Chapter 64
"Tetapi tidak mempunyai kesaktian berada di tiga tempat bersamaan," kata Raja Jayakatwang penuh keyakinan.
Demikianlah, ketika perintah itu dijatuhkan, para perusuh telah mencari tiga tempat di Tanah Kediri sebagai sasaran kerusuhan mereka.
"Kita harus dapat menyergap mereka," kata Kebo Arema yang telah mendapatkan berita tentang rencana kegiatan para perusuh di suatu tempat.
"Kita sergap mereka sebelum melakukan apa pun," kata Mahesa Pukat kepada seorang cantrik yang telah mencium rencana kegiatan mereka.
Demikian juga Mahesa Murti dan kelompoknya di tempat yang berbeda telah berhasil mencium rencana kegiatan para perusuh.
"Gila!" kata seorang perusuh di suatu malam saat melihat sebuah lumbung padi terbakar.
Di dua tempat yang sama, beberapa perusuh terkejut melihat hal yang sama: sebuah lumbung padi terbakar.
"Ada yang mendahului pekerjaan kita," kata salah seorang perusuh ketika memasuki sebuah padukuhan.
Ternyata beberapa cantrik telah mendahului mereka; mereka telah membakar sebuah lumbung padi yang isinya telah dikosongkan dengan kerja yang rapi tanpa membangunkan pemiliknya. Namun, kebakaran itu akhirnya membangunkan banyak orang.
Sementara itu, para perusuh masih bingung harus berbuat apa. Tiba-tiba saja muncul Panglima Angsa Putih di atas kuda putih di hadapan mereka.
"Panglima Angsa Putih!" seru salah seorang perusuh yang pernah mendengar tentang sosok itu.
"Menyerahlah," kata Panglima Angsa Putih kepada sepuluh orang perusuh yang masih terkejut.
"Habisi orang itu, dia hanya sendiri!" perintah seorang perusuh yang sudah dapat menguasai dirinya.
Mendengar ucapan kawannya, beberapa perusuh tersadar dan kepercayaan diri mereka tumbuh kembali. Sepuluh orang perusuh mengepung Panglima Angsa Putih. Masih di atas kudanya, Panglima Angsa Putih bertempur dikeroyok sepuluh orang. Hanya dalam satu gebrakan, beberapa orang perusuh jatuh bergelimpangan tidak berdaya dan pingsan.
"Ikat mereka!" perintah Panglima Angsa Putih kepada sepuluh orang cantrik yang diam-diam bersembunyi.
Gemparlah para penduduk. Setelah bersama-sama memadamkan lumbung yang terbakar, mereka menemukan sepuluh orang asing telah terikat dan tergeletak di Banjar Desa. Semua orang berpendapat bahwa itu adalah perlindungan para dewa yang telah mengutus Panglima Angsa Putih untuk melindungi mereka.
"Kami perusuh, tidak berbuat apa-apa," kata seorang dari mereka. Namun, apa pun perkataan mereka, penduduk tetap menganggap merekalah yang bertanggung jawab atas kebakaran lumbung padi di padukuhan mereka.
Sejak saat itu, Tanah Kediri menjadi daerah yang aman, baik di siang hari maupun malam hari. Para perampok sungguhan berpikir dua kali untuk melakukan kejahatan di Tanah Kediri. Mereka percaya bahwa Panglima Angsa Putih selalu mengawasi dan menjaga daerah itu.
Sementara itu, Raja Jayakatwang sudah demikian putus asa. Bermula dari rencana menghancurkan nama Raja Muda Kertanegara, hal itu justru berbalik melambungkan nama sang Raja Muda sebagai sosok yang dikasihi para dewa. Demikianlah Raja Muda Kertanegara memulai tugasnya di Tanah Kediri tanpa hambatan.
Diawali dengan kepercayaan warga Kediri bahwa Raja Muda mereka adalah orang yang dikasihi para dewa, Kertanegara telah membangkitkan kembali Kediri yang sudah lama tertidur. Seluruh warga Kediri merasakan dengan tulus bahwa Raja Muda mereka adalah anugerah para dewa.
Di pagi yang cerah di bangsal pribadi Raja Muda Kertanegara, ia berkata, "Terima kasih untuk semua dan segalanya," kepada ketiga Panglima Angsa Putih yang berniat mengundurkan diri dan kembali ke tempat masing-masing.
"Sebuah permainan yang menyenangkan," kata Kebo Arema sambil tersenyum.
"Hamba siap kapan pun Baginda membutuhkan diri ini," kata Mahesa Murti.
"Seluas tanah Singasari, seluas itulah pengabdian hamba sebagai prajurit," ujar Mahesa Pukat.
"Berbahagialah Bumi Singasari yang telah mempunyai tiga orang ksatria sebagai penjaga dan pelindung yang setia," kata Raja Muda Kertanegara penuh haru.
"Kalau bukan titah Sri Maharaja Singasari, hamba akan senang berdekatan dengan Tuanku," kata Kebo Arema kepada sahabatnya itu.
Akhirnya, Kebo Arema, Mahesa Murti, dan Mahesa Amping mohon pamit. Di bawah pandangan Raja Muda Kertanegara, tiga orang sakti itu menghilang di tikungan lorong istana. Tiga ekor kuda melewati gerbang istana di bawah tatapan para pengawal yang tidak menyadari bahwa ketiga orang berkuda itulah yang selama ini berperan sebagai Panglima Angsa Putih.
***
Sementara itu, jauh dari Tanah Kediri, sebuah jung terlihat tengah berlayar di kegelapan malam di bawah cahaya rembulan dan kerlip jutaan bintang. Angin berhembus genit mengurai rambut seorang gadis yang berdiri di anjungan. Lentera bahtera yang menggelantung menyinari wajahnya yang putih halus dan sebaris lukisan bibirnya yang selalu menggambarkan keceriaan.
"Memandang langit yang berhias bulan dan bintang adalah dahaga mata yang tak terpuaskan," kata seorang pemuda yang datang menghampiri dan berdiri di sampingnya.
"Pemandangan malam di atas anjungan begitu indah," kata gadis itu, yang ternyata adalah Dara Jingga, sambil menoleh dan tersenyum kepada pemuda tersebut.
"Suasana hati adalah bingkai dari lukisan alam yang hidup," sahut pemuda itu, Mahesa Amping, sambil memandang jauh ke depan.
"Benar, manakala suasana hati bergembira, alam di depan mata kita tampak begitu indah," kata Dara Jingga membenarkan.
"Hati sendiri adalah alam terdekat yang dapat kita lihat sepanjang hari," kata Mahesa Amping sambil memperhatikan wajah Dara Jingga, menilik apakah gadis itu mengerti apa yang diucapkannya.
"Menjaga hati, sebagaimana bejana yang kita bawa dengan penuh kehati-hatian," jawab Dara Jingga sambil tersenyum.
"Itulah rahasia menjaga hati. Dari mana kamu mendapatkan kata-kata itu?" tanya Mahesa Amping heran.
"Pendeta istana selalu mengajarkan tentang hal itu," kata Dara Jingga sambil melagamkan sebuah puisi:
*Aku jauh engkau jauh*
*Aku dekat engkau dekat*
*Hati adalah cermin*
*Tempat pahala dan dosa berpadu*
Tidak terasa Mahesa Amping ikut bersenandung bersama Dara Jingga. Suara mereka semakin merapat terbungkus gemuruh angin dan debur ombak.
Sang Senja telah bergayut di atas Bandar Muara Jati ketika sebuah jung merapat.
"Selamat datang Tuanku, sembah sujud hamba," kata seorang syahbandar Muara Jati menyambut kedatangan Raja Ragasuci yang turun dari jungnya. Seperti diketahui, Bandar Muara Jati pada saat itu masih di bawah kekuasaan Kerajaan Saunggaluh. Tidak heran bila kedatangan Raja Ragasuci mendapat kehormatan yang melimpah.
Malam itu, Ragasuci dan rombongannya beristirahat di rumah syahbandar yang besar tidak jauh dari pantai. Malam pun berlalu di Bandar Muara Jati dalam kerlap-kerlip lampu kehidupan malam.
"Empat pria dan tiga wanita," kata seseorang kepada kawannya sambil matanya tertuju ke rumah syahbandar.
"Terlalu percaya diri untuk seorang raja," kata kawannya. "Besok ia akan menyesal mengapa tidak membawa pengawalan prajurit segelar sepapan."
"Mari kita laporkan kepada sang ketua," kata kawannya.
Hujan gerimis mengguyur Bandar Muara Jati di ujung malam. Keesokan harinya, terlihat tujuh ekor kuda keluar dari rumah besar syahbandar. Sudah terbiasa syahbandar melihat rajanya tanpa pengawalan dan iring-iringan tanda kebesaran.
"Dengan cara ini, aku dapat melihat rakyat Saunggaluh dari dekat," kata Ragasuci kepada Raden Wijaya ketika mereka sudah jauh dari Bandar Muara Jati. Jalan yang mereka tempuh adalah jalur yang biasa dilalui para pedagang.
"Jalan ini melingkari hutan Cigugur," kata Ragasuci sambil menunjuk hutan lebat di depan mereka.
"Mengapa kita melingkari hutan itu?" tanya Raden Wijaya.
Ragasuci hanya tersenyum. "Ada sebuah kepercayaan orang Pasundan, ditabukan bagi seorang raja melintasi hutan Cigugur. Bila dilanggar, raja itu akan menanggung kesialan sepanjang hidupnya."
"Bagaimana bila yang melintasi hanya orang biasa?" tanya Lawe.
"Larangan itu hanya berlaku untuk seorang raja, tidak berlaku untuk seorang anak Raja Belang," jawab Ragasuci sambil tersenyum kepada Lawe.
Lawe ikut tersenyum mengingat kembali perjumpaan mereka dengan Datuk Belang, di mana saat itu Lawe mengaku sebagai putra Raja Belang. Hari sudah menjelang siang, mereka masih berada di tepi hutan Cigugur. Penglihatan Mahesa Amping telah menangkap beberapa kelebat di antara pohon-pohon besar di sisi mereka. Kecurigaan Mahesa Amping menjadi kenyataan; muncul dari kerimbunan hutan Cigugur puluhan orang menghadang mereka.