Chapter 73
"Paman benar, ayahku Lembu Tal, kakekku Gurusuci Darmasiksa," kata Raden Wijaya penasaran dari mana pedagang tua itu mengetahui dirinya.
"Gusti Yang Maha Agung, ternyata tuan muda putra tuanku Dyah Lembu Tal," kata pedagang tua itu, tampak penuh kegembiraan.
"Paman sepertinya telah mengenal ayahku," ujar Raden Wijaya penuh ingin tahu.
"Dulu aku pernah bertugas di istana sebagai pekatik ayahmu," jawab pedagang tua itu seolah sedang melamun mengenang masa mudanya.
"Siapa nama Paman? Kelak jika bertemu ayahku, akan kuceritakan pertemuan kita ini," tanya Raden Wijaya.
"Namaku Sungut, ayahmu pasti mengenalnya," sahut pedagang tua itu.
"Kenapa Paman tidak bekerja lagi sebagai pekatik?" tanya Lawe, tertarik mendengar pembicaraan mereka.
Sungut memandang Lawe dan tersenyum. "Ketika tuanku Dyah Lembu Tal meninggalkan istana, beliau memberikan banyak bekal kepadaku. Pesannya agar aku bisa mengubah nasib menjadi seorang saudagar," tutur Sungut. "Tapi dasar aku pemalas, bekal dari ayahmu kuhabiskan dengan hidup berfoya-foya sampai habis tak tersisa," lanjutnya sambil tersenyum getir.
"Lalu siapa orang tadi yang menagih utang kepada Paman?" tanya Raden Wijaya merasa kasihan.
"Itulah buruknya nasibku. Sebulan yang lalu aku jatuh sakit. Dengan terpaksa aku berutang sekarung jagung untuk membeli obat sekaligus bahan makanan, berharap dapat melunasi setelah aku sehat," cerita Sungut. "Pekan lalu utangku dilipatgandakan menjadi tiga karung, dan Juragan Susatpam mengambil paksa putriku sebagai jaminan."
"Utangmu sudah kulunasi lebih dari cukup, apakah juragan itu akan melepaskan putrimu?" tanya Raden Wijaya.
"Itulah yang aku khawatirkan. Juragan itu, setahuku, sudah lama menginginkan putriku," jawab Sungut penuh kekhawatiran.
"Aku dapat mengantar Paman ke rumah juragan itu," ujar Raden Wijaya.
"Sifatmu sama persis dengan ayahmu, begitu peduli," ucap Sungut.
"Kali ini aku mewakili ayahku untuk menolong sahabatnya," kata Raden Wijaya sambil memegang bahu Sungut.
"Tuanku Dyah Lembu Tal adalah junjunganku," Sungut meluruskan ucapan Raden Wijaya.
"Aku merasakan persahabatan di antara kalian," kata Raden Wijaya.
"Yang kamu katakan adalah kebenaran. Tuanku Dyah Lembu Tal menyikapi diriku sebagai seorang sahabat ketimbang pekatiknya. Itulah yang aku rasakan," ujar Sungut sambil menatap jauh ke depan, merenungkan masa-masa ketika ia masih bekerja di istana.
Akhirnya Sungut tidak dapat menolak permintaan Raden Wijaya yang akan menemaninya ke rumah Juragan Susatpam untuk mengambil putrinya. Lawe memutuskan untuk ikut, sementara Mahesa Amping bersama Dara Petak dan Dara Jingga kembali ke istana Saunggaluh.
Sungut segera membenahi dagangannya. Bersama Raden Wijaya dan Lawe, mereka berangkat ke padukuhan tempat tinggal Sungut. Padukuhan Kroyak memang tidak begitu jauh, tempat Sungut bermukim sejak masih menjadi pekatik istana. Rumahnya menunjukkan bahwa dahulu ia orang yang cukup berada.
"Inilah rumahku," kata Sungut saat mereka tiba.
Setelah menyimpan barang dagangan, mereka langsung menuju rumah Juragan Susatpam yang hanya berjarak beberapa rumah. Empat orang pesuruh Juragan Susatpam terlihat turun dari pendapa saat melihat Sungut, Raden Wijaya, dan Lawe memasuki halaman.
"Mau apa kalian datang kemari?" tanya orang yang tadi menagih utang di pasar.
"Aku datang untuk menjemput anakku," tegas Sungut.
"Anakmu tidak perlu dijemput, ia sudah merasa betah tinggal di rumah ini," jawab orang itu.
"Bohong! Anakku pasti menderita disiksa olehmu," bentak Sungut dengan suara keras.
"Sudah berani kamu berkata keras kepadaku?" ujar orang itu dengan mata mendelik.
"Kisanak, bukankah utang Paman Wijaya ini sudah mencoba dilunasi?" tanya Raden Wijaya mengingatkan.
"Sekarang aku tidak bicara lagi tentang utang. Yang kukatakan adalah anaknya sudah tidak mau pulang lagi," sahut orang itu, berusaha memutar persoalan.
"Jangan-jangan sekeping uang emasku tidak sampai ke tangan tuanmu?" tanya Raden Wijaya.
"Kalau itu memang benar, maumu apa?" tantang orang itu.
"Aku akan memintanya kembali dan langsung menyerahkannya kepada tuanmu," jawab Raden Wijaya tenang.
"Dengan cara apa kamu memintanya?"
"Cukup dengan kedua tanganku ini," jawab Raden Wijaya.
"Kamu mau menantangku?"
"Dengan sangat terpaksa, bila itu yang kamu inginkan," jawab Raden Wijaya penuh ketenangan.
Orang itu bersiap menyerang, sementara tiga kawannya bergeser ke samping. Lawannya itu langsung menerjang dengan tendangan meluncur, namun Raden Wijaya menghindar dengan gesit. Serangan bertubi-tubi dari orang itu, termasuk pukulan dari bawah ke atas, hanya mengenai angin kosong.
Merasa kesal, orang itu mencabut goloknya dan membabat ke arah pinggang Raden Wijaya. Sungut terperanjat menahan napas, namun Raden Wijaya dengan tangkas meliukkan badannya.
"Keluarkan senjatamu!" seru orang itu geram.
"Bukankah sudah kukatakan bahwa aku akan menghadapimu dengan tangan kosong?" jawab Raden Wijaya sambil tersenyum.
Melihat ketenangan itu, orang tersebut semakin murka. "Jangan salahkan aku bila kamu binasa tercincang di sini!" Ia kembali menerjang dengan goloknya. Raden Wijaya merendahkan diri, dan saat golok itu mengayun di atasnya, kaki kanannya menyodok perut lawannya hingga terlempar ke belakang.
"Hajar pemuda sombong ini!" perintah orang itu kepada kawannya.
"Biarkan kawanmu bermain sendiri," kata Lawe menghadang ketiga pengawal lainnya.
"Kalau begitu, kamu dulu yang akan jadi barang mainan kami," sahut salah seorang pengawal sambil melayangkan tamparan.
Lawe tidak suka bermain-main. Ia mengelak sedikit dan membalas dengan tamparan yang sangat keras. Akibatnya fatal; pengawal itu tersungkur dan pingsan. Lawe kemudian menantang dua pengawal lainnya. Keduanya menyerang bersamaan, namun dengan tenang Lawe merendahkan badan dan menghentakkan kaki ke dada salah satu lawan. Lawannya terpental dan jatuh sesak napas.
Lawan yang terakhir, karena malu, terus menyerang dengan golok. Saat golok itu diayunkan, Lawe bergeser setapak dan menghantam pergelangan tangan lawannya dengan cepat. Golok itu pun terlempar jatuh.