Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 47

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 47

"Ternyata kalian orang baru di sini. Pasang telinga kalian, majikanku adalah putra Datuk Belang yang dihormati dari Sungai Kampar," ujar orang itu.

"Siapapun majikanmu, kami tidak mendukung siapapun," sahut Lawe yang sudah semakin panas hatinya.

"Bila kalian tidak mendukung, artinya kalian telah meremehkan majikanku," kata orang itu sambil membelalakkan biji matanya dengan menyeramkan.

"Bila kami tidak mendukung, kamu mau apa, he?" tantang Lawe sambil berdiri dengan tidak gentar.

"Kamu memang perlu diberi pelajaran," ujar orang itu sambil melayangkan tamparan ke arah wajah Lawe.

Ternyata orang itu belum mengenal Lawe. Ia mengira Lawe hanya seorang anak kemarin sore yang dapat digertak hanya dengan sebuah tamparan. Lawe tidak segera bergerak, ia menunggu sampai tamparan itu meluncur mendekatinya. Ketika telapak tangan itu sudah hampir mengenai wajahnya, dengan tangkas Lawe memiringkan sedikit kepalanya.

Akibatnya sangat fatal, orang itu terhuyung ke samping dan menabrak tiang utama bangunan.

Brakk!

Untungnya kayu itu terbuat dari bahan kayu besi yang kokoh. Kepala orang itu justru terasa pening karena menghantam tiang kayu tersebut. Semua orang di kedai itu terkesima melihat hanya dalam satu gerakan ringan, orang tersebut sudah terpelanting menabrak tiang kayu.

"Bangkitlah bila kamu masih mampu berdiri. Pasang telingamu lebar-lebar. Aku putra Raja Belang yang terkenal dan paling ditakuti dari Pulau Madura."

Lawe rupanya hanya ingin membual dengan mengatakan dirinya putra Raja Belang dari Pulau Madura. Lawe sendiri tidak mengerti bahwa "Belang" di Tanah Melayu diartikan sebagai harimau.

"Maafkan anak buahku yang terlalu banyak minum arak," ujar seorang pemuda yang tiba-tiba saja sudah berdiri di dekat Lawe.

Lawe terkesiap sejenak memandang mata anak muda itu yang begitu tajam. Raut wajah pemuda itu memang terlihat asing, tidak seperti wajah orang pada umumnya yang memiliki lekukan di antara hidung dan bibir atas. Sementara anak muda ini sepertinya tidak memiliki lekukan di bawah hidungnya. Anak muda itu ternyata dapat membaca apa yang ada dalam pikiran Lawe, maka ia tersenyum ramah dan menjura memberi hormat.

"Terima kasih telah memberi sedikit pelajaran kepada anak buahku," ujar anak muda itu sambil melangkah mendekati anak buahnya yang masih duduk bersandar di tiang kayu.

Ia memapah anak buahnya kembali ke tempat duduk semula. Suasana kedai pun kembali seperti sedia kala. Mahesa Amping, Lawe, Raden Wijaya, dan Argalanang kembali menikmati hidangan yang disediakan. Lepas malam, mereka naik ke panggung tempat penginapan untuk beristirahat. Tidak ada kejadian di malam itu, meski mereka tetap berjaga-jaga secara bergantian untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, apalagi setelah kejadian di kedai yang cukup menghebohkan.

Malam pun berlalu menyelimuti segala kegelisahan dan keletihan. Hingga akhirnya pagi menjelang, ditandai dengan keremangan warna pagi, sentuhan dingin semilir angin, dan sayup-sayup suara kokok ayam jantan yang saling bersahutan dari tempat yang jauh. Bandar Melayu sudah terbangun, cahaya oncor di perempatan jalan pun meredup. Terlihat perempuan penjual jajanan pagi tengah melayani beberapa buruh yang belum sempat mandi untuk mengisi perut agar siap bekerja kembali.

Warna keremangan pagi perlahan tersapu sinar matahari yang menyinari panggung alam. Mahesa Amping, Lawe, Raden Wijaya, dan Argalanang telah bersiap untuk berangkat ke Kotaraja Melayu guna melaksanakan tugas sebagai telik sandi di Tanah Melayu. Jarak kotaraja dan Bandar Melayu tidak begitu jauh, hanya terhalang hutan kecil dan beberapa padukuhan, serta sudah ada jalan pedati yang biasa dilalui para pedagang.

"Tadi malam di kedai, kamu katakan dirimu sebagai putra Raja Belang, apakah benar demikian?" tanya Argalanang kepada Lawe ketika mereka sudah meninggalkan Bandar Melayu.

"Aku hanya sedikit membual," jawab Lawe sambil tersenyum.

"Di sepanjang Tanah Perak ini, orang mengartikan belang sebagai harimau," jelas Argalanang.

"Kalau tahu dari dulu, mungkin aku tidak akan mengatakan sebagai putra Raja Belang," kata Lawe.

"Selama ini kupikir cerita tentang manusia harimau itu cuma dongeng, ternyata aku melihatnya langsung tadi malam di kedai pada diri anak muda itu," ujar Argalanang.

"Dari mana kamu yakin bahwa anak muda itu adalah manusia harimau?" tanya Lawe penasaran.

"Kulihat sendiri anak muda itu tidak punya lekukan di bawah hidungnya," jawab Argalanang.

"Aku pun melihatnya," kata Lawe sambil mengingat kembali kejanggalan pada diri anak muda yang ditemuinya semalam.

"Itulah yang membedakan kita dengan mereka sebagaimana diceritakan oleh orang-orang tua di kampungku," ujar Argalanang.

"Apa yang mereka ceritakan mengenai manusia harimau?" tanya Lawe.

"Manusia harimau adalah ilmu keturunan yang tidak dapat dilepaskan. Ketika lahir, mereka berwujud sempurna sebagaimana kita. Tapi ketika ilmu keturunannya telah diwarisi, pewaris ilmu itu akan berubah dan tidak lagi memiliki lekukan di bawah hidungnya," kata Argalanang diam sejenak. "Dan dapat berwujud harimau sungguhan ketika marah," lanjutnya.

"Sebuah ilmu warisan yang aneh," ujar Raden Wijaya yang ikut tertarik.

"Semoga saja harimau itu bukan orang-orang yang sedang menunggu kita," kata Mahesa Amping sambil menunjuk ke depan jalan.

Ternyata jauh di depan mereka terlihat dua orang sedang menunggu. Semakin dekat, semakin jelas bahwa mereka adalah anak muda dan anak buahnya yang semalam membuat keributan di kedai.

"Aku sengaja menunggu kalian, terutama kepada putra Raja Belang," ujar anak muda itu.

"Maaf, semalam aku cuma membual," Lawe mencoba menjelaskan.

"Aku menunggu sudah cukup lama, apakah putra Raja Belang tidak punya keberanian?" tantang anak muda itu.

"Tidak jauh dari sini ada sebuah bulakan, kutunggu kamu di situ," kata anak muda itu tanpa ingin mendengar penjelasan Lawe, lalu ia berjalan pergi.

"Kita ikuti apa maunya," kata Mahesa Amping kepada Lawe.

Mereka mengikuti anak muda itu ke sebuah bulakan yang cukup luas. "Karena kamu sudah mengaku sebagai putra Raja Belang, aku menantangmu," ucap anak muda itu sambil bertolak pinggang.

Lawe bukan anak muda yang banyak mengalah, maka ia pun menerima tantangan itu.

"Hati-hatilah," pesan Mahesa Amping.

"Kukira kamu akan lari bersembunyi," ejek anak muda itu.

"Aku tidak pernah lari dari tantangan," tegas Lawe.

"Terima seranganku!" teriak anak muda itu sambil melompat menerkam seperti harimau hutan.

Lawe telah siap; ia melompat ke samping sambil membalas dengan luncuran tendangan seperti elang menerkam ke arah pinggang lawan. Pertempuran menjadi semakin seru. Masing-masing meningkatkan tataran ilmunya. Mahesa Amping yang mengetahui sampai di mana tataran ilmu Lawe menjadi gelisah karena anak muda itu mampu mengimbangi lawannya. Tenaga anak muda itu luar biasa; angin pukulannya membawa tenaga yang sangat besar. Namun, Lawe adalah murid pilihan dari Padepokan Bajra Seta yang dengan lincah menghindar dan membalas serangan dengan tidak kalah dahsyatnya.

Semak belukar terkikis rata dengan tanah dan debu beterbangan menutupi tubuh mereka. Anak muda itu meningkatkan ilmu puncaknya, angin pukulannya membawa hawa panas yang mengepung Lawe. Lawe terperanjat dan mencoba melambari dirinya dengan kekebalan wadag, namun hawa panas itu terus meningkat hingga keringat membasahi tubuhnya. Meski begitu, semangat Lawe tidak susut; ia melompat terbang dan menerkam lawannya seperti raja elang.

Argalanang terpesona, sementara Raden Wijaya semakin gelisah melihat Lawe yang lebih banyak mengelak. Mahesa Amping, yang memiliki pendengaran peka, merasakan kehadiran seseorang di sekitar mereka.

"Cukup!" tiba-tiba terdengar suara keras yang dilambari tenaga dalam tinggi.

Anak muda itu melompat keluar dari arena pertempuran. Lawe menarik napas lega.

"Anak muda itu bukan orang yang kita cari," ujar seseorang yang tiba-tiba muncul di antara mereka, ditandai dengan rambut yang sudah memutih, menandakan ia telah berumur lebih dari setengah abad.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment