Chapter 07
"Raden pernah melihat seekor ular. Untuk melihat seekor ular secara batiniah adalah dengan merasakan sifat-sifat ular itu sendiri. Bagaimana seekor ular yang tertidur selama tiga bulan setelah memangsa seekor lembu, itulah ular sebagai lambang kemalasan," kata Mahesa Murti mencoba secara bertahap memberikan pengertian untuk membuka rahasia batin.
"Raden pernah melihat seekor kera? Perhatikan bagaimana caranya makan. Mulutnya masih menyimpan makanan, sementara tangannya masih juga memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Itulah sifat ketamakan yang ada di dalam dirimu," lanjut Mahesa Murti masih memberikan penjelasan tentang lambang-lambang.
Raden Wijaya mulai dapat mencerna bagaimana cara melihat ke dalam diri dan berkelana di dalam diri yang selama ini belum pernah dilakukannya.
"Ternyata alam batin itu begitu luas, seluas alam wadag itu sendiri," ujar Raden Wijaya yang telah menangkap tahap awal pemahamannya mengenai rahasia batin.
"Beristirahatlah, besok kita lanjutkan," kata Mahesa Murti yang merasa gembira karena tahap pertama telah dilalui Raden Wijaya dengan begitu sempurna. Diam-diam ia memuji kecerdasan batin Raden Wijaya, karena tidak semua orang dapat mencerna pemahaman batiniah.
Demikianlah, dari hari ke hari dan setahap demi setahap, Raden Wijaya mulai menerima beberapa pengertian dasar. Pada hari ketiga, Raden Wijaya sudah masuk lebih dalam lagi mengenai rahasia-rahasia mengungkap diri, mengenal nafsu yang ada di dalam diri, serta pengendaliannya.
"Ketika awal pertama belajar kanuragan, seorang guru mengajarkan bagaimana kita mengelak ke kiri dan ke kanan setiap mendapatkan serangan senjata kayu. Setelah cukup lama berlatih, kita menjadi terbiasa mengelak. Seperti itulah kita belajar 'titis' mengelak setiap kali datang pikiran nafsu menyerang," kata Mahesa Murti yang dengan sabar memberi pemahaman kepada Raden Wijaya.
Pada hari keempat, Mahesa Murti merasakan bahwa Raden Wijaya telah mempunyai dasar yang cukup sebagai landasan yang kuat untuk menerima "laku rahasia".
"Aku ingin melihat sejauh mana daya lompatanmu," kata Mahesa Murti meminta Raden Wijaya melakukan sebuah lompatan ke atas.
Raden Wijaya mempersiapkan dirinya dan melakukan sebuah lompatan. "Hup!" Raden Wijaya melompat tinggi sekuat tenaganya. Hasilnya hanya sebatas dan setinggi lututnya.
"Bagus," puji Mahesa Murti. "Mulai hari ini, aku akan mengajarkan sebuah laku rahasia."
Mulailah Mahesa Murti memberi penjelasan tentang apa yang harus dilakukan Raden Wijaya untuk memulai sebuah laku rahasia. Lubang-lubang di langit-langit ruang bawah tanah telah menghilang, sebagai tanda matahari sudah jauh bergeser dan bersembunyi di balik kegelapan malam.
Sementara itu, Mahesa Murti dan Raden Wijaya telah memulai laku rahasia dengan duduk bersila sempurna. Di dalam kegelapan malam yang juga menyelimuti ruang bawah tanah, Raden Wijaya tampak seperti patung Buddha yang diam tak bergerak. Napasnya semakin lama semakin tidak terdengar lagi.
Raden Wijaya tidak menyadari bahwa Mahesa Murti di sebelahnya sudah tidak menyentuh lantai lagi, melainkan mengambang satu jengkal dari permukaan lantai. Baru setelah cahaya masuk lewat lubang langit-langit, Mahesa Murti memberi isyarat kepada Raden Wijaya untuk mengakhiri lakunya.
"Kita mulai lagi," kata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya setelah beberapa lama mereka beristirahat sambil memakan buah hijau yang tumbuh di pojok kanan altar.
Kembali Mahesa Murti dan Raden Wijaya bersila sempurna di tempatnya masing-masing. Raden Wijaya terlihat begitu tatag; napasnya begitu teratur dan sama sekali tidak terdengar. Sementara itu, seperti hari sebelumnya, tubuh Mahesa Murti terangkat mengapung di udara setinggi dua jengkal. Raden Wijaya masih tetap duduk sempurna melaksanakan laku rahasia sebagaimana diajarkan oleh Mahesa Murti.
Dan keajaiban pun terjadi. Ia merasakan tubuhnya begitu ringan, terangkat sedikit demi sedikit hingga mengapung di udara setinggi tiga jari. Seandainya ada orang yang hadir dan melihat apa yang terjadi, pasti mereka menyangka bahwa Mahesa Murti dan Raden Wijaya bukanlah manusia, melainkan makhluk halus penghuni ruang bawah tanah. Bagaimana tidak terkejut melihat Mahesa Murti dan Raden Wijaya mengapung tanpa menyentuh lantai.
Seharian dan semalaman Mahesa Murti dan Raden Wijaya berlatih laku rahasia itu. Baru ketika cahaya dari lubang langit-langit muncul kembali, Mahesa Murti memberi isyarat kepada Raden Wijaya untuk menghentikannya.
"Coba lakukan sebuah lompatan," kata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya ketika mereka sudah beristirahat sekian lamanya.
"Hup!" Raden Wijaya mengerahkan segenap tenaganya. Bukan main gembiranya Raden Wijaya merasakan kekuatan yang ada di dalam dirinya. Tubuhnya terasa begitu ringan. Raden Wijaya dapat melompat setinggi setengah dari tinggi langit-langit.
"Kita sudah mulai punya sayap," kata Mahesa Murti sambil menepuk bahu Raden Wijaya. "Sekarang lakukan sebagaimana yang aku lakukan."
Mahesa Murti berjalan ke sudut ruangan. Di sudut dinding itu, Mahesa Murti diam sejenak mencoba menilai sejauh mana kira-kira tenaga yang dapat dilontarkan oleh Raden Wijaya. Terkesima Raden Wijaya melihat Mahesa Murti melompat dari sudut ke sudut dinding secara zig-zag sebanyak tiga kali, lalu terus ke atas sampai tangannya menyentuh langit-langit yang tingginya lima belas kali tinggi tubuhnya. Ternyata Mahesa Murti hanya mengeluarkan sepertiga dari kekuatannya.
"Raden pasti bisa juga melakukannya," kata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya untuk memberikan semangat dan keyakinan. Sambil berkata demikian, tubuh Mahesa Murti turun tidak meluncur deras, melainkan turun perlahan seperti tertahan sampai akhirnya kedua kakinya menyentuh lantai. Sebuah atraksi meringankan tubuh yang luar biasa.
"Lakukanlah secara bertahap, kendalikan kekuatan dan bobot tubuh kita sesuai kehendak kita," kata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya.
Dengan penuh semangat dan keyakinan, Raden Wijaya berlatih setahap demi setahap. Diawali dengan satu loncatan, Raden Wijaya mulai dapat mengatur kekuatan dan mengendalikan bobot tubuhnya. Begitu besar semangat berlatih Raden Wijaya. Tidak terasa seharian penuh Raden Wijaya terus meningkatkan latihannya dengan menambah jumlah lompatan. Akhirnya, Raden Wijaya berhasil melakukan lompatan zig-zag dua kali dan turun perlahan, nyaris seperti elang yang hinggap di puncak tebing.
Bukan main gembiranya hati Raden Wijaya, meski belum mampu menyentuh dinding langit-langit sebagaimana yang dilakukan oleh Mahesa Murti.
"Besok kita lanjutkan latihan kita, sekarang kita beristirahat dulu," kata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya, kagum melihat semangat berlatih pemuda itu.
Sebelum tidur, Mahesa Murti dan Raden Wijaya melaksanakan laku rahasia selama beberapa saat. "Bila setiap menjelang tidur kita melakukannya, hal itu akan menambah ketajaman pengendalian kita terhadap kekuatan yang ada di dalam diri. Kekuatan kita semakin bertambah sesuai pengenalan kita terhadap sumber kekuatan itu sendiri, yaitu Gusti Yang Maha Agung," kata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya.
"Inilah sebuah laku rahasia membangun hawa murni warisan Empu Purwa yang berjodoh kepada kita," lanjut Mahesa Murti sambil memandang tulang tengkorak di altar yang masih tegak duduk dalam posisi bersila sempurna.
Demikianlah, Raden Wijaya hari demi hari terus berlatih sampai akhirnya dapat melakukan lompatan dengan begitu sempurna. Tangannya berhasil menyentuh dinding langit-langit yang tinggi. Saat turun pun, sebagaimana yang dilakukan Mahesa Murti, Raden Wijaya dapat melakukannya dengan pengendalian bobot tubuh yang sempurna. Sebuah atraksi meringankan tubuh yang luar biasa telah diperlihatkan oleh Raden Wijaya.
"Kita sudah punya sayap," kata Mahesa Murti gembira melihat Raden Wijaya berhasil menyempurnakan latihannya. "Hari ini adalah hari terakhir kita di perut bumi ini. Istirahatlah, besok pagi kita harus bersiap keluar dari lubang ini," lanjut Mahesa Murti yang memperkirakan hari sudah masuk malam.
Seperti biasa, menjelang tidur mereka melaksanakan laku rahasia terlebih dahulu. Setelah itu, mereka berbaring tidur untuk melepaskan kepenatan setelah seharian berlatih. Malam di dalam perut bumi memang terasa begitu panjang, gelap, dan pekat. Suara malam tidak menembus kedalaman bumi, menjadikan ruangan itu seperti kuburan besar yang sunyi. Hanya napas mereka saja yang terdengar perlahan di dalam kegelapan.
Pagi pun akhirnya datang. Matahari menembus celah-celah atap batu cadas seperti pedang-pedang panjang yang menerangi seisi ruangan.
"Jasad ini harus disempurnakan, sebagaimana permintaan beliau," kata Mahesa Murti sambil mengumpulkan dan mengikat tulang serta tengkorak dengan tali dari batang tanaman yang ada di ruangan itu.
"Mari kita masuk," ajak Mahesa Murti kepada Raden Wijaya menuju lubang sempit yang hanya dapat dilalui dengan cara merayap.
Mahesa Murti dan Raden Wijaya tengah merayap di lubang yang sempit itu. Seperti ular, mereka menyusuri lorong yang tidak selalu lurus; kadang berbelok ke kiri, ke kanan, dan bahkan menanjak ke atas. Namun dengan kekuatan yang sudah berlipat ganda hasil berlatih laku rahasia, mereka terus merayap tanpa merasakan kelelahan. Mereka merayap lebih cepat dibandingkan saat masuk beberapa hari yang lalu.
Akhirnya mereka keluar dari lubang sempit itu. Raden Wijaya tampak menarik napas panjang, merasa begitu lega bisa keluar. Wajahnya menatap ke atas, memandang mulut sumur yang begitu tinggi.
"Tunggu isyarat dariku," kata Mahesa Murti sambil mempersiapkan diri. Ia berharap Raden Wijaya tidak segera meloncat sebelum ada isyarat darinya, guna berjaga-jaga terhadap hal-hal yang mungkin mengancam keselamatan mereka di atas sana.