Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 96

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 96

Tubuh naga besar itu berguling-guling merasakan sakit yang sangat pada kedua matanya. Terdengar suara mencicit panjang keluar dari mulutnya yang bertaring menyeramkan.

Suara mencicit panjang itu seperti sebuah aba-aba. Serentak, lima orang telah bergerak dengan senjata masing-masing.

Dengan lompatan panjang, Kebo Arema berhasil merobek leher naga besar itu. Bersamaan dengan itu, keris Raden Wijaya telah menghujam dalam di perut naga besar tersebut. Sementara itu, Gagak Seta dengan golok panjangnya yang tajam nyaris membuntungi kaki depan makhluk mengerikan itu.

Namun, malang bagi kedua lelaki asal Pulau Banca yang ingin ikut membantai naga besar itu. Dalam keadaan kalap dan terluka, makhluk itu mengayunkan ekornya. Kedua orang itu seperti terhantam benda keras yang kuat; mereka terlempar jauh dan tidak terlihat bergerak lagi. Ternyata mereka jatuh pingsan.

Mahesa Amping segera mendekati kedua orang itu. "Syukurlah, hanya pingsan," ucapnya dalam hati setelah meyakinkan bahwa nyawa keduanya masih dapat tertolong.

Sementara itu, naga besar itu masih berkelepar, meronta ke sana kemari. Terlihat darah mengalir dari luka robekan pedang Kebo Arema di lehernya yang cukup dalam dan melebar, hampir separuh dari lingkaran badannya yang sebesar pelukan tangan. Darah juga terlihat keluar dari perut dan kaki depannya yang nyaris buntung.

Lama juga ular naga berkaki enam itu bertahan dengan sisa hidupnya. Namun, perlahan tapi pasti, kekuatan makhluk besar itu semakin surut karena kehabisan darah. Akhirnya, tidak ada lagi gerakan. Ular naga berkaki enam itu tidak kuasa mempertahankan nyawanya, tergeletak di pantai dengan tubuh kotor berbaur debu pasir putih. Ombak air laut sesekali membasahi bangkai ular naga besar itu, perlahan bergeser mendekati bibir laut.

"Bagaimana dengan kedua ular naga yang ada di hutan itu?" tanya Mahesa Amping kepada Gagak Seta ketika mereka sudah berada di atas jukung, menjauhi bibir pantai Pulau Naga.

"Mudah-mudahan mereka tidak membahayakan penduduk kepulauan ini," kata Gagak Seta sambil memandang Pulau Naga yang semakin menjauh.

"Semoga hanya satu ekor naga yang tersisih dari kelompoknya," kata Mahesa Amping, berharap naga itu satu-satunya yang meresahkan penduduk Kepulauan Banca.

"Aku juga berharap yang sama," ujar Gagak Seta sembari tersenyum kepada Mahesa Amping.

Senja sudah tua manakala jukung-jukung mereka kembali ke Pulau Banca.

"Syukurlah kalian telah kembali dengan selamat," kata Ratu Anggabhaya bersama Lembu Tal dan Dara Petak menyambut kedatangan mereka dari perburuan ular naga berkaki enam yang meresahkan penduduk Kepulauan Banca.

Pada malam harinya, sambil beristirahat, cerita tentang perburuan ular naga menjadi pembicaraan yang menarik. Sementara itu, rembulan telah bersembunyi di balik batang-batang pohon kelapa. Ombak laut pasang datang dan pergi, berkejaran sepanjang pantai. Malam berlalu di Pulau Banca bersama suara ombak yang bersatu dengan gesekan daun nyiur kering dan angin pantai, seperti degung gamelan pengantin pengantar tidur, damai membuai jiwa dalam ketenangan yang sunyi.

Tidak terasa, pagi pun akhirnya datang. Terlihat Jung Singasari telah bergerak perlahan meninggalkan dermaga Pulau Banca. Persediaan air tawar dan pangan telah mengisi lambung jung, dan pelayaran panjang dimulai kembali.

"Sudah saatnya kalian menentukan arah jalan, meniti kehidupan untuk hari depan yang panjang," kata Ratu Anggabhaya kepada Raden Wijaya, Mahesa Amping, dan Lawe.

Saat itu malam telah menyelimuti anjungan Jung Singasari di atas hamparan laut buram. Tidak seorang pun yang melihat perubahan wajah Mahesa Amping; pikirannya terapung-apung di antara berbagai jalan kehidupan. Mahesa Amping seperti berdiri di banyak persimpangan jalan. Terbayang sebuah keluarga kecil di tengah sawah ladang saat memetik panen jagung raya. Terbayang pula wajah para cantrik di sisa malam yang teduh, bersenandung tentang ujar-ujar kitab kuno.

Lamunannya melambung tinggi, mendapati sebuah wajah penuh senyum, wajah senapati muda lengkap dengan pakaian kepangkatan seorang prajurit. Tiba-tiba saja Mahesa Amping seperti dibawa pergi bersama lamunannya, terjerembap di tengah kecamuk peperangan besar, mendengar rintihan, mendengar umpatan kotor, dan melihat mayat bergelimpangan di atas genangan darah manusia. Salah satu mayat itu adalah wajah prajurit muda yang kemarin masih bersamanya berlatih memegang pedang, dan wajah mayat yang lain adalah seorang prajurit tua yang pekan lalu asyik bercerita bahwa istrinya yang sudah lama dinikahi ternyata telah hamil muda.

"Aku yakin kalian bertiga akan menjadi kebanggaan prajurit Singasari," kata Ratu Anggabhaya yang membuyarkan lamunan Mahesa Amping.

"Setelah tiba di Tanah Singasari, aku akan membicarakannya langsung kepada Sri Baginda Raja," lanjut Ratu Anggabhaya tanpa memperhatikan perubahan wajah Mahesa Amping yang masih seperti terapung dipermainkan gelombang laut kehidupan.

"Aku memilih jalanku, atau jalan yang memilih tanpa pilihan?" bisik Mahesa Amping dalam hati.

Sementara itu, Jung Singasari telah melewati Selat Sunda, langsung menyisir pantai utara Nusajawa. Sebagaimana ketika bertolak dari Tanah Singasari, Jung Singasari singgah di beberapa bandar besar di Nusajawa. Selain untuk bertukar barang dagangan, mereka juga mengisi lambung jung dengan berbagai persediaan selama pelayaran. Di Bandar Churabaya mereka singgah sebentar sekadar menanti angin laut.

Di malam hari, semilir angin yang bertiup mendorong layar terkembang, membawa mereka pulang ke kampung kerinduan, Bumi Singasari Raya.

Di pagi yang cerah, Jung Singasari telah kembali ke sanggarnya, merapat di dermaga Bandar Cangu yang ramai. Ratu Anggabhaya, Lembu Tal, dan Dara Kencana, dikawal oleh sekitar dua puluh prajurit, langsung berangkat ke Kotaraja.

"Di Benteng Cangu tugas telah menantiku," kata Raden Wijaya ketika mengantar Ratu Anggabhaya dan Lembu Tal, memberi alasan tidak dapat menyertai mereka ke Kotaraja.

"Salam untuk Sri Baginda Raja, aku berjanji akan membawa keuntungan berlipat," ujar Kebo Arema kepada Ratu Anggabhaya saat mengantar keberangkatan iring-iringan utusan raja itu.

Setelah iring-iringan utusan kerajaan jauh meninggalkan Bandar Cangu, Kebo Arema, Raden Wijaya, Mahesa Amping, dan Lawe melangkahkan kaki menuju Benteng Cangu.

"Selamat datang, wahai para pelaut," sapa Mahesa Pukat yang menyongsong kedatangan mereka di tangga pendopo.

"Selamat berjumpa kembali, Singasari," jawab Kebo Arema.

Setelah melepas rindu, mereka saling bercerita tentang berbagai pengalaman selama pelayaran. Mahesa Pukat bercerita tentang lima jung Singasari yang sudah mendekati kesempurnaan, serta seribu lima ratus prajurit muda yang siap menerima tempaan lahir dan batin.

"Para prajurit muda itu sudah mengisi barak-baraknya, siap menerima tempaan dan pendadaran," kata Mahesa Pukat tentang persiapan penempaan prajurit muda.

"Terima kasih untuk semuanya," kata Kebo Arema kepada Mahesa Pukat yang telah banyak membantu.

Kebo Arema, Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya sudah tidak sabar lagi untuk melihat barak-barak baru serta lima jung raksasa yang sudah mendekati kesempurnaan. Setelah beristirahat cukup, mereka langsung menuju barak-barak baru dan melihat lima jung raksasa tersebut. Baru setelah matahari menukik di ujung senja, mereka kembali ke Benteng Cangu untuk menyusun rencana hari esok.

Sejak saat itu, hari-hari mereka tercurah dalam penempaan para prajurit muda. Pengalaman membina prajurit sebelumnya menjadi bekal berharga. Para prajurit muda sengaja dilatih di berbagai medan; kadang dibawa ke hutan belantara, kadang berlayar jauh menyusuri Sungai Brantas. Mereka diharapkan menjadi prajurit yang tangguh, baik di daratan maupun di lautan.

Di hutan belantara, mereka dilatih menguasai alam, bersembunyi, dan menyerang lawan di kegelapan. Di lautan luas, mereka dilatih menghadapi badai, membaca bintang, mengendalikan layar dan kemudi, serta berperang di perairan dengan berbagai gelar. Secara bertahap, kemampuan kanuragan mereka terus ditingkatkan, baik dalam pertempuran perorangan maupun kelompok.

Ternyata, mereka adalah prajurit muda yang berbakat. Setelah beberapa bulan ditempa dengan cara yang baik tanpa melupakan nilai-nilai kemanusiaan, mereka terbentuk menjadi prajurit tangguh yang dapat berperang di segala medan. Seiring berjalannya waktu, lima jung Singasari pun siap diarungi.

Mulailah para prajurit muda dilatih di medan yang sebenarnya, medan tugas prajurit pengawal kerajaan laut Singasari Raya. Tiga ratus prajurit yang sudah berpengalaman, yang merupakan prajurit khusus pertama, dibagi ke dalam enam kelompok di enam jung yang berbeda. Enam orang yang paling cakap dipercayakan sebagai kepala kelompok yang bertanggung jawab atas pengawalan jung.

"Saatnya kerajaan laut Singasari memperkenalkan diri ke penjuru dunia," kata Kebo Arema pada suatu malam di pendopo Benteng Cangu saat menyusun rencana pelayaran panjang. Sejak saat itu, jung Singasari banyak terlihat di sepanjang pesisir Nusajawa sampai ke Tanah Melayu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment