Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 79

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 79

"Ilmumu yang paling berbahaya adalah merendahkan diri, tetapi itu tidak banyak berguna di tanganku," kata Ki Bancak sambil melangkah mendekati tanah yang agak lapang, diikuti oleh Gurusuci Darmasiksa dari belakang.

Sinar rembulan di atas tebing menyinari dua bayangan yang saling berhadapan. Suara deru air terjun yang jatuh seperti irama gendang memecah kebekuan suasana dingin malam di Curuk Kembar. Dua sosok bayangan itu pun segera berkelebat melesat bagaikan burung walet hitam saat senja. Gerakan mereka dalam menyerang sangat cepat. Kadang benturan tangan dan kaki tidak dapat dihindarkan, membuat keduanya sempat terjengkang ke belakang. Namun, mereka kembali bangkit berdiri, lalu dua bayangan hitam itu kembali berkelebat, melesat saling menyambar dan menghindar. Sebuah tontonan ilmu tingkat tinggi yang begitu cepat.

Raden Wijaya dan Lawe sepertinya tidak mampu mengenali siapa Gurusuci Darmasiksa dan yang mana Ki Bancak. Keduanya telah berubah menjadi bayangan yang bergerak begitu cepat. "Garis ilmu mereka dari perguruan yang sama," ujar Raden Wijaya yang dapat melihat bahwa dasar gerak mereka ternyata memiliki persamaan yang sangat jelas. Mereka sepertinya bukan tengah bertempur, melainkan layaknya dua saudara seperguruan yang sedang berlatih. Apa yang dilihat Raden Wijaya tidak meleset; mereka memang berasal dari perguruan yang sama sehingga dengan mudah mereka mengelak setiap serangan dan saling membaca ke mana arah serangan selanjutnya.

Pertempuran antara Gurusuci Darmasiksa dan Ki Bancak terus berlanjut. Ratusan jurus telah mereka lewati tanpa ada tanda-tanda akan berakhir. Setahap demi setahap, mereka meningkatkan tataran ilmu masing-masing hingga akhirnya mencapai puncak kemampuan. Pertempuran pun menjadi begitu seru. Hawa di sekitar Curuk Kembar yang semula dingin berubah menjadi hangat. Semakin ke inti pertempuran, udara menjadi sangat panas. Ternyata, kedua orang itu telah melambari diri dengan Aji Geni Ngampar. Tubuh mereka berubah seperti bola api yang melesat ke sana kemari menyambar sasaran. Benar-benar sebuah pertempuran yang mengerikan, layaknya dua dewa bertarung di kegelapan malam dalam iringan deru air terjun.

"Dess!" Sebuah bayangan hitam tiba-tiba saja melesat memecahkan dua buah serangan yang akan saling beradu. Ilmu Aji Geni Ngampar yang dahsyat itu pun terhenti. Gurusuci Darmasiksa terlempar beberapa langkah ke belakang, begitu pula yang dirasakan Ki Bancak.

"Guru!" seru Gurusuci Darmasiksa dan Ki Bancak bersamaan. Mata mereka tidak memercayai apa yang dilihat.

"Aji Geni Ngampar bukan untuk dipermainkan," ujar orang yang dipanggil guru oleh Darmasiksa maupun Ki Bancak.

"Ampuni Guru, akulah yang bersalah," kata Ki Bancak.

"Ampun Guru, akulah yang memulai," sahut Gurusuci Darmasiksa. Orang yang dipanggil Guru itu terlihat tersenyum. "Rasa persaudaraan di antara kalian ternyata tidak pernah putus, kalian masih terus saling membela. Lupakanlah perselisihan yang telah berlalu, kuburlah sebagai kenangan masa lalu. Aku ingin di usia tuaku ini melihat kalian kembali bersatu dan saling memaafkan," tuturnya.

Gurusuci Darmasiksa dan Ki Bancak sebenarnya sudah lama melupakan perselisihan mereka seiring perjalanan waktu. Mereka telah menyadari hakikat takdir sebagai garis hidup yang harus disyukuri, baik pahit maupun manisnya. Mendengar permintaan dari guru untuk saling memaafkan, mereka saling mendekat. Tangis kerinduan dua sahabat dan saudara seperguruan yang lama terpisah itu terasa begitu mengharukan. Raden Wijaya dan Lawe langsung mendekat karena tidak mengerti apa yang terjadi. Masih dalam ketidakmengertian, mereka melihat dua orang yang sempat bertempur itu kini saling berpelukan dan menangis.

"Mereka tengah membakar sisa noda hitam dengan tangisannya, dua hati saudara telah kembali bersatu," ujar orang tua itu kepada Raden Wijaya dan Lawe. "Mari kita bicara di tempat yang lebih hangat," ajaknya. Mereka pun berjalan mendekati sebuah batu cadas besar yang cukup luas dan duduk berkumpul.

"Dari mana saja Guru selama ini?" tanya Gurusuci Darmasiksa.

"Aku mengikuti garis takdir buyutku sebagai penjaga Kembang Wijaya," jawab orang tua itu.

"Jadi, Guru adalah sang penjaga itu?"

"Sengaja aku menutup jati diriku yang sebenarnya. Buyutmu dan buyutku adalah dua orang sahabat dalam garis hidup yang berbeda. Buyutmu harus menjalani hidup sebagai raja, sementara buyutku harus menjalani takdirnya sebagai penjaga setia Kembang Wijaya. Itulah sebab dari sebuah akibat mengapa aku mengambil kalian berdua sebagai muridku," ujar orang tua itu kembali. "Semula, aku harapkan Bancak yang akan datang menembus gua untuk mengambil kembang kesetiaannya, namun aku kecewa atas apa yang terjadi di antara kalian berdua. Aku gembira setelah mengetahui bahwa yang datang adalah dari golonganmu."

"Maafkan aku, Darmasiksa. Sebagaimana yang Guru katakan, seharusnya akulah yang masuk ke curuk itu untuk mempersembahkan Kembang Wijaya kepadamu," kata Ki Bancak penuh penyesalan.

"Gusti yang Maha Tunggal telah berkehendak lain. Itulah yang harus selalu kita jaga dan terima sebagai rasa syukur, bukankah begitu, Guru?" sahut Gurusuci Darmasiksa sambil tersenyum.

"Pengenalanmu atas Yang Maha Berkehendak sudah menghampiri," ucap orang tua itu penuh sukacita.

"Semoga aku dapat mengikuti jejak saudaraku," kata Ki Bancak.

"Dia yang Maha Berkehendak, bila kamu berjalan selangkah, Dia akan berjalan menghampirimu sepuluh langkah. Bila kamu datang dengan berjalan, Dia akan datang kepadamu dengan berlari. Sesungguhnya Gusti yang Maha Berkehendak ada di dalam dirimu, lebih dekat dari urat lehermu," ujar orang tua itu.

"Petuah Guru akan kami pusakai," kata Ki Bancak. Hatinya telah terbuka menerima pencerahan itu.

Sementara itu, kita beralih mengikuti perjalanan Mahesa Amping yang masuk ke gua tersembunyi di balik Curuk Kembar. Apa yang dikatakan Gurusuci Darmasiksa tentang gua di balik air terjun itu benar adanya. Dengan kemampuan ilmu yang tinggi, Mahesa Amping melindungi diri dengan melambari raganya dengan kekuatan kasat mata sehingga ia tidak merasakan kerasnya terjangan air terjun. Akhirnya, Mahesa Amping berhasil melewati air terjun itu dengan mudah dan berdiri di bibir gua yang gelap. Rongga di kiri kanannya cukup luas. Mahesa Amping tidak menyadari ada sepasang mata yang mengawasi dari kegelapan.

Hari sudah pertengahan malam ketika tiba-tiba suasana di dalam gua berubah menjadi terang benderang. Jantung Mahesa Amping berdetak kencang saat mengetahui sumber cahaya itu adalah sebuah bunga yang sedang mekar di ujung gua. Itulah Kembang Wijaya yang keramat. Mahesa Amping segera mendekati kembang itu dengan penuh hormat layaknya sedang menghadap seorang raja. Sambil bersimpuh, ia menjura penuh hormat, memohon izin untuk memetik bunga itu. Konon, bila bukan orang yang berjodoh, bunga itu tidak akan terlepas dari tangkainya. Namun, Mahesa Amping adalah orang yang berjodoh, sehingga dengan mudah bunga itu terlepas dari tangkainya saat ia menyentuhnya.

Di luar gua, semua mata tertuju pada Curuk Kembar. Mereka berharap Mahesa Amping dapat keluar dengan selamat membawa Kembang Wijaya. Akhirnya, dari balik derasnya air terjun, menyembul sesosok tubuh yang tidak lain adalah Mahesa Amping. Di tangannya, ia menggenggam setangkai bunga yang dilindungi agar tidak hancur diterjang air. Saat Mahesa Amping berjalan mendekat dan melihat Ki Bancak serta orang tua misterius itu, ia sempat menghentikan langkahnya.

"Jangan khawatir, mereka adalah orang kita sendiri," kata Gurusuci Darmasiksa. Mendengar ucapan itu, kecurigaan Mahesa Amping berkurang, apalagi melihat sikap Ki Bancak dan orang tua itu yang menjura penuh hormat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment