Chapter 02
Tapi ternyata Mahesa Murti menjadi lebih gelisah menunggu akhir kata Ratu Anggabaya selanjutnya.
"Kami bermaksud ingin menitipkan putraku ini di Padepokan Bajra Seta," kata Ratu Anggabaya kepada Mahesa Murti yang sepertinya telah keluar dari himpitan beban berat.
Nampak Mahesa Murti sepertinya menarik napas panjang setelah menahan napas sekejap menerka-nerka ke mana arah pembicaraan Ratu Anggabhaya.
"Kami di Padepokan Bajra Seta menerima putra Raden Wijaya sebagai sebuah kehormatan," kata Mahesa Murti sambil memandang Raden Wijaya yang juga tengah memandangnya dengan wajah penuh kegembiraan.
"Ini bukan keputusan kami, tetapi putraku sendiri yang menghendaki," kata Ratu Anggabhaya sambil menepuk-nepuk pundak Raden Wijaya.
"Maafkan aku Paman, mudah-mudahan kehadiranku tidak menyusahkan," kata Raden Wijaya yang sudah banyak mendengar cerita dari beberapa orang yang dikenalnya mengenai Padepokan Bajra Seta, juga mengenai Mahesa Murti sendiri sebagai seorang pemuda yang ilmunya sudah begitu mumpuni.
"Kapan Anakmas Mahesa Murti kembali ke Padepokan Bajra Seta?" tanya Ratu Anggabhaya kepada Mahesa Murti.
"Secepatnya, bersamaan dengan keberangkatan Mahesa Pukat ke tempat tugas barunya," kata Mahesa Murti kepada Ratu Anggabhaya.
"Kalau begitu, putraku akan mempersiapkan diri," kata Ratu Anggabhaya kepada Mahesa Murti.
"Bintang Fajar akan bersinar di Padepokan Bajra Seta," kata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya ketika berpamitan meninggalkannya.
Raden Wijaya menoleh sebentar, melambaikan tangannya serta melepaskan senyumnya.
Entah kenapa Mahesa Murti begitu simpatik kepada anak remaja itu.
Dan senja pun telah turun, Mahesa Murti bermalam di rumah Mahendra.
Banyak hal mereka bicarakan bersama, mulai dari kedamaian di bumi Singasari yang mulai dapat dirasakan semenjak terbunuhnya Pangeran Gaco Bahari.
Mereka juga membicarakan dampak pemberian anugerah Tanah Sima kepada para pimpinan pendeta agama yang akan berbuah dukungan semakin meluas bagi pemerintahan di bumi Singasari Raya.
"Mudah-mudahan Raden Wijaya punya bakat yang besar sebagaimana ayahnya," kata Mahendra kepada Mahesa Murti ketika pembicaraan beralih kepada rencana Ratu Anggabhaya yang akan menitipkan Raden Wijaya di Padepokan Bajra Seta.
Sekilas Mahendra terkenang kembali ke masa silam, masa ketika membimbing dan membina Ratu Anggabhaya dan Sri Maharaja di Padepokan terpencil milik Witantra.
"Aku menyukai anak itu," kata Mahesa Murti kepada Mahendra.
"Raden Wijaya sudah mempunyai dasar-dasar yang baik dalam olah kanuragan lewat ayahnya sendiri tentunya," kata Mahendra.
"Juga lewat Mahesa Pukat sebagai guru keluarga istana," kata Mahesa Murti.
"Benar," sahut Mahendra.
"Artinya tugasku melanjutkan dan mengembangkan apa yang telah dimiliki Raden Wijaya," ujar Mahesa Murti.
"Raden Wijaya akan dapat melaluinya karena berada di jalur yang sama," kata Mahendra.
"Mudah-mudahan apa yang kita harapkan dapat terwujud," kata Mahesa Murti berharap tidak ada hambatan dalam membina Raden Wijaya.
"Raden Wijaya adalah harapan masa depan bagi bumi Singasari ini," kata Mahendra memandang jauh ke depan.
"Sebagai cakra yang membawa Singasari Raya terus melaju berkembang," kata Mahesa Murti penuh semangat.
"Cakra?" tanya Mahendra yang tiba-tiba saja teringat kepada orang kepercayaan Pangeran Gaco Bahari.
"Di mana kira-kira orang itu berada?" gumam Mahendra sepertinya kepada dirinya sendiri.
"Orang yang mempunyai tanda cakra di lengannya, maksud Ayah?" tanya Mahesa Murti kepada Mahendra yang dibalas dengan anggukan kepala mengiyakan.
"Apa yang Ayah ketahui mengenai orang itu?" tanya Mahesa Murti.
"Dalam pertempuran denganmu, aku melihat tata gerak yang sama sebagaimana Mahesa Agni dan dirimu," kata Mahendra.
"Aku belum menangkap apa yang Ayah maksudkan," kata Mahesa Murti yang belum menangkap arah pembicaraan Mahendra.
"Di dalam dirimu sudah melebur perguruan Ayah dan Mahesa Agni," kata Mahendra mulai menjelaskan.
"Aku melihat tata gerak yang sama pada orang itu, lebih mendekati tata gerak Mahesa Agni," lanjut Mahendra.
"Kesimpulan apa yang Ayah dapatkan dari orang itu?" tanya Mahesa Murti.
"Keyakinan bahwa benar orang itu berasal dari perguruan Windu Sejati," kata Mahendra kepada Mahesa Murti.
"Apa hubungannya dengan Paman Mahesa Agni?" tanya Mahesa Murti.
"Empu Brantas, pendiri perguruan Windu Sejati, adalah saudara kandung Empu Purwa, guru Mahesa Agni," jelas Mahendra.
"Aku baru menyadarinya sekarang," kata Mahesa Murti mengenang kembali pertempurannya dengan orang kepercayaan Pangeran Gaco Bahari.
"Sayangnya kita berdiri berseberangan jalan dengan orang itu," kata Mahendra. "Itulah perjalanan hidup, kami pun dulu pernah berseberangan jalan dengan Mahesa Agni ketika ia membela kubu Ken Arok menantang pamanmu Witantra dalam perang tanding," kenang Mahendra akan masa silam.
"Artinya, siapa pun bisa salah langkah," kata Mahesa Murti mencoba menyimpulkan perkataan Mahendra.
"Semua adalah garis dan ketetapan dari Yang Maha Agung," kata Mahendra.
"Dengan cara apa kita mengenal kebenaran itu, Ayah?" tanya Mahesa Murti.
"Menilai dengan cara apa kita menegakkan kebenaran itu sendiri," jawab Mahendra. "Menilai dengan suara hati," lanjutnya perlahan.
Dan tidak terasa sang malam pun sudah menutupi hari. Keindahan bunga soka di pojok depan halaman rumah Mahendra sudah tidak terlihat lagi, tertutup keremangan malam bersama angin dingin yang sepertinya mencubit genit, mengusir dan mengajak Mahesa Murti serta Mahendra beranjak dari duduknya.
Mengantar mereka tidur dan bermimpi tentang fajar dan beningnya pagi.
Pagi masih begitu suram, suara kicau burung telah membangunkan Mahesa Murti.
Segera Mahesa Murti menuju ke pakiwan untuk membersihkan diri.
Setelah berganti pakaian, Mahesa Murti pun keluar menuju pendapa.
Ternyata Mahendra telah ada di pendapa. Entah sejak kapan Mahendra duduk di pendapa itu, Mahesa Murti diam-diam memuji kebiasaan Mahendra bangun di awal pagi.
Wajah tuanya masih begitu segar meski beberapa bagian sudah terlihat berkerut.
"Aku ingin menitipkan sesuatu," kata Mahendra ketika Mahesa Murti selesai meneguk minuman hangat.
"Mahesa Agni telah menitipkan kitab ini kepadaku, kuharap kamu dapat menyimpannya," kata Mahendra sambil memberikan sebuah kitab rontal yang tidak begitu tebal, terbuat dari bahan kulit binatang.
Berdebar Mahesa Murti memegang kitab itu, wajahnya menatap penuh kekhawatiran memandang Mahendra di depannya.
"Jangan memandangku seperti itu, seolah-olah aku akan mati besok," kata Mahendra tersenyum memandang Mahesa Murti, sepertinya dapat membaca apa yang ada dalam pikiran anaknya itu.
"Apakah Ayah pernah mempelajari isi kitab ini?" tanya Mahesa Murti setelah menguasai dirinya.
"Kitab ini berisi ujar-ujar bagaimana berperilaku terhadap alam, sesama makhluk hidup, juga terhadap Sang Pencipta," kata Mahendra menjelaskan isi dari kitab yang diberikan kepada Mahesa Murti.
"Hanya pada bagian terakhir dari kitab ini yang tidak pernah bisa kumengerti," lanjut Mahendra.
Tanpa sengaja Mahesa Murti membuka halaman terakhir dari kitab yang dipegangnya. Bukan main terperanjat hatinya membaca kalimat yang ada di lembar terakhir kitab itu.
"Carilah aku di mana tidak ada aku," perlahan Mahesa Murti membaca kalimat yang tertulis.
"Ya, kalimat itulah yang belum aku mengerti," kata Mahendra.
"Orang bertanda cakra itu pun, ketika hendak pergi, mengucapkan kalimat ini," kata Mahesa Murti.
"Mungkin sebagai isyarat bahwa kamu sealiran dengannya. Ketika bertempur denganmu dan melihat ada beberapa tata gerak yang sama, mungkin juga ia menyangka bahwa kamu telah memiliki kitab ini," kata Mahendra mencoba menduga-duga isyarat perkataan orang bertanda cakra itu.
Suasana pun sepertinya membisu, Mahesa Murti dan Mahendra seakan telah jauh di alam pikirannya masing-masing.
Sementara itu, matahari sudah merayap menerangi halaman pendapa rumah Mahendra.
Seseorang datang mendekati tangga pendapa, ternyata Mahesa Pukat.
Setelah menyapa dan menyampaikan keselamatan masing-masing, Mahesa Pukat pun memberi kabar bahwa dirinya akan berangkat ke Benteng Canggu hari itu juga.
"Secepat ini?" tanya Mahendra kepada Mahesa Pukat.
"Bukankah sebagai prajurit harus siap menerima perintah?" jawab Mahesa Pukat sambil melirik kepada Mahesa Murti.
"Untungnya aku bukan prajurit," kata Mahesa Murti sambil tersenyum.
"Kukira kamu akan berangkat dua atau tiga hari lagi, biarlah aku bermalam sehari ini lagi," kata Mahesa Murti kepada Mahesa Pukat sambil memandang wajah ayahnya yang nampak begitu sedih.
Mahesa Murti dapat merasakan bagaimana seorang ayah yang akan berpisah jauh dari anak-anaknya di usia senja.
Perkataan Mahesa Murti adalah upaya sedikit menghibur kelaraan Mahendra.
Tidak lama Mahesa Pukat duduk bersama di pendapa. Setelah menikmati beberapa potong makanan dan minuman hangat, Mahesa Pukat berpamitan.
"Hati-hatilah kamu menjaga diri," kata Mahendra melepas Mahesa Pukat melangkah menuruni anak tangga pendapa.
Mahendra dan Mahesa Murti mengiringi kepergian Mahesa Pukat dengan pandangan dan hati yang trenyuh, hingga akhirnya Mahesa Pukat tidak terlihat lagi menghilang di tikungan jalan.
Tidak banyak yang dilakukan Mahesa Murti di rumah Mahendra hari itu, selain menggenapi kerinduan mereka.
Dan tidak terasa hari berlalu begitu cepat menembus senja, menggulung malam, dan menarik sang matahari pagi berdiri di ujung timur cakrawala.
Pagi itu, Mahesa Murti dan Raden Wijaya di punggung kudanya keluar dari gerbang kotaraja, diiringi tatapan mata Mahendra tua sampai jauh menghilang terhalang jalan bukit yang menurun.
Dengan menghela napas panjang, Mahendra perlahan menghentak kudanya berbalik badan, dan membiarkan langkah kudanya berjalan perlahan.