Chapter 82
Sisa malam berlalu bersama suara deru ombak yang menampar tepian pasir. Angin dingin ikut membasahi dinding jung. Ketika pagi menjelang, kesibukan terlihat di bandar kecil tak bernama itu. Beberapa buruh tampak tengah menurunkan dan menaikkan barang. Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya sepertinya masih enggan turun dari jung. Hanya saat perut mereka terasa lapar, akhirnya mereka turun mencari sebuah kedai kecil yang menjual berbagai macam makanan.
"Bandar Churabaya hanya tinggal satu malam lagi," ujar Raden Wijaya sambil memandang ke arah pantai yang sepi, sepertinya banyak berharap senja secepatnya datang.
Harapan mereka pun terkabul, senja akhirnya turun di bandar kecil tersebut. Sebuah sauh ditarik ke atas, ikatan tali pun dilepas dari tiang dermaga. Jung besar terlihat merayap menjauhi dermaga, meninggalkan tepian pantai yang sepi. Layar dikembangkan, menghanyutkan jung besar melaju mengarungi pesisir utara laut Nusa Jawa.
Bandar besar Churabaya sepertinya tidak pernah tidur; terlihat kerlap-kerlip lampu minyak di beberapa kedai yang masih melayani pengunjungnya. Di saat itulah, jung besar yang ditumpangi Raden Wijaya, Lawe, dan Mahesa Amping merapat di Bandar Churabaya.
"Terima kasih atas tumpangannya," kata Raden Wijaya kepada juragan besar yang memberikan mereka tumpangan.
"Sama-sama, semoga kalian sampai di tempat tujuan dengan selamat," jawab juragan besar itu sambil melambaikan tangan kepada Lawe, Raden Wijaya, dan Mahesa Amping yang telah turun di dermaga.
"Mari kita beristirahat di kedai," ajak Mahesa Amping sambil menunjuk sebuah kedai di ujung jalan yang masih buka.
Sebagaimana suasana bandar besar di malam hari, suasana di kedai itu masih cukup ramai mengingat hari sudah masuk pertengahan malam.
"Pesan apa, Tuan Muda?" tanya seorang pelayan tua kepada mereka.
"Makanan dan minuman terbaik di kedai ini," jawab Lawe bergaya seperti juragan besar.
"Gulai manjangan muda adalah hidangan terbaik kami," tawar pelayan tua itu yang dibalas anggukan kepala Lawe sebagai tanda setuju.
Pelayan tua itu segera menyiapkan pesanan. Namun, belum lagi pelayan itu kembali, telinga Lawe terasa panas mendengar senda gurau dari empat orang yang nampaknya telah mabuk berat. Senda gurau mereka ternyata ditujukan kepada Lawe, Mahesa Amping, dan Raden Wijaya.
"Gulai manjangan muda adalah hidangan orang tua yang sudah sepuh," ujar seseorang yang berpakaian layaknya pedagang kaya.
"Atau giginya sudah banyak yang rapuh dan bolong," sahut kawannya yang brewokan.
"Atau sakunya yang memang bolong," timpal kawannya yang kedua sambil tertawa terbahak-bahak disambut derai tawa ketiga kawannya.
"Apakah yang kalian bicarakan adalah diriku?" tanya Lawe sambil menghampiri orang yang terakhir bicara.
"Ternyata kamu belum tuli dan pikun," ujar orang itu semakin keras tertawanya.
Lawe, yang memang gampang tersinggung, tanpa bicara lagi langsung melayangkan tangannya. *Plokkk!* Orang itu merasakan sebelah wajahnya panas.
"Beraninya kamu menampar wajahku!" seru orang itu.
"Itu masih ringan, biasanya aku suka merobek mulut orang yang usil," sahut Lawe santai.
Sementara itu, Mahesa Amping dan Raden Wijaya masih tetap duduk tenang, merasa bahwa Lawe masih dalam keadaan terkendali. Namun, tidak demikian dengan para pengunjung lain yang kebetulan berada di dalam; mereka langsung keluar kedai karena takut terkena sasaran. Beberapa prajurit yang sedang meronda melihat ketidakberesan itu dan langsung masuk.
"Siapa berani membuat onar di sini!" bentak seorang prajurit.
"Orang inilah yang membuat kerusuhan! Dia telah menampar wajahku," ujar orang yang ditampar sambil menunjuk ke arah Lawe.
Keanehan pun terjadi, prajurit itu tampak tertawa terpingkal-pingkal. "Aku tidak percaya orang ini telah membuat kerusuhan, pasti kamulah yang memulainya," ucap prajurit itu setelah tawanya reda.
"Lihatlah, wajahku merah ditamparnya!" protes orang itu.
"Bersyukurlah mulutmu tidak dirobeknya. Hari ini aku sedang berbuat baik, cepat keluar dari kedai ini!" perintah prajurit itu.
Sambil menggerutu, orang itu keluar kedai diikuti ketiga kawannya.
"Dunia memang begitu sempit," kata prajurit itu yang tidak lain adalah Ki Lurah Dadulengit dari Benteng Cangu.
"Sang Dewa Judi dari Benteng Cangu," sahut Lawe yang sudah mengenali Dadulengit.
"Silakan kalian kembali meronda, aku akan menemani ketiga kawanku ini," ujar Dadulengit kepada dua prajurit yang datang bersamanya.
"Tolong tambahkan pesanan kami," pinta Lawe kepada pelayan tua yang telah membawakan pesanan mereka.
"Aku pesan daging kambing bakar," kata Dadulengit.
"Bukan gulai manjangan muda?" tanya pelayan tua itu.
"Apakah kamu melihat aku sudah begitu sepuh?" tanya Dadulengit.
"Maaf, Tuan," jawab pelayan tua itu.
"Jadi benar bahwa gulai manjangan muda hanya untuk orang sepuh?" tanya Lawe kepada Dadulengit.
"Khususnya untuk orang tua sepuh yang sudah semper," ujar Dadulengit sambil tertawa melihat tiga mangkuk gulai manjangan muda di depannya.
"Hati-hati, Ki Lurah, orang yang tadi keluar telah mengatakan hal yang sama," kata Mahesa Amping sambil tersenyum.
"Ternyata masalahnya ada pada gulai manjangan muda?" Dadulengit tertawa, dan semuanya pun ikut tertawa.
"Kalau tidak begitu, mana mungkin kita bisa bertemu," ujar Raden Wijaya.
Tak lama kemudian, pelayan tua membawakan pesanan Dadulengit dan mereka pun menikmati hidangan itu.
"Pangeran Kertanegara sudah menjadi raja di Kediri?" tanya Raden Wijaya saat Dadulengit bercerita tentang keadaan sekitar Kerajaan Singasari.
"Ternyata kalian sudah terlalu lama meninggalkan tanah Singasari," jawab Dadulengit.
"Kami memang cukup lama pergi," tambah Mahesa Amping.
"Sekarang giliran kalian bercerita, ke mana saja kalian selama ini," pinta Dadulengit. Meski tidak seluruhnya, Mahesa Amping bercerita tentang perjalanan mereka.
Pertengahan malam terlewati bersama senda gurau empat sahabat di dalam kedai. "Tugasku di Bandar Churabaya masih tinggal sepekan, akan kuperintahkan orangku untuk mengantar kalian sampai ke Benteng Cangu," ujar Dadulengit yang mulai mengantuk.
Pagi itu, Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya sudah berada di sebuah jung besar milik seorang juragan kaya kenalan Dadulengit yang akan berangkat ke Bandar Cangu. Perlahan jung besar meninggalkan dermaga, sinar matahari pagi mewarnai air sungai menjadi kuning keperakan, terbelah oleh jung yang melaju melawan arus. Angin pagi mendorong layar tunggal yang telah dikembangkan.
"Prajurit Singasari ada di mana-mana," kata Raden Wijaya menunjuk ke sebuah gardu ronda di tepi sungai.
"Perompak akan berpikir panjang untuk membuat ulah di sepanjang perairan ini," ujar Mahesa Amping.
Ternyata memang banyak perubahan di Tanah Singasari. Senapati Mahesa Pukat memiliki tanggung jawab yang diperbesar, mencakup perairan hingga ke Bandar Churabaya. Senapati muda ini telah berhasil mengamankan jalur perdagangan antara Bandar Cangu dan Bandar Churabaya dengan sungguh-sungguh.
"Ada lima jung raksasa," kata Lawe saat mereka mendekati Bandar Cangu. Ternyata, jung Borobudur telah dianggap berhasil. Nampaknya Singasari tidak main-main untuk mendirikan kerajaan laut yang tangguh.
Senja yang bening menyambut kedatangan mereka di Bandar Cangu yang kini jauh lebih ramai. Banyak jung besar dari berbagai suku bangsa telah merapat. Begitu jung merapat di dermaga, ketiga pemuda itu segera menuju Benteng Cangu.
"Setiap hari kami berdoa untuk keselamatan kalian," ujar Senapati Mahesa Pukat menyambut mereka.
"Berkat doa Kakang Mahesa Pukat, hari ini kami kembali dengan selamat," jawab Mahesa Amping dengan penuh kegembiraan.
Kebo Arema, yang selama ini mengawasi lima buah jung Borobudur, segera bergabung. "Tiga begundal sakti telah pulang kampung," serunya.
Mahesa Amping, Raden Wijaya, dan Lawe segera menceritakan tugas mereka di Tanah Melayu. Mereka menjelaskan bahwa Raja Tanah Melayu sebenarnya menerima hubungan perdagangan dengan tangan terbuka. Apa yang terjadi sebelumnya hanyalah sikap para bangsawan dan saudagar besar yang takut akan persaingan dengan masuknya jung Singasari yang besar.
"Berita ini harus secepatnya disampaikan kepada Sri Maharaja dan Raja Kertanegara," ujar Kebo Arema dengan gembira.