Chapter 106
"Dalam permainan sejurus dua jurus bersamamu, aku juga telah menduga bahwa kita mempunyai dasar kanuragan yang sama," ujar Empu Nada penuh kegembiraan.
"Ada berita gembira lain yang akan aku sampaikan untuk Empu Nada," kata Mahesa Murti sambil menatap Empu Nada.
"Cepat katakan, jangan buat orang setuaku ini jadi penasaran," sahut Empu Nada tidak sabaran.
"Berbahagialah, karena Maharaja Singasari yang tengah berkuasa saat ini adalah murid terkasih dari saudara Empu Nada sendiri," tutur Mahesa Murti kepada Empu Nada.
"Aku memang mempunyai saudara kembar. Mungkinkah yang engkau maksudkan adalah Dangka, saudara kembarku itu?" tanya Empu Nada masih ragu.
"Benar, saudara kembar Empu Nada yang telah mengangkat murid Maharaja Kertanegara bernama Empu Dangka," jelas Mahesa Murti.
"Sudah lama kami berpisah. Apakah anakmas mengetahui keberadaan saudaraku itu?" tanya Empu Nada.
"Ketika kami pulang dari Tanah Madhura menyusuri Sungai Porong, kami tidak menemukan Empu Dangka di tempat terakhirnya. Sepertinya ia telah hilang ditelan bumi," ujar Mahesa Amping ikut bercerita tentang pengalamannya bersama Kertanegara saat menyusuri Sungai Porong, tempat terakhir Empu Dangka.
"Berita bahwa saudaraku telah mewariskan ilmunya kepada Maharaja Singasari sepertinya adalah air suci yang membersihkan rasa bersalahku selama ini karena telah salah mengasuh para serigala yang haus darah," kata Empu Nada dengan raut wajah yang tampak cerah penuh kegembiraan.
Sementara itu, gerimis di luar pendapa utama terlihat sudah surut. Bumi tampak tersenyum terang bersama awan putih bening yang mengisi cakrawala. Beberapa burung kecil terlihat terbang melintas. Pagi yang cerah sepertinya mewarnai langit Padepokan Bajra Seta. Mungkin kehadiran Mahesa Amping menjadikan suasana padepokan itu semakin penuh kegembiraan.
Mahesa Amping mengajak Empu Nada berkeliling Padepokan Bajra Seta, juga mengajaknya keluar padepokan untuk melihat suasana para petani yang tengah menanam bibit padi satu per satu di petak-petak sawah mereka.
"Suasana yang menyenangkan, pesona alam yang indah dalam gairah kegembiraan para petani," kata Empu Nada.
"Kedamaian seperti inilah yang kadang datang mengusik hari-hari dalam pengembaraanku," ujar Mahesa Amping.
"Kedamaian yang selalu membuat iri para petualang seperti diriku," sahut Empu Nada.
"Seandainya saja bumi tanpa bencana dan peperangan, suasana kedamaian ini akan menjadi lukisan yang abadi," ucap Mahesa Amping.
"Gusti yang Maha Pemrakarsa telah menciptakan garis takdir-Nya. Keabadian hanya milik-Nya, sedangkan kefanaan di alam dunia adalah milik makhluk-Nya. Dengan dasar inilah kita sebagai hamba disuruh memilih: masuk dalam keabadian-Nya atau terjerumus dalam kefanaan abadi," jelas Empu Nada.
"Petuah Empu Nada adalah pusaka," sahut Mahesa Amping yang menangkap makna terdalam dari tutur kata Empu Nada.
"Anakmas telah sampai dalam pencerahan batin. Aku senang telah bertemu dengan orang-orang macam anakmas. Padepokan Bajra Seta telah melahirkan banyak putra terbaik sebagai cahaya bumi di kegelapan malam," puji Empu Nada.
Sementara itu, matahari sudah semakin merayap tinggi. Dari sebuah saung, terlihat seorang lelaki bertelanjang dada memanggil mereka. Mahesa Amping dan Empu Nada mendekatinya; ternyata lelaki itu tidak lain adalah Mahesa Semu.
"Mbok Ayu Padmita sengaja membuat pecak gabus kesukaanmu," kata Mahesa Semu ketika Mahesa Amping dan Empu Nada mendekat.
Demikianlah, mereka sejenak menikmati makan siang di pinggir sawah, meriung bersama para cantrik lainnya yang sudah bekerja sejak pagi. Sebuah kegembiraan dan kebahagiaan bersama yang jarang sekali dirasakan oleh Empu Nada.
"Makanan paling nikmat yang pernah aku rasakan," kata Empu Nada sambil menyuap nasi liwet dan sepotong gabus pecak di atas sehelai daun pisang yang masih basah.
Hari yang telah ditentukan akhirnya tiba. Tiga ekor kuda terlihat keluar dari regol gerbang padepokan pada pagi itu. Mereka adalah Wantilan, Sembaga, dan Mahesa Amping.
"Berbahagialah anakmas yang telah banyak melahirkan para ksatria berjiwa mulia," kata Empu Nada kepada Mahesa Murti saat melepas kepergian tiga orang cantrik pilihan Padepokan Bajra Seta tersebut.
"Tugas kita hanya menanam dan merawatnya, Gusti Yang Maha Karsa yang menentukan berhasil atau tidaknya panen raya," jawab Mahesa Murti tersenyum.
"Kamu benar, Anakmas. Aku memang harus belajar banyak darimu," kata Empu Nada ketika melihat ketiga ekor kuda itu telah menghilang di tikungan jalan.
Wantilan, Sembaga, dan Mahesa Amping memang sudah mencapai tikungan jalan, menyusuri jalan padukuhan. Saat berhadapan dengan padang ilalang yang luas, mereka menepak perut kuda agar berlari kencang. Terlihat tiga ekor kuda berlari kencang saling berkejaran membelah ilalang yang tinggi hingga sebadan. Angin pagi menerpa wajah mereka, mengusap semangat pengembara di padang pengembaraan, mengusap semangat tiga ksatria menuju padang perbaktian.
Mereka seperti elang gurun yang terbang bebas merdeka mencari padang perburuannya, hinggap sebentar di puncak bukit karang yang tinggi, melewati ngarai dan lembah hijau, atau menghilang ditelan kepekatan hutan rimba yang lebat. Setelah beberapa hari menempuh perjalanan yang melelahkan, akhirnya mereka mendekati daerah tujuan.
Tiga ekor kuda memasuki regol gerbang sebuah kademangan; matahari pagi menyapu wajah-wajah mereka. Beberapa petani yang hendak berangkat ke sawah hanya menatap mereka sekilas; sepertinya kademangan itu sudah terbiasa didatangi tamu asing.
"Permisi Paman, dapatkah menunjukkan kepada kami rumah Saudagar Kimung?" tanya Mahesa Amping kepada seorang petani yang berpapasan dengannya.
"Rumah Saudagar Kimung tidak jauh lagi. Jalan lurus dari sini, Kisanak akan menemui rumah yang cukup besar dengan lumbung padi yang juga besar. Di depan pendapa berdiri pohon asam yang besar," jawab petani itu memberikan petunjuk.
"Terima kasih, Paman," ucap Mahesa Amping.
Sebagaimana dikatakan petani tersebut, mereka menemukan rumah besar dengan lumbung padi yang besar, serta pohon asam tua berbatang besar. Seperti umumnya rumah di kademangan itu, rumah tersebut terbuka tanpa dibatasi pagar. Terlihat keranda bambu di depan rumah sebagai tempat merambat pohon labu parang yang nampaknya sudah banyak yang kuning matang.
"Selamat datang di Kademangan Padang Bulan," sambut seorang lelaki bertubuh tambun yang turun dari pendapa, yang ternyata adalah Saudagar Kimung.
"Ternyata nama Saudagar Kimung sangat santer di penjuru kademangan ini, kami tidak susah mencarinya," kata Wantilan sambil menyalami pemilik rumah itu. Mahesa Amping, Sembaga, dan Wantilan segera diajak naik ke pendapa.
"Percayalah, aku dapat memegang rahasia," bisik Saudagar Kimung karena takut ada yang mendengar. Saudagar Kimung memang dapat dipercaya; jangankan kepada orang lain, kepada keluarganya sendiri rahasia rencana ketiga cantrik Padepokan Bajra Seta ini sangat tertutup. Ia hanya mengatakan bahwa ketiga kawan jauhnya ini akan memulai penghidupan baru dengan membuka usaha sebagai tukang pandai besi.
Hari pertama tidak banyak yang dilakukan oleh Mahesa Amping, Sembaga, dan Wantilan selain mempersiapkan peralatan kerja. Pada hari kedua, Saudagar Kimung mengajak mereka bertiga ke pasar Kademangan Padang Bulan yang cukup ramai. Nasib mereka beruntung, seorang pejabat pasar memberikan tempat yang cukup luas di ujung pasar. Hari itu juga, mereka langsung membuat gubuk yang berfungsi bukan hanya sebagai tempat kerja, tetapi sekaligus tempat tinggal.
Wantilan, Sembaga, dan terutama Mahesa Amping ternyata memang pandai besi yang ahli. Siapapun yang melihat hasil kerja mereka tidak akan menyangka bahwa mereka sebenarnya bukan pandai besi sungguhan. Hasil karya mereka sangat halus dan berkualitas. Setelah bekerja sepanjang hari selama sepekan, berbagai peralatan pertanian dan senjata menumpuk siap diperdagangkan.
"Apakah Kisanak ingin membeli barang kami?" tanya Mahesa Amping kepada dua lelaki berwajah kasar.
"Ternyata kamu orang baru di sini. Kami di sini tidak untuk membeli, tapi meminta kutipan," ujar salah seorang yang paling garang.
"Kami telah membayar kutipan kepada petugas pasar kemarin sore," jawab Mahesa Amping.
"Kami bukan petugas pasar, tapi kami penguasa tempat ini," tegas orang itu dengan mata melotot.
"Maaf, kami memang orang baru. Hari ini kami baru memulai usaha. Bagaimana bila kami memberi kalian hadiah dua buah senjata?" tawar Mahesa Amping dengan gaya seorang pedagang yang mengalah dan tahu cara menghadapi orang-orang kasar di pasar.
"Untuk kali ini aku terima," kata orang itu penuh gembira. Mahesa Amping segera memberikan dua bilah golok besar mirip dengan yang terselip di pinggang para preman tersebut. "Buatan kami adalah yang terbaik di Tanah Singasari ini," ujar Mahesa Amping sambil menyerahkan golok buatannya.
Kedua orang itu menimang-nimang golok pemberian tersebut serta membandingkannya dengan senjata mereka sendiri. Sedikit banyak, mereka memang paham menilai senjata yang baik. "Senjata yang baik, sangat ringan dan enak dipegang," kata rekannya.
"Anggap saja itu hadiah perkenalan kita," kata Mahesa Amping penuh senyum keramahan.
"Jarang sekali aku berhadapan dengan pedagang seperti kalian; tidak kikir dan mudah diatur," ujar orang yang berwajah paling garang.