Chapter 130
"Aku takut Tuan Pendeta salah sasaran bila kita bertempur di dalam sanggar," kata Mahesa Amping dengan penuh ketenangan.
Sementara itu, Ki Arya Sidi dan keempat siswanya telah tiba di halaman muka. Di belakang mereka, Ki Nyoman, pelayan tua, berdiri di tempat yang lebih jauh.
"Silakan Tuan Pendeta memulai," kata Mahesa kepada Guru Dewa masih dengan ketenangannya.
Melihat sikap tenang dari Mahesa Amping telah membakar hati pendeta tua itu. "Anak muda ini begitu percaya diri, pasti baru saja menyelesaikan sebuah ilmu yang diyakininya tidak terkalahkan. Dasar katak dalam tempurung," geram Guru Dewa Bakula dalam hati.
"Bukalah matamu lebar-lebar!" seru Guru Dewa Bakula sambil menerjang terbang dengan kaki menjulur menghantam dada Mahesa Amping.
"Kulihat Tuan Pendeta menyerang dengan mata terpejam," ucap Mahesa Amping setelah bergeser menghindari serangan lawan dan melihat Guru Dewa Bakula menemui tempat kosong.
"Jangan besar kepala!" balas Guru Dewa Bakula sambil melayangkan serangan kedua dengan tangan kanannya yang bergerak begitu cepat, lebih cepat dari serangan pertamanya.
"Untung kepalaku tidak begitu besar," sahut Mahesa Amping yang memiringkan sedikit kepalanya, menghindari kepalan tangan Guru Dewa Bakula yang hanya merasakan angin pukulannya.
Ternyata Mahesa Amping tidak cuma menghindar; sebuah tangannya melesat cepat menghantam ke arah ketiak lawannya. Bukan main kagetnya Guru Dewa Bakula. Serangan itu di luar perhitungannya, dan siapapun ahli kanuragan tidak akan berpikir ke arah seperti serangan Mahesa Amping. Maka dengan langkah terkaget, seketika itu juga Guru Dewa Bakula melemparkan dirinya ke belakang dengan gerakan kayang. Itulah satu-satunya cara meloloskan diri dari serangan Mahesa Amping yang aneh dan di luar perhitungannya.
Sebenarnya, sebelum datang menyatroni Padepokan Panca Agni, Guru Dewa Bakula telah banyak mempelajari kelebihan maupun kelemahan jurus-jurus perguruan Padepokan Panca Agni. Namun kali ini, ia terbentur melawan seorang Mahesa Amping yang telah menyempurnakan jurus perguruan Panca Agni. Guru Dewa Bakula menjadi sangsi, apakah yang dipelajari mengenai jurus perguruan Panca Agni bukan dari sumber aslinya.
Dengan takjub ia melihat Mahesa Amping mengimbanginya dengan jurus perguruan Padepokan Panca Agni tanpa sedikit pun celah kelemahan sebagaimana yang sudah dipelajarinya jauh sebelum datang ke padepokan itu. Tidak terasa ratusan jurus telah berlalu, Guru Dewa Bakula tidak menemui kesempatan sedikit pun untuk menembus pertahanan jurus perguruan Padepokan Panca Agni yang dimainkan oleh Mahesa Amping dengan begitu sempurna.
"Ternyata mereka telah berhasil mengembangkan ilmu mereka," kata Guru Dewa Bakula dalam hati setelah melihat sendiri perubahan jurus perguruan Panca Agni yang sangat berbeda dari apa yang pernah ia sadap dari beberapa orang yang pernah menjadi siswa di sana.
"Kuingin melihat sejauh mana kekuatan dirimu!" ucap Guru Dewa Bakula sambil melakukan penyerangan kembali. Kali ini ia meningkatkan tataran kemampuannya lewat penyaluran tenaga murni dalam setiap gerakan. Luar biasa serangan itu! Ada semacam angin pukulan hawa panas yang keluar dari setiap serangan Guru Dewa Bakula, dan hawa panas itu terasa mendahului setiap serangan ke arah yang dituju.
Bukan Mahesa Amping kalau tidak menyadari apa yang telah terjadi. Maka, Mahesa Amping pun diam-diam telah melambari dirinya dengan kekuatan pengimbang. Kekuatan hawa dingin tiba-tiba saja telah menyelimuti seluruh tubuh Mahesa Amping.
"Kurang ajar!" gerutu Guru Dewa Bakula yang menyadari pengerahan tenaga saktinya berupa pukulan hawa panas menjadi tidak berarti di hadapan Mahesa Amping. Kekuatan ilmunya sepertinya menjadi tawar.
"Jangan gembira dulu, ini ilmuku yang puncaknya!" seru Guru Dewa Bakula melontarkan kemampuan puncaknya. Hawa panas pukulannya bertambah semakin membakar hingga terlihat rumput-rumput di sekelilingnya menjadi hangus. Namun, ternyata kembali serangan itu menjadi tawar di hadapan Mahesa Amping yang langsung meningkatkan tataran kemampuannya pula. Sebenarnya, tataran kemampuan Mahesa Amping masih belum tuntas pada puncaknya; anak muda itu masih sekadar mengimbangi kekuatan lawan.
"Biarlah lawanku ini mengumbar seluruh ilmu simpanannya," kata Mahesa Amping dalam hati.
Sementara itu, Guru Dewa Bakula menjadi sangat penasaran menyaksikan kemampuan anak muda lawannya yang mampu menawarkan pukulan angin panasnya. "Anak gila!" seru Guru Dewa Bakula sambil melenting menjauh menghindari serangan Mahesa Amping yang nyaris mengenai dadanya. Mahesa Amping tidak memburunya, ia membiarkan Guru Dewa Bakula siap melakukan serangan berikutnya.
Ternyata Guru Dewa Bakula tidak melakukan serangan kembali. Terlihat tangannya bersedekap di atas dadanya, sementara bibirnya terlihat komat-kamit membaca mantra. Mahesa Amping menjadi siaga, mempersiapkan diri menghadapi serangan lain dari Guru Dewa Bakula. Ternyata dugaan Mahesa Amping benar. Entah dari mana datangnya, suara mendesis terdengar dari sekitar halaman muka Padepokan Panca Agni.
"Ular!" teriak Ki Nyoman yang melihat banyak gerakan di atas tanah halaman padepokan. Ternyata yang dilihat Ki Nyoman bukan khayalan; ratusan ular kobra hitam tengah menjalar di halaman. Anehnya, ratusan ular itu sepertinya dikerahkan pikirannya menuju satu titik, yaitu tempat Mahesa Amping berdiri.
Sekali lagi, bukan Mahesa Amping kalau ciut melihat ratusan ular kobra hitam. Anak muda ini telah menempa diri dengan berbagai ilmu dan di dalam dirinya telah mengendap puncak kemampuan yang jarang dimiliki sembarang orang. Terlihat Mahesa Amping melakukan sikap diri yang sama dengan Guru Dewa Bakula; tangannya bersedekap di atas dada. Mahesa Amping memusatkan segala pikiran dan hatinya, menyerahkan kepasrahan jiwa, raga, dan sukmanya kepada Sang Hyang Widi yang memiliki segala keagungan dan kekuatan.
"Tidak ada daya dan upaya selain diri-Mu, wahai Gusti Yang Maha Agung," ucap Mahesa Amping yang telah mencurahkan segenap hatinya menembus alam ketidakterbatasan.
Mahesa Amping dan Guru Dewa Bakula sama-sama telah mengerahkan penguasaan diri masuk dalam kekuatan alam tak terbatas. Pertempuran kali ini bukan lagi adu pukul, melainkan pertempuran kekuatan batin tingkat tinggi. Ternyata Mahesa Amping telah berhasil menembus alam tak terbatas di atas lingkaran kekuasaan batin Guru Dewa Bakula. Ia berhasil menguasai kendali alam pikiran.
Kekuatan berpihak pada Mahesa Amping! Terlihat ratusan ular kobra hitam berubah arah menuju titik tempat Guru Dewa Bakula berdiri.
"Ular gila!" teriak Guru Dewa Bakula sambil mengibaskan kedua tangannya. Begitu menakjubkan angin pukulan yang keluar dari kedua tangan Guru Dewa Bakula. Sebuah badai hawa panas menyebar dan menghanguskan ratusan kobra hitam yang langsung mati kering tak bergerak. Ki Arya Sidi dan keempat siswanya terlihat bergerak cepat menjauh untuk menghindari hawa panas tersebut.
"Ternyata Tuan Pendeta tidak menyukai ular," kata Mahesa Amping tersenyum kepada Guru Dewa Bakula.
"Baru kali ini kutemui seorang yang dapat mengungguli ilmu Aji Megananda yang kumiliki," ujar Guru Dewa Bakula yang baru menyadari siapa lawan di hadapannya.
"Silakan Tuan Pendeta mengeluarkan ilmu simpanan yang lain, mudah-mudahan aku dapat melayaninya," ucap Mahesa Amping dengan sikap tidak jumawa.
"Bersiaplah melayani permainanku yang lain!" seru Guru Dewa Bakula sambil menghentakkan kaki kanannya ke atas tanah. *Bumm!* Terdengar suara berdegum keras. Akibatnya luar biasa; tanah di hadapan Mahesa Amping sepertinya runtuh membentuk jurang dalam yang terus mengikis hingga sampai di bawah tempat Mahesa Amping berpijak.
Terdengar tawa Guru Dewa Bakula menggelegar dari berbagai penjuru, namun tiba-tiba tawanya berhenti. Ia terkesima melihat Mahesa Amping tidak terpengaruh sedikit pun, berdiri bertolak pinggang di atas lubang jurang yang menganga.
"Ilmu sihirmu tidak akan berpengaruh apa pun terhadapku," kata Mahesa Amping sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata bumi yang runtuh membentuk jurang itu hanyalah sebuah bayangan semu.
Bukan main marahnya Guru Dewa Bakula menyaksikan permainannya tidak berpengaruh. Namun, kemarahannya harus disingkirkan karena di hadapannya kini, Mahesa Amping telah menjadi tiga orang yang sama bentuk dan rupa tengah mengepungnya.