Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 173

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 173

"Pak tua, sebaiknya kamu keluar dari rombongan ini," kata Jero Mangku Sanga kepada Ki Amararaja.

Maka terlihat Ki Amararaja keluar dan memisahkan diri dari rombongannya.

"Orang setua kamu pantasnya di dapur umum," kata Jero Mangku Sanga kepada Ki Jaran Waha.

Terlihat Ki Jaran Waha tanpa menyanggah apa pun ikut memisahkan diri mendekati Ki Amararaja.

Selanjutnya, Jero Mangku Sanga memeriksa satu per satu orang-orang dari Kademangan Rendang yang sebenarnya adalah para penyusup.

Akhirnya, Jero Mangku Sanga dapat memilih delapan orang lagi yang kesemuanya adalah para pengikut Ki Jaran Waha. Mereka umumnya adalah orang-orang yang berilmu cukup tinggi, pengikut papan atas yang setia, yang dari segi usia memang sudah tidak dapat dikatakan sebagai pemuda lagi.

"Bawalah kesepuluh orang ini bersamamu," kata Jero Mangku Sanga kepada kawannya.

Maka terlihat kawan Jero Mangku Sanga membawa kesepuluh orang dari rombongan yang akan ditugaskan sebagai pembantu juru masak di dapur umum.

"Menjelang senja kalian berkumpul kembali di sini, Raja Adidewalancana berkenan memberikan wejangan," kata Jero Mangku Sanga sambil menunjukkan sebuah barak yang kosong untuk mereka beristirahat.

"Maaf, apakah aku sudah diperbolehkan kembali ke Kademanganku?" tanya Ki Demang kepada Jero Mangku Sanga.

"Penguasa Pura Besakih tidak akan melupakan baktimu, silakan kamu kembali," kata Jero Mangku Sanga kepada Ki Demang sambil melangkah meninggalkan mereka.

Sebelum berangkat, Ki Demang menghampiri Mahesa Amping untuk berpamitan.

"Buatlah hubungan ke petugas sandi di Pasar Kademangan," kata Mahesa Amping kepada Ki Demang sambil memberikan beberapa tanda rahasia.

"Dari sini aku akan langsung ke Pasar Kademangan," kata Ki Demang kepada Mahesa Amping.

Terlihat Ki Demang melangkahkan kakinya menuruni tangga Pura Besakih; tidak seorang pun menghiraukan lelaki tua itu keluar dari Pura Besakih.

Sementara itu, waktu sepertinya terus perlahan berputar searah perjalanan matahari yang semakin turun menggelantung di barat cakrawala langit.

"Berbanjarlah sesuai tempat asal kalian," kata Jero Mangku Sanga mengumpulkan pasukannya yang berasal dari beberapa Kademangan di sekitar lereng Gunung Agung.

Terlihat orang-orang yang berasal dari Kademangan itu berbanjar sesuai tempat asal mereka, bergabung dengan sekitar tujuh ratus orang prajurit bayaran yang terlihat dari bahasa dan pakaian mereka.

Ternyata Jero Mangku Sanga bukan seorang pemimpin tunggal; bersamanya ada delapan orang yang mengenakan pakaian yang sama dengan Jero Mangku Sanga. Mereka terlihat berada di kesatuannya masing-masing.

Suasana menjadi sunyi dan lengang manakala terlihat sebuah iring-iringan pengawal berjalan bersama seorang yang memakai mahkota di kepalanya. Di sampingnya berjalan seorang yang berjubah pendeta.

"Pendeta Guru Dewa Palaguna!" kata Mahesa Amping dalam hati mengenali orang berjubah itu. Diam-diam ia bersyukur berada di bagian tengah dari rombongannya.

"Selamat datang para putra Kademangan, para putra lereng Gunung Agung. Bakti kalian telah diterima oleh para dewa yang menjaga kawasan suci ini," kata Raja Adidewalancana dengan suara tinggi yang menandakan kekuatan tenaga dalam yang besar.

"Selamat datang juga kepada para lelaki pemberani dari berbagai penjuru negeri," kata Raja Adidewalancana kembali, yang disambut gemuruh tujuh ratus prajurit bayaran dengan penuh kebanggaan.

"Hari ini para prajurit Singasari dengan segala keangkuhannya akan merebut kekuasaan Pura Besakih milik para dewa. Mereka akan berhadapan dengan para dewa. Keangkuhan mereka akan dihancurkan oleh para dewa," kata Raja Adidewalancana dengan suara penuh semangat.

"Para dewata telah berdiri di belakang kita!" serunya kembali, yang disambut oleh gemuruh suara semua orang yang mendengarnya.

Sementara itu di waktu yang sama, Ki Demang telah berada di Pasar Kademangan yang sudah sepi. Hanya ada beberapa kedai yang masih buka, itu pun karena pemiliknya tinggal dan tidur di situ.

"Aku kawan Rangga Mahesa Amping. Apakah kamu yang bernama Sukra?" kata Ki Demang kepada seorang lelaki yang berdiri di depan sebuah kedai dengan tanda-tanda tertentu yang sama sesuai yang ditunjukkan oleh Mahesa Amping kepadanya.

"Benar, namaku Sukra," kata orang itu yang tidak lain adalah petugas sandi.

Ki Demang langsung menyampaikan berita bahwa Mahesa Amping dan pasukannya telah masuk menyusup ke sarang lawan. "Aku sendiri yang mengantar mereka sampai ke Pura Besakih," kata Ki Demang meyakinkan.

"Hari ini pasukan induk telah bergerak kembali mendekati sasaran," kata petugas sandi itu menyampaikan berita terakhir.

"Untuk saat ini hubungan kita terputus. Pura Besakih tidak mudah didekati pada saat seperti ini," kata Ki Demang kepada petugas sandi itu.

"Benar, untuk saat ini hubungan kita terputus," kata petugas sandi itu menyayangkan terputusnya berita antara kelompok Mahesa Amping dan pasukan induk.

"Mudah-mudahan besok ada perkembangan baru, aku akan datang lagi menemuimu," kata Ki Demang.

"Aku di sini, di pasar ini, sepanjang hari," kata petugas sandi itu.

"Sebagai apa kamu di kedai ini?" tanya Ki Demang.

"Pemilik kedai ini menerima diriku sebagai pembantunya," kata Sukra dengan wajah penuh senyum.

"Baik-baiklah kamu bekerja," kata Ki Demang kepada Sukra ketika akan melangkah pergi.

Sementara itu di Pura Besakih, kunjungan Raja Adidewalancana diakhiri dengan upacara restu dewa yang dilakukan oleh Pendeta Guru Dewa Palaguna dengan menyiram air kelapa ke segala penjuru arah. Setelah upacara itu berakhir, iring-iringan Raja Adidewalancana berkenan meninggalkan altar kembali ke Pura Dalem Astana. Semua pasukan telah diperintahkan kembali ke baraknya masing-masing untuk beristirahat.

Sebagaimana yang dikhawatirkan oleh Ki Demang, Pura Besakih telah memperketat penjagaannya. Siapapun tidak dapat leluasa bergerak masuk dan keluar Pura Besakih saat itu.

"Malam ini aku ingin menghirup udara di luar Pura Besakih bersamamu," kata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha yang mendapat tugas membawa ransum untuk semua pasukan.

"Aku akan menjemputmu," kata Ki Jaran Waha penuh kepastian.

Maka menjelang malam di Pura Besakih, saat semua orang tertidur nyenyak, terlihat dua bayangan melesat terbang begitu cepat ke sebuah tepian jurang. Sebuah tempat yang tidak ada penjagaan sama sekali karena menurut perkiraan tidak ada seorang pun yang akan mengorbankan dirinya terjun ke jurang itu.

Tapi ternyata, kedua bayangan itu terlihat telah terjun ke bawah jurang yang terjal tersebut. Siapapun akan terkesima bahwa kedua bayangan itu tidak langsung terjun meluncur ke bawah, tetapi terlihat berpijak beberapa kali di beberapa tonjolan batu karang dan akhirnya seperti melayang terbang turun ke bawah dengan begitu ringannya. Akhirnya kedua bayangan itu tidak terlihat lagi, hilang ditelan kelamnya malam.

Sementara itu di Kademangan Rendang, Ki Demang malam itu belum dapat memejamkan matanya. Meski sudah berbaring di peraduan, pikirannya selalu tertuju kepada pasukan Mahesa Amping yang saat itu telah menyusup di Pura Besakih.

"Apa jadinya pasukan kecil itu seandainya kehadiran mereka tercium oleh pihak lawan," kata Ki Demang dalam hati.

Namun, telinganya yang tajam tiba-tiba saja mendengar suara burung prenjak berbunyi jelas sekali di luar biliknya.

"Mahesa Amping?" kata Ki Demang dalam hati, teringat salah satu isyarat rahasia yang telah disampaikan oleh Mahesa Amping.

"Aku akan keluar sebentar, Nyi," kata Ki Demang kepada Nyi Demang yang terbangun melihat Ki Demang turun dari peraduannya.

Ketika Ki Demang membuka pintu utama, dilihatnya sudah ada dua orang duduk di pendapa rumahnya.

"Ternyata kamu, Mahesa Amping," kata Ki Demang kepada salah satu dari kedua orang yang ada di pendapa rumahnya, yang tidak lain adalah Mahesa Amping bersama Ki Jaran Waha.

"Aku tidak lama, Ki Demang. Hanya ingin menyampaikan berita kepada pasukan induk," kata Mahesa Amping sambil menjelaskan dengan rinci tentang gerakan mereka besok malam.

"Tadi sore aku sudah bertemu dengan petugas sandimu. Beritanya, pasukan induk sudah bergerak mendekati Pura Besakih," kata Ki Demang kepada Mahesa Amping.

"Maaf, kalian belum kusediakan minuman," kata Ki Demang ketika Mahesa Amping dan Ki Jaran Waha memohon pamit diri kembali ke Pura Besakih.

"Terima kasih, Ki Demang. Nyi Demang lama menunggu di dalam," kata Mahesa Amping kepada Ki Demang sambil langsung melangkah menuruni anak tangga pendapa.

Diiringi pandang mata Ki Demang yang dalam malam tersamar masih dapat melihat Mahesa Amping dan Ki Jaran Waha tengah berjalan di halaman rumahnya. Namun, keduanya tiba-tiba saja melesat seperti burung camar laut, terbang melompati pagar batu halaman rumahnya, dan menghilang ditelan kegelapan malam.

Ki Demang terlihat menarik napas dalam, mengagumi kedua tamunya yang ternyata memiliki ilmu yang mumpuni; dapat berlari cepat seperti angin dan terbang cepat layaknya burung camar laut menangkap ikan di permukaan air.

Ketika masuk ke biliknya, Ki Demang tidak mengatakan apa pun kepada Nyi Demang yang ternyata sudah tertidur.

Sementara itu di Pura Besakih, kembali dua sosok bayangan melesat dari tepian jurang dan berendap di kegelapan malam yang berkabut. Akhirnya, kedua bayangan itu telah menyusup masuk ke sebuah barak tanpa diketahui oleh siapa pun, kecuali para penghuni barak itu sendiri yang tidak tidur dan menjaga kedatangan mereka.

"Pasukan induk sudah bergerak mendekati Pura Besakih. Besok malam kita bergerak bersama menguasai Pura Besakih ini," kata Mahesa Amping kepada kawan-kawannya.

"Saatnya kita beristirahat," kata Ki Jaran Waha yang terlihat merapatkan kakinya di dalam kain sarungnya, siap-siap untuk tidur.

Terlihat dua orang petugas ronda malam melewati barak mereka, maka perlahan mereka merebahkan diri, berbaring layaknya orang yang sudah lama tertidur.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment