Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 42

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 42

Terdengar suara riuh semakin bergemuruh manakala kaki-kaki galangan telah dipatahkan, jung besar turun sedikit demi sedikit mencium air Sungai Brantas.

Suara sorak pun pecah, riuh seperti gemuruh penuh kegembiraan manakala seluruh badan jung besar jatuh ke dalam Sungai Brantas, terapung megah seperti bayi angsa raksasa yang terguncang-guncang.

Huu, kegembiraan!

Terdengar suara gemuruh. Jika ada yang pernah datang dalam penobatan seorang raja, maka perayaan lahirnya sebuah jung besar yang indah dan megah di Bandar Cangu bisa dikatakan melebihi kemeriahan perayaan penobatan seorang raja.

Tiga hari tiga malam perayaan besar telah dilaksanakan dengan begitu meriah.

Bandar Cangu yang ramai semakin menjadi padat melimpah ruah.

Dari segenap penjuru bumi Singasari, orang berduyun-duyun berdatangan seperti tidak pernah habisnya.

Ikut merasakan dan menikmati sebuah pesta agung sebagai rasa syukur telah terciptanya sebuah mahakarya kebanggaan bersama seluruh penghuni bumi Singasari Raya.

"Para Dewa telah memindahkan batu suci di Candi Beduhur menjadi hidup," seorang Brahmana berkata yang menyaksikan langsung sebuah jung yang begitu indah sebagaimana pernah dilihatnya dalam sebuah pahatan di sebuah batu candi di Bukit Beduhur.

Hingga akhirnya di ujung hari ketiga, di ujung senja yang bening, beberapa keluarga dan kerabat para prajurit muda melambaikan tangan tanpa kata-kata.

Ratu Anggabhaya dan putranya Lembu Tal menatap panjang tanpa suara.

Hanya Sri Maharaja yang berbinar penuh kegembiraan melihat jung impiannya telah terwujud, dan jung itu pun perlahan-lahan bergerak merenggang menjauhi tepian menuju pelayaran perdananya.

"Selamat jalan wahai Putra Sangkala," Sri Maharaja berkata lirih sambil menatap jung impiannya yang telah bergerak semakin menjauh.

Dan angsa raksasa itu telah meninggalkan tanah kelahirannya.

Seperti beningnya senja yang memisahkan batas, suasana orang-orang yang ditinggalkan memang jauh berbeda dengan mereka yang akan pergi berlayar jauh.

Suasana sendu penuh rindu menggayuti orang-orang yang tertinggal.

Sementara mereka yang akan berlayar jauh, hati dan pikirannya dipenuhi suasana kegembiraan yang berdegap-degup menyongsong petualangan masa depan kehidupan yang panjang.

Apa pun suasana hati yang menggayuti saat itu, sang kala di ujung senja itu telah memisahkan mereka.

Jung terapung di atas aliran Sungai Brantas di bawah cahaya purnama yang masih bulat.

"Besok pagi kita sudah sampai di Bandar Carubhaya," Kebo Arema berkata kepada Pangeran Kertanegara di atas anjungan.

Angin malam berembus dingin menyapu wajah.

Di bawah lampu bahtera yang tergantung bergoyang, Kebo Arema memandang keremangan malam di atas Sungai Brantas.

Wajahnya yang keras sepertinya tengah menikmati suasana kehidupannya sebagai nakhoda jung besar impiannya.

"Ada dua kebahagiaan yang selalu ditemui para pelaut," Kebo Arema berkata kepada Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wujaya yang juga tengah menikmati malam di atas anjungan. "Pertama, saat matahari terbit dan terbenam; kedua, saat jung merapat di daratan," lanjut Kebo Arema.

"Aku sering mendengar, seorang pelaut tua pulang ke kampung halamannya membawa kemiskinannya," Lawe berkata.

"Benar, di waktu muda mereka begitu kaya, membeli segala kesenangan tanpa menyisakannya," Mahesa Amping menambahkan.

Begitulah para pelaut, harta adalah utang yang harus dilunasi setelah kejemuan dan keterasingan di tengah lautan terbayar lunas di bandar-bandar tempatnya berlabuh.

Yang tersisa adalah kekayaan hati dan jiwa yang tidak pernah berkurang.

Itulah kekayaan para pelaut sejati dalam pemahaman diri akan hidup dan kehidupan.

Mereka telah menaklukkan rasa takut, mengenal rasa takut sebagaimana rasa asin air laut yang tidak akan menghilangkan dahaga.

Kekuatan batin mereka adalah hanya sebuah keyakinan bahwa badai pasti akan berlalu. Itulah kepercayaan mereka, kekayaan batin yang dimiliki seorang pelaut sejati," Kebo Arema berkata penuh semangat.

Bulan purnama telah bergeser rebah di ujung barat, langit kelam dan dinginnya malam adalah selimut abadi para juru mudi yang terus bertahan, berteman dengan kemudi ganda menjaga jung berada pada jalurnya.

Ketika warna langit mulai memerah, suara ayam jantan terdengar jauh bersautan dari hutan seberang.

Bibir tepian Sungai Brantas semakin terlihat jelas.

Cahaya pagi mulai menyapu bumi menaburkan perak di atas mulut sungai yang berwarna kehijauan, sebagai tanda batas sungai telah mendekati laut lepas.

Matahari pagi terus merayapi langit cakrawala yang berawan di ujung tiang-tiang layar di Bandar Curabhaya.

Perlahan jung besar merayap mendekati dermaga.

"Jung Singasari!" teriak orang-orang di dekat dermaga yang berdecak kagum melihat jung yang begitu megah dan sangat besar menurut ukuran zaman itu.

"Jung Singasari!" kembali orang-orang berteriak sambil mendekati jung besar itu.

Selama ini mereka hanya mendengar bahwa jauh di Bandar Cangu tengah dibuat sebuah jung raksasa.

Dan kali ini mereka menyaksikannya.

"Sebuah jung raksasa yang indah," kata seseorang yang telah mendekati dermaga.

Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema telah turun di dermaga, seorang yang sudah cukup berumur menjura penuh hormat.

"Selamat datang di Curabhaya. Sebuah kebanggaan Pangeran singgah di bandar kami," kata orang itu yang ternyata seorang rakyan pelabuhan bernama Sura, yang masih mengenal Pangeran Kertanegara ketika masih menjadi perwira menengah di Kutaraja.

"Apakah aku berhadapan dengan Syahbandar Curabhaya?" Pangeran Kertanegara berkata sambil tersenyum. "Perut Paman Sura sudah semakin membuncit," lanjutnya.

"Yang pasti sudah tidak bisa dijadikan mainan kuda-kudaan oleh anak nakal itu," Sura berkata, mengingatkan dirinya ketika di Kutaraja sering bermain bersama Kertanegara kecil yang nakal.

Syahbandar Sura dengan gembira mengajak Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema ke rumahnya.

Sebuah rumah yang cukup besar tidak jauh dari Bandar Curabhaya.

"Kulihat ada beberapa jung Malaka singgah di bandar ini," Kebo Arema berkata kepada Sura.

"Mereka menurunkan sutra dan keramik di bandar ini dari Pamalayu," Sura berkata.

"Ke mana kalian akan membawa Jung Singasari yang megah ini pada persinggahan terakhir?" Sura bertanya.

"Dari Curabhaya ini kami akan menaikkan banyak rempah-rempah, singgah di Tanah Sunda untuk menaikkan kapas dan cula badak, menaikkan emas dan perak di Tanah Salaka ujung Nusa Jawa.

Di Pamalayu kami akan menukar langsung barang kami kepada para pedagang Persia dan Cina," Kebo Arema berkata. "Kalian akan menggunting keberadaan pedagang Pamalayu?" Sura bertanya, merasa khawatir hubungannya dengan beberapa saudagar dari Pamalayu akan terputus.

