Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 129

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 129

"Aku tidak sabar melihat cambuk hasil karya seorang Empu," kata Mahesa Amping kepada Empu Dangka yang hanya tersenyum melambaikan tangan, lalu membalikkan badan dan terus melangkah pergi.

Pandangan mata Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi terus mengiringi langkah kaki Empu Dangka yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang di ujung jalan tanah yang menurun.

"Mari kita ke sanggar, para sisya sudah mendahului kita ke sana," kata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping.

Ketika Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi masuk ke dalam sanggar, terlihat para sisya tengah berlatih. Mahesa Amping yang melihat mereka berlatih dengan penuh semangat merasa kagum dan gembira. Para sisya terlihat semakin berkembang maju dan kian menguasai jurus perguruan yang telah disempurnakannya.

"Kulihat mereka sudah semakin menguasai," kata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi yang terus memperhatikan keempat anak didiknya tersebut.

"Aku menyukai semangat mereka," sahut Ki Arya Sidi.

"Mereka juga tampaknya sangat berbakat," puji Mahesa Amping.

Namun, perhatian Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi terpecah saat terlihat seorang lelaki berjubah pendeta masuk ke dalam sanggar.

"Maafkan hamba Tuan, orang itu sudah hamba peringatkan agar menunggu di pendapa, tetapi dia tidak menggubris peringatan hamba," kata Ki Nyoman, pelayan tua yang masuk dan langsung memberitahukan kedatangan orang berjubah pendeta itu. "Orang itu mengatakan dirinya berasal dari Pura Indrakila," lanjut Ki Nyoman kepada Ki Arya Sidi.

"Rahajeng semengan," sapa Ki Arya Sidi, berusaha menahan diri dan bersikap hormat kepada tamu yang baru masuk itu. "Ada kepentingan apakah Tuan Pendeta datang ke Padepokan Panca Agni sepagi ini?" tanya Ki Arya Sidi lagi kepada orang tersebut.

Melihat raut wajah dan rambut di kepala yang sudah memutih seluruhnya, dapat diperkirakan bahwa umur orang itu sudah tua, sekitar enam puluh tahun lebih. Rambut putihnya dibiarkan terurai tanpa ikat kepala.

"Sanggar yang bagus, sanggar yang bagus," kata orang berjubah pendeta itu, sepertinya tidak menghiraukan pertanyaan Ki Arya Sidi. Matanya menyapu ke seluruh ruangan sanggar Padepokan Panca Agni. "Sayang, penghuninya hanya empat orang sisya."

"Lebih baik empat orang sisya tetapi sepenuh jiwa menuntut ilmu, daripada seratus sisya tetapi hanya setengah jiwa," balas Ki Arya Sidi yang mulai merasa kurang senang.

"Apa arti menuntut ilmu di tempat yang tidak bermakna," sindir orang itu tanpa memandang ke arah Ki Arya Sidi, melainkan masih menyapu pandangannya ke seluruh isi sanggar.

Ki Arya Sidi sebenarnya sudah semakin tidak suka, namun masih berusaha mengendalikan diri. Sementara itu, Mahesa Amping diam-diam memperhatikan orang tersebut. Ada sedikit getaran yang dirasakannya; sebuah pertanda bahwa orang itu mempunyai tingkat kekuatan batin yang tinggi.

"Siapakah Tuan Pendeta, agar kami selaku tuan rumah tidak salah menilai orang?" tanya Ki Arya Sidi yang masih dapat menahan diri.

"Orang memanggilku sebagai Guru Dewa Bakula," jawab orang itu sambil mengalihkan pandangannya langsung kepada Ki Arya Sidi.

Bukan main terkejutnya Ki Arya Sidi mendengar nama tersebut. Sebagai seorang guru di Padepokan Panca Agni yang mempunyai pengetahuan luas di Balidwipa, ia pernah mendengar nama Guru Dewa Bakula sebagai orang yang berasal dari negeri Hindu. Guru Dewa Bakula dikenal sebagai sosok sakti yang telah menjadi guru pendeta di Pura Indrakila.

Guru Dewa Bakula inilah yang menyebabkan para penguasa pura di seluruh Balidwipa tidak lagi mengirim para pangeran mereka ke Padepokan Panca Agni sebagaimana tradisi turun-temurun. Saat ini, hampir semua pangeran dari berbagai pura di Balidwipa menjadi sisya di Pura Indrakila. Hanya penguasa Pura Pusering Jagad yang masih mempercayai Padepokan Panca Agni sebagai tempat membina pangerannya.

"Kami sangat tersanjung atas kedatangan Tuan Guru Dewa Bakula di Padepokan Panca Agni," kata Ki Arya Sidi.

"Kedatanganku di padepokan ini hanya sekadar ingin mengetahui setinggi apa ilmu Perguruan Panca Agni sehingga pernah menjadi kawah candradimuka bagi para pangeran di seluruh pura Balidwipa," kata Guru Dewa Bakula dengan tatapan yang sangat tajam.

Dada Ki Arya Sidi tersentak ditatap dengan pandangan mata yang sangat tajam itu, sebuah tatapan yang dilambari tenaga tersembunyi. Untungnya, di dekatnya ada Mahesa Amping yang diam-diam menyentuh tangan Ki Arya Sidi untuk membantunya menyalurkan tenaga murni sebagai daya kebal di dalam tubuh, tanpa sepengetahuan Ki Arya Sidi sendiri.

"Apakah ada keuntungan bagi Tuan untuk menilai tinggi rendahnya ilmu Perguruan Panca Agni?" tanya Mahesa Amping kepada Guru Dewa Bakula dengan tatapan yang kuat.

Kaget bukan kepalang Guru Dewa Bakula mendapati seorang pemuda di dekat Ki Arya Sidi mempunyai kekuatan mata yang sangat tajam sebagaimana dirinya. Dadanya sedikit tersentak menatap sorot mata pemuda itu. Ia diam-diam melambari dirinya dengan tenaga murni agar rongga dadanya tidak terguncang.

"Sebenarnya tidak ada keuntungan apa pun, hanya sekadar mengetahui sejauh mana tingkat ilmu Perguruan Panca Agni," jawab Guru Dewa Bakula yang kini mengalihkan pandangannya ke arah Mahesa Amping.

"Tuan Pendeta terlalu berbelit-belit dalam merangkai kata. Langsung saja kami maknai bahwa Tuan ingin menguji kemampuan kami?" kata Mahesa Amping mewakili Ki Arya Sidi.

"Ternyata kamu pandai menerjemahkan apa yang aku maksudkan," ujar Guru Dewa Bakula.

"Kuterjemahkan lagi lebih pastinya; Tuan Pendeta ingin adu tanding di tempat ini," kata Mahesa Amping dengan sangat tenang, bahkan dengan sedikit senyum.

"Aku senang padamu yang pandai menerjemahkan ucapanku. Aku memang ingin adu tanding di tempat ini," kata Guru Dewa Bakula yang diam-diam mengagumi sikap Mahesa Amping yang tidak terpengaruh oleh sorot matanya.

"Apakah yang Tuan tawarkan kepada kami dari hasil adu tanding itu?" tanya Mahesa Amping dengan suara datar, namun sorot mata yang tak kalah tajam.

"Kutawarkan seluruh sisyaku di Pura Indrakila bila kamu dapat menandingiku. Sebaliknya, serahkan semua sisya di Padepokan Panca Agni ini bila ternyata mereka tidak dapat menandingi ilmuku," kata Guru Dewa Bakula dengan suara yang bergema karena dilambari tenaga dalam yang tinggi.

Semua yang ada di sanggar itu merasakan rongga dadanya terguncang.

"Empat puluh sisya sebanding dengan empat sisya, sebuah penawaran yang menarik," kata Mahesa Amping sambil tertawa panjang bermaksud meredam daya sentak yang dilontarkan oleh Guru Dewa Bakula.

Ki Nyoman yang paling terguncang terlihat masih memegangi dadanya, sementara empat orang sisya dan Ki Arya Sidi sudah dapat menguasai diri masing-masing. Guru Dewa Bakula tampak terkejut menyadari anak muda di hadapannya mampu mengimbangi ilmunya lewat pantulan suara.

"Ternyata kamu ingin memamerkan diri," kata Guru Dewa Bakula.

"Aku tidak memamerkan diri, hanya sekadar menyampaikan bahwa ilmu yang Tuan Pendeta keluarkan dapat juga dilakukan oleh orang di pasar," balas Mahesa Amping dengan senyum tipis.

"Artinya ilmuku ini pasaran?" tanya Guru Dewa Bakula dengan mata melotot tidak senang.

"Terserah Tuan mengartikan perkataanku, meski aku tidak bermaksud berkata seperti itu," sahut Mahesa Amping dengan senyum tertahan yang berhasil membakar amarah Guru Dewa Bakula.

"Rasanya aku ingin merobek mulutmu yang terlalu banyak bicara itu!" seru Guru Dewa Bakula penuh amarah.

"Sang Hyang Widhi telah menciptakan mulut manusia dengan sempurna, apakah Tuan Pendeta bermaksud merusaknya?" tanya Mahesa Amping tenang.

"Aku benar-benar akan merobek mulutmu!" teriak Guru Dewa Bakula yang sudah tidak dapat mengendalikan perasaannya. Ia langsung melompat menerjang dengan kedua tangan menerkam ke arah kepala Mahesa Amping.

"Sabar Tuan Pendeta, kita belum menyampaikan sebuah kesepakatan," kata Mahesa Amping sambil bergeser sedikit ke kiri, sehingga terkaman itu mengenai tempat kosong.

"Kesepakatan apa lagi?" tanya Guru Dewa Bakula sambil bertolak pinggang.

"Kesepakatan bahwa siapa pun yang kalah dalam pertandingan ini akan mengaku sebagai murid seumur hidupnya," ujar Mahesa Amping, masih dengan senyum dikulum.

"Akan kujadikan kamu murid yang paling tersiksa sepanjang hidupmu!" ancam Guru Dewa Bakula penuh kemarahan.

"Sepertinya Tuan Pendeta sudah membayangkan aku sebagai murid yang terkasih," balas Mahesa Amping kembali memancing amarah lawan.

"Ki Arya Sidi, apakah kamu membiarkan perguruanmu diwakili oleh anak muda bau kencur ini?" tanya Guru Dewa Bakula bermaksud meremehkan Mahesa Amping.

"Dia adalah saudaraku, dia punya hak mewakili Padepokan Panca Agni," jawab Ki Arya Sidi yang telah mengenal kemampuan tinggi Mahesa Amping.

"Mari kita selesaikan kesepakatan ini di luar sanggar, di tempat yang lebih luas," ajak Mahesa Amping sambil melangkah keluar.

Guru Dewa Bakula mengikutinya dari belakang. Sesampainya di halaman depan Padepokan Panca Agni, Guru Dewa Bakula mendengus geram.

"Jadi kamu memilih tempat ini," katanya sambil memandang tajam ke arah Mahesa Amping.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment