Chapter 57
"Semoga kebahagiaan Pamanda selalu langgeng," ujar Raden Wijaya sambil memeluk Ragasuci dengan perasaan haru.
Demikianlah, upacara mandi damai dilanjutkan dengan sebuah jamuan besar sebagai ungkapan rasa syukur bahwa upacara pernikahan telah terlaksana dengan baik. Hari itu, seluruh warga Tanah Melayu merayakan suka cita tersebut dengan penuh gembira dalam pesta pora yang gemerlap hingga larut malam.
"Terima kasih telah menemaniku di hari penuh kebahagiaan ini," kata Baginda Raja kepada Datuk Belang yang mewakili rombongannya saat berpamit diri.
Malam masih setia menjaga bumi yang telah terlelap di peraduannya. Cahaya sang rembulan yang tidak lagi bulat sempurna tampak bersandar di ujung atap panggung menara istana yang menjulang tinggi. Debur ombak pantai Tanah Melayu terdengar seperti irama abadi, bersambut merdu dengan desir angin malam yang membelai daun-daun pinang layaknya penari piring yang gemulai.
Malam akhirnya lelah bernyanyi untuk bumi; semburat warna merah mulai muncul di ufuk timur dan menyebar mengisi hampir seluruh cakrawala. Warna alam di atas bumi tampak begitu bening, berselimut keheningan.
"Lagi-lagi aku didahului oleh Datuk," sapa Mahesa Amping kepada Datuk Belang yang sudah lebih dulu hadir di atas panggung pendapa.
"Aku hanya datang sedikit lebih awal darimu," jawab Datuk Belang sambil mempersilakan Mahesa Amping duduk di sampingnya. "Ada satu hal penting yang akan kusampaikan padamu."
"Semoga aku dapat mendengarnya tanpa rasa terkejut," sahut Mahesa Amping.
"Hari ini adalah hari yang baik untuk menyempurnakan Keris Siginjai," ujar Datuk Belang.
"Hari ini?" tanya Mahesa Amping yang tiba-tiba teringat janjinya untuk menemani Dara Jingga.
"Ya, hari ini. Kita akan berangkat berdua," tegas Datuk Belang tanpa menyadari kegelisahan di wajah Mahesa Amping.
"Mendatangi tujuh muara?" tanya Mahesa Amping.
"Kita tidak perlu mendatangi tujuh muara, melainkan sebuah telaga mata air yang mengalir ke sana," jelas Datuk Belang.
Ketika matahari mulai muncul di ufuk timur, Datuk Belang dan Mahesa Amping turun dari rumah panggung. "Perjalanan kita hanya menempuh setengah hari," ucap Datuk Belang saat mereka berbelok di persimpangan menuju pedalaman Tanah Melayu. Hangat sinar matahari pagi mengiringi langkah mereka membelah padang alang-alang yang berujung pada sebuah sungai besar.
"Kita menunggu seseorang lewat, mudah-mudahan ia bersedia menyeberangkan kita," kata Datuk Belang. Tidak lama kemudian, seorang pendayung jukung mendekat. Datuk Belang melambaikan tangan dan meminta bantuan. Setelah mencapai seberang, mereka segera melanjutkan perjalanan memasuki hutan yang hitam pekat.
Sementara itu, di tepi pantai, seorang dara jelita dan dayangnya duduk di atas pasir putih, menatap ombak di bawah sinar matahari pagi. Seorang pemuda mendekati mereka.
"Maaf, apakah Tuan Putri sedang menantikan seseorang?" tanya pemuda itu.
"Benar, kami memang tengah menantikan seseorang," jawab Dara Jelita.
"Mungkin sahabatku yang Tuan Putri maksud. Atas namanya, aku mohon maaf karena ia tidak dapat datang sebagaimana janjinya," kata pemuda itu yang tak lain adalah Raden Wijaya.
"Katakan kepada sahabatmu, tidak perlu meminta maaf. Karena orang yang dijanjikan pun tidak dapat memenuhi janjinya," ujar dara itu sambil melempar senyum memesona.
"Aku belum memahami maksud Tuan Putri," kata Raden Wijaya.
"Adikku yang mengundang sahabatmu itu tengah sakit, jadi akulah yang mewakilinya," jelas Dara Petak, kakak dari Dara Jingga.
"Apakah adikmu sakit keras?" tanya Raden Wijaya prihatin.
"Adikku hanya sedikit demam," jawab Dara Petak sambil menutupi bibirnya dengan sapu tangan, menahan senyum. "Sedikit demam asmara."
Dara Petak bercerita bahwa adiknya yang baru pertama kali berjanji bertemu seorang pemuda tidak bisa tidur semalaman, sehingga memintanya untuk mewakili.
"Kalau begitu, kita adalah orang-orang perwakilan," kata Raden Wijaya.
"Benar, biarlah kita mewakili perasaan mereka," jawab Dara Petak dengan tatapan lembut.
"Dengan senang hati, aku mewakili sahabatku," ujar Raden Wijaya dengan senyum khasnya yang membuat relung hati Dara Petak bergetar.
Layang-layang melambung tinggi di angkasa, seolah mewakili perasaan muda-mudi yang tengah bercerita tentang bunga, matahari pagi, dan kesetiaan ombak yang tak pernah putus oleh waktu.
Pada waktu yang sama, Mahesa Amping dan Datuk Belang telah sampai di sebuah telaga besar yang jernih di bawah pohon beringin putih dalam hutan yang pekat dan dingin.
"Telaga ini mengalir ke tujuh muara," jelas Datuk Belang.
Mahesa Amping pun mengikuti petunjuk untuk menyempurnakan Keris Siginjai dengan berendam di telaga tersebut. Saat matahari bergeser dari puncaknya, suasana hutan menjadi sangat teduh. Mahesa Amping turun ke air, duduk bersila sempurna, dan memasuki semadi hingga mencapai titik ketiadaan.
Saat senja tiba, seekor ular belang berwarna kuning, putih, hitam, dan merah turun dari pohon beringin di tepi telaga. Mahesa Amping meningkatkan kewaspadaan, namun ia tetap tenang hingga tubuhnya terangkat dan duduk bersila di atas permukaan air. Ular besar itu membelit tubuhnya.
"Kenapa kamu takut kepada diriku?" tanya ular itu.
"Siapakah dirimu?" tanya Mahesa Amping.
"Namaku Manik Maya," jawab ular itu. "Keindahan itulah yang sering membelit manusia muda dan menenggelamkannya dalam kemalasan."
"Apa yang kau inginkan dariku?"
"Di dalam dirimu aku sudah tunduk; akulah hamba sahayamu. Semoga kehadiranku membantumu menyempurnakan Keris Siginjai," kata ular itu yang seketika berubah menjadi asap berwarna-warni dan masuk ke dalam keris tersebut.
Mahesa Amping menghela napas lega, namun baru saja ia tenang, seekor anjing besar berbulu hitam kemerahan muncul di tepi telaga. Kepekaan nuraninya kembali bergetar, menyadari bahwa anjing itu pun bukanlah makhluk sembarangan.