"Sudah saatnya Singasari menunjukkan dirinya, berhadapan dengan pembeli yang sebenarnya," Pangeran Kertanegara berkata.

"Kalau memang itu yang Pangeran inginkan, hamba siap membantu," Syahbandar Sura berkata. Melalui Sura yang disegani di Bandar Curabhaya, Pangeran Kertanegara diperkenalkan dengan beberapa saudagar.

Hari itu terlihat beberapa orang buruh kasar tengah menaikkan rempah-rempah ke atas jung.

Keesokan harinya, terlihat Jung Singasari yang megah telah merenggang meninggalkan Bandar Curabhaya.

"Kita akan singgah di Pragota," Kebo Arema berkata, menjelaskan tempat yang akan disinggahi.

"Aku masih memikirkan apa yang dikatakan Sura tentang para pedagang dari Tanah Melayu," Pangeran Kertanegara berkata.

"Apakah Pangeran menjadi gentar?" Kebo Arema bertanya, menatap Pangeran Kertanegara, sepertinya ingin mengetahui isi hati Pangeran Kertanegara di lubuk hatinya yang paling dalam.

"Aku tidak gentar, hanya yang kupikirkan persinggungan yang bakal terjadi," Kertanegara berkata. "Layar sudah kita kembangkan, pantang bersurut," Kebo Arema berkata, memberi semangat.

"Aku baru mengenal kehidupan di lautan, bukan hanya angin badai yang kita hadapi, tetapi pengaruh para saudagar di setiap bandar kadang dapat menggulingkan kita," Pangeran Kertanegara berkata.

"Dalam pelayaran kita akan menemui banyak kawan dan lawan. Inilah kehidupan yang harus kita hadapi," Kebo Arema berkata.

Matahari senja memancarkan cahayanya di atas Nusa Jawa mengawani Jung Singasari terus melaju dalam pelayaran perdananya menyinggahi bandar-bandar besar sepanjang pantai utara Nusa Jawa.

Sebagaimana di Bandar Curabhaya, di setiap bandar yang disinggahi semua orang berdecak kagum menatap jung besar dan megah begitu indah seperti jung yang hanya dimiliki para dewata dalam alam khayal mereka.

"Jung Singasari!" kata seseorang di dermaga memanggil kawan-kawannya untuk melihat lebih dekat jung terbesar di zaman itu yang sedang merapat.

Bandar besar terdekat setelah Curabhaya yang disinggahi adalah Bandar Pragota. Setelah itu Jung Singasari ini melanjutkan pelayarannya ke Muara Jati, sebuah bandar pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai bangsa.

Syahbandar di Muara Jati menyambut mereka dengan begitu ramah dan memperkenalkan mereka dengan seorang bangsawan Sunda yang langsung memesan perlengkapan pertanian dan berbagai senjata dalam jumlah banyak, karena Kerajaan Singasari saat itu memang terkenal dengan keahliannya sebagai pembuat senjata dan alat pertanian yang baik.

"Kami perlu banyak senjata yang terbaik, tentunya buatan asli Singasari," kata bangsawan Sunda itu.

Selanjutnya, Kebo Arema juga telah mengantar Jung Singasari ini masuk menyusuri Sungai Citarum sampai ke Muara Gembong Karawang.

"Inilah tempat pertama nenek moyang kita berlabuh di Nusa Jawa," Kebo Arema berkata ketika menyusuri Sungai Citarum.

Ternyata, tidak semua orang menyukai kehadiran Jung Singasari.

Sebagaimana yang dikatakan Kebo Arema, dalam pelayaran pasti akan menemui banyak kawan dan juga lawan.

Jauh di Tanah Melayu, beberapa bangsawan Melayu yang merasa tersaingi dengan kehadiran Jung Singasari itu tengah memutar sebuah siasat.

"Gila nian! Baru kali ini kulihat jung sebesar itu," kata seorang bangsawan yang pernah melihat Jung Singasari ketika berada di Bandar Curabhaya. "Mereka dapat membawa barang lebih banyak dari yang kita bawa."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment