata itu.
"Cukup, aku menyerah kalah. Ganjalan di hatiku atas kekalahan dua orang muridku sudah hilang. Bahkan, aku mengucapkan terima kasih tak terhingga atas kemurahanmu yang tidak melumatkan dua orang muridku sebagaimana batu itu," kata Ki Bancak sambil mengibas-ngibaskan bagian tubuhnya dari debu halus batu yang hancur.
"Awalnya aku membawa kalian kemari untuk menambah pegangan dan bekal ilmu. Ternyata tidak ada lagi yang perlu ditambahkan. Aku yakin di masa mendatang kalian masih dapat berkembang jauh lebih sempurna lagi melebihi kesempurnaan yang baru saja kulihat," ujar Gurusuci Darmasiksa, bangga atas apa yang dilihatnya.
"Apakah kalian telah mencium sesuatu?" tanya Ki Bancak yang sepertinya tengah mencari sesuatu melalui indra penciumannya.
"Aku telah mencium sebuah aroma yang membangunkan cacing-cacing di perutku," sahut Lawe sambil memegang perutnya.
"Ternyata dibandingkan dua orang saudaramu, daya penciumanmu yang paling andal," kata Ki Bancak kepada Lawe.
"Coba tebak, aroma apa yang kamu rasakan?" tanya kembali Ki Bancak kepada Lawe.
"Seekor gurame panggang yang siap matang," jawab Lawe sambil tersenyum.
"Ternyata penciuman kita sama, aku pun telah merasakan yang sama," kata Ki Bancak sambil menepuk bahu Lawe.
"Ternyata penciuman kalian tuli. Hari ini aku meminta seorang cantrikku untuk menyajikan masakan pecak gabus. Untuk meyakinkan, mari kita segera ke pendapa," kata Gurusuci Darmasiksa sambil mempersilakan tamunya ke pendapa.
Ketenangan suasana puncak bukit padepokan yang teduh serta pemandangan yang begitu asri membuat mereka merasakan sebuah tamasya yang panjang. Keramahan dan keterbukaan sikap sepuluh cantrik di padepokan itu menambah suasana begitu mengesankan dalam keakraban. Mereka seperti berada di dalam sebuah keluarga. Tidak terasa hati mereka sudah terikat dalam kesetiaan layaknya saudara.
"Pintu padepokanku akan selalu terbuka untukmu, saudaraku," ucap Gurusuci Darmasiksa kepada Ki Bancak di regol pintu gerbang.
"Aku juga menanti kunjunganmu, saudaraku," balas Ki Bancak kepada Gurusuci Darmasiksa.
"Sampaikan salamku kepada Juragan Susatpam, semoga hukuman empat tahun menghadap dinding akan mengubah sikap dan perilakunya," kata Raden Wijaya yang ikut melepas kepergian Ki Bancak.
"Aku akan terus mengawasi dan membimbingnya, akan kusampaikan salammu, anak muda," jawab Ki Bancak kepada Raden Wijaya.
Tidak terasa sudah tiga pekan Raden Wijaya, Lawe, dan Mahesa Amping tinggal di Padepokan Gurusuci Darmasiksa. Lawe telah menggunakan waktu tiga pekan itu untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan dirinya di bawah bimbingan langsung Mahesa Amping; Raden Wijaya dan Gurusuci Darmasiksa pun kadang ikut memberikan bimbingan.
Lawe memang memiliki kecerdasan yang tinggi. Lewat pengalaman pahitnya dalam perkelahian dengan Juragan Susatpam, akhirnya Lawe dapat memperkaya gerakannya dengan unsur angin. Sebuah gerakan yang menitikberatkan pada perubahan-perubahan yang tidak lagi mengalir, tetapi kadang berubah arah secara tidak terduga.
"Kelak bila saatnya tiba, kamu juga akan mengenal apa yang dinamakan dengan unsur api dan unsur tanah," kata Mahesa Amping yang merasa bahwa Lawe sudah dapat mengenal unsur angin dengan sangat memuaskan.
Sementara itu dalam tiga pekan terakhir, Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah mendapatkan pengenalan yang lebih gamblang dalam ilmu kejiwaan. Ternyata pengembaraan rohani mereka yang berawal dari pemahaman atas rontal suci Empu Purwa di padepokan ini sepertinya telah dibawa ke tempat yang lebih jauh dan dalam. Gurusuci Darmasiksa telah membawa mereka ke samudra rohani yang begitu luas dan dalam. Mereka merasakan semakin masuk ke dalam, semakin banyak mengenal indahnya samudra rohani. Sebuah perjalanan yang tidak pernah terbatas ujung dan tidak pernah bertepi.
"Buih dan ombak adalah lautan. Manakala buih berkata 'akulah lautan', itulah sebuah kebodohan," kata Gurusuci Darmasiksa menyampaikan bimbingan rohaninya lewat bahasa seloka.
"Kemanunggalan rasa tidak membutakan dirinya. Pengakuan akan memenjarakan dirinya untuk sampai kepada yang dituju," kata Mahesa Amping membaca seloka Gurusuci Darmasiksa.
"Itulah awal pengenalan atas nama, sifat, dan perbuatan-Nya," ujar Gurusuci Darmasiksa.
"Semoga kami dapat mempusakainya," kata Raden Wijaya dan Mahesa Amping yang merasa dibawa ke dalam perjalanan rohani yang pernah mereka lewati. Namun, perjalanan kali ini bukan hanya sekadar lewat, tapi lebih bermakna dalam setiap jengkal langkah.
"Gusti yang Maha Pencipta telah membaguskan dirimu dengan lenggangmu ketika berjalan. Gusti yang Maha Hidup telah menentukan kapan saatnya kamu berkedip," tutur Gurusuci Darmasiksa kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.
"Petuah ini akan kami pusakai," sahut Mahesa Amping dan Raden Wijaya.
"Yang panjang jangan dipendekkan, yang pendek jangan dipanjangkan. Adakan yang ada, jangan mengadakan yang tiada," kata Gurusuci Darmasiksa. "Pandai-pandailah kalian bersembunyi di tempat terang, pandai-pandailah kalian bersembunyi di tengah kelapangan," kembali Gurusuci berkata sambil tersenyum menyampaikan kata-kata yang penuh makna.
"Semoga kami dapat mempusakainya," kata Raden Wijaya dan Mahesa Amping yang seperti orang dahaga di padang sahara mendapatkan seteguk minuman yang menyegarkan.
Tidak terasa sebulan sudah mereka di Padepokan Kahuripan. Bila saja tidak diingatkan oleh Lawe bahwa mereka masih mengemban tugas sebagai petugas sandi, mungkin Mahesa Amping dan Raden Wijaya akan enggan meninggalkan Padepokan Kahuripan. Akhirnya, dengan berat hati, mereka menyampaikan keinginan untuk berpamit diri.
"Sampaikan salam dan kerinduanku kepada ayahmu," kata Gurusuci Darmasiksa sambil memeluk Raden Wijaya penuh keharuan. "Doaku selalu menyertai kalian," lanjut Gurusuci Darmasiksa melepas kepergian mereka.
Terlihat tiga ekor kuda berjalan semakin menjauh diikuti pandangan mata Gurusuci Darmasiksa dan kesepuluh cantriknya. Ketiga ekor kuda itu pun akhirnya tidak terlihat lagi ketika memasuki jalan yang menurun.
Hari masih belum senja manakala Lawe, Mahesa Amping, dan Raden Wijaya telah sampai di Istana Saunggaluh.
"Ternyata kalian begitu kerasan hingga lupa untuk kembali," kata Ragasuci yang menyambut kedatangan mereka, yang tentunya bersama dengan tiga dara dari Tanah Melayu yang datang ke pasanggrahan di mana Lawe, Mahesa Amping, dan Raden Wijaya tengah beristirahat setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang.
Karena menjaga perasaan Dara Petak dan Dara Jingga, terpaksa mereka harus tinggal beberapa hari di Istana Saunggaluh. Akhirnya, setelah berlalu hampir sepekan, mereka dengan berat hati menyampaikan permintaan untuk berpamit diri kembali ke Tanah Singasari.
"Kapan kalian datang ke Tanah Melayu?" tanya Dara Petak mewakili Dara Jingga kepada Raden Wijaya dan Mahesa Amping.
"Kami berjanji akan datang, hanya tidak dapat memastikan kapan waktunya," kata Raden Wijaya mewakili sahabatnya, Mahesa Amping.
"Sebuah kebahagiaan mendapatkan kalian kembali," kata Dara Jingga, berusaha menahan segala gejolak perasaan di hatinya.
"Tetapkan hatimu pada ketentuan Gusti yang Maha Pencipta Alam Semesta," tutur Mahesa Amping kepada Dara Jingga.
"Di Tanah Singasari mungkin mereka tengah menunggu kami dengan perasaan penuh kekhawatiran," kata Raden Wijaya kepada Ragasuci yang dapat mengerti dan mengizinkan kepergian mereka.
Perpisahan memang sebuah kata yang mengharukan. Gejolak perasaan hati sepertinya dikacaukan oleh kekhawatiran untuk tidak berjumpa lagi. Tapi perpisahan memang harus terjadi. Terlihat tiga ekor kuda telah berjalan dalam naungan pagi yang cerah meninggalkan regol pintu Istana Saunggaluh, dibayangi dua pasang mata dan desah isak tangis tertahan.
Sepotong belahan hati sepertinya ikut terbawa bersama langkah kaki kuda yang berjalan rancak menapaki jalan tanah yang berbatu dan menghilang di sebuah tikungan. Jalan tanah itu memang masih begitu lengang. Cahaya matahari yang hangat membayangi wajah-wajah mereka. Angin semilir dan bau tanah hutan basah di sepanjang langkah mereka telah membebaskan kembali ingatan mereka akan kemerdekaan seorang pengembara sejati.
Entah siapa yang memulai, langkah kaki kuda sepertinya terhentak berlari memacu diri menembus kibasan angin. Tiga ekor kuda sepertinya saling berpacu menembus batas waktu. Tiga pengembara telah kembali membelah padang pengembaraannya seperti tiga ekor elang mengarungi belantara jagat raya, melayang membelah cakrawala yang luas dalam kemerdekaan dan kebebasan yang bersahaja.
Akhirnya di batas senja, mereka telah sampai di Bandar Muara Jati. Seorang syahbandar yang mereka kenal telah membawa mereka bertemu dengan seorang juragan besar yang akan berangkat berlayar menuju Churabaya. Senja itu sebuah jung besar perlahan meninggalkan Bandar Muara Jati. Layar pun tertiup angin menyusuri tepian senja, membawa tiga pengembara: Lawe, Mahesa Amping, dan Raden Wijaya.
Tidak ada peristiwa apa pun ketika mereka berlayar menuju Bandar Churabaya selain keramahan juragan besar yang telah memberikan mereka tumpangan.
"Apakah kalian tidak ada keinginan untuk turun menghabiskan sisa malam?" tanya juragan besar itu ketika jung mereka telah bersandar di sebuah bandar kecil yang tidak bernama.
"Terima kasih, biarlah kami berjaga di jung ini," jawab Mahesa Amping sambil melambaikan tangannya kepada juragan itu dan juga kepada beberapa awak yang ikut turun.