Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 40

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 40

Di Bandar Cangu, kesibukan baru tampak nyata. Selain pembuatan Jung besar yang hampir rampung, sebuah benteng baru dibangun bersebelahan dengan galangan. Benteng ini akan menjadi pusat pelatihan bagi pasukan khusus yang kelak menjadi pengawal Jung besar. Setiap hari, jalur Sungai Brantas yang melewati Bandar Cangu dipenuhi kesibukan luar biasa. Jung besar berdiri gagah di galangan, diapit para pekerja dari suku air. Sementara itu, benteng baru yang megah mulai berdiri kokoh. Kedua bangunan tersebut, meski belum sempurna, terlihat seperti raksasa yang menjaga tepian Sungai Brantas.

"Impian Sri Maharaja tentang kerajaan air akan segera terwujud," ujar Kebo Arema kepada Mahesa Pukat dan Kertanegara suatu malam di Pendapa Benteng Cangu. Kertanegara menimpali, "Aku pun tak sabar berdiri di atas Jung besar itu mengarungi lautan." Mahesa Pukat menambahkan, "Semoga tidak ada lagi yang mengganggu." Kertanegara yakin, setelah tindakan Raden Wijaya bersama Lawe dan Mahesa Amping, musuh akan jera.

Mahesa Pukat kemudian bertanya mengenai pandangan Kertanegara tentang singgasana kosong di Kediri. "Jayakatwang melihat Kediri sebagai pintu gerbang, bukan tujuan akhir," jawab Kertanegara. Kebo Arema menimpali, "Artinya, bara yang akan berkobar di Tanah Gelang-gelang akan padam dengan sendirinya jika Kediri berada dalam genggaman tangan kita." Mahesa Pukat berharap Sri Maharaja dapat segera membaca perkembangan di Tanah Gelang-gelang. Kertanegara menambahkan, "Ayahanda harus segera menyadarinya sebelum terlambat." Kebo Arema mengusulkan, "Besok kita ke Kutaraja. Selain melaporkan perkembangan pembangunan Jung, kita juga akan menyampaikan beberapa hal mengenai Tanah Gelang-gelang."

Keesokan harinya, Kebo Arema dan Kertanegara berangkat ke Kutaraja. "Kutitipkan sementara pembangunan di Bandar Cangu ini, dua tiga hari," pesan Kebo Arema kepada Mahesa Pukat sebelum mereka meninggalkan Benteng Cangu.

Siang itu cuaca cerah. Jalan antara Bandar Cangu dan Kutaraja ramai dilalui pedati saudagar. Berbagai padukuhan dan pasar kecil tumbuh di sepanjang jalan, menjadi tempat persinggahan yang meramaikan suasana. "Sebuah perjalanan yang menyenangkan," ujar Kertanegara kepada Kebo Arema saat keluar dari sebuah kedai di tengah perjalanan. Kebo Arema berharap, "Semoga apa yang kita lihat dan rasakan juga menyelimuti seluruh bumi Singasari." Kertanegara menimpali, "Sayangnya, masih ada orang yang tidak menyukai kedamaian bumi Singasari."

Kebo Arema teringat pesan Empu Dangka tentang Putra Mahkota Raja Angkara. Kertanegara menjawab, "Kecil menjadi teman, besar menjadi musuh," mengingat perkataan gurunya tentang hakikat nafsu yang digambarkan sebagai Sang Putra Mahkota Raja Angkara. Kebo Arema menambahkan, "Alam alit adalah cermin untuk melihat alam besar di jagat raya, dan kita dilahirkan sebagai ksatria dititipkan menjaganya dalam damai."

Menyadari matahari yang telah bergeser ke barat, Kebo Arema menepuk kudanya agar berjalan lebih cepat. Mereka tiba di Kutaraja saat senja, disambut oleh suasana bening yang mengingatkan pada tatapan Padmita. "Sri Maharaja meminta aku mengunjunginya," kata Kebo Arema kepada Pangeran Kertanegara, memohon diri untuk menemui Sri Maharaja. Kertanegara mengingatkan, "Jangan tidur di gardu ronda."

Kebo Arema diantar seorang pengawal raja menyusuri lorong taman menuju bangsal istana. Ia berpapasan dengan seorang prajurit pengawal istana yang menanyakan kedatangannya. "Di saat senja, nanti aku mampir di gardumu," jawab Kebo Arema, yang mengenal prajurit itu.

Sesampainya di bangsal istana, Sri Maharaja menyambut Kebo Arema. "Selamat datang, sahabatku raja lautan," sapanya. "Semoga kesejahteraan selalu meliputi sahabatku, penguasa bumi," balas Kebo Arema dengan penuh persahabatan.

