Chapter 24
"Sepasang iblis dari Gelang-Gelang," berkata Raden Wijaya dalam hati, mengingat dua orang berjalan mendekatinya, berharap tidak dikenali.
Namun, harapan Raden Wijaya meleset; justru kedua orang itu mengenalinya.
Mereka tertawa dan bertolak pinggang di depannya.
"Tidak kuduga, kita bertemu dengan salah satu bocah sombong," kata salah seorang pemuda yang tidak memiliki luka di pundaknya.
"Kita ingin tahu, apakah ia masih sombong, jauh dari kelompoknya," kata pemuda yang lain.
Sementara Lawe, yang belum mengenal kedua pemuda kembar ini, merasa tertantang.
"Siapa kamu?" tanya Lawe, sepertinya tidak gentar kepada sepasang iblis dari Gelang-gelang.
Melihat sikap Lawe, kedua pemuda itu menjadi geram.
"Di tempat asalku tidak ada yang berani menatap seperti kamu," kata pemuda yang tidak memiliki luka di pundaknya kepada Lawe.
"Itu memang di tempat asalku, tidak berlaku di sini," balas Lawe lebih keras lagi.
Mendengar ucapan Lawe, pemuda itu seperti disiram air panas; darahnya langsung naik sampai ke ubun-ubun.
"Kita habisi dua anak sombong ini!" kata pemuda yang tidak memiliki luka di pundaknya, lalu langsung menyerang Lawe.
Sementara itu, pemuda yang satu lagi melihat saudaranya telah mulai menyerang dan telah memilih lawannya.
Maka pemuda itu langsung menyerang Raden Wijaya.
Terjadilah perkelahian yang seru di Hutan Mading.
Ternyata Lawe dapat mengimbangi pemuda itu, membalas serangan dengan serangan balik yang tidak kalah kerasnya.
Sementara itu, Raden Wijaya belum menunjukkan dirinya; tidak langsung membalas menyerang. Dengan kecepatannya bergerak, Raden Wijaya banyak mengelak dan menghindar. Ia masih ingin mengukur sejauh mana tingkatan ilmu salah seorang pemuda yang dikenal sebagai sepasang iblis dari Gelang-gelang.
Pemuda kembar yang mempunyai luka di pundaknya itu menjadi begitu bernafsu, menyangka akan dapat lebih cepat mengalahkan lawannya yang hanya dapat menghindar. Dengan sangat bernafsu, ia telah meningkatkan tingkatan ilmunya secepatnya menyelesaikan perkelahiannya.
Raden Wijaya sudah dapat mengukur tingkatan ilmu lawannya dan nampaknya telah bosan bermain. Maka dalam sebuah serangan, ia tidak berusaha menghindar, bahkan membentur tangan pemuda itu yang tengah meluncur menghantam leher Raden Wijaya. Dengan melapisi kekuatan di tangan kirinya dengan sedikit tenaga cadangannya, ia menangkis tangan pemuda itu yang telah mengerahkan sepenuh kekuatannya.
Maka terjadilah benturan yang luar biasa. Pemuda itu merasakan tangannya seperti remuk membentur benda keras. Raden Wijaya tidak melepaskan kesempatan itu. Selagi pemuda itu menyeringai merasakan sakit yang luar biasa, sebuah tamparan yang dilandasi tenaga cadangan yang kuat menghantam rahangnya. Sudah dapat ditebak, pemuda itu merasakan bumi menjadi gelap dan langsung rebah pingsan.
Melihat saudara kembarnya telah dikalahkan oleh lawannya, pemuda yang tengah menghadapi Lawe menjadi agak panik. Ia tidak menyangka bahwa pemuda belia yang ditemuinya di atas kapal itu, yang disangkanya begitu lemah, ternyata memiliki tingkatan ilmu lebih tinggi melampaui orang-orang yang mengalahkan kelompok Hantu Wungu. Sementara pemuda yang dihadapinya juga tidak mudah untuk dikalahkan.
Mendapat pemikiran seperti itu, maka hanya satu jurus yang harus dikeluarkannya saat itu, tidak lain adalah jurus langkah seribu. Pemuda itu tiba-tiba saja bersalto dua kali mundur ke belakang, dan langsung melejit menghilang di kegelapan hutan yang lebat.
Ketika melihat lawannya pergi, Lawe bermaksud mengejarnya. Tapi Raden Wijaya mencegahnya. "Jangan dikejar, orang itu dapat berbuat licik di kelebatan rimba," kata Raden Wijaya mengingatkan Lawe untuk tidak mengejar.
Sementara itu, salah satu saudara kembar itu masih tergeletak pingsan. Raden Wijaya dan Lawe segera mengikat tangan dan kakinya. Karena menunggu lama tidak juga siuman, terpaksa Raden Wijaya dan Lawe mengangkat dan membawanya dengan sebatang kayu panjang, persis seperti membawa binatang hasil buruan.
Dengan membawa tawanan yang masih pingsan itu, perjalanan Raden Wijaya dan Lawe menjadi sedikit terhambat. Menjelang sore, ketika matahari sudah turun setengah dari puncaknya, mereka baru sampai di Tanah Perdikan. Raden Wijaya dan Lawe langsung bercerita tentang berita dari Mahesa Amping, juga tentang sepasang iblis dari Gelang-gelang.
"Letakkan orang ini di kamar banjar desa, jaga dan awasi dengan ketat," kata Ki Gede kepada salah seorang pengawal tanah perdikan.
Ki Gede dan Kebo Arema beserta rombongannya kembali membuat berbagai siasat dan perhitungan sesuai dengan berita terakhir yang diterima dari Mahesa Amping lewat Raden Wijaya dan Lawe.
"Serangan kita harus serempak, dari luar dan dalam," kata Ki Gede Banyak Wedi menyampaikan gagasannya. Dengan rinci, Ki Gede menyampaikan gagasan dan siasatnya. "Raden Wijaya dan Lawe harus dapat menyusup ke dalam Padepokan Alasjati, membantu Mahesa Amping melakukan penyelamatan Menik Kaswari," kata Ki Gede dengan rinci menyampaikan gagasan dan siasatnya.
"Aku seperti berhadapan dengan seorang panglima perang," kata Kebo Arema, kagum atas gagasan dan siasat dari Ki Gede.
"Aku pernah belajar dengan seorang ahli siasat paling hebat di Bumi Singasari," kata Ki Gede.
"Siapa?" tanya Kertanegara, penasaran ingin tahu siapa orangnya yang menjadi guru siasat dari Ki Gede.
"Mahesa Agni," kata Ki Gede perlahan.
Kertanegara manggut-manggut, membenarkan apa yang dikatakan oleh Ki Gede. Melalui ayahnya, Kertanegara pernah diceritakan bagaimana dengan kesabaran Mahesa Agni menyusun tahap demi tahap usahanya memenangkan keponakannya, Anusapati, dari kubu Tohjaya. Termasuk usaha penyelamatan ayahnya dan Ratu Anggabhaya ketika masih kecil, di mana Ki Gede Banyak Wedi ikut di dalamnya.
"Penyerangan kita lakukan di saat hari menjelang fajar," kata Ki Gede, memutuskan waktu yang tepat untuk melaksanakan siasatnya.
"Serangan fajar," kata Kebo Arema, menyetujui gagasan dan siasat itu.
"Aku akan membawa sepuluh pengawal tanah perdikan yang terbaik," kata Ki Gede.
"Kapan kita lakukan serangan ini?" tanya Kertanegara, yang sepertinya tidak sabar untuk segera mengeluarkan Menik Kaswari dari Padepokan Alasjati.
"Lebih cepat lebih baik," kata Ki Gede.
Dan malam pun kembali datang. Sebagian rombongan yang masih di dalam hutan telah dipanggil untuk beristirahat di Tanah Perdikan. Mereka adalah Mahesa Semu, Bhaya, Ki Rangga Bangkalan, serta lima orang prajuritnya. Sang Dewa Malam masih berjaga, menyelimuti Tanah Perdikan dengan kegelapannya. Sementara itu, Sang Fajar sepertinya sudah begitu jemu menunggu saat dan waktu bertahta di atas cahayanya. Akhirnya penantian itu datang juga, seiring dengan berjalannya sang waktu.
Sementara itu, jauh sebelum fajar menyingsing, dua ekor kuda sudah jauh keluar dari Tanah Perdikan. Mereka adalah Raden Wijaya dan Lawe, yang bertugas sebagai penghubung, membawa berita penting untuk disampaikan ke Mahesa Amping. Kuda mereka seperti terbang mengejar waktu.
Sang Surya sudah merayap mengintip bumi yang masih basah oleh embun pagi. Seperti hari kemarin, Mahesa Amping tengah menyabit rumput segar untuk makanan kudanya, mengikat rumput segar dalam satu ikatan dan menumpuknya di atas kiri kanan kudanya. Masih ada waktu menunggu Raden Wijaya dan Lawe. Yang ditunggu akhirnya datang juga.
Raden Wijaya dan Lawe telah datang tepat waktu. Mereka datang berjalan kaki setelah menyembunyikan kuda-kuda mereka di tempat yang aman dan tidak mudah terlihat.
"Kalian datang tepat waktu," kata Mahesa Amping, tersenyum menyambut kedatangan Raden Wijaya dan Lawe. Raden Wijaya dan Lawe langsung menyampaikan beberapa rencana yang akan mereka lakukan untuk menyelamatkan dan membawa keluar Menik Kaswari dari Padepokan Alasjati.
"Peran utama kita adalah menyusup dari dalam," kata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping. "Dan menyalakan tungku api peperangan," kata Lawe menambahkan.
"Serangan fajar," kata Mahesa Amping, mengerti apa yang harus dilakukan.
"Sampai ketemu lagi wahai pekatik muda," kata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping ketika mereka berpisah, sambil melambaikan tangannya.
Seperti kemarin, Mahesa Amping melakukan kegiatan sebagaimana biasa: membersihkan kandang kuda, memandikan kuda, serta pekerjaan yang berhubungan dengan tugas seorang pekatik. Ketika tidak ada yang dikerjakan, Mahesa Amping ikut membantu Bahar di dapur.
Siang itu, Mahesa Amping kembali diminta mengantar hidangan ke Gandok tengah. Seperti hari kemarin, penjaga pintu gandok itu menyuruh Mahesa Amping langsung masuk. Tidak seperti hari kemarin di mana Mahesa Amping melihat Menik Kaswari tengah duduk memeluk lututnya, tidak bergairah hidup. Tapi kali ini, ketika Mahesa Amping masuk, Menik Kaswari langsung memberondongnya dengan begitu banyak pertanyaan.
"Pangeran Kertanegara sudah ada di Pulau Madhura?" tanya Menik Kaswari kepada Mahesa Amping. Mahesa Amping memberi tanda agar Menik Kaswari berbicara pelan, jangan sampai diketahui oleh penjaga di luar.
"Doakanlah, Pangeran Kertanegara hari ini dapat menyelamatkan Mbakyu Menik," kata perlahan Mahesa Amping kepada Menik Kaswari. Menik Kaswari sepertinya belum puas dengan sedikit jawaban dari Mahesa Amping.
"Maaf, penyamarku bisa terbongkar," kata Mahesa Amping, sambil dengan cepat meletakkan hidangan di meja dan langsung keluar dari kamar. Mahesa Amping nampak melepas napasnya, merasa lega ketika keluar dari gandok tengah. Dari sikapnya, kelihatan penjaga yang berwajah brewok bertubuh tambun itu tidak mencurigainya.
Ketika senja telah turun, Mahesa Amping masih di kandang kuda, memilih rumput yang masih segar untuk makanan kudanya. Sementara yang terlanjur kering dikeluarkan, ditumpuk, dan dibakar. Malam perlahan datang menggulung lembaran senja yang buram kemerahan menjadi warna kelabu. Di ufuk barat masih tersisa seberkas warna merah yang akhirnya terus pudar menghilang.