Chapter 03
Matanya jauh memandang ke depan, memandang hari-hari dalam kesendiriannya. Ternyata Mahendra sengaja memperlambat langkah kudanya, sepertinya ada yang ditunggunya. Dan benar saja, tidak lama kemudian ada suara langkah kuda mendekat.
"Sudah hamba duga, ternyata Pangeran Lembu Tal yang bersembunyi di semak-semak dekat gerbang Kotaraja," berkata Mahendra ketika orang berkuda sudah ada berjalan di sampingnya. "Mata Ki Mahendra begitu awas," berkata Pangeran Lembu Tal tersenyum malu.
"Kenapa Pangeran bersembunyi?" Mahendra bertanya kepada Pangeran Lembu Tal. "Semula aku pura-pura tidak memperlihatkan kesedihanku di depan Raden Wijaya, tapi hati ini tak kuat, akhirnya diam-diam aku mengikutinya sampai gerbang Kotaraja," berkata Pangeran Lembu Tal berterus terang kenapa dia bersembunyi.
"Pangeran tidak setuju Raden Wijaya berguru di Padepokan Bajra Seta?" bertanya Mahendra. "Semula aku memang keberatan, bukan aku tidak percaya kepada Mahesa Murti, tapi usia Raden Wijaya menurutku masih begitu dini dan belum waktunya merantau jauh," berkata Pangeran Lembu Tal.
"Tapi keinginan anak itu begitu keras, langsung menyampaikan keinginannya kepada kakeknya sendiri Ratu Anggabhaya. Dan ternyata Ayahku Ratu Anggabhaya merestuinya," berkata Pangeran Lembu Tal mengakhiri penjelasannya dengan mengangkat kedua pundaknya yang diartikan bahwa dia sendiri tidak bisa mencegah keputusan ayahnya Ratu Anggabhaya.
"Ratu Anggabhaya sepertinya sangat menyayangi Raden Wijaya," berkata Mahendra. "Bukan cuma menyayangi, tapi benar-benar memanjakannya," berkata Pangeran Lembu Tal. "Begitu sayangnya, hingga kepada siapapun membahasakan Raden Wijaya sebagai putranya," berkata Mahendra tersenyum datar.
"Betul, aku putranya sendiri sepertinya tersisihkan," berkata Pangeran Lembu Tal. Mahendra hanya tersenyum tidak menyambut lagi perkataan Pangeran Lembu Tal, pikirannya melambung jauh, membayangkan dikerumuni beberapa cucunya yang nakal dari anak-anaknya.
"Mungkinkah aku mengalaminya?" berkata Mahendra dalam hati. "Tidak terasa kita sudah sampai," berkata Pangeran Lembu Tal menghentikan lamunan Mahendra ketika mereka sudah berada di pintu gerbang Istana.
Mahendra dan Pangeran Lembu Tal pun saling berpamit diri kembali ke rumahnya masing-masing di dalam istana Singasari. Sementara itu, masih di Istana, di bangsal keluarga istana, seorang pemuda nampak begitu gelisah di kamarnya. Sudah seharian ia tidak keluar kamar.
Di luar pintu, seorang wanita tua, seorang dayang pengasuh menunggu gelisah. Tadi pagi ia mencoba mengingatkan bahwa makanan pagi sudah disiapkan, bukan main kagetnya, pemuda itu malah membentaknya. Sebagai seorang dayang pengasuh yang sudah lama melayani pemuda itu, baru kali ini ia menerima perlakuan majikannya yang tidak seperti biasanya.
"Pangeran, hari sudah siang, apakah Pangeran tidak lapar?" berkata wanita tua itu dari depan pintu yang tertutup, memberanikan diri bercampur perasaan cemas. "Menjauhlah dari kamarku, aku lagi tidak mau makan," terdengar suara keras dari dalam.
Nampak wanita tua itu menarik napas panjang, dengan wajah sedih penuh kecemasan akhirnya meninggalkan kamar pemuda itu. Siapakah pemuda di dalam kamar yang dipanggil Pangeran oleh wanita tua itu, pemuda itu adalah Pangeran Kertanegara sang putra mahkota. Sudah seharian ia tidak keluar kamarnya.
Hatinya sedang begitu gundah gulana. Pada dasarnya, Pangeran Kertanegara adalah seorang yang berperilaku lemah lembut. Itulah sebabnya wanita tua itu begitu kaget mendapatkan perilaku yang berbeda dari biasanya. Beribu pertanyaan berputar di kepalanya.
Ada apa dengan junjungannya ini, yang sangat dikenalnya dari sejak kecil sampai menjelang dewasa seperti ini. Kegundahan Pangeran Kertanegara berawal dari penempatan Kebo Bangkalan yang dialih tugaskan sebagai wakil Adipati di pulau Madura, seorang perwira tinggi yang banyak berjasa dan sangat dipercaya oleh Sri Maharaja.
Kebo Bangkalan mempunyai seorang putri bernama Menik Kaswari, seorang gadis belia yang cantik jelita. Kecantikan inilah yang merebut hati Pangeran Kertanegara. Dan ternyata Menik Kaswari tidak menolak cinta dari Pangeran Kertanegara.
Sebuah kebodohan besar bila ada gadis yang tidak menginginkan seorang Pangeran putra mahkota. Hampir setiap senja, Pangeran Kertanegara main ke rumah Menik Kaswari. Pangeran Kertanegara masih berbaring di tempat tidurnya dengan menyandarkan dua lengannya di belakang kepalanya.
Masih teringat jelas apa yang dikatakan Menik Kaswari dua hari yang lalu ketika dirinya datang berkunjung. "Sri Maharaja tidak merestui hubungan kita," berkata Menik Kaswari kepada Pangeran Kertanegara di suatu senja. "Pengangkatan Paman Kebo Bangkalan tidak ada kaitannya dengan hubungan kita," berkata Pangeran Kertanegara menjelaskan.
"Ayahandamu jahat," berkata Menik Kaswari sambil berlari masuk ke dalam rumahnya. Perkataan terakhir Menik Kaswari inilah yang sepertinya terus menggema mengisi setiap sudut kamarnya, menggema berputar-putar memenuhi seluruh hati dan pikirannya.
"Mungkinkah Ayahanda diam-diam tidak menghendaki hubunganku dengan Menik Kaswari?" berkata Pangeran Kertanegara dalam hati sendiri. "Atau diam-diam Ayahanda telah menentukan calon seorang putri untukku?" kembali Pangeran Kertanegara berkata dalam hatinya sendiri.
"Kenapa aku harus terlahir sebagai Putra Mahkota?" kembali Pangeran Kertanegara bertanya kepada dirinya sendiri, sepertinya menyesali keberadaannya sebagai Putra Mahkota. "Ayahandamu jahat !!!" kembali suara itu sepertinya begitu dekat berputar-putar ditelinganya.
Pangeran Kertanegara nampak menutup dua telinganya, tapi suara itu sepertinya masih tetap terdengar. Terbayang pula wajah cantik Menik Kaswari yang saat ini telah jauh darinya tengah digoda oleh beberapa pemuda.
Tiba-tiba saja Pangeran Kertanegara bangkit dan duduk dari pembaringannya. Matanya membesar berputar-putar. "Menik Kaswari harus jadi istriku!!" pikiran itulah yang ada dalam tekad Pangeran Kertanegara saat itu.
Cinta memang buta, apalagi untuk seorang pemuda yang baru mengenal adanya perasaan cinta sebagaimana yang dirasakan saat itu oleh Pangeran Kertanegara. Rasa takut kehilangan orang yang dicintai, rasa cemburu mengaduk-aduk perasaan Pangeran Kertanegara.
Sepertinya hanya satu wanita yang pantas mendampingi hidupnya saat itu. Manik Keswari seorang !!. Tapi, Pangeran Kertanegara bukan pemuda yang lemah, sebagai putra mahkota sudah digembleng lahir dan bathin.
Nampak Pangeran Kertanegara mengatur pernapasannya. Memusatkan akal dan budinya kepada Sanghyang pencipta seluruh alam. Dalam sekejab pernapasannya seperti teratur, warna wajahnya berubah menjadi sejuk penuh ketenangan.
"Cinta memang harus diperjuangkan, tapi tidak dengan mengurung di kamar ini," berkata Pangeran Kertanegara kepada dirinya sendiri. "Maafkan aku Bibi, tadi pikiranku lagi kusut," berkata Pangeran Kertanegara ketika membuka pintu kamarnya melihat bibi pengasuhnya sedang duduk gelisah.
Seperti diguyur air dingin, perempuan tua itu begitu bahagianya menerima senyuman dari junjungannya. "Hamba siapkan makanan untuk Pangeran," berkata perempuan tua itu kepada Pangeran Kertanegara.
Dan senja pun dalam wajah sendu berlalu, digantikan oleh wajah malam yang gelap. Angin dingin malam tidak menyurutkan perasaan para prajurit pengawal istana bergiliran keluar dari gardu rondanya, berkeliling lorong-lorong bangsal istana, memastikan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Sementara itu di cakrawala sang putri malam masih tetap terjaga menyulam jubah pangeran terkasih, begitu setianya menemani sang Raja malam. Di ujung malam, di saat cahaya bintang timur terlihat begitu cemerlang, berkelebat sesosok bayangan mengendap di antara rimbunnya gerumbul tanaman bunga.
Bayangan itu terlihat mendekati dinding batu Istana yang tinggi. Melesat, melenting mencapai puncak dinding batu, dan akhirnya menghilang dibalik pagar dinding batu istana.
Pagi telah datang, cahaya matahari telah menerangi setiap jengkal tanah dan lorong Istana Singasari. Bukan main kagetnya dua orang prajurit pengawal yang bertugas sebagai pengawal sang putra mahkota melihat bibi dayang pengasuh berlari gugup menghampiri mereka.
"Pangeran tidak ada di kamarnya," berkata perempuan tua itu kepada dua orang prajurit pengawal. "Bibi sudah mencari di tempat lain?" berkata seorang prajurit pengawal bertubuh pendek kepada Dayang pengasuh. "Belum," berkata Dayang pengasuh.
"Kalau begitu, kami akan mencarinya," berkata teman prajurit pengawal yang satunya lagi. Dua orang prajurit pengawal mencari Pangeran Kertanegara hampir di setiap tempat di seluruh istana.
"Apakah kamu melihat Pangeran Kertanegara?" bertanya seorang prajurit pengawal bertubuh pendek kepada seorang pekatik yang tengah mengumpulkan rumput yang masih hijau dan segar untuk makanan kuda. "Pangeran Kertanegara tidak pernah berkunjung kemari, pernah..tapi dalam mimpiku," berkata Pekatik tua merasa pertanyaan prajurit pengawal itu bukan suatu yang penting, bahkan melanjutkan, "paginya aku mendapat rejeki besar, kambingku di rumah beranak empat ekor."
Bukan main geramnya para prajurit pengawal itu mendapat jawaban pekatik tua itu, kalau bukan saat itu tengah menghadapi suasana yang mendebarkan, hilangnya seorang putra mahkota, mungkin pekatik tua itu sudah ditempeleng bolak-balik sampai tersungkur makan rumput.
"Kita cari di tempat lain," berkata teman prajurit yang satu lagi yang kelihatannya lebih sabar menggamit tangan temannya. Matahari di cakrawala sudah merayap naik meninggalkan pagi, cahayanya sudah menghangatkan kulit.
Lebih-lebih kulit dua orang prajurit pengawal yang masih juga tidak mendapatkan Pangeran Kertanegara, hampir di setiap tempat di lingkungan Istana.
"Kita laporkan kepada Ki Lurah," berkata Prajurit pengawal bertubuh pendek merasa putus asa. "Ya, kita harus segera melapor," berkata Prajurit pengawal yang satunya lagi.
"Panggil beberapa prajurit untuk mencari Pangeran di sekitar Kotaraja," berkata Ki Lurah setelah menerima laporan Prajurit pengawal.