Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 161

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 161

Kedua orang yang masih duduk di atas kuda mereka tampak memperhatikan beberapa ekor kuda yang tengah ditambatkan di dahan-dahan pohon. Nampaknya, mereka percaya pada ucapan pemimpin itu dan tidak mencurigainya.

"Terimalah separuh bayaran dari kami. Sisanya akan kami bayar setelah kalian bekerja," ujar salah seorang penunggang kuda sambil melemparkan sekampil kain berisi uang kepada pemimpin itu.

Pemimpin itu membuka kantong tersebut sebentar, lalu menutupnya kembali setelah memastikan isinya sesuai dengan separuh upah yang dijanjikan. "Besok kami akan melaksanakannya," jawabnya kepada kedua orang di atas kuda itu.

"Jangan sekali-kali menipu kami," sahut salah seorang dengan nada suara yang berat dan angker, lalu ia membalikkan kudanya.

Diiringi tatapan mata Mahesa Amping, Ki Jaran Waha, Kebo Arema, dan pemimpin itu, kedua orang berkuda tersebut melangkah menjauh dan menghilang di dalam kegelapan.

"Mulai saat ini, kamu dan orang-orangmu berada di bawah pimpinanku. Aku akan menambah bayaran lebih dari yang seharusnya kalian terima," kata Kebo Arema kepada pemimpin itu.

"Nyawaku dan nyawa orang-orangku berada di tangan Tuan. Tawaran Tuan bahkan melebihi dari apa yang aku perkirakan," jawab pemimpin itu seolah menemukan kembali nyawanya yang hampir terlepas. Wajahnya tampak menampakkan kegembiraan.

"Kita akan melakukan keonaran dan perampokan," ujar Kebo Arema.

"Melakukan hal yang sama?" tanya orang itu kebingungan.

"Kamu benar, kita melakukan hal yang sama. Bedanya, untuk siapa pencitraan itu dilakukan," jawab Kebo Arema yang langsung dimengerti oleh pemimpin itu.

"Nampaknya tugasku mengumpulkan lima puluh ekor kuda tidak akan berkurang," timpal Ki Jaran Waha yang ikut menangkap arah rencana Kebo Arema.

"Udara di luar sangat dingin," kata Mahesa Amping sambil mengajak semuanya masuk kembali ke dalam gua.

Setelah masuk ke dalam gua, Mahesa Amping mendatangi satu per satu orang upahan yang masih terikat, lalu dibantu oleh pemimpin mereka, ia membuka ikatan tali tersebut. Mahesa Amping memeriksa beberapa orang yang terluka ringan dan mengobatinya dengan ramuan yang dibawanya.

"Besok kalian akan sehat kembali, beristirahatlah malam ini," kata Mahesa Amping kepada mereka yang kini telah mengerti siapa tuan mereka yang sebenarnya.

Malam terus berlalu dengan lambat. Beberapa orang sudah pulas tertidur, sementara lainnya tampak belum terbiasa berada di dalam gua yang pengap. Namun, akhirnya semua terlelap, melepaskan kepenatan setelah seharian melakukan perjalanan dan pertempuran. Sang malam pun pergi, digantikan suara ayam hutan jantan yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan.

Bersamaan dengan cahaya pagi yang merambati rerumputan basah, hutan mulai diramaikan oleh kicau burung yang mencari makanan untuk menghangatkan badan setelah semalaman terkepung hawa dingin.

"Siapa namamu agar aku mudah memanggilmu?" tanya Kebo Arema kepada pimpinan gerombolan itu yang sudah terbangun.

"Namaku Badrun," jawab orang itu.

"Orang-orangmu masih perlu beristirahat. Menjelang senja, baru kita mulai bergerak," ujar Kebo Arema.

Ternyata, hampir semua orang itu lebih memilih beristirahat di luar gua. Pagi itu kesibukan pun terlihat, beberapa orang menyiapkan sarapan untuk kebutuhan mereka sendiri. Sementara di dalam gua, Mahesa Amping, Kebo Arema, dan Ki Jaran Waha masih berbincang-bincang.

"Pasukan baruku ini akan bergerak mulai malam ini. Siang hari kami mencari tempat persembunyian dan malam harinya mencari sasaran," tutur Kebo Arema kepada Mahesa Amping dan Ki Jaran Waha.

"Di mana aku dapat menemuimu?" tanya Ki Jaran Waha kepada Mahesa Amping.

"Pekan depan kupastikan kita bertemu di Pura Indrakila," jawab Mahesa Amping.

Ketika matahari mulai naik, Mahesa Amping dan Kebo Arema mengajak Badrun keluar hutan untuk mengintai dan memilih padukuhan yang akan menjadi sasaran. Akhirnya, mereka menemukan sebuah padukuhan kecil yang sering dilalui antara perjalanan dari Bandar Beleleng menuju Pura Besakih.

"Apapun yang terjadi di padukuhan ini akan cepat tersebar seperti angin," ujar Kebo Arema sambil mengamati rumah-rumah di sepanjang jalan padukuhan yang tidak begitu ramai.

"Rumah besar itu mungkin milik Ki Buyut," kata Badrun menunjuk rumah yang paling luas.

"Halaman rumah itu cukup baik untuk mengumpulkan penduduknya," ujar Kebo Arema merencanakan sesuatu.

"Ternyata Paman Kebo Arema berbakat sebagai pemimpin perampok sesungguhnya," kata Mahesa Amping yang ditanggapi Kebo Arema dengan senyum penuh makna.

"Beruntunglah jiwa kita selalu dipenuhi kepuasan batin. Banyak orang berilmu tinggi yang gersang jiwanya lalu terjerumus mencari kepuasan batin di dunia ini, sehingga terjadilah keangkaraan dan penindasan manusia atas manusia," ujar Kebo Arema seolah bicara pada dirinya sendiri.

Badrun yang mendengar percakapan itu hanya menunduk, tidak tahu apa yang sedang dipikirkan olehnya.

"Kurasa pengamatan kita sudah cukup," kata Kebo Arema mengajak mereka kembali ke hutan.

Sesampainya di depan gua, Ki Jaran Waha telah menyiapkan dua ekor kuda untuk Mahesa Amping dan Kebo Arema. "Kuda-kuda yang baik," puji Mahesa Amping.

"Aku tahu seleramu," jawab Ki Jaran Waha senang.

Senja mulai membuat hutan menjadi gelap dan dingin. "Kita menunggu saat tengah malam," ujar Kebo Arema kepada Badrun. Badrun segera menyampaikan kepada anak buahnya untuk bersiap-siap.

Ketika malam merangkak, dua puluh dua ekor kuda berjalan meninggalkan hutan itu.

"Kutunggu dirimu di Pura Indrakila," kata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha yang mengiringi kepergian mereka dengan lambaian tangan.

"Mereka tidak kembali ke hutan ini lagi?" tanya pemuda yang menemani Ki Jaran Waha.

"Mereka akan terus bergerak, sebagaimana sekelompok serigala pengembara," jawab Ki Jaran.

Sementara itu, Kebo Arema dan gerombolannya telah mendekati regol gerbang padukuhan kecil yang tadi siang mereka amati. "Tunggu kami dan bersembunyilah di kegelapan," perintah Kebo Arema sambil melompat dari kudanya bersama Mahesa Amping.

"Jagalah kuda-kuda kami," pesan Mahesa Amping kepada salah seorang anak buahnya.

"Hanya ada dua orang peronda," bisik Mahesa Amping yang menyelinap bersama Kebo Arema.

"Saatnya bercadar," kata Kebo Arema memberi isyarat. Keduanya menutup wajah dengan cadar hitam, menyisakan rambut dan mata. Mahesa Amping mendekati gardu ronda itu dengan hati-hati.

*Buk! Buk!* Dua buah pukulan dengan tenaga terukur bersarang di tengkuk kedua peronda tersebut hingga mereka jatuh tertelungkup. Dengan sigap, Mahesa Amping mengikat kedua peronda itu.

Setelah tugas selesai, Kebo Arema keluar dari persembunyian dan membunyikan kentongan bambu dengan nada panjang sebagai tanda agar semua warga berkumpul.

"Mari kita menjemput Ki Buyut," ajak Kebo Arema.

Bunyi kentongan itu terdengar oleh Ki Buyut, keluarganya, serta seluruh warga yang baru saja memejamkan mata. Bunyi itu juga menjadi tanda bagi Badrun dan anak buahnya untuk masuk ke padukuhan.

"Ada apa ini?" tanya Ki Buyut kepada pembantunya yang sudah berada di halaman rumah.

"Tidak akan terjadi apa-apa selama Ki Buyut dapat diajak bekerja sama," ujar seseorang bertopeng hitam sambil menempelkan golok panjang di leher Ki Buyut. Sang pembantu pun mengalami hal yang sama.

"Jangan berbuat macam-macam," ancam orang itu.

"Ikat tuanmu dengan tali ini," perintah Mahesa Amping. Dengan tangan gemetar, pembantu itu mengikat Ki Buyut. Setelah itu, Mahesa Amping segera mengikat si pembantu. Sementara itu, beberapa lelaki mulai keluar dari rumah mereka dan berlari menuju rumah Ki Buyut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment