Chapter 108
"Ternyata kamu tahu apa yang ada di dalam pikiranku," kata orang itu dengan senyum penuh arti.
"Boleh kami beristirahat sejenak di sekitar tempat ini?" tanya Mahesa Amping kepada orang itu.
"Terserah kalian," kata orang itu sambil pergi meninggalkan Mahesa Amping bertiga.
Terlihat Mahesa Amping, Sembaga, dan Wantilan mencari tempat berteduh di sebuah pohon besar di antara gubuk-gubuk yang tidak beraturan letaknya mengelilingi rumah Sang Ketua.
Sambil beristirahat, mereka memperhatikan orang-orang yang ada di dalam gubuk; terlihat ada yang sedang tidur dan sebagian lagi sepertinya tengah bersenda gurau. Sebagian besar terlihat sebagai orang-orang kasar, terdengar dari gaya bahasanya.
Setelah matahari mulai jenuh berdiri di puncaknya, Mahesa Amping, Sembaga, dan Wantilan terlihat tengah bersiap-siap meninggalkan tempat itu. Beberapa mata terlihat mengiringi langkah kaki mereka, namun sebagian lagi sepertinya memandang tak acuh.
Hari sudah mendekati senja manakala mereka telah sampai di kaki hutan Gunung Jati. Di tanah terbuka, mereka langsung menghentakkan lari kuda mereka. Maka tidak begitu lama mereka telah sampai kembali di Kademangan Padang Bulan. Sandikala telah datang menelungkupi bumi, memanggil burung-burung kecil untuk kembali ke sarangnya. Para ibu memanggil anaknya yang masih bermain di halaman rumah, sementara itu beberapa lelaki bertelanjang dada terlihat baru pulang dari sawah. Di ujung senja, sudut pasar itu sudah begitu sepi.
Mahesa Amping, Sembaga, dan Wantilan masih terlihat duduk-duduk di bale bambu di depan gubuk mereka. Sayup-sayup terdengar suara burung jalak suren mencari pasangannya.
"Mengapa kamu tersenyum?" kata Wantilan yang heran melihat Mahesa Amping tersenyum sendiri.
"Aku kenal betul dengan suara jalak suren itu," kata Mahesa Amping masih tersenyum.
"Aku belum mengerti," kata Wantilan merasa tidak memahami arti ucapan Mahesa Amping.
Ternyata Mahesa Amping memang tidak perlu menjawab. Muncul dari kegelapan malam dari balik pohon ambon yang lebat, dua orang berjalan mengendap-endap. Setelah dua orang itu semakin mendekat, barulah terlihat wajah kedua orang itu yang ternyata adalah Raden Wijaya dan Lawe.
"Permisi, numpang tanya, aku mencari tiga orang pandai besi yang mumpuni," kata Lawe bercanda menyapa mereka.
"Selamat datang di Kademangan Padang Bulan," kata Sembaga menyambut kedatangan mereka.
Setelah menanyakan keselamatan masing-masing, Raden Wijaya menyampaikan berita bahwa dirinya telah datang bersama tiga ratus prajurit dari Bandar Cangu.
"Di mana sekarang mereka?" tanya Wantilan.
"Di hutan sebelah timur tidak jauh dari sini," kata Raden Wijaya. "Mereka datang secara bergelombang, aku datang bersama kelompok terakhir," lanjutnya.
"Satu hari penuh beristirahat kukira cukup untuk pasukanmu," kata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.
Semalaman mereka berbicara tentang beberapa hal menyangkut rencana penyerangan untuk menghabisi gerombolan Mahesa Rangga di Hutan Gunung Jati.
"Siapkan panah api, kita akan memulai peperangan dengan sebuah kepanikan besar," kata Mahesa Amping memberikan usulan.
"Aku setuju, kita telah memenangkan awal pertempuran," kata Raden Wijaya menyetujui usulan Mahesa Amping.
"Aku juga punya usul," kata Lawe.
"Apa usulmu?" tanya Sembaga kepada Lawe yang tampak begitu serius.
"Usulku bagaimana kalau kita memasak air dulu? Aku yakin dengan segelas wedang jahe hangat akan datang ilham yang cemerlang," kata Lawe dengan wajah penuh senyum.
"Usul yang hebat, biarlah aku yang melakukan tugas itu," kata Mahesa Amping menimpali canda Lawe sambil berdiri dan masuk ke dalam.
Tidak lama kemudian, Mahesa Amping datang membawa sebuah kendi besar berisi wedang jahe hangat yang baunya sudah tercium menyegarkan. Mahesa Amping kembali ke dalam gubuknya dan membawa beberapa tangkai jagung manis yang terlihat masih panas karena baru saja diangkat dari perapian.
"Tadi siang ada yang menukar sebuah cangkul dengan jagung manis," kata Mahesa Amping sambil meletakkan bakul berisi jagung manis yang masih panas.
"Serbuuuu!" kata Lawe yang langsung menyambar jagung manis di depan matanya.
Semua yang ada tersenyum melihat kelakuan Lawe yang tidak pernah berubah, selalu mengundang banyak tawa di antara mereka. Sementara itu, di kejauhan terdengar suara kentongan bambu dipukul dengan nada dara muluk berasal dari sebuah gardu di padukuhan terdekat. Hari memang sudah masuk di pertengahan malam.
"Kami pamit untuk kembali ke pasukan," kata Raden Wijaya menyampaikan keinginannya.
"Selamat beristirahat," kata Mahesa Amping melepas kepergian Raden Wijaya dan Lawe. Mereka terlihat berjalan ke arah sebagaimana mereka muncul dan menghilang ditelan kegelapan malam.
Sementara itu, Mahesa Amping, Sembaga, dan Wantilan membersihkan bale tempat mereka duduk. Di bale itulah mereka merebahkan diri, menghabiskan sisa malam yang dingin.
"Beristirahatlah, biarlah aku yang berjaga," kata Mahesa Amping kepada Wantilan dan Sembaga.
"Bangunkan aku bila kantukmu sudah tidak dapat tertahan lagi," kata Sembaga sambil menyarungkan sekujur tubuhnya dengan kain panjang.
Tidak lama kemudian, Sembaga dan Wantilan sudah terlihat nyenyak tertidur. Sementara itu, Mahesa Amping terlihat menyandarkan dirinya di dinding pagar gubuknya. Matanya terlihat terpejam, namun kewaspadaannya tetap terjaga. Tidak satupun bunyi yang terlepas dari pendengarannya. Namun, malam yang tersisa itu berlalu sebagaimana adanya, tidak ada sesuatu pun yang terjadi malam itu. Akhirnya, pagi telah datang.
"Kenapa kamu tidak membangunkan aku?" kata Sembaga kepada Mahesa Amping yang terbangun dan melihat hari sudah menjadi terang tanah.
"Aku melihat Paman tidur begitu pulas nyenyaknya," kata Mahesa Amping penuh senyum.
Pagi itu Kademangan Padang Bulan disiram gerimis kecil panjang, membuat orang-orang malas keluar rumah. Mahesa Amping, Sembaga, dan Wantilan terlihat masih duduk-duduk di bale bambu, tampaknya malas untuk menggelar barang dagangan, mungkin karena hari itu bukan hari pasaran. Ketika gerimis berhenti, barulah mereka menggelar barang dagangannya. Tidak seperti hari-hari lalu, Sembaga hari ini tidak membelah kayu dan membuat perapian, sementara itu Wantilan menghaluskan beberapa barang yang kemarin belum sempat dikerjakan. Namun, sebentar saja pekerjaan itu sudah diselesaikan oleh Wantilan.
"Hari ini kita harus beristirahat yang cukup," kata Sembaga sambil duduk di bale dan menyandarkan badannya di pagar rumah.
"Rebusan jagung manis," kata Mahesa Amping keluar sambil membawa beberapa potong jagung manis.
Seharian mereka hanya bercakap-cakap di atas bale.
"Tugas kita sebagai pandai besi sudah mendekati masa paripurna," kata Mahesa Amping.
"Kasihan beberapa pelanggan kita," kata Sembaga.
"Kita dapat meminta Juragan Kimung untuk mencari kerabatnya yang mau melanjutkan usaha kita ini," usul Sembaga.
"Benar, kita dapat mendidik beberapa orang di Padepokan Bajra Seta," kata Wantilan.
"Setelah urusan kita selesai, kita bisa membicarakannya bersama Juragan Kimung," kata Mahesa Amping.
Sementara itu, hari terus bergulir, matahari perlahan merayap mendaki dan menuruni lengkung langit hingga akhirnya menggelantung di ujung barat cakrawala. Langit sudah berwarna awan senja kelabu. Beberapa burung manyar berkepala kuning yang seharian ramai di atas dahan pohon ambon yang rindang sudah tidak terdengar lagi suaranya, mungkin sudah kembali ke sarangnya yang hangat.
Sementara itu, di hutan sebelah timur Kademangan Padang Bulan, beberapa prajurit Singasari terlihat tengah mempersiapkan diri. Tenaga mereka sepertinya telah pulih kembali setelah seharian cukup beristirahat.
"Kita menunggu Mahesa Amping yang akan menjadi pemandu kita menuju Hutan Gunung Jati," kata Raden Wijaya kepada beberapa prajurit.
Ternyata orang yang ditunggu akhirnya datang juga, terlihat Mahesa Amping datang seorang diri.
"Paman Wantilan dan Paman Sembaga telah berangkat lebih dulu mendahului kita ke Hutan Gunung Jati," kata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.
Langit di atas tanah datar di Hutan Gunung Jati saat itu sudah masuk malam. Dari jauh hanya terlihat kerlap-kerlip cahaya berasal dari oncor minyak jarak yang digantung di depan gubuk-gubuk gerombolan Mahesa Rangga. Beberapa orang terlihat masih berkerumun, sementara beberapa orang lagi sudah mulai beranjak naik ke tempat tidur.
Dulu, sebelum gerombolan Mahesa Rangga menghuni Hutan Gunung Jati, hutan ini sangat angker di malam hari. Para pemburu tidak ada yang berani bermalam di sini karena beberapa orang pernah bertemu dengan makhluk hantu genduruwo, sejenis hantu bermata satu yang sangat menyeramkan dan suka sekali menghisap darah manusia. Namun, manakala gerombolan Mahesa Rangga menghuni Hutan Gunung Jati, hutan ini berubah lebih menakutkan lagi. Penduduk tidak takut lagi pada genduruwo, tetapi takut kepada penghuninya, gerombolan Mahesa Rangga, yang umumnya sangat galak dan kasar. Ada beberapa penduduk yang tidak pernah kembali lagi ke rumah setelah memasuki Hutan Gunung Jati. Berdasarkan cerita salah seorang penduduk yang berhasil meloloskan diri, orang-orang yang tersasar memasuki hutan itu telah ditangkap, disiksa, dan harus bersedia melayani sebagai budak. Yang sangat dibenci oleh penduduk sekitar adalah bahwa gerombolan tersebut sering turun gunung di malam hari untuk mencari para wanita muda.