Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 23

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 23

"Mulai hari ini, tugasmu adalah mengurus semua kuda yang ada di sini," kata seorang penghuni Padepokan yang sepertinya merupakan orang kepercayaan Datuk Alasjati. Hal itu terlihat dari sikap penghuni lainnya yang sangat menghormati orang tersebut.

Pada hari pertama, tidak banyak yang dikerjakan oleh Mahesa Amping selain membersihkan kandang kuda yang sepertinya tidak terurus dengan baik. Dengan cekatan, Mahesa Amping membakar sisa-sisa rumput kering yang banyak tergeletak dan dibiarkan begitu saja.

Kandang kuda itu sendiri terletak di bagian belakang Padepokan Alasjati. Ada sebuah bilik kecil di sebelah kandang yang sepertinya tidak pernah dipakai. Di bilik itulah Mahesa Amping dipersilakan tinggal sebagai seorang pekatik. Agak ke tengah di belakang gandok tersebut, terdapat sebuah pintu kecil. Mahesa Amping melihat seseorang keluar dan masuk melalui pintu itu sambil membawa bumbung bambu panjang untuk diisi air.

Mahesa Amping menyempatkan diri membuka pintu kecil tersebut. Ternyata, di belakang padepokan mengalir sebuah sungai kecil yang jernih.

Hari itu adalah pagi pertama Mahesa Amping bekerja sebagai pekatik di Padepokan Alasjati. Suasana pagi masih terasa basah dan dingin. Mahesa Amping terlihat keluar dari padepokan sambil menuntun seekor kuda untuk mencari rumput segar. Ketika matahari mulai merayap naik, ia telah kembali dengan tumpukan besar rumput segar di pundak kuda yang dituntunnya.

Tidak ada lagi tugas berat bagi Mahesa Amping saat kuda-kuda peliharaannya tengah menyantap rumput segar. Namun, karena sudah terbiasa ringan tangan, ia membantu seorang penghuni padepokan yang tengah membelah kayu bakar tanpa diminta.

"Terima kasih, pekerjaanku jadi cepat selesai," kata orang itu dengan gembira.

"Sama-sama, Paman. Sambil menunggu kuda-kudaku selesai makan, masih banyak waktu sebelum memandikan mereka," ujar Mahesa Amping.

"Jadi, kamu pekatik baru itu?" tanya orang yang memperkenalkan dirinya bernama Bahar tersebut.

"Namaku Suro," jawab Mahesa Amping memperkenalkan diri dengan nama samaran.

"Suro, bantu aku membawa kayu bakar ini ke dapur," pinta Bahar. Ternyata, Bahar adalah seorang tukang masak di Padepokan Alasjati. Mahesa Amping pun ikut membantu menyalakan api di tungku.

"Datanglah ke mari bila perutmu terasa lapar, tidak perlu sungkan," kata Bahar sambil memasukkan beberapa tongkol jagung ke dalam bejana besar di atas tungku yang sudah menyala.

"Aku pamit dulu, kuda-kudaku sudah menunggu untuk dimandikan," pamit Mahesa Amping setelah mengisi perutnya dengan dua buah jagung rebus dan minuman hangat pemberian Bahar.

"Aku akan menyisakan jagung rebus ini untukmu," kata Bahar sambil meniup api di tungku dengan semprong bambu kecil hingga api menyala lebih besar.

"Terima kasih, Paman," sahut Mahesa Amping sambil berjalan keluar menuju kandang kuda.

Mahesa Amping memandikan kuda-kudanya satu per satu. Saat tinggal menyisakan satu ekor lagi, pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah kaki yang menuju ke arahnya. Ternyata, orang itu adalah salah satu penghuni yang kemarin membantunya membawa lima ekor kuda ke kandang.

"Antarkan dua ekor kuda ke depan pendapa. Datuk Alasjati ingin berjalan-jalan," perintah orang itu lalu segera berlalu.

Mahesa Amping segera menuntun dua ekor kuda menuju pendapa. Di sana, Datuk Alasjati dan seorang kepercayaannya telah menanti. Mahesa Amping menyerahkan kuda-kuda tersebut dan sempat melihat mereka melewati regol pintu gerbang padepokan.

Sambil menunggu mereka kembali, Mahesa Amping mengamati lingkungan sekitar padepokan. Selain bangunan utama, di sisi kiri dan kanan berdiri barisan barak panjang. Ia melihat beberapa orang pergi berladang jagung di belakang padepokan, namun sebagian besar penghuni lainnya tampak tidak memiliki kegiatan selain duduk-duduk berkumpul. Keadaan ini sangat berbeda dengan Padepokan Bajra Seta, di mana semua penghuninya saling membantu dan bekerja. Mahesa Amping menyadari bahwa sebagian besar penghuni di sini adalah orang-orang yang berperangai kasar.

Mahesa Amping terus berkeliling hingga sampai di dapur. Ia melihat Bahar sedang memipil jagung dan segera membantunya.

"Aku perhatikan, tidak semua penghuni padepokan ini bekerja di ladang," pancing Mahesa Amping.

Bahar tersenyum, namun tatapannya tampak kosong. "Aku dan mereka yang bekerja di sini adalah budak belian. Sementara mereka yang hanya duduk, makan, dan bermabuk-mabukan setiap hari adalah penghuni padepokan yang sebenarnya," jelas Bahar.

Saat matahari hampir mencapai puncaknya, Datuk Alasjati dan orang kepercayaannya kembali. Mahesa Amping segera berlari menjemput tali kendali kuda. Datuk Alasjati tampak senang dilayani oleh pekatik yang tanggap dan penuh hormat. Setelah membawa kuda kembali ke kandang, Mahesa Amping kembali membantu Bahar menjemur biji jagung.

"Tolong antarkan hidangan ini ke gandok tengah," pinta Bahar.

Mahesa Amping membawa baki hidangan tersebut. Di depan pintu gandok, seorang penjaga berwajah brewok dan bertubuh tambun menghentikannya. Jantung Mahesa Amping berdebar, ia yakin ada orang penting di dalam sana.

"Langsung antar ke dalam," perintah penjaga itu sambil membukakan kunci pintu.

Mahesa Amping masuk dengan perasaan waswas. Dugaannya benar; di dalam ruangan itu tampak seorang wanita sedang duduk mendekap lutut dengan pandangan kosong. Wanita itu tidak lain adalah Menik Kaswari. Mahesa Amping meletakkan hidangan di meja pojok kamar, lalu menatap gadis itu dengan iba.

"Pangeran Kertanegara titip salam untukmu," bisik Mahesa Amping perlahan.

Mendengar ucapan itu, wajah Menik Kaswari seketika berubah. Namun, sebelum ia sempat bersuara, Mahesa Amping memberi isyarat agar ia tetap diam. Mahesa Amping segera keluar, dan penjaga langsung mengunci kembali pintu tersebut.

Ia kembali ke dapur dan melapor kepada Bahar tanpa menceritakan apa yang baru saja dilihatnya. "Aku akan ke kandang kuda untuk menutupi rumput agar tidak terlalu kering," pamitnya.

Hingga senja tiba, Mahesa Amping hanya sibuk mengurus pakan kuda. Saat malam menjemput, ia beristirahat di pembaringannya. Pikirannya masih tertuju pada Menik Kaswari yang terkurung. "Kasihan gadis itu," gumamnya dalam hati sebelum akhirnya tertidur lelap.

Keesokan paginya, Mahesa Amping kembali menjalankan rutinitasnya. Ia menuntun seekor kuda sambil membawa arit dan garpu rumput. Ia sengaja mencari rumput agak jauh dari Padepokan Alasjati. Saat sedang mengumpulkan rumput, pendengarannya menangkap sesuatu, namun ia tetap bersikap tenang seolah tidak tahu.

"Baru jadi pekatik saja sudah sombong," terdengar suara dari belakang.

Mahesa Amping berbalik. Di hadapannya berdiri Raden Wijaya dan Lawe yang menyamar sebagai pembantu tabib dengan keranjang berisi tanaman obat di punggung mereka.

"Jangan terlalu lama di sini. Sampaikan bahwa aku telah bertemu Menik Kaswari dan dia dalam keadaan selamat," bisik Mahesa Amping.

Ia kemudian menggambar denah padepokan di atas tanah dan menjelaskan posisinya. "Di sinilah letak pintu belakang," jelasnya. Mereka sepakat untuk bertemu kembali di tempat yang sama esok hari.

Mahesa Amping kembali ke padepokan, sementara Raden Wijaya dan Lawe kembali menuju Tanah Perdikan.

"Ternyata Mahesa Amping sangat ahli memerankan perannya," puji Lawe saat mereka sudah cukup jauh. Raden Wijaya tersenyum bangga. Ia mengagumi kemampuan Mahesa Amping yang serbabisa, mulai dari merawat kuda, bertani, hingga kepandaiannya sebagai tukang besi yang mampu menempa pedang sempurna. Namun, lamunan Raden Wijaya buyar ketika mereka berpapasan dengan dua orang yang pernah mereka temui dalam perjalanan di atas kapal kayu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment