Chapter 148
Mereka dapat terlihat seperti delapan arca Buddha yang tengah bertapa.
"Bukalah mata kalian secara perlahan, namun jangan lepaskan pandangan hati kalian tertuju hanya kepada Sang Hyang Gusti Yang Maha Agung," kata Mahesa Amping dengan suara perlahan kepada kedelapan sisyanya.
Terlihat kedelapan sisya itu perlahan membuka kelopak matanya.
"Terima kasih, Guru, hari ini sisya merasa menemukan sebuah dunia yang berbeda dari hari sebelumnya," kata salah seorang sisya yang tidak mampu menahan gejolak perasaan hatinya, terlihat bersimpuh sujud di hadapan Mahesa Amping.
Terlihat ketujuh sisya telah melakukan hal yang sama, sujud di hadapan Mahesa Amping sambil menyampaikan apa yang mereka rasakan.
"Bangkitlah, wahai para sisyaku, aku hanya sebagai perantara. Sujud dan bersyukurlah hanya kepada Gusti Yang Maha Agung yang merestui jiwa kalian masuk dan mulai mengenal kebesaran-Nya," kata Mahesa Amping dengan suara penuh kasih, ikut merasa sukacita atas apa yang telah dicapai oleh para sisya dalam menjalani sebuah laku.
Terlihat kedelapan sisya itu bangkit dari sujudnya dengan mata yang basah penuh keharuan dan sukacita.
"Sucikanlah diri kalian dan beristirahatlah, jangan isi perut kalian dengan apa pun selain dengan sisa ramuan kelapa yang kalian minum di awal laku," kata Mahesa Amping kepada kedelapan sisyanya.
"Aku tunggu kalian di sini menjelang matahari bergeser dari puncaknya," kata Mahesa Amping kembali.
Terlihat kedelapan sisya berdiri dan penuh hormat menjura kepada Mahesa Amping, berpamit untuk keluar dari sanggar.
Diiringi pandangan mata Mahesa Amping, kedelapan sisya itu telah keluar dari sanggar.
"Aku melihat sinar mata mereka begitu penuh sukacita," kata Ki Arya Sidi yang datang bersama Empu Dangka menemui Mahesa Amping di sanggar tertutup.
"Mereka telah berhasil menjalani laku dengan baik," kata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.
"Sebuah awal yang baik," kata Empu Dangka ikut menanggapi.
Akhirnya, menjelang matahari telah bergeser dari puncaknya, Mahesa Amping ditemani Ki Arya Sidi dan Empu Dangka telah melihat satu per satu dari kedelapan sisya telah datang masuk ke sanggar tertutup.
"Pusatkan segala nalar budimu, hidupkan dan rasakan kekuatan yang tersembunyi mengalir di segala jalan darah tubuhmu, lompatilah galar bambu sebagaimana biasa kalian pernah melakukannya," kata Mahesa Amping, meminta satu per satu dari kedelapan sisya melakukan latihan melompati sebuah galar bambu yang ada di dalam sanggar tertutup yang biasa mereka lakukan.
Para sisya bukan main kagetnya mendapatkan hasil lompatannya satu setengah kali lebih tinggi dari yang biasa mereka lakukan.
Berkali-kali mereka melakukannya dengan gembira.
Terlihat Mahesa Amping keluar dari sanggar dan masuk kembali dengan membawa delapan buah kelapa yang sudah tua.
"Pecahkan kelapa ini dengan tanganmu," kata Mahesa Amping kepada Wayan Dewa Bayu.
Terlihat Wayan Dewa Bayu tengah memusatkan segala nalar budinya, membangkitkan kekuatan tersembunyi dari dalam dirinya, dan mengalirkannya ke ujung telapak tangan kanannya.
Prakkk!
Terdengar suara buah kelapa pecah terhantam sisi dalam telapak tangan Wayan Dewa Bayu.
"Lakukanlah sebagaimana Wayan Dewa Bayu," kata Mahesa Amping kepada ketujuh sisya lainnya.
Terlihat satu per satu dari para sisya melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Wayan Dewa Bayu.
Terlihat wajah gembira mereka yang telah berhasil memecahkan kelapa dengan telapak tangan telanjang.
"Mulai saat ini, berlatihlah menjalani laku setiap menjelang tidur, dengan cara itu kekuatan kalian akan terus meningkat," kata Mahesa Amping kepada para sisyanya.
"Terima kasih, Guru, nasihat Guru akan kami pusakai," kata Wayan Dewa Bayu mewakili para sisya.
"Aku akan berangkat ke Tanah Singasari, kutitipkan kalian kepada Ki Arya Sidi," kata Mahesa Amping kepada para sisya.
"Sekarang beristirahatlah kalian," kata Mahesa Amping kembali, mempersilakan para sisya untuk beristirahat setelah tiga hari tiga malam menjalani sebuah laku.
"Mari kita keluar," kata Ki Arya Sidi mengajak Mahesa Amping dan Empu Dangka keluar dari sanggar tertutup.
Di sanggar terbuka, mereka melihat para sisya lainnya tengah berlatih.
"Aku mendapat kabar dari Kakang Wayan Dewa Bayu, Guru akan berangkat ke Singasari," kata Ketut Dewa Akasa yang tengah berlatih menggunakan sebuah tongkat panjang, langsung menghentikan latihannya ketika Mahesa Amping datang mendekatinya.
"Aku akan datang kembali," kata Mahesa Amping penuh senyum, entah kenapa dirinya begitu menyukai anak ini.
"Aku hanya khawatir Guru tidak akan kembali dan melupakan aku," kata Ketut Dewa Akasa dengan begitu polosnya kepada Mahesa Amping.
"Apa yang kamu khawatirkan bila aku tidak datang kembali?" kata Mahesa Amping kepada Ketut Dewa Akasa.
"Aku khawatir tidak ada yang mengajarkanku memecahkan sebuah kelapa sebagaimana dilakukan oleh Kakang Wayan Dewa Bayu," kata Ketut Dewa Akasa masih dengan pemikiran seorang bocah yang lugu.
Mahesa Amping tersenyum mendengar pemikiran Ketut Dewa Akasa.
Maka, diambilnya sebuah batu koral sebesar kepalan tangannya.
Krakkk! Batu koral itu hancur beterbangan menjadi kepulan abu.
Terbelalak Ketut Dewa Akasa menyaksikan apa yang telah diperbuat oleh Mahesa Amping.
"Aku akan kembali, dan mengajarkan kepadamu melumatkan sebuah batu keras," kata Mahesa Amping sambil tersenyum melihat anak itu sepertinya begitu gembira mendengar apa yang dikatakan oleh Mahesa Amping.
Pagi itu, udara berkabut menyelimuti Pura Indrakila ketika Mahesa Amping dan Empu Dangka tengah bersiap akan meninggalkan Pura Indrakila untuk waktu yang cukup lama.
"Aku dan para sisya akan merindukan kalian," kata Ki Arya Sidi yang mengantar Mahesa Amping dan Empu Dangka sampai di regol muka Pura Indrakila.
"Doa kami semoga keselamatan menaungi perjalanan kalian," kata Raja Indrakila yang ikut mengantar kepergian mereka.
Terlihat Mahesa Amping dan Empu Dangka telah melangkah semakin menjauh. Ketika mereka menemui jalan menurun, Mahesa Amping menoleh ke belakang menatap pura di atas puncak bukit itu yang masih berkalung kabut putih begitu eloknya. Terpesona, Mahesa Amping menatap penuh kagum, seperti melihat lukisan nirwana dalam penggambaran para Brahmana.
Langkah Mahesa Amping dan Empu Dangka sudah semakin menjauh, mendekati kaki lereng bukit Pura Indraloka.
Seorang lelaki bertelanjang dada dengan dua ekor kuda terlihat seperti tengah menanti kedatangan mereka berdua.
"Selamat berjumpa kembali, wahai saudaraku," kata orang itu penuh senyum di wajahnya, yang ternyata adalah Ki Jaran Waha.
"Kukira seorang perampok tunggal yang menunggu untuk membegal kami," kata Empu Dangka kepada Ki Jaran Waha.
"Pasti perampok itu semalam bermimpi rumahnya kebakaran, dia akan mendapat masalah besar merampok kalian," kata Ki Jaran Waha yang langsung membalas olok-olok Empu Dangka.
"Dari mana Ki Jaran Waha mengetahui bahwa kami akan melakukan perjalanan?" tanya Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha setelah mereka bercerita tentang keselamatan masing-masing.
"Telingaku ada di mana-mana meski aku tidak ada di mana-mana," kata Ki Jaran Waha penuh kebanggaan.
"Kuda yang bagus," kata Mahesa Amping menilai dua ekor kuda yang dibawa Ki Jaran Waha.
"Di mana kutaruh mukaku memberikan kuda kacangan kepada kalian?" kata Ki Jaran Waha sambil menepuk-nepuk dua ekor kuda yang dibawanya.
"Terima kasih untuk dua ekor kuda yang akan menemani kami sepanjang jalan," kata Mahesa Amping sambil mencoba melompat ke punggung salah satu kuda yang dibawa oleh Ki Jaran Waha.
"Di Bandar Buleleng, seorang pengikutku akan mencarikan kapal dagang yang akan mengantar kalian ke Jawadwipa," kata Ki Jaran Waha sambil bertolak pinggang mengantar Mahesa Amping dan Empu Dangka yang sudah berada di punggung kuda masing-masing.
"Kali ini Ki Jaran Waha salah dengar, tujuan kami adalah Tanah Melaya sebelah barat Balidwipa," kata Empu Dangka sambil tersenyum melihat Ki Jaran Waha memukul-mukul sendiri keningnya.
"Aku berpesan, mohon kiranya Ki Jaran Waha untuk tidak memotong telinga orang yang salah mendengar itu," kata Mahesa Amping sambil melambaikan tangannya di atas punggung kudanya.
"Selamat jalan, kami akan merindukan kalian," kata Ki Jaran Waha ikut melambaikan tangannya.
Sementara itu, cakrawala langit saat itu begitu cerah. Mentari sudah beranjak jauh meninggalkan tepi ujung bumi. Dua ekor kuda terlihat berpacu melintasi padang ilalang, mendaki perbukitan dan lereng hijau, kadang perlahan menyibak semak hutan hitam yang lebat.
"Tanah Melaya di arah matahari terbenam," kata Empu Dangka memberi petunjuk arah perjalanan mereka.
Ketika matahari sudah hampir terbenam, mereka telah memasuki sebuah padukuhan.
"Kita lewati padukuhan ini, kita akan menemui sebuah rumah pengasingan," kata Empu Dangka kepada Mahesa Amping. "Rumah pengasingan?" tanya Mahesa Amping kepada Empu Dangka.
"Adat di padukuhan ini memang sangat keras, tabu hukumnya beristri lebih dari satu. Seorang lelaki yang melanggar harus menerima dikucilkan di sebuah rumah pengasingan," kata Empu Dangka menjelaskan kepada Mahesa Amping.
"Siapa dapat menghalangi datangnya cinta?" kata Mahesa Amping tanpa menunggu jawaban dari Empu Dangka.
"Tidak satu pun wanita yang dapat menerima dimadu," kata Empu Dangka, sepertinya ingin menanggapi perkataan Mahesa Amping.
Ternyata mereka memang tidak ada keinginan membahas masalah itu. Sebagaimana dikatakan oleh Empu Dangka, terpisah dari lingkungan padukuhan, terlihat sebuah gubuk sederhana berada di pinggir sebuah hutan kecil.
Di depan gubuk itu terlihat seorang lelaki tengah membuat sebuah perapian.
"Apa kabar, sahabatku Wayan Tagur?" kata Empu Dangka sambil menuntun kudanya mendekati lelaki itu.
"Pantas tadi siang ada kupu-kupu besar hinggap lama di tiang gubukku," kata lelaki itu yang dipanggil Wayan Tagur oleh Empu Dangka.
"Aku bersama keponakanku," kata Empu Dangka memperkenalkan Mahesa Amping sebagai keponakannya kepada Wayan Tagur.