Chapter 174
Ketika penjaga itu telah menjauh melewati barak mereka, tidak ada satu pun yang bangun.
Ternyata udara yang dingin dan berkabut membuat mereka semakin merapatkan kaki di balik kain sarungnya, lalu tertidur melepaskan kepenatan dan kelelahan, berharap esok pagi terbangun dengan badan yang kembali segar.
Pagi itu, Mahesa Amping telah terbangun di antara hiruk pikuk beberapa orang yang terlihat berlalu lalang sesuai kepentingannya masing-masing di atas puncak Pura Besakih, tempat barak-barak darurat didirikan untuk menampung pasukan yang cukup besar, sekitar seribu orang.
"Siapkan semua orangmu, nanti malam kita bergerak," ujar Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha yang pagi itu tengah mengantar ransum untuk semua orang di barak-barak.
"Kami akan melakukannya dengan cara kami," jawab Ki Jaran Waha dengan senyuman.
Sementara itu, di Pura Dalem Astana, Raja Adidewalancana tengah mendapat laporan bahwa pasukan Singasari telah berada di Kademangan Rendang.
"Mereka tidak akan mampu memasuki Pura Besakih," kata Raja Adidewalancana dengan wajah penuh keyakinan kepada pembantu setianya, Jero Mangku Sapta. "Pasukan pemanah telah kami siagakan," ujar Jero Mangku Sapta menjelaskan beberapa hal yang telah mereka persiapkan. "Kami juga telah memenuhi hutan dengan beberapa ranting kering tersembunyi yang siap membakar mereka," lanjut Jero Mangku Sapta kepada Raja Adidewalancana.
"Para Dewa akan memanggang tubuh mereka sampai hangus. Itulah hukuman bagi para penyerang Pura Besakih," ucap Raja Adidewalancana dengan penuh keyakinan bahwa Dewa Perang akan berpihak kepadanya.
Ternyata keyakinan Raja Adidewalancana cukup beralasan. Di samping lokasi Pura Besakih yang mirip dengan benteng yang kokoh, mereka juga telah membuat jebakan besar yang sangat berbahaya bagi siapa pun yang akan menyerang Pura Besakih. Beberapa ranting kering telah ditempatkan di berbagai tempat tersembunyi, siap menjadikan hutan di sekeliling Pura Besakih sebagai lautan api.
Sementara itu, sebagaimana diketahui oleh pihak Pura Besakih, pasukan induk dari Singasari yang dipimpin oleh seorang Senapati muda, Mahesa Bungalan, memang telah sampai di Kademangan Rendang. Agar tidak mengganggu dan meresahkan warga, pasukan induk itu telah membuat barak-barak darurat di luar padukuhan, tepatnya di sebuah tempat yang lapang dan cukup aman.
"Apakah aku berhadapan dengan Ki Demang Amararatu?" tanya Mahesa Bungalan bersama dua orang perwiranya ketika datang ke rumah Ki Demang.
"Tuan tidak salah menyebutnya, itulah namaku sebenarnya," jawab Ki Demang yang menemui Mahesa Bungalan di pendapa rumahnya.
"Terima kasih atas segala bantuan yang Ki Demang lakukan kepada kami," kata Mahesa Bungalan.
"Semua yang aku lakukan semata-mata untuk kepentingan warga Balidwipa di masa yang akan datang," jawab Ki Demang. "Secara pribadi, aku sangat membenci peperangan di mana pun," ujar Mahesa Bungalan membuka pembicaraan dengan nada suara yang halus.
Diam-diam, Ki Demang mulai menyukai orang di hadapannya ini, seorang Senapati yang tidak menonjolkan kekuasaan sebagaimana yang biasa ia temui dari beberapa pejabat Pura Besakih.
"Tapi kita harus melihat tujuan dari peperangan itu sendiri," ujar Ki Demang menanggapi.
"Selama masih ada jalan selain peperangan, kita harus mengupayakannya," tutur Mahesa Bungalan kepada Ki Demang.
"Masih adakah upaya menghindari peperangan ini, sementara pasukan Singasari sudah siap selangkah lagi?" tanya Ki Demang.
"Masih ada satu kesempatan, yaitu meminta penguasa Pura Besakih menyerahkan diri," jawab Mahesa Bungalan.
"Sebuah permintaan yang sangat mahal. Aku belum yakin apakah penguasa Pura Besakih dapat mengabulkannya," kata Ki Demang.
"Tidak ada salahnya berupaya selama masih ada kesempatan," ucap Mahesa Bungalan dengan suara datar penuh ketenangan.
"Tuan benar, sebuah upaya selama ada kesempatan," sahut Ki Demang yang sepertinya ikut menyetujui.
"Hari ini kami sudah mengirim seorang utusan perdamaian itu," kata Mahesa Bungalan kepada Ki Demang.
"Aku berharap utusan itu kembali membawa kabar baik," ujar Ki Demang.
"Kita mempunyai harapan yang sama," kata Mahesa Bungalan dengan wajah penuh senyum.
Diam-diam, Ki Demang sangat mengagumi kepribadian Mahesa Bungalan yang sangat tenang, seolah tidak sedang menghadapi urusan besar.
"Kita serahkan semua kepada Gusti Yang Maha Kuasa, Gusti Yang Maha Berkehendak. Kemarin, hari ini, dan besok adalah urusan-Nya. Kita hanyalah wayang yang ada di dalam genggaman-Nya," kata Mahesa Bungalan seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran Ki Demang.
