Chapter 41
Hanya berselisih satu hari setelah Kebo Arema dan Pangeran Kertanegara tiba di Benteng Cangu, Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya menyusul tiba kembali di benteng tersebut.
"Seluruh warga menitipkan salam untuk Kangmas," kata Mahesa Amping kepada Mahesa Pukat sesampainya ia dari perjalanan.
Cahaya beberapa obor yang dipasang di sudut kanan dan kiri dinding pagar dalam Benteng Cangu menerangi halaman di depan pendapa utamanya yang luas dan lengang. Beberapa prajurit yang bertugas jaga di malam hari terlihat sudah berada di panggungan. Di pendapa utama, tampak beberapa orang masih berbincang.
"Kalian tiba tepat waktu, dua hari lagi barak prajurit akan selesai," ujar Mahesa Pukat kepada Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya.
"Sebentar lagi barak itu akan ramai dipenuhi tiga ratus prajurit muda," sahut Kebo Arema.
"Dan tiga pelatih muda," tambah Pangeran Kertanegara sambil melirik Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya.
"Saat ini sudah ada dua puluh lima pemuda yang tiba lebih awal dari beberapa daerah. Untuk sementara mereka ditampung di benteng ini," jelas Mahesa Pukat.
"Mudah-mudahan barak baru segera selesai agar ransum prajurit di benteng ini tidak banyak terganggu," harap Raden Wijaya.
"Demi kesejahteraan dan keamanan di bumi Singasari, hal itu tidak akan membuat Sri Maharaja jatuh miskin," kata Kebo Arema.
"Di Kutaraja, Bendahara Kerajaan telah memberiku bekal, jadi kita tidak perlu khawatir kekurangan selama berada di sini," kata Pangeran Kertanegara.
"Ketika berpamitan dari bangsal istana, Sri Maharaja juga memberiku uang saku. Aku bingung hendak menggunakannya untuk apa, sementara uang saku yang lama pun masih belum terpakai," ucap Kebo Arema dengan raut bingung.
"Paman tidak perlu bingung. Jika Paman menjamu kami di kedai nasi bakar Pakde Widura di ujung Pasar Bandar Cangu setiap malam, pasti uang saku Paman akan berkurang," canda Raden Wijaya.
"Betul, betul, betul!" Lawe menyetujui.
"Aku pesan bekakak ayam panggang dua!" seru Mahesa Amping sambil menunjukkan dua jarinya.
"Bila aku tahu Paman punya banyak uang saku, aku tidak akan membayar apa pun di kedai yang kita singgahi di sepanjang perjalanan dari Kutaraja ke Bandar Cangu," kata Pangeran Kertanegara sambil tersenyum.
"Memang sudah semestinya begitu, uang saku dari Bendahara Kerajaanlah yang harus keluar," sahut Kebo Arema.
"Mengapa harus seperti itu?" tanya Pangeran Kertanegara yang tahu Kebo Arema sedang bercanda.
"Bukankah dalam perjalanan itu aku sedang mengemban tugas kerajaan? Mengawal seorang putra mahkota," lanjut Kebo Arema yang pandai bersilat kata, tidak hanya ahli dalam olah kanuragan.
"Untuk selanjutnya, di siang hari kita minta dijamu oleh Pangeran, sementara di malam hari kita sandera uang saku Paman Kebo Arema. Setuju?" tanya Lawe.
"Setuju!" jawab Mahesa Amping dan Raden Wijaya berbarengan.
Air Sungai Brantas mengalir jernih, mengantar para pedagang di atas kapal kayu berlayar jauh. Ketika mereka melewati Bandar Cangu, terlihat barak besar berdiri di tepian Brantas. Area barak itu cukup luas, terdiri dari dua baris bangunan yang saling berhadapan, serta sebaris lagi yang menghadap ke tepian sungai. Barak tersebut juga telah dilengkapi dengan sanggar tertutup yang luas dan lengkap.
Hari itu adalah hari pertama bagi tiga ratus pemuda dari berbagai daerah di bumi Singasari untuk bergabung. Mereka dikelompokkan menjadi sepuluh kelompok di bawah pimpinan seorang perwira pilihan yang bertanggung jawab langsung kepada pimpinan tunggal barak tersebut, yaitu Pangeran Kertanegara, sang Putra Mahkota.
Pada hari pertama tidak ada kegiatan selain pembagian tugas yang harus mereka lakukan bersama dengan penuh tanggung jawab dan kemandirian. Baru pada hari kedua, mereka secara bergiliran dilatih untuk menjadi prajurit sungguhan. Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya yang ditunjuk sebagai pelatih telah mulai bertugas.
Mereka berbagi tugas: Mahesa Amping melatih ketahanan fisik, Raden Wijaya melatih keterampilan gerak, dan Lawe sebagai pelatih jurus kanuragan. Sementara itu, penempaan keprajuritan berada di bawah pengawasan Senapati Mahesa Pukat.
Demikianlah para pemuda itu setiap hari ditempa selayaknya seorang prajurit. Pada pagi hari, mereka diajak Mahesa Amping berjalan dan berlari menyusuri jalan panjang, atau mendaki dan merayap di tebing-tebing terjal tidak jauh dari Bandar Cangu. Setelah beristirahat di siang hari, mereka dilatih oleh Raden Wijaya untuk menguasai beberapa keterampilan seperti melompat di antara patok-patok atau berlatih keseimbangan di atas balok titian. Menjelang senja hingga jauh malam, mereka berlatih jurus kanuragan di bawah bimbingan Lawe.
Para pemuda itu sendiri bukanlah orang yang benar-benar awam; di tempat asalnya, mereka sudah memiliki bekal dasar kanuragan yang kuat. Penempaan di Bandar Cangu lebih ditekankan pada penyelarasan agar tata gerak mereka memiliki satu watak yang seragam. Tidak ada halangan berarti dalam pelaksanaan penempaan para prajurit muda itu. Meskipun usia Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya masih sangat muda, mereka dapat melaksanakan tugas dengan baik. Para prajurit muda itu pun menghargai mereka, baik secara sikap maupun dalam menjalankan pengarahan latihan sehari-hari.
"Gila! Orang itu sepertinya punya pusar dua. Belum pernah kulihat napasnya tersengal-sengal," kata seorang pemuda berkulit hitam kepada temannya mengenai Mahesa Amping dalam sebuah latihan.
"Dengan kesungguhan, kalian dapat melakukannya tanpa menguras habis tenaga kalian," ujar Mahesa Amping sambil memberikan pengarahan tentang cara mengendalikan pernapasan yang benar.
Sementara itu, saat berlatih keterampilan dan keseimbangan badan, mereka mengakui keunggulan Raden Wijaya.
"Siapa yang kecepatannya melebihi aku, silakan gantikan aku sebagai pelatih," tantang Raden Wijaya sambil tersenyum kepada para prajurit muda untuk berlari di atas titian panjang. Namun, tidak satu pun yang mampu menandingi kecepatannya.
Demikianlah mereka berlatih dengan penuh semangat hari demi hari tanpa mengenal lelah. Akhirnya, kerja keras mereka mulai membuahkan hasil, baik dari ketahanan fisik, keterampilan, maupun penguasaan jurus kanuragan. Mahesa Pukat pun mulai terjun memberikan latihan pertempuran yang sebenarnya. Mereka dilatih bertempur secara berkelompok dalam simulasi peperangan nyata.
Tanpa terasa, empat bulan purnama telah berlalu di Bandar Cangu.
"Hari ini, aku masih memberikan kesempatan kepada kalian. Apakah ada di antara kalian yang ingin keluar dari kesatuan ini?" tanya Pangeran Kertanegara pada suatu pagi dalam upacara resmi penganugerahan kekancingan pasukan khususnya.
Pangeran Kertanegara menahan bicaranya sejenak. Namun, tidak ada satu pun yang mengangkat tangan atau menyatakan pengunduran diri.
"Baiklah, diamnya kalian adalah jawaban atas pertanyaanku. Mulai hari ini, kalian resmi menjadi pasukan khusus. Prajurit sejati yang akan menjaga bumi Singasari."
Kata-kata Pangeran Singasari itu disambut dengan teriakan gembira yang menggempita. Hari itu mereka resmi menjadi prajurit dan berhak mengenakan tanda keprajuritan sebagai bukti kekancingan resmi dari Kerajaan Singasari.
"Ketika purnama naik di atas tepian Brantas, kalian harus sudah kembali ke barak ini," pesan Pangeran Kertanegara yang memberikan kesempatan kepada para prajuritnya untuk pulang kampung selama sebulan penuh guna bertemu keluarga.
Sementara itu di galangan, sebuah jung besar telah berdiri dengan sempurna. Jung tersebut sangat indah dan megah, sebuah karya yang belum pernah ada sebelumnya pada zaman itu. Jung besar yang serupa dengan relief pada batu Candi Borobudur kini telah terwujud nyata. Siapa pun yang berlayar melewati Bandar Cangu akan singgah untuk melihat jung tersebut dengan penuh takjub.
Kabar mengenai terciptanya jung besar yang indah dan megah di Bandar Cangu pun tersiar ke segenap penjuru tanah Jawa. Di pasar, kedai, dan setiap tempat pertemuan, jung besar itu menjadi topik pembicaraan yang tidak ada habisnya. Purnama yang terpaku di langit tepian Sungai Brantas menyuguhkan pemandangan indah di kota pelabuhan Bandar Cangu. Sudah sepekan orang-orang berduyun-duyun datang untuk melihat langsung kemegahan tersebut.
"Luar biasa, begitu mirip, indah, dan megah," puji Sri Maharaja yang datang langsung ke Bandar Cangu untuk melakukan upacara menginjak air, sebuah ritual adat saat sebuah jung untuk pertama kalinya diturunkan ke air.
Rombongan Sri Maharaja datang bersama Ratu Anggabhaya yang juga penasaran ingin melihat langsung kemegahan jung tersebut, sekaligus untuk bertemu cucu tercintanya, Raden Wijaya, yang sudah lama tidak dijumpainya.
Tepat pada hari dan bulan yang baik, upacara besar mengiringi peluncuran jung besar dari galangan ke aliran air. Diawali dengan doa puji-pujian ke hadirat Gusti Sang Maha Karsa, Sri Maharaja memberikan restu dengan memecahkan kendi di atas anjungan. Air bunga tujuh rupa tumpah membasahi anjungan diiringi suara riuh para warga yang hadir memenuhi tepian Brantas.
Sri Maharaja segera turun dari galangan, memberikan kesempatan kepada para pekerja untuk menurunkan jung tersebut hingga sempurna mengapung di permukaan Sungai Brantas.