Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 09

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 09

Seorang pembantunya yang sedang memegang kendali kuda pernah diceritakan Magonda dengan cerita yang sama, langsung tertawa terpingkal-pingkal. Kertanegara menjadi bingung, adakah yang lucu dengan pertanyaannya. "Sukar sekali bicara dengan orang muda sepertimu," berkata Magonda kepada Kertanegara.

Jarak perjalanan ke Bandar Cangu memang tidak begitu lama lagi. Matahari masih belum tenggelam manakala pedati yang ditumpangi Kertanegara telah sampai di Bandar Cangu. Tiang-tiang layar kapal kayu yang bersandar sudah terlihat dari jauh. Bergeser sedikit dari dermaga akan terlihat bangunan benteng Cangu yang masih dalam pembangunannya.

Begitu ramai suasana di Bandar Cangu. Lalu lalang para buruh mengangkat barang. Kadang juga terlihat beberapa Prajurit Singasari. Yang sangat menarik lagi adalah kehadiran beberapa wanita dengan pakaian yang menggiurkan berjalan, sepertinya mengundang setiap mata lelaki. Sudah menjadi kelaziman di setiap bandar dimanapun akan diramaikan dengan beberapa rumah pelacuran. Bahkan bukan sesuatu yang aneh bila pihak kerajaan menunjuk seseorang sebagai Pejabat rumah bordil, istilah untuk tempat pelacuran.

"Kita menginap di sini," berkata Magonda ketika pedati mereka berhenti di sebuah penginapan. "Aku akan menemui kawanku, menanyakan apakah ada kapal yang akan berangkat besok," berkata Magonda kepada Kertanegara yang tengah sibuk menyimpan beberapa barang yang harus dikeluarkan dari pedati.

Enam puluh malam telah menyelimuti Bandar Cangu, di atas langit bergantung sang rembulan menaburkan cahaya kekuningan di atas tiang-tiang layar kapal kayu yang bersandar, menerangi bangunan benteng Cangu yang masih belum sempurna. Dari sebuah gundukan tanah tinggi, Kertanegara memandang semua itu bersama jutaan bintang di langit malam.

"Ayahanda telah memulai membuat gerbang yang sempurna di Bandar Cangu ini. Dari tanah inilah Singasari menguasai dunia," berkata Kertanegara kepada dirinya sendiri, memuji siasat Ayahandanya membangun benteng dan Bandar Cangu. Ketika Kertanegara memandang rembulan yang dikelilingi taburan bintang, hayalannya bergayut pada wajah Menik Kaswari. "Aku akan membuktikan, bahwa cintaku padamu tidak akan pernah hilang sebagaimana janji bintang kejora di awal pagi," berkata Kertanegara kepada dirinya sambil memandang wajah bulan yang sepertinya tersenyum memandangnya.

Angin malam berhembus begitu dingin, menyadarkan Kertanegara bahwa malam sudah jauh mendekati pagi. Di dalam kekelaman malam, Kertanegara kembali ke penginapannya. Bumi pagi di Bandar Cangu sudah menggeliat, wajah-wajah ceria para buruh bekerja mengangkat barang ke kapal kayu mewarnai dermaga. Seorang awak kapal telah menarik jangkar ke atas, sementara seorang di dermaga melepas tali ikatan kapal kayu.

Sepuluh budak mengayuh kapal kayu ke tengah sungai. Dan kapal kayu pun telah bergerak terbawa arus sungai Brantas. Tiga orang laki-laki tengah melambaikan tangannya kepada sebuah keluarga yang ada di atas kapal kayu. Sepasang suami istri bersama seorang anak perempuannya yang sudah remaja. Beberapa orang lagi duduk berkerumun menikmati makan pagi, sepertinya para saudagar dan pembantunya yang sudah terbiasa menggunakan kapal kayu ini sebagai jalur perdagangannya.

Kertanegara memandang dermaga Bandar Cangu yang semakin menjauh dari belakang kapal kayu. "Perjalananku sudah semakin menjauh dari Kotaraja. Di dermaga inilah aku akan bersandar membawa kembali Menik Kaswari," berkata Kertanegara memandang dermaga yang semakin menjauh. "Apakah ini perjalanan pertamamu dengan kapal kayu?" bertanya Magonda yang sudah ada di sampingnya. Dan Kertanegara tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya.

Kapal kayu telah meluncur semakin menjauh, membelah hutan rimba di sepanjang sungai Brantas. "Harus ada pos gardu tambahan di sepanjang perairan ini membantu keberadaan benteng Cangu," berkata Kertanegara kepada dirinya sendiri, melihat begitu sunyinya keadaan di sepanjang perairan. "Kita akan melewati simpang tiga Hutan Bahar," berkata Magonda, menghentikan lamunan Kertanegara. "Ada apa dengan simpang tiga Hutan Bahar?" bertanya Kertanegara, tertarik dengan ucapan Magonda.

"Kawanku, pemilik kapal kayu ini, mengatakan, setelah Datuk Malakar tewas, daerah ini menjadi perairan yang tidak bertuan, para bajak laut semakin merajalela. Dan simpang tiga hutan bahar inilah yang menjadi daerah operasi mereka. Mereka datang dan pergi dari sungai yang ada di mulut Hutan Bahar," berkata Magonda, memberi keterangan kepada Kertanegara.

Bukan main geramnya hati Kertanegara. Sebagai seorang Pangeran, hati kecilnya merasakan kegeraman kepada bajak laut yang tidak lagi memandang kekuasaan Singasari. Tapi kegeraman itu tidak ditunjukkan di hadapan Magonda. "Para bajak laut sepertinya punya banyak mata, sepertinya sudah membaca kapan kapal kayu yang memuat barang yang berharga lewat di daerahnya," berkata Magonda kepada Kertanegara dengan wajah penuh khawatir, karena sebentar lagi simpang tiga hutan bahar akan dilaluinya.

"Apakah sudah ada yang melaporkan keadaan ini kepada pejabat di Bandar Cangu?" bertanya Kertanegara kepada Magonda. "Sudah, tapi tidak ada upaya apapun, mungkin mereka masih sibuk membangun benteng di Bandar Cangu," berkata Magonda kepada Kertanegara.

Apa yang dikhawatirkan Magonda sepertinya memang akan menjadi kenyataan. Sebuah kapal kayu besar tiba-tiba muncul dari mulut hutan Bahar. Kapal kayu di depan yang muncul dari mulut Hutan Bahar telah menghadang di depan. "Perompak," berkata seorang awak kapal. Teriakan awak kapal itu sudah terlambat. Kapal perompak itu sudah merapat di lambung kiri kapal kayu yang ditumpangi Kertanegara.

Dua puluh orang bersenjata golok panjang telah melompat menyeberang di atas dek kapal. "Yang tidak ingin melawan, berkumpul di sebelah kanan, aku tidak akan melukai kalian," berkata seorang yang bertubuh tinggi besar dan bercambang, yang sepertinya pimpinan dari para perompak. Senjatanya begitu aneh, sebuah pedang yang terbuat dari tulang ikan pari.

Beberapa penumpang dengan wajah penuh ketakutan telah berkumpul di sebelah kanan dek kapal. Sementara itu, sepuluh awak kapal dengan pedang telanjang di tangan telah berkumpul, siap menghadapi apapun yang terjadi. "Menyerahlah, kami lebih banyak dari kalian," berkata pemimpin perompak itu, menggertak para awak kapal. "Kami lebih baik mati daripada menyerahkan apapun kepada kalian," berkata seorang awak kapal yang ternyata pimpinan dari para awak kapal itu.

Kertanegara sudah bersiap diri akan terjun bertempur membela para awak kapal. Tapi ada seseorang memanggil namanya. "Kerta, kemarilah!!" terdengar Magonda memanggil Kertanegara dari sebelah dek kanan, di antara beberapa penumpang yang telah berkumpul. Tapi Kertanegara sepertinya sudah tidak peduli dengan panggilan Magonda yang duduk cemas, melihat Kertanegara yang tidak ingin bergabung bersamanya.

Bahkan dengan gagahnya, Kertanegara telah bergabung bersama para awak kapal. "Dengar sekali lagi, orang-orang dungu, menyerahlah. Kami hanya memerlukan barang yang kalian bawa, setelah itu kalian dapat pergi dengan selamat," berkata pimpinan perompak itu, memberikan peringatan kepada para awak kapal agar menyerah. "Dengar sekali lagi, orang sombong, kami tidak akan pernah menyerah," perkata pimpinan para awak kapal tidak kalah gertaknya.

Bukan main marahnya pemimpin perompak itu. Yang nama panggilannya adalah Daeng Bahar, yang sangat ditakuti oleh kawan maupun lawan. Yang merupakan satu-satunya lawan tanding dan saingan terbesar Datuk Malakar, merasa tidak dipandang mata oleh para awak kapal, darahnya seperti terbakar. "Habisi mereka!!" berkata Daeng Bahar kepada anak buahnya yang langsung mengepung para awak kapal dan Kertanegara yang telah ikut bergabung.

Pertempuran pun tidak bisa lagi dihindari. Para perompak langsung menerjang para awak kapal. Sebuah sabetan golok panjang menyambar kepala Kertanegara. Dengan gesit, Kertanegara mengelak, merendahkan tubuhnya. Golok panjang yang diayunkan dengan kekuatan penuh lewat di kepala Kertanegara.

Melihat sasarannya terlepas, seorang perompak yang bertubuh bundar semakin penasaran. Ayunan golok panjangnya berubah arah, kali ini langsung membelah kepala Kertanegara. Kembali Kertanegara dengan gesit mengelak, mundur ke belakang. Golok panjang menancap setengah jengkal di kayu geladak kapal.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Kertanegara. Tendangan kerasnya langsung menghantam wajah orang bertubuh bundar itu. Dan langsung terjengkang, tidak sadarkan diri. Kertanegara mengambil golok panjang yang menancap di kayu geladak kapal.

Melihat pertempuran yang berat sebelah, hampir setiap awak kapal dikerubuti oleh dua orang perompak. Sementara itu, pemimpin awak kapal itu pun tengah berjuang menghadapi Daeng Bahar yang bertempur demikian garangnya. "Aku harus mengurangi kekuatan mereka," berkata dalam hati Kertanegara, sambil mengayunkan golok panjang di tangannya kepada seorang perompak di dekatnya.

Perompak itu tidak sempat mengelak, maka yang dapat dilakukannya adalah menangkis sambaran golok panjang yang tertuju pada pinggangnya dengan senjatanya. Maka benturan dua senjata pun terjadi. Senjata perompak itu pun langsung terlepas dari tangannya. Dan tendangan Kertanegara kembali menemui sasaran terbuka, bersarang pada dada perompak yang masih tercengang, merasakan tangannya yang masih seperti terbakar akibat benturan goloknya sendiri.

Perompak itu pun langsung terjungkal, melayang membentur kayu penyangga geladak. Daeng Bahar ternyata bermata awas, seorang pemimpin yang tahu melindungi anak buahnya. Melihat dengan cepat dua orang anak buahnya terkapar tidak bergerak, matanya memandang tajam ke arah Kertanegara.

Dengan sebuah lentingan panjang, melayang ke arah Kertanegara, meninggalkan pimpinan awak kapal seorang diri. Sementara itu, pemimpin awak kapal yang ditinggal sendiri oleh lawannya langsung menerjang perompak di dekatnya yang tengah menyerang, menggerubuti seorang anak buahnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment