Chapter 33
"Sudah lama kita tidak melakukan perjalanan jauh," kata Raden Wijaya.
Wajahnya tampak begitu ceria.
"Mari kita berpacu sampai di atas puncak bukit," kata Raden Wijaya sambil mengepak perut kudanya agar berlari lebih cepat lagi.
Mahesa Amping dan Lawe tidak ingin tertinggal, mereka pun menghentakkan kudanya berpacu mengejar Raden Wijaya yang sudah lebih dulu memacu kudanya.
Terlihat tiga ekor kuda berlari berpacu di atas tanah bulakan panjang, membelah padang ilalang dan terlihat semakin jauh mendekati bukit kecil.
Di atas puncak bukit, mereka berhenti sebentar, menengok ke belakang, memandang sawah dan ladang yang terhampar.
Sepertinya mereka bertiga mempunyai perasaan yang sama. Suara rindu para cantrik Padepokan Bajra Seta nun jauh di ujung seberang sawah dan ladang yang terhampar indah seakan memanggil mereka, mengucapkan selamat jalan.
"Aku akan selalu merindukanmu," kata Lawe sambil melambaikan tangannya.
Mahesa Amping dan Raden Wijaya hanya tersenyum melihat laku Lawe. Diam-diam mereka juga mempunyai perasaan yang sama, sebuah kekosongan hati meninggalkan tempat yang menyenangkan bersama dalam persaudaraan dan kegembiraan hari-hari di Padepokan Bajra Seta yang tenang dan sejuk, sesejuk senyum cerah para warganya.
Dan mereka bertiga akan pergi jauh untuk waktu yang lama.
Ketika menuruni bukit kecil itu, mereka tidak lagi memacu kudanya.
Kaki kuda dibiarkan melangkah berjalan sendiri menuruni bukit.
Masing-masing terdiam hanyut dalam angan pikirannya sendiri hingga tidak terasa mereka telah ada di tepi hutan kecil.
Itulah awal perjalanan mereka.
Inilah awal pengembaraan mereka yang panjang, menapaki liku jalan kehidupan yang tidak selalu datar.
Lembaran perjalanan mereka diwarnai dengan canda dan tawa, tetapi terkadang begitu mencekam seperti menyusuri tepian jurang panjang di tengah malam dalam kepungan puluhan senjata tajam.
Senja itu mereka tengah menyusuri jalan di sebuah Padukuhan, tengah mencari sebuah Banjar Desa untuk bermalam.
Tiba-tiba saja puluhan orang datang dari depan dan belakang membawa berbagai macam senjata.
"Berhenti!" kata seorang yang bertubuh tegap, berkumis tebal, dengan golok besar telanjang di tangannya.
Mahesa Amping, Raden Wijaya, dan Lawe segera turun dari kudanya.
"Beginikah sikap kalian menerima setiap orang asing yang datang di kampungmu?" kata Lawe yang merasa tidak menyukai sikap orang-orang dusun yang mengepung dan mengancamnya.
"Jangan banyak bicara, menyerahlah," kata orang itu lagi dengan suara keras.
"Apa kesalahan kami?" tanya Lawe, tidak kalah keras suaranya, sepertinya tidak sabaran.
"Jangan berpura-pura, kalian pasti ingin kembali mencuri sapi kami," kata orang itu. "Darba, jaga sikapmu!" Tiba-tiba muncul menyeruak dari kerumunan banyak orang, seorang lelaki sudah berumur namun tubuhnya masih begitu tegap dan berotot.
"Ki Jagabaya, mereka adalah pencuri," kata orang yang berkumis tebal yang dipanggil Darba oleh Ki Jagabaya yang baru saja datang menghampiri mereka.
"Sudah kubilang, jaga sikapmu!" kata Ki Jagabaya kepada Darba yang sepertinya tidak menerima sikapnya.
"Maafkan kami, anak muda. Kemarin malam di padukuhan ini telah kecurian tiga ekor sapi. Wajarlah bila semua orang di sini menjadi curiga kepada orang asing," kata Ki Jagabaya menjelaskan kepada Lawe, Raden Wijaya, dan Mahesa Amping dengan sikap yang santun.
"Kami hanya pengembara. Rencananya kami ingin menumpang bermalam di Banjar Desa. Namun dengan kejadian ini, biarlah kami bermalam di tempat lain," kata Mahesa Amping.
"Jangan biarkan mereka lepas, mereka harus dihukum," kata Darba sambil mengangkat golok besarnya.
"Benar, mereka harus dihukum," kata dua orang yang berdekatan dengan Darba.
Sementara itu, beberapa orang padukuhan sepertinya merasa segan dengan Ki Jagabaya; mereka hanya berdiri menunggu dalam keraguan.
Tiba-tiba saja muncul tiga orang pemuda mendekati Ki Jagabaya.
"Orang asing ini bukan pencurinya, sejak kemarin kami sudah tahu siapa pencurinya," kata salah seorang pemuda yang mendekati Ki Jagabaya.
"Kamu tahu siapa pencurinya?" tanya Ki Jagabaya kepada pemuda itu.
"Maafkan aku, waktu itu aku takut Ayah akan berhadapan dengan orang itu," kata pemuda itu.
"Apakah saat ini kamu masih takut menyebut nama pencuri itu?" kata Ki Jagabaya.
"Rasa takutku telah hilang, melebihi rasa takut bila Ayah salah menghukum orang asing ini," kata pemuda itu.
"Katakan siapa pencuri itu!" kata Ki Jagabaya tidak sabaran.
"Darba dan dua temannya itu," kata pemuda itu sambil menunjuk Darba dan dua orang yang ada di dekatnya.
Semua mata memandang Darba dan dua orang temannya.
"Anak setan, jangan bicara sembarangan!" kata Darba dengan marahnya.
Wajahnya berubah semakin beringas.
"Kemarin malam kami mengikutimu sampai ke ujung hutan, di sanalah kalian menyimpan sapi-sapi itu," kata pemuda itu.
"Anak setan, kurobek mulutmu!" kata Darba sambil melangkah mengacungkan golok besarnya.
"Aku yakin anakku tidak berbohong, sudah lama aku mencurigai kalian bertiga," kata Ki Jagabaya sambil menghadang langkah Darba.
"Rupanya anakmu masih berotak, takut ayahnya yang sudah tua tidak akan mampu menghadapi kami bertiga," kata Darba, lalu langsung menyerang Ki Jagabaya.
Ternyata Ki Jagabaya, meski sudah berumur, masih mampu bergerak lincah.
Dengan bergeser ke samping, menghindar tusukan golok besar Darba, Ki Jagabaya langsung menyerang balik dengan sebuah sabetan tombak pendek bermata dua yang merupakan senjata andalannya.
Maka terjadilah pertempuran yang seru antara Darba dan Ki Jagabaya.
Semua mata memandang penuh rasa khawatir, apakah Ki Jagabaya yang sudah tua akan dapat menandingi Darba yang bertubuh tegap, yang terlihat begitu ganas dan keras melakukan serangannya.
Mahesa Amping, yang mengikuti pembicaraan pemuda yang ternyata putra Ki Jagabaya, memberi tanda kepada Lawe untuk bersiap menjaga segala kemungkinan dua orang kawan Darba berbuat kecurangan.
Ternyata dugaan Mahesa Amping terbukti, dua orang kawan Darba telah bersiap maju mendekati pertempuran.
Mahesa Amping dan Lawe maju menghadang mereka.
"Tidak enak dilihat, orang tua dikeroyok tiga orang sekaligus," kata Mahesa Amping kepada salah seorang yang berkulit hitam pekat.
"Sedari tadi aku sudah tidak sabar untuk mencincangmu," kata orang yang berkulit hitam pekat itu sambil mengayunkan pedang besarnya ke arah kepala Mahesa Amping yang langsung mengelak dengan gerakan seenaknya.
Bukan main marah dan penasarannya orang itu melihat ayunan pedangnya lolos tipis dari sasarannya.
Ternyata Mahesa Amping tidak langsung menunjukkan tataran ilmunya, berpura-pura mengelak dengan gerakan seadanya.
Semakin geram dan penasaran orang itu untuk menyelesaikan pertempurannya.
Sementara itu Lawe sudah berhadapan dengan seorang lagi teman Darba yang berwajah menyeramkan, ada bekas luka codet di sepanjang garis pipinya.
Tidak seperti Mahesa Amping, Lawe tidak sabar menghadapi lawannya yang berwajah seram itu.
Ketika sebuah bacokan mengarah dari atas kepalanya, dengan kecepatan yang tidak dapat dipercaya oleh lawannya, Lawe bergeser memiringkan badannya.
Senjata lawan pun lewat hanya beberapa inci dari tubuh Lawe.
Orang itu seperti terbelalak tidak percaya, sebuah tamparan yang keras menghantam tangannya yang masih menggenggam pangkal pedang.
Tulang tangannya seperti patah dan terasa pedih; tidak terasa pedangnya telah terlepas.
Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, entah dari mana datangnya serangan, yang dirasakannya adalah tengkorak kepalanya seperti terhantam benda berat.
Seketika itu juga, orang yang berwajah menyeramkan itu roboh pingsan.
Orang-orang Padukuhan seperti tidak percaya dengan penglihatannya.
Orang yang berwajah seram, yang memang baru beberapa minggu ini tinggal di rumah Darba, telah dapat dirobohkan dengan cepat oleh seorang pemuda asing yang sebelumnya dituduh pencuri.
Raden Wijaya hanya tersenyum melihat Lawe yang dengan cepat merobohkan lawannya.
Pandangannya masih tertuju pada pertempuran Ki Jagabaya dan Darba.
Menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, yang mungkin dapat saja terjadi.
Namun sekali-kali masih menengok pertempuran Mahesa Amping yang terlihat seperti orang bodoh menghindari serangan lawannya.
Sebagaimana yang dilihat oleh Raden Wijaya, Ki Jagabaya ternyata masih mampu mengimbangi serangan Darba yang keras dan ganas.
Mereka sepertinya berpacu meningkatkan tataran ilmunya.
Pertempuran menjadi begitu sengit.
Masing-masing ingin segera menyelesaikan pertempuran.
Akhirnya sedikit kelengahan telah menguntungkan posisi Ki Jagabaya.
Darba lengah tidak menyadari bahwa tombak pendek Ki Jagabaya bermata dua.
Ketika sebuah serangan dari Ki Jagabaya meluncur mengarah perutnya, dengan angkuh Darba mencoba menghantam tombak pendek itu dengan golok besarnya sekuat tenaga dengan keyakinan tombak pendek itu pasti terlempar.
Ternyata tombak pendek itu berubah arah.
Mata tombak yang lain berputar menukik pangkal paha Darba.
Darah memuncrat dari pangkal paha yang tercabik mata tombak Ki Jagabaya. Ki Jagabaya langsung mencabutnya dan melompat beberapa jarak.
Rasa pedih dan perih dirasakan Darba pada pangkal pahanya yang tertembus mata tombak Ki Jagabaya.
Kaki kanannya seperti lumpuh.
"Mata tombakku mengandung racun yang tajam, menyerahlah, aku punya penawarnya," kata Ki Jagabaya menawarkan Darba untuk menyerah.
Darba yakin Ki Jagabaya tidak berbohong.
Apalagi ketika badannya terasa ikut menggigil.
"Aku menyerah," kata Darba sambil melemparkan golok besarnya.
Sementara itu, Mahesa Amping juga melihat akhir pertempuran Ki Jagabaya dan Darba.
Maka, ada pikiran untuk menyelesaikan pertempurannya yang lebih tepat disebut permainan.
Karena Mahesa Amping selama itu hanya melompat dan berlari menghindari setiap serangan dengan gerakan seperti orang bodoh yang membuat lawannya semakin penasaran.
Mahesa Amping memang sudah jemu bermain.
Ketika sebuah bacokan meluncur dari arah atas kepala, Mahesa Amping tidak menghindar.