"Dengan pasrah berserah diri, jiwa dan pikiran kita menjadi jernih," tambah Ki Demang.
Sementara itu, Nyi Demang terlihat datang membawa beberapa makanan dan minuman.
"Silakan dinikmati," ujar Nyi Demang mempersilakan tamu-tamunya, lalu masuk kembali ke dalam rumahnya.
Sambil mencoba menikmati hidangan yang disediakan, perbincangan pun berlanjut ke berbagai hal, mulai dari panen padi sampai dengan perdagangan kuda.
"Aku sangat menyukai kuda, bahkan pernah ada niat menjadi peternak kuda," kata Mahesa Bungalan.
"Sebuah niat yang baik, jauh dari peperangan," ujar Ki Demang menanggapi.
Sementara itu, di tempat berbeda, seorang utusan Singasari telah diterima di Pura Dalem Astana.
"Senapatimu telah mengirim rontal ini hanya untuk menghinaku!" seru Raja Adidewalancana setelah membaca rontal yang dibawa oleh utusan itu.
"Berikan rontal ini kepada Senapatimu. Katakan kepadanya bahwa Raja Adidewalancana tidak akan gentar menghadapi siapa pun," perintah Raja Adidewalancana setelah menulis rontal balasan.
"Hamba akan menyampaikan pesan Tuan," jawab utusan itu sambil pamit diri untuk keluar dari Pura Besakih.
Utusan itu segera keluar dari Pura Besakih dengan berkuda menuju Kademangan Rendang. Jarak antara Pura Besakih dan Kademangan Rendang hanya sepenginangan, sementara matahari di langit telah semakin merayap naik mendekati puncaknya. Terlihat seorang prajurit berkuda tengah mendekati Kademangan Rendang langsung menuju pasukan induknya.
"Senapati Mahesa Bungalan tengah berada di rumah Ki Demang," ujar seorang perwira atasan utusan itu.
"Aku akan menemuinya langsung," kata utusan itu.
"Aku akan menugaskan seorang prajurit untuk menemanimu," kata perwira atasannya sambil memanggil seorang prajurit untuk menemani utusan itu ke rumah Ki Demang.
Sementara itu, di rumah Ki Demang, Mahesa Bungalan dan dua orang perwiranya masih berada bersama Ki Demang di pendapa. Ternyata Ki Demang adalah orang yang pandai membawa suasana dalam setiap perbincangan; sesekali mereka tertawa bersama mendengar cerita dan tanggapan Ki Demang yang menggelitik.
"Akhirnya prajurit yang kita nantikan telah sampai," ujar Mahesa Bungalan ketika melihat dua orang prajurit melangkah di halaman Ki Demang.
"Aku membawa rontal Raja Adidewalancana untuk Tuan," kata salah seorang prajurit itu setelah naik ke pendapa.
"Terima kasih, kembalilah kalian ke pasukan induk," kata Mahesa Bungalan setelah menerima rontal tersebut.
"PURA BESAKIH MILIK PARA DEWA, SIAPA PUN YANG DATANG MENDEKAT SEBAGAI MUSUH AKAN TERBAKAR."
"Raja Adidewalancana bukan hanya yakin atas keberadaan Pura Besakih yang berwujud sebagai benteng yang kuat, di sekitar hutannya juga telah disiapkan berbagai jebakan," kata Mahesa Amping setelah membaca langsung rontal yang ditulis oleh Raja Adidewalancana.
Mahesa Bungalan memberi kesempatan dua orang perwiranya dan Ki Demang untuk membaca rontal kiriman Raja Adidewalancana itu.
"Tugaskan lima orang prajurit yang ahli dalam membaca jejak bersamamu untuk memeriksa keadaan di sekitar hutan Pura Besakih," perintah Mahesa Bungalan kepada salah seorang perwiranya.
"Segera kami akan memeriksanya," jawab perwira itu sambil pamit diri untuk membawa lima orang prajurit ahli jejak dari pasukan induk.
Sementara itu, diam-diam Ki Demang mengagumi kecerdikan Senapati muda di hadapannya.
"Ternyata Senapati muda ini telah memasang dua kail bercabang bersama utusan perdamaiannya itu," batin Ki Demang.
"Mungkin kami terlalu lama mengganggu ketenangan Ki Demang," ujar Mahesa Bungalan yang berniat untuk beranjak.
"Aku tidak merasa terganggu, bahkan kehadiran Tuan Senapati telah banyak memberikan ketenangan di rumah ini," jawab Ki Demang.
"Terima kasih untuk hidangannya," ucap Mahesa Bungalan bersama seorang perwiranya ketika telah turun dari pendapa rumah Ki Demang.
Di waktu yang sama, Mahesa Amping dan pasukan kecilnya yang telah menyusup ke Pura Besakih terlihat masih berada di barak.
"Ransum siang telah siap," ujar Ki Jaran Waha yang datang ke barak Mahesa Amping.
"Dalam kehidupan selanjutnya, mungkin Ki Jaran Waha akan menjelma sebagai seorang juru masak," seloroh Mahesa Amping sambil menerima ransum besar dari Ki Jaran Waha.
"Menurutku, justru dalam kehidupanku sebelumnya aku pernah menjadi seorang juru masak," jawab Ki Jaran Waha sambil tersenyum, sepertinya menikmati tugas yang diberikan kepadanya di Pura Besakih.
"Kulihat kesiagaan di Pura Besakih sudah semakin ketat," kata Mahesa Amping yang diam-diam memantau keberadaan para prajurit di setiap tempat.