Chapter 12
"Pernah, ayahku sendiri pernah bercerita mengenai hal itu," berkata Kertanegara sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku akan menunjukkan watak asli dari perguruan kita yang sebenarnya, tapi tidak hari ini," berkata Empu Dangka.
"Mari kita kembali ke gubuk, ada beberapa hal utama yang harus aku sampaikan," kata Empu Dangka melanjutkan.
Sementara matahari sudah berada di puncak, para binatang hutan pasti tengah bersembunyi, mengintip kapan terik panas matahari berlalu.
Bersembunyi di balik daun dan ranting, di balik semak belukar yang rimbun, atau seperti badak bercula, tertidur bersama baju lumpurnya.
Empu Dangka tengah memberi penjelasan tentang dasar-dasar utama perguruannya.
Melukis sebuah lingkaran yang dikelilingi oleh lingkaran luar, mirip sebuah gambar cakra.
"Lingkaran di dalam adalah pancer, dialah Sang Hyang Maha Tunggal, pusat dari segala yang hidup dan menghidupi kehidupan ini, sumber dari kekuatan.
Datangilah Dia dari semua pintu, karena Dialah yang memegang kunci delapan arah mata angin," kata Empu Dangka memberi pengertian dasar untuk memulai sebuah laku.
"Apakah aku harus merajah gambar ini sebagaimana yang ada di tangan Empu?" tanya Kertanegara kepada Empu Dangka sambil melirik lukisan cakra di tangan Empu Dangka.
"Anakku, kamu tidak perlu melukisnya di tanganmu, tanamkanlah di dalam hatimu," kata Empu Dangka kepada Kertanegara dengan tersenyum lembut.
Demikianlah Empu Dangka memperkenalkan sifat dan watak dari perguruannya agar menyempurnakan ilmu yang sudah dimiliki oleh Kertanegara lewat jalur Empu Purwa dan Mahesa Agni kembali ke jalurnya yang murni.
"Cambuk adalah senjata utama perguruan kita, sebuah senjata yang mengutamakan kelembutan dan kelenturan," kata Empu Dangka sambil melepas sebuah cambuknya yang selalu terikat di pinggangnya.
Hari pertama itu, Kertanegara mendapatkan beberapa pemahaman dan pengertian dasar dari sebuah laku yang harus dilaksanakan.
Pada hari kedua, Kertanegara melaksanakan sebuah laku, duduk bersila sempurna di atas sebuah batu.
Berlatih olah pernapasan rahasia perguruan Empu Dangka.
Kekerasan dan semangat Kertanegara memang luar biasa. Sehari dan semalaman Kertanegara melaksanakan laku yang diajarkan Empu Dangka tanpa merasakan keletihan sedikit pun.
Diam-diam Empu Dangka memuji ketahanan tubuh Kertanegara.
"Makan dan beristirahatlah," kata Empu Dangka meminta Kertanegara menghentikan lakunya.
Setelah beberapa hari berlatih melaksanakan sebuah laku, akhirnya Kertanegara mulai merasakan sesuatu di dalam lakunya.
Kertanegara merasakan dirinya seperti ambles ke dalam bumi, terbakar panasnya magma bumi, terlempar terbawa dalam arus sungai yang jernih, dengan sekuat tenaga berenang melawan arus sungai hingga sampai ke hulu, meneguk dan merasakan harumnya setetes air dari sumber mata air yang jernih, merasakan hembusan angin, tubuhnya pun seperti melayang ke udara, tertidur di punggung matahari, menatap lembut senyum sang rembulan, dan terbang ke langit malam menjadi sebuah bintang.
Sebuah sentuhan dingin menyentuh Kertanegara, membuka matanya. Ia tersadar.
Bahunya disentuh. "Akhirnya kamu berhasil. Lukislah gambar cakra itu di dalam jiwamu," kata Empu Dangka yang melihat dengan penglihatan batinnya bahwa Kertanegara telah sampai di puncak lakunya.
Kita tinggalkan dulu Kertanegara yang tengah digembleng oleh Empu Dangka, menerima warisan ilmunya.
Mari kita lihat sampai di mana perjalanan Mahesa Murti dan Raden Wijaya.
Saat itu matahari telah mulai turun dari puncaknya; senja masih jauh.
Sekelompok burung pipit terbang ke utara, seperti lukisan alam yang indah dalam warna kapas awan putih tanpa suara angin.
"Kedatangan kita bersamaan dengan datangnya panen raya," kata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya yang sudah rindu dengan kehidupan Padepokan Bajra Seta.
"Dari mana Paman mengetahui bahwa panen raya telah datang?" tanya Raden Wijaya.
"Burung-burung pipit itu datang dan pergi dalam waktu dan tempat yang sama sepanjang tahun. Mereka hanya datang ke tempat di mana padi sedang bunting," kata Mahesa Murti.
"Artinya perjalanan kita sudah menjadi dekat," kata Raden Wijaya.
"Searah burung pipit itu terbang, melewati hutan kecil, sebelum senja kita sudah sampai," kata Mahesa Murti sambil menghentak perut kudanya agar berlari lebih kencang lagi.
Dua ekor kuda berpacu membelah padang semak alang-alang luas, dan masuk menghilang ditelan kerindangan hutan yang pekat.
Sinar matahari senja mewarnai langit di atas Padepokan Bajra Seta.
Dua ekor kuda terlihat mendekati pintu gerbang padepokan yang masih terbuka.
"Ketua datang!!" kata seorang cantrik dari panggungan.
Dalam waktu singkat, Mahesa Murti dan Raden Wijaya telah dikerumuni para cantrik.
Sementara itu di pendapa, seorang wanita cantik berdiri dengan wajah penuh ceria. Siapa lagi wanita tercantik di Padepokan Bajra Seta selain Padmita. Ia adalah istri tercinta Mahesa Murti dari Padepokan Renapati, yang juga putri seorang sakti bernama Kiai Wijang.
Diiringi para cantrik, Mahesa Murti dan Raden Wijaya menuju ke pendapa Padepokan Bajra Seta.
"Raden, perkenalkan ini Bibi Padmita," kata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya.
"Sudah pantaskah aku dipanggil Bibi?" kata Padmita dengan senyumnya yang begitu mempesona.
Dan malam itu, suasana di padepokan Bajra Seta begitu meriah. Kembali ayam-ayam jago dan gurame besar yang sedang bunting di kolam belakang menjadi korban keceriaan orang-orang yang ada di Padepokan Bajra Seta. Semuanya sepertinya bergembira, menyambut kedatangan Mahesa Murti kembali di Padepokan Bajra Seta.
Pagi-pagi sekali Raden Wijaya dan Mahesa Amping sudah bangun. Ketika mereka bersama naik ke pendapa, Mahesa Murti sudah ada di sana. Mereka pun menikmati makanan dan minuman hangat.
"Hari ini aku ingin mengajak Raden Wijaya ke sawah, melihat panen raya," kata Mahesa Amping kepada Mahesa Murti.
"Aku akan segera menyusul, aku juga sudah rindu melihat sawah kita saat panen," kata Mahesa Murti memberi izin Mahesa Amping dan Raden Wijaya pergi ke sawah.
Dengan gembira Mahesa Amping dan Raden Wijaya turun dari pendapa. Sementara di halaman, nampak Mahesa Semu, Wantilan, dan Sembaga sudah menanti. Hari itu, hampir sebagian para cantrik turun ke sawah untuk melaksanakan panen raya.
Mahesa Murti melihat dari jauh Mahesa Amping dan Raden Wijaya berjalan beriringan. "Baru satu malam mereka sudah begitu akrab," kata Mahesa Murti sendiri dalam hati.
"Mereka sudah berangkat?" tanya Padmita yang baru muncul dari pintu membawa jajanan jenang alot.
"Bukankah ada aku di sini?" kata Mahesa Murti kepada Padmita yang langsung duduk, meletakkan jajanan jenang alot.
"Apa perlu kutambahkan lagi wedang sarenya, Kangmas?" kata Padmita kepada Mahesa Murti yang melihat minuman di depannya sudah hampir habis.
"Tidak perlu, kehadiranmu sudah cukup melengkapi segalanya," kata Mahesa Murti memandang Padmita yang tersenyum malu.
Matahari pun merayap naik perlahan. Sepasang burung murai batu tengah bercumbu di ranting bambu. Sang jantan mulai merayu, menebar pesona. Sayang, seekor kadal bunting datang mengganggu. Sepasang burung murai terbang menjauh, mencari dahan dan ranting di kerindangan pohon, melanjutkan sisa asmara mereka yang tertunda.
"Kangmas akan turun ke sawah?" tanya Padmita kepada Mahesa Murti, yang dijawab dengan anggukan kepala perlahan.
"Cepatlah Kangmas ke sawah, aku akan menyusul untuk membawakan makanan ke sana," kata Padmita kepada Mahesa Murti.
Matahari sudah mulai merayap naik. Mahesa Murti keluar Padepokan Bajra Seta menuju ke sawah. Di pesawahan yang telah menguning, para cantrik tengah sibuk memotong padi. Sehelai demi sehelai batang padi terpotong ani-ani tajam dari tangan yang cekatan. Di beberapa petak sawah, nampak beberapa cantrik tengah membakar sekam. Gunungan padi pun telah banyak terkumpul. Sebuah kegembiraan dan kebahagiaan yang tidak bisa dibeli oleh apa pun. Mahesa Murti memandang semua itu dalam batin penuh rasa syukur.
"Begitu damainya seandainya di bumi manapun tidak ada prahara, tidak ada peperangan dan pertumpahan darah," kata Mahesa Murti dalam hati ketika perlahan sudah mendekati pesawahan.
"Hasil panen kita kali ini luar biasa," kata Wantilan kepada Mahesa Murti.
"Panen pertama di tanah Sima," kata Mahesa Murti kepada Wantilan yang nampak wajahnya kemerahan terbakar sinar matahari.
"Panen pertama tanpa ikatan thanibala," kata Wantilan menyambung ucapan Mahesa Murti.
"Mbokayu Padmita belum muncul?" tanya Mahesa Amping yang baru datang bersama Raden Wijaya, bergabung bersama Mahesa Murti dan Wantilan.
"Kamu menanyakan Mbokayumu atau makanannya?" tanya Wantilan menggoda Mahesa Amping.
"Keduanya," kata Mahesa Amping yang merasa malu bahwa keinginannya sudah dapat dibaca oleh pamannya, Wantilan.
"Sebentar lagi Mbokayumu datang dengan gorengan gurame kering," kata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping, menggoda.
Dan tidak terasa, perut Mahesa Amping seperti berkeroncongan mendengar gurame goreng. Matahari telah bergeser sedikit dari puncaknya. Di pinggir sawah, di bawah pohon pisang yang tumbuh di tegalan, mereka menikmati makan siang yang istimewa. Lauk yang paling enak di dunia ini adalah rasa lapar. Raden Wijaya dan Mahesa Amping terlihat begitu penuh semangat dan menikmati rasa lapar mereka bersama seekor goreng gurame kering yang masih hangat.
"Aku akan mengajak Raden Wijaya ke tepian sungai," kata Mahesa Amping kepada Mahesa Murti yang tengah bersiap untuk kembali ke Padepokan Bajra Seta.
"Berhati-hatilah," kata Mahesa Murti, mengizinkannya.
"Paman Sembaga ikut bersama kami," kata Mahesa Amping kepada Mahesa Murti. Mahesa Murti memandang sebentar kepada Sembaga. Mengerti apa arti pandangan mata dari Mahesa Murti, Sembaga mengangguk perlahan.
"Aku akan menjaga dua bocah nakal ini," kata Sembaga.
Sembaga, Mahesa Amping, dan Raden Wijaya berjalan ke arah sungai. Di tepian sungai yang agak luas, mereka berhenti.