Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 54

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 54

"Sanggramawijaya telah mempunyai ilmu yang tinggi," kata Ragasuci kepada Datuk Belang dengan bangga saat melihat keponakannya, Raden Wijaya, dapat mengimbangi ilmu Raja Belang yang dikenal sangat tinggi dan mumpuni. Ia pun tahu bahwa Raja Belang adalah abdi yang setia ke mana pun Bagus Kemuning berada.

"Anak muda yang satu lagi juga tidak berbeda dengan keponakanmu itu," kata Datuk Belang sambil menunjuk Mahesa Amping yang tengah bertempur menghadapi Bagus Kemuning.

Sebagaimana Raden Wijaya, Mahesa Amping juga lebih banyak menghindar daripada melakukan serangan. Ia hanya sesekali membalas saat posisinya sudah terhimpit.

"Anak edan!" umpat Bagus Kemuning yang penasaran karena tidak kunjung dapat melumpuhkan lawannya yang masih muda belia, meski telah meningkatkan tataran ilmunya. "Jangan salahkan diriku bila hari ini kamu akan mati terbakar," lanjut Bagus Kemuning yang langsung mengerahkan ilmu simpanannya. Tangannya yang tampak membara langsung menerkam ke arah Mahesa Amping.

Tanpa disadari, kepekaan dalam diri Mahesa Amping bekerja dengan sendirinya. Hawa dingin melambari sekeliling dirinya, meredam hawa panas yang mengejarnya. Mahesa Amping masih dapat melayani Bagus Kemuning tanpa merasakan hawa panas yang menyerang.

Sementara itu, Raja Belang benar-benar sudah habis kesabarannya. Serangannya selalu dengan mudah dielakkan oleh Raden Wijaya. Ia baru menyadari bahwa pemuda yang dihadapinya bukan sembarang orang. Ratusan jurus telah berlalu dan berlapis-lapis tataran ilmu telah ia kerahkan, namun tidak jua menyelesaikan pertandingan.

"Set-set-set!" Raja Belang melancarkan senjata rahasia andalannya ketika Raden Wijaya melompat ke belakang. Dengan kecepatan tinggi yang sulit terlihat mata, duri ikan buntal yang kecil itu melesat mengejar tubuh Raden Wijaya.

"Wus-wus-wus!" Tidak ada jalan lain bagi Raden Wijaya selain mengerahkan kemampuannya yang dapat mengeluarkan cahaya panas lewat tangannya. Kali ini ia hanya melontarkan sepersepuluh kekuatannya, sehingga hanya berupa angin yang keras meluncur dari tangannya. Tiga buah duri ikan buntal berbalik arah dan langsung menyambar tubuh Raja Belang.

Raja Belang tidak pernah menyangka hal itu terjadi. Di luar perhitungannya, senjata rahasia andalannya meluncur kembali dengan kecepatan dua kali lipat. Tiga buah duri ikan buntal menembus titik tubuh yang sangat berbahaya, tepat di jantungnya. Raja Belang jatuh terduduk dengan wajah dan tubuh berwarna biru, lalu tewas seketika akibat racunnya sendiri. Kematiannya begitu mengerikan dengan mata melotot, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Bagus Kemuning, yang melihat orang kepercayaannya terkapar mati, menjadi gusar dan penuh kemarahan. Ia mencurahkan kemarahannya dalam serangan yang bergulung-gulung menyerang Mahesa Amping. Mendapatkan serangan bertubi-tubi, Mahesa Amping terlihat terdesak. Akhirnya, Mahesa Amping tidak lagi hanya mengelak, tetapi mulai membalas. Pertempuran dahsyat pun terjadi; tubuh mereka melesat ke sana kemari bagaikan bayangan yang terbang saling menyambar.

"Desss!" Dua kekuatan beradu keras saat Mahesa Amping menangkis pukulan Bagus Kemuning. Mahesa Amping tetap berdiri tegap dengan kuda-kuda yang kokoh, sementara Bagus Kemuning terpaksa mundur tiga langkah. Bagus Kemuning merasakan pukulannya membentur sesuatu yang lunak seperti kapas, namun tiba-tiba kekuatan seperti ombak besar mendorongnya dengan kuat. Dengan wajah tidak percaya, ia diam-diam mengakui kekuatan ilmu pemuda yang sebelumnya ia anggap remeh itu.

Bagus Kemuning bersedekap, lalu tiba-tiba tubuhnya menghilang dari pandangan. Terdengar tawa bergema dari segala penjuru, disertai tenaga dalam tinggi yang menghimpit rongga dada orang-orang di sekitar. Beberapa orang berlari menjauh sambil memegangi dadanya yang sesak.

"Bagus Kemuning, mereka tidak bersalah, hadapilah aku!" seru Mahesa Amping. Ia melambari kata-katanya dengan kekuatan untuk meredam pengaruh tenaga dalam Bagus Kemuning. Sebagai seorang yang memiliki bakat panggraita dan kekuatan batin tinggi, ilmu Aji Panglimunan Bagus Kemuning tidak banyak berguna di hadapan Mahesa Amping.

Datuk Belang tampak khawatir melihat Bagus Kemuning menghilang. Semua mata menahan napas, menanti apa yang akan terjadi. Tiba-tiba, ratusan mata terbelalak tidak percaya. Mahesa Amping telah menguasai ilmu sejenis Aji Kawah Ari-ari. Ia berdiri tegap dan membelah diri menjadi lima sosok yang mirip, dengan mata tajam menatap Bagus Kemuning yang bagi orang lain tak terlihat, namun tampak jelas oleh Mahesa Amping.

"Ilmu iblis!" umpat Bagus Kemuning yang kecewa karena ajinya tidak berguna. Ia menarik keris kecil yang menjadi pengikat rambutnya. Bagus Kemuning tampak angker dengan rambut terurai, menggenggam keris tersebut.

"Keris Siginjai yang belum disempurnakan," gumam Datuk Belang mengenali pusaka gurunya yang telah lama hilang.

Bagus Kemuning yang putus asa segera menyerang salah satu wujud Mahesa Amping dengan tikaman yang menembus perut lawannya. "Siapapun yang terkena keris ini tidak akan bernapas panjang!" serunya sambil tertawa. Namun, tawanya sirna saat Mahesa Amping yang perutnya terkoyak kembali seperti semula tanpa bekas luka sedikit pun. Ternyata, yang diserang hanyalah sosok semu.

Kelima sosok Mahesa Amping kembali mengepung dan menyerang secara berantai. Bagus Kemuning tidak mampu lagi membedakan mana yang asli dan mana yang bayangan, hingga sebuah tendangan keras dari samping mengenai pinggangnya dan melemparnya jauh. Bagus Kemuning bangkit kembali dengan kondisi kacau, kekuatan wadak dan pikirannya tidak lagi selaras.

Setelah terkena tamparan keras yang membuatnya tidak berdaya, Mahesa Amping merasa kasihan dan kembali ke wujud aslinya. Bagus Kemuning bangkit dengan mata sayu, lalu wajah Mahesa Amping berubah tegang. Dengan bakat alaminya, ia sudah mengetahui apa yang akan dilakukan lawan.

"Wussssss!" Sebuah keris kecil meluncur cepat ke arah Mahesa Amping. Namun, seperti disihir, keris itu berhenti di udara tepat di antara mereka berdua. Mahesa Amping menahan keris itu hanya dengan kekuatan sorot matanya.

"Manusia dewa," bisik beberapa orang yang terpaku, tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

Mahesa Amping membuat semua orang semakin takjub saat keris itu berbalik arah mengejar Bagus Kemuning. "Hentikan, aku menyerah!" teriak Bagus Kemuning yang putus asa. Dengan kekuatan sorot matanya, Mahesa Amping mengendalikan keris itu hingga jatuh ke genggamannya.

"Aku telah memenangkan pikiranku sendiri untuk tidak menjadi pembunuh," kata Mahesa Amping kepada dirinya sendiri sambil menarik napas panjang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment