Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 63

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 63

Satu per satu telah jatuh lunglai di halaman rumah itu.

"Menyerahlah atau nyawa kalian kucabut malam ini," ucap orang berpakaian putih-putih itu.

"Ampuni jiwa kami," sahut seorang perampok yang tidak dapat menguasai rasa takutnya.

Orang berpakaian serba putih itu tidak berkata apa-apa. Ia berjalan menghampiri seorang penjaga yang masih terikat di pilar kayu.

"Masuklah ke dalam, mungkin junjunganmu telah terkurung di dalam biliknya," kata orang itu setelah membuka ikatan tali si penjaga.

Setelah tali yang mengikat tubuhnya dilepaskan, penjaga itu langsung masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian, ia muncul kembali bersama Saudagar Mokar yang terkejut melihat apa yang terjadi di halaman rumahnya.

Kesepuluh perampok garang yang sebelumnya membuat keluarga saudagar itu tidak berdaya, kini telah bergelimpangan di halaman, tampak tak berdaya. Mata Saudagar Mokar terpaku kepada seseorang yang sudah duduk di atas kuda putihnya.

"Aku adalah Panglima Angsa Putih, pelindung Raja Muda Kertanegara, kekasih para dewa," ucap orang berpakaian putih di atas kuda putihnya dengan suara yang bergema.

Orang yang memperkenalkan diri sebagai Panglima Angsa Putih itu membalikkan arah kudanya, lalu berlalu sambil melambaikan tangan keluar melalui pintu pagar halaman dan menghilang di kegelapan malam.

Gegerlah Padukuhan Mekar pada pagi harinya. Warga seolah mendengar kembali dongeng yang selama ini mereka anggap sebagai cerita khayalan para brahmana tentang Panglima Angsa Putih yang selalu melindungi raja yang dikasihi para dewa.

"Ternyata Raja Muda kita adalah kekasih para dewa. Panglima Angsa Putih akan selalu melindungi rakyat Kediri," ujar seorang petani kepada istrinya setelah mendengar cerita perampokan semalam di rumah Saudagar Mokar.

Cerita tentang Panglima Angsa Putih seperti angin yang meniup dari satu padukuhan ke padukuhan lainnya. Hal itu menjadi pembicaraan hangat di banjar desa, pasar, dan kedai.

"Semoga para perusuh dan perampok berpikir ulang sebelum melakukan perbuatannya di bumi Kediri ini," kata seorang lelaki di sebuah kedai setelah mendengar cerita dari pemilik kedai tentang Panglima Angsa Putih.

Ternyata lelaki itu adalah Senapati Mahesa Pukat. Ia tersenyum sambil menghirup wedang jahenya yang masih hangat. "Sebuah tugas yang menyenangkan," gumamnya kepada diri sendiri.

Cerita tentang Panglima Angsa Putih terus berlanjut di tempat yang berbeda, masih di wilayah Kediri. Berawal dari perampokan di siang bolong terhadap sekelompok pedagang, laporan segera disampaikan kepada Ki Jayaraga di kademangan terdekat, hingga akhirnya didengar oleh para cantrik Padepokan Bajra Seta.

"Aku akan segera mengejar para perampok itu," ujar Kebo Arema setelah menerima laporan.

Kebo Arema segera mendatangi tempat kejadian dan menemukan jejak para perampok. Mereka bersembunyi di sebuah hutan kecil yang jarang didatangi penduduk karena dikenal angker. Konon, ada sepasang suami istri yang mati gantung diri di sana, sehingga penduduk percaya bahwa arwah mereka terus bergentayangan.

"Baru kali ini aku mendapat upah ganda; diupah sebagai perampok dan mendapatkan hasil rampokan," ujar salah seorang perampok di depan perapian.

"Merampok, berpoya-poya, dan merampok lagi," timpal temannya yang disambut tawa tergelak-gelak.

Tiba-tiba tawa mereka berhenti. Mereka mendengar suara tawa yang lebih keras dan menggema dari berbagai penjuru. Para perampok itu membeku di tempatnya. Pikiran mereka terbawa dalam suasana mencekam di hutan pekat itu. Dari cahaya perapian, terlihat wajah mereka pucat pasi penuh kecemasan.

"Penunggu hutan ini tidak menyukai kehadiran kita," bisik seorang perampok di tengah suara tawa yang masih terus bergema.

Kembali mereka dikejutkan oleh sesosok penampakan dari kegelapan malam. Seorang pria berpakaian serba putih muncul, wajahnya tertutup kain putih hingga hanya menyisakan bagian mata yang menatap tajam.

"Aku adalah Panglima Angsa Putih yang melindungi Raja Muda Kertanegara yang dikasihi para dewa," ucap orang itu.

"Aku tidak percaya dengan dongeng itu. Rasakan tajamnya pedangku!" teriak seorang perampok yang memiliki ilmu paling tinggi, menyerang dengan garang.

Namun, yang terjadi sungguh mengejutkan. Perampok itu terpental jatuh, tangannya memegangi dada yang terasa sesak. Ternyata, orang yang memperkenalkan diri sebagai Panglima Angsa Putih itu telah menghajarnya dengan lecutan cambuk keras ke arah dada. Ia masih berdiri tersenyum sambil menjurai cambuk pendek di tangannya.

"Majulah kalian bersama!" tantang Panglima Angsa Putih.

Tujuh orang perampok menyerang sekaligus, namun nasib mereka sama dengan kawan pertama. Mereka terpental dan menahan dada yang sesak. Belum sempat rasa gentar hilang, kabut putih tiba-tiba menutupi pandangan. Dalam kebingungan, sebuah tamparan keras menghantam batok kepala mereka hingga terjungkal ke tanah. Segaris warna biru menandai wajah mereka, bekas sabetan cambuk.

"Siapa yang masih mengatakan Panglima Angsa Putih sebuah dongeng, kucabut nyawanya hari ini!" ucap Panglima Angsa Putih dengan wibawa yang menghentak dada.

"Ampuni jiwa kami!" jerit para perampok.

"Cepat kalian menyerahkan diri ke kademangan terdekat dan kembalikan semua hasil rampokan kalian kepada pemiliknya!" perintah Panglima Angsa Putih.

Kabut putih menipis. Panglima Angsa Putih sudah tidak terlihat lagi. Delapan perampok itu berjalan dengan wajah ketakutan menuju kademangan terdekat. Warga di banjar desa geger melihat kedatangan mereka.

"Mereka adalah orang-orang yang telah merampok kami," lapor salah seorang pedagang kepada Ki Jayaraga.

"Kami menyerahkan diri," ucap para perampok.

Saat Ki Jayaraga dan warga masih diliputi kebingungan, sesosok berkuda putih berpakaian serba putih muncul dari kegelapan malam. "Panglima Angsa Putih," desis mereka bersamaan. Sang Panglima melambaikan tangan, membalikkan kudanya, dan menghilang di kegelapan.

Keesokan harinya, cerita tentang Panglima Angsa Putih kembali menjadi pembicaraan hangat di penjuru Kediri.

"Panglima Angsa Putih adalah prajurit para dewa," jelas seorang brahmana.

"Apakah ini pertanda Raja Muda Kertanegara yang agung di Kediri adalah kekasih dewa?" tanya seseorang.

"Benar demikian. Kasih dewa hanya untuk para raja yang telah mengenal Buddha-Siwa di dalam hatinya," jawab sang brahmana.

Sementara itu, di tempat jauh dari wilayah Kediri, Raja Jayakatwang diliputi amuk angkara. Dadanya bergemuruh menahan marah setelah menerima laporan tentang hadirnya Panglima Angsa Putih di tanah Kediri.

"Kalian bodoh! Panglima Angsa Putih adalah dongeng belaka!" teriak Raja Jayakatwang.

Ia yakin semua itu adalah muslihat Kertanegara yang cerdik. "Aku punya cara untuk membuka kedok Kertanegara yang bermain dengan utusan para dewa itu," ucapnya kepada orang kepercayaan.

"Tuanku telah menemukan sebuah cara?" tanya sang pengikut ragu.

"Kita lakukan gerakan serempak di tiga tempat berbeda," perintah Raja Jayakatwang dengan sorot mata penuh siasat.

"Tetapi Panglima Angsa Putih adalah orang sakti," balas orang kepercayaannya dengan penuh keraguan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment