Chapter 178
"Mari kita beristirahat, hari sudah begitu larut malam," kata Mahesa Bungalan kepada Mahesa Amping setelah merasa cukup memeriksa keadaan prajuritnya di berbagai tempat di Pura Besakih.
Demikianlah malam yang dingin di Pura Besakih sepertinya telah menyirep sebagian penghuninya hingga tertidur pulas. Namun, ada beberapa orang yang terluka parah sepanjang malam tidak dapat memejamkan matanya sedikit pun. Rintihan mereka kadang cukup mengganggu kawan di sebelahnya yang sudah lama tertidur. Akhirnya, sang malam perlahan meninggalkan bumi, berganti pagi.
Pagi di Pura Besakih ditandai dengan kabut yang pekat. Selapis demi selapis, kabut tersibak dan menghilang bersama semakin benderangnya sinar matahari yang menembus udara pagi di Pura Besakih. Terlihat sekumpulan orang berkuda di Pura Besakih yang akan melakukan sebuah perjalanan jauh.
"Kutitipkan segala isi di Pura Besakih ini kepadamu, wahai Senapati Muda," kata Raja Adidewalancana kepada Mahesa Bungalan yang turut mengantar kepergiannya ke Singasari.
"Akan kujaga pesan Tuan sebagaimana aku menjaga diriku sendiri," jawab Mahesa Bungalan kepada Raja Adidewalancana.
"Sampaikan salamku kepada semua sahabat di Tanah Singasari," kata Mahesa Amping kepada Kebo Arema, Mahesa Semu, Wantilan, dan Sembaga yang ikut mengawal Raja Adidewalancana dan permaisurinya ke Singasari.
Langit pagi di atas Pura Besakih yang cerah tiba-tiba saja berubah menjadi mendung kelabu bersama keluarnya iring-iringan Raja Adidewalancana dan para pengawal Singasari menuruni anak tangga seribu. Langit mendung di atas Pura Besakih akhirnya tak tertahan menitikkan hujan gerimis kecil, seperti ikut berduka mengiringi kepergian seorang penguasa Pura Besakih yang pasrah dan rela menjalani kehidupan yang berbeda sebagai manusia biasa, sebagai seorang tawanan perang yang harus dikucilkan jauh dari tempatnya, jauh dari tanah tempat kelahirannya.
Terlihat beberapa pelayan Pura Dalem Astana menitikkan air mata mengiringi kepergian tuannya yang sudah tidak terlihat lagi karena terhalang kerimbunan batang pohon kayu yang tumbuh tersebar mengelilingi Pura Besakih.
"Hujan gerimis seperti ini biasanya akan lama sekali," kata Mahesa Bungalan kepada Mahesa Amping, mengajaknya kembali ke Bale Guru Pura Besakih yang untuk sementara menjadi tempat resmi selama mereka menjalani tugas sebagai seorang Senapati untuk mengatur segala sesuatunya setelah peperangan berakhir di Balidwipa.
Hujan gerimis kecil akhirnya reda juga. Tanah yang basah oleh darah peperangan terlihat sudah hilang terbawa air hujan. Matahari kembali bersinar menerangi Pura Besakih, menerangi meru berundak tempat arca dan pelinggih berdiri, menjadi saksi bisu perjalanan manusia dalam perang dan damai. Cuaca di atas cakrawala langit Pura Besakih terlihat begitu cerah. Bangunan Pura Besakih seperti lukisan alam yang elok dan indah di kaki lereng Gunung Agung yang dikelilingi kabut abadi.
Hari itu adalah purnama ketujuh setelah usainya penaklukan Balidwipa. Sebuah iring-iringan prajurit Singasari terlihat memasuki gapura Pura Besakih dengan membawa umbul-umbul dan panji-panji kebesaran Singasari. Bersama mereka, berjalan di depan memimpin barisan seorang yang sudah terlihat begitu tua, namun masih tampak tegar, gagah, dan penuh wibawa dengan belitan jubah pendeta. Dia tidak lain adalah Empu Dangka yang telah resmi diangkat sebagai Pandita Guru Istana Singasari. Barisan itu berhenti di altar persinggahan.
"Selamat datang di Pura Besakih, wahai pendeta guru yang bijaksana," kata Mahesa Bungalan kepada Empu Dangka.
"Selamat bertemu kembali, wahai Tuan Rakrian Demung Sasanabungalan," balas Empu Dangka kepada Mahesa Bungalan yang telah menjabat resmi sebagai seorang Demung, pejabat perwakilan Singasari di Balidwipa.
Para prajurit Singasari yang baru tiba itu dipersilakan beristirahat, sementara Empu Dangka terlihat berjalan bersama Mahesa Bungalan ke Pura Dalem Astana.
"Sri Maharaja Singasari telah menitahkan diriku menjadi pendeta guru suci di Balidwipa ini, mengajarkan kitab tattwa kepada semua orang, dan membangun pura di berbagai tempat. Pura dan tattwa bukan hanya milik para Bhirawa dan para raja," kata Empu Dangka di Bale Witana kepada Mahesa Bungalan.
"Sebuah tugas yang mulia," sahut Mahesa Bungalan.
"Aku juga membawa sebuah kekancingan untuk Anakmas Mahesa Amping," kata Empu Dangka.
"Saat ini Mahesa Amping masih menjalankan tugasnya sebagai perwira tinggi pasukan telik sandi di Balidwipa ini. Dari Pura Indrakila, Mahesa Amping mengatur seluruh pasukannya; jalur telik sandinya telah terbangun dengan baik. Mahesa Amping telah banyak membantu kami, meredam setiap gerakan yang tersembunyi," kata Mahesa Bungalan kepada Empu Dangka. "Tugas baru apakah yang akan diemban untuk Mahesa Amping dari Sri Maharaja Singasari?"
"Sebagaimana diriku seorang pendeta pengembara, Mahesa Amping telah dianugerahi menjadi seorang Senapati Agung, membangun kekuatan angkatan perang yang mandiri di berbagai tempat di Balidwipa," kata Empu Dangka menjelaskan tugas Mahesa Amping di Balidwipa selanjutnya. "Membangunkan jiwa-jiwa muda sebagai seorang pecalang muda yang siap membela dan melindungi buminya dari setiap gangguan di segenap Kademangan Balidwipa."
"Sebuah gagasan yang luar biasa. Balidwipa akan menjadi sebuah bumi tanpa prajurit, tapi Balidwipa juga akan menjadi sebuah pulau yang paling aman dan tenteram sepanjang masa," kata Mahesa Bungalan memuji gagasan itu.
Demikianlah, perlahan di bawah kendali seorang Demung yang bijaksana, kemakmuran mulai berpijak merata di seluruh penjuru; keamanan dan ketenteraman jiwa sepertinya mulai hidup berkembang sejalan. Rakrian Demung Sasanabungalan telah mempersatukan kembali Balidwipa dan Jawadwipa yang terpisah, yang dulu pernah terikat dalam satu daratan pulau yang satu. Mereka memang terlahir dari satu keluarga, dari satu tanah air yang satu.