Setelah menyampaikan kabar keselamatan masing-masing, Sri Maharaja banyak bertanya mengenai pembangunan Jung besar. Ia ternyata telah mengetahui banyak dari petugas sandinya mengenai kejadian di Bandar Cangu, termasuk peristiwa pembakaran galangan. "Aku memang telah banyak mendengar dan mengetahui, aku hanya ingin mendengar pandanganmu mengenai beberapa peristiwa itu," ujar Sri Maharaja. Kebo Arema menjawab dengan peribahasa, "Ada asap ada api, apakah merasakannya?" Sri Maharaja mengungkapkan kesulitannya, "Aku ada di antara api itu. Bagaimana aku dapat melihatnya bila aku sendiri berada di dalamnya."

Sri Maharaja mengharapkan pandangan Kebo Arema. "Menurut hamba, selama tuanku masih hidup, bara itu tidak akan menjadi besar," kata Kebo Arema. Sri Maharaja bertanya, "Apa yang dapat aku lakukan agar bara itu tidak menghanguskan bumi Singasari setelah ketiadaanku?" Kebo Arema memberikan saran, "Jangan berikan singgasana Kediri kepada siapapun, kecuali kepada orang sendiri yang dapat diyakini kesetiaannya."

Sri Maharaja, seolah telah menangkap maksud Kebo Arema, tersenyum dan meminta sebuah nama. Kebo Arema menyadari dirinya terperangkap dan berkata, "Hamba menyerah, ternyata tuanku telah menjebak hamba." Sri Maharaja menjelaskan, "Ternyata pandanganku telah engkau katakan dengan sebenarnya, aku tidak bermaksud menjebakmu, hanya sekadar meyakinkan apakah pandanganku masih ada dalam ketidakberpihakan." Kebo Arema mencoba menggali lebih jauh, "Jadi, hamba tidak perlu menyebut sebuah nama?" Sri Maharaja tersenyum dan berkata, "Biarlah untuk sampai saat ini kita tidak usah menyebut sebuah nama, simpanlah nama itu untuk sampai saatnya tiba."

Malam merayapi cakrawala saat Kebo Arema pamit dan meninggalkan Bangsal Istana. Ia tidak kembali ke biliknya, melainkan singgah di sebuah gardu jaga untuk menemui beberapa prajurit pengawal yang akrab dengannya. "Bolehkah aku, si pengelana tua yang dahaga, turut menikmati hangatnya wedang jahe di malam sedingin ini?" sapanya. Seorang prajurit menimpali, "Tentu saja, bila dibayar dengan sebuah cerita tentang para dara cantik di Tanah Melayu yang menari menyambut para tamu asing di rumah tuak." Kebo Arema, yang biasa bercerita tentang petualangannya di tanah seberang, pun melanjutkan kebiasaannya.

Pagi menjelang, Kebo Arema masih terlihat berada di gardu jaga. Seorang bibi tua dayang pengasuh bangsal pangeran terpaksa membangunkannya karena Pangeran Kertanegara telah menunggunya untuk sarapan. Sesuai janji kepada Mahesa Pukat, Kebo Arema dan Pangeran Kertanegara kembali ke Bandar Cangu setelah tiga hari di Kutaraja. Pikiran dan hati mereka seolah terpaut dengan Jung besar di tepian Sungai Brantas.

Pagi itu, dua ekor kuda keluar dari gerbang kota. Kebo Arema dan Pangeran Kertanegara kembali ke Bandar Cangu, meninggalkan bumi Kutaraja yang berbukit dan sejuk.

Pada saat yang sama, jauh dari Kutaraja, tiga ekor kuda keluar dari sebuah hutan kecil. Mereka adalah Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya. Mereka baru saja memohon doa restu kepada Ketua Padepokan Bajra, Mahesa Murti, untuk membantu terwujudnya pasukan baru pengawal Jung besar di Bandar Cangu. Mahesa Murti merasa bangga murid padepokannya dapat berguna dan dibutuhkan. Ia berpesan, "Berjanjilah untuk menjaga nama baik Padepokan Bajra Seta," sebelum melepas keberangkatan mereka.

Matahari siang terhalang awan, padang ilalang terasa teduh. Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya memacu kuda mereka, menikmati angin segar di lereng pegunungan dan keramahan warga padukuhan sepanjang jalan. Mereka bagai tiga elang muda terbang dalam kebebasan.

Sementara itu, pembangunan barak prajurit di dekat galangan hampir selesai. Pembangunan ini melibatkan banyak orang, terutama para prajurit Benteng Cangu yang dikerahkan oleh Senapati Mahesa Pukat, sehingga barak besar itu rampung lebih cepat dari perkiraan. "Terima kasih telah mewakili kami mengawasi pembangunan barak dan Jung," ujar Kebo Arema kepada Mahesa Pukat saat tiba di Bandar Cangu dan melihat langsung pembangunan barak serta Jung setelah beberapa hari ditinggalkannya bersama Pangeran Kertanegara.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment