Chapter 141
Semua yang menyaksikan pertempuran itu terlihat bernapas lega setelah beberapa saat darah mereka seperti berhenti karena ketegangan yang mendera.
"Mereka adalah sahabat Mahesa Amping," kata Dewa Bakula kepada gurunya sambil memperkenalkan Empu Dangka, Ki Arya Sidi, dan Ki Jaran Waha yang juga baru dikenalnya.
"Hari ini aku berkenalan dengan orang-orang luar biasa dari Balidwipa," ucap Aanjav dengan senyum keramahan.
Akhirnya mereka menyadari bahwa Dewa Palaguna tidak ada di antara mereka.
"Palaguna belum dapat menilai sebuah kekalahan dengan sebenarnya," kata Aanjav sambil menarik napas dalam, menyesali sikap dan perbuatan muridnya yang sudah cukup berumur, yang seharusnya sudah dapat bertindak bijak.
Sementara itu, cakrawala langit malam semakin hanyut surut dibawa sang waktu, dan sang dewi rembulan yang sudah letih menjaga bumi berbaring pucat di tepian ujung barat cakrawala, yang sebentar lagi akan berganti pagi. Benar, bintang fajar telah terlihat tersenyum dengan cahayanya yang gemerlap sebagai tanda pagi akan segera menjelang.
"Mari kita bersama ke Pura Indrakila," ajak Dewa Bakula agar semuanya beristirahat di sana.
"Terima kasih, aku tidak ikut singgah. Penampilanku akan membuat gempar para penghuni Pura Indrakila," kata Ki Jaran Waha berpamitan, lalu langsung kembali ke tempat kediamannya.
Terdengar Ki Jaran Waha bersuit panjang, maka terlihat beberapa orang keluar dari persembunyiannya. Ternyata Ki Jaran telah menempatkan beberapa pengikutnya untuk berjaga-jaga bilamana ada kecurangan dari pihak lain. Dengan diiringi pandangan mata semua yang ada di puncak Bukit Sembul, Ki Jaran Waha dan pengikutnya menuruni puncak dan menghilang ditelan bumi di sebuah tanah yang menurun terjal.
Tidak lama kemudian, semua yang tersisa di tanah lapang Bukit Sembul itu bergerak menuruni bukit menuju Pura Indrakila. Mereka berjalan beriringan, dinaungi langit yang telah bersemburat warna merah sebagai tanda sebentar lagi sang mentari akan datang menjaga bumi.
Pagi masih begitu gelap manakala mereka sampai di Pura Indrakila. Sebagaimana keluarnya, mereka pun masuk dari sisi kiri Pura Indrakila langsung menuju Bale Guru.
"Beristirahatlah, aku akan memberitahukan pelayan," ujar Dewa Bakula ketika mereka tengah menaiki tangga pendapa Bale Guru.
"Semoga Gusti Yang Maha Agung selalu menaungi perjalananmu," kata Empu Dangka mengantar Ki Arya Sidi yang tengah menuruni anak tangga pendapa Bale Guru. Diiringi pandangan mata Mahesa Amping dan Empu Dangka, terlihat Ki Arya Sidi menghilang di tikungan jalan setapak yang terhalang pohon rengon yang besar.
Sementara itu, matahari pagi sudah bergeser naik, memancarkan cahayanya yang menyilaukan di ujung timur bumi. Awan cerah seperti kapas mengambang mengisi seluruh cakrawala di atas Bale Guru Pura Indrakila. Seperti biasa, di pagi itu Mahesa Amping dan Empu Dangka turun ke sanggar untuk memberikan pengarahan kepada para siswa.
"Daya tangkap dan penalaran dari setiap siswa ternyata tidak sama," kata Mahesa Amping kepada Empu Dangka di sela-sela kesibukannya.
"Di situlah letak keadilan Gusti Yang Maha Agung," sahut Empu Dangka dengan senyum terkulum.
"Jadi, adil itu bukan berarti sama rata?" tanya Mahesa Amping.
"Benar, adil menurut kita tidak sama dengan adil menurut Sang Hyang Gusti Yang Maha Agung," jawab Empu Dangka menyejukkan.
Pembicaraan mereka terhenti manakala datang seorang pelayan Puri Dalem Astana menemui mereka. "Baginda Raja berkenan akan mengunjungi sanggar," kata pelayan itu.
"Kami akan menanti kedatangan Baginda," jawab Mahesa Amping.
Tidak lama berselang, Baginda Raja Indrakila memang telah datang ke sanggar untuk melihat-lihat kegiatan latihan para siswa bersama Mahesa Amping dan Empu Dangka.
"Terima kasih telah mengembalikan warna ilmu di Pura Indrakila ini sebagaimana yang telah diturunkan nenek moyang kami secara turun-temurun," ucap Baginda Raja Indrakila yang merasa gembira melihat tata gerak ilmu kanuragan yang diajarkan Mahesa Amping.
"Apakah Tuanku melihat beberapa hal yang berbeda?" tanya Mahesa Amping, memancing kejelian mata Baginda Raja.
"Benar, aku melihat beberapa hal yang berbeda secara mendasar," jawab Baginda Raja.
"Itulah hasil pengembangan dan kesempurnaannya," kata Mahesa Amping tanpa menerangkan bahwa dialah sebenarnya yang telah menyempurnakan ilmu Perguruan Panca Agni.
Mahesa Amping kemudian menjelaskan secara sederhana mengenai kesempurnaan ilmu tersebut. Sebagai seseorang yang telah lama menggeluti ilmu Perguruan Panca Agni sejak usia belia, penjelasan Mahesa Amping membuat Baginda Raja Indrakila semakin tertarik.
"Bila Tuanku bersedia, hamba dapat merincinya di sanggar tertutup," ajak Mahesa Amping.
Di dalam sanggar tertutup, Mahesa Amping menjelaskan secara terperinci beberapa celah kekurangan dan pengembangan ilmu Perguruan Panca Agni, terkadang sambil memperagakannya langsung. Seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru, Baginda Raja Indrakila langsung menjalankan jurus-jurus pengembangan tersebut dengan penuh semangat.
"Selama ini aku berlatih, tapi tidak melihat kekurangannya," ujar Baginda Raja Indrakila penuh kegembiraan.
"Dengan beberapa kali latihan, pasti akan mendarah daging," kata Mahesa Amping.
"Pekan depan aku akan mengunjungi kalian untuk melihat apakah latihanku sudah ada peningkatan," kata Baginda Raja Indrakila kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka ketika mereka keluar dari sanggar.
"Dengan senang hati kami menanti kunjungan Tuanku," jawab Mahesa Amping yang kemudian mengantar Baginda Raja kembali ke Puri Dalem.
Sekumpulan burung manyar kuning terbang melintas halaman Bale Guru, sementara matahari sore masih setia menjaga bumi di ujung barat dengan cahayanya yang semakin redup.
"Apakah anakmas tidak pernah berpikir untuk membawa keluarga ke Balidwipa ini?" tanya Empu Dangka kepada Mahesa Amping ketika mereka duduk di pendapa menanti senja.
Mahesa Amping tidak segera menjawab, matanya jauh memandang ke depan melampaui rerumputan. Angan Mahesa Amping telah berkelana sampai ke Tanah Melayu.
"Setelah tugas yang diembankan kepadaku selesai, aku akan membawa mereka ke Balidwipa," kata Mahesa Amping perlahan.
"Balidwipa adalah hunian yang indah, terutama untuk sebuah keluarga," ucap Empu Dangka sambil melirik, ingin tahu isi hati Mahesa Amping.
Sekilas suasana menjadi sepi. Mereka sepertinya tengah tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Entah kenapa pada saat-saat tertentu yang kubayangkan adalah sebuah keluarga kecil, sebuah gubuk mungil berdiri di dekat persawahan," ungkap Mahesa Amping.
Empu Dangka tersenyum. "Bukan rumah besar seorang perwira besar di kotaraja dengan sejumlah pelayan?"
Mahesa Amping tidak menjawab, hanya terdengar helaan napasnya yang panjang. Empu Dangka tidak mencoba mengungkit apa yang sebenarnya dipikirkan anak muda yang telah memiliki ketinggian ilmu melebihi puncak Gunung Agung itu.
Sementara itu, sang sandikala telah datang mewarnai cakrawala langit di atas Bale Guru Pura Indrakila. Pandangan alam menjadi begitu bening tanpa semilir angin sedikit pun. Pohon-pohon besar di sekitar Bale Guru tampak seperti raksasa yang sedang memandang langit. Hamparan rumput hijau di halaman seperti rebah bersujud menanti datangnya malam.
"Ki Arya Sidi mungkin besok baru datang kembali," kata Empu Dangka kepada Mahesa Amping saat mereka duduk di pendapa yang diterangi pelita biji jarak yang cahayanya temaram.
"Secepatnya kita harus menyerahkan pembinaan para siswa di Pura Indrakila ini kepada Ki Arya Sidi," ujar Mahesa Amping.
"Mengapa harus secepatnya?"
"Secepatnya kita harus melaporkan tugas di Balidwipa ini ke Singasari."
"Kita? Kamu saja kali," goda Empu Dangka.
"Bukankah saudara kembar Empu Dangka sudah menjadi pendeta guru istana di Singasari dan Empu Dangka ingin menemuinya?"
"Anakmas benar, aku akan datang bersamamu ke Singasari," kata Empu Dangka dengan wajah berbinar. Matanya berkaca-kaca, menahan getar kerinduan untuk bertemu satu-satunya saudara yang ia miliki di dunia ini.
Dering dengung malam terdengar ajek mengiringi suasana yang sepi di sekitar Bale Guru Pura Indrakila. Kadang terdengar suara katak menjerit, mungkin suara terakhirnya saat berada di ujung taring seekor ular yang malam itu mendapatkan santapannya.