Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 120

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 120

Tidak terasa langkah kaki Mahesa Amping dan Empu Dangka telah terbawa oleh arus yang terus berlipat dari ratusan orang yang terus bergerak menapaki tangga batu menuju lawang batu di puncak anak tangga.

Akhirnya, bersama kerumunan orang yang terus bergerak, Mahesa Amping dan Empu Dangka sampai di puncak tangga dan melangkah melewati pintu pura. Mereka sampai di Pura Penataran Agung, sebuah pura yang berada di tengah beberapa pura lainnya di atas tanah berbukit itu.

"Inilah istana Raja Adidewa Lancana," ujar Empu Dangka ketika berada di Pura Penataran Agung, tempat semua umat sedharma melakukan upacara Batara Turun Kabeh. Terlihat semua upakara yang dibawa dari berbagai padukuhan telah diletakkan di Bale Pasemuan. Satu per satu semua orang duduk menghadap Bale Gajah. Dengan penuh khidmat, mereka mendengar pitutur langsung dari Sang Ratu Agung, Raja Adidewa Lancana.

Sebagai puncak upacara Batara Turun Kabeh, dilaksanakan kegiatan membawa berbagai upakara dan 852 wewalungan kerbau yang akan ditawur di puncak Gunung Agung. Terlihat sebanyak empat puluh orang yang dipimpin oleh seorang Jero Mangku tengah berjalan menuju ke puncak kepundan gunung tertinggi di Tanah Bali itu.

"Mereka membawa berbagai upakara dan wewalungan kerbau untuk ditawurkan di puncak kepundan Gunung Agung," kata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

"Di manakah istana Raja Adidewa Lancana?" tanya Mahesa Amping ketika mereka bermaksud meninggalkan Pura Penataran Agung. Empu Dangka tidak menjawab, ia hanya memberi isyarat ke arah utara dari tempat mereka berdiri.

"Sebuah istana yang asri penuh ketenangan," kata Mahesa Amping memandang sebuah pura yang dikelilingi dinding batu bersusun rapi serta diukir, tampak agung berdiri di atas ketinggian sebuah bukit.

"Pura ini menghadap arah timur laut, sebuah perlambang Dewa Sambhu, salah satu penguasa sembilan penjuru mata angin," ujar Empu Dangka ketika mereka keluar melewati pintu Pura Besakih. Sementara itu, matahari mulai naik, menyinari dan menghangatkan pagi di Pura Besakih.

Mahesa Amping dan Empu Dangka terlihat bersama beberapa orang menuruni jalan setapak di lereng pegunungan Gunung Agung yang masih teduh dalam kehijauan dan kerapatan hutan kayu.

"Bukankah harusnya kita berbelok ke kanan?" tanya Mahesa Amping.

"Kita harus melihat suasana kaki Gunung Agung dari sisi yang lain," jawab Empu Dangka menjelaskan arah perjalanan mereka.

"Jadi kita tidak kembali ke perkampungan Trunyan?" tanya Mahesa Amping lagi.

"Maaf, kuda anakmas memang harus direlakan," kata Empu Dangka sambil tersenyum.

"Aku bertanya tentang arah, kenapa Empu Dangka menjawabnya tentang kuda?" tanya Mahesa Amping.

"Aku hanya sekadar menerka-nerka," jawab Empu Dangka sambil lalu.

"Kali ini tebakan Empu Dangka meleset jauh," cetus Mahesa Amping sambil mengikuti langkah kaki Empu Dangka yang terus berjalan. Semakin turun ke bawah, iring-iringan orang yang pulang dari Pura Besakih semakin berkurang. Satu per satu mereka berbelok arah menuju padukuhan masing-masing. Hingga akhirnya di jalan setapak itu hanya tertinggal Mahesa Amping dan Empu Dangka berdua.

Sementara itu, matahari di atas langit telah condong ke barat. Mahesa Amping dan Empu Dangka masih terus menyusuri jalan setapak yang menurun di kaki Gunung Agung yang penuh pepohonan lebat. Cahaya matahari yang semakin rebah ke arah barat bumi sudah semakin redup. Pandangan di hutan sekitar Mahesa Amping dan Empu Dangka semakin samar dan buram manakala kabut sore di kaki Gunung Agung turun menutupi segenap pandangan mata.

"Di ujung senja kita sudah tiba di pintu lawang sebuah Kademangan," kata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang terus mengikutinya. Sebagaimana yang dikatakan Empu Dangka, mereka melihat sebuah pintu lawang yang menjadi tanda batas antara hutan dan sebuah Kademangan.

"Kita memasuki Kademangan Rendang, sebuah Kademangan yang cukup besar," kata Empu Dangka ketika mereka melewati pintu lawang yang terbuat dari batu hitam yang tersusun rapi, diukir dengan halus dan telaten, berdiri di kiri dan kanan jalan.

Namun, ketika mereka mendekati sebuah banjar desa, mereka melihat kerumunan orang. Rasa keingintahuan mereka begitu tinggi hingga tidak terasa mereka sudah berada di antara kerumunan itu. Terlihat dua orang wanita muda dan seorang wanita yang sudah berumur duduk sambil menggaruk-garuk beberapa bagian tubuhnya yang terlihat sangat gatal dan menyakitkan. Tubuh ketiga wanita itu tampak memerah karena digaruk dengan keras berkali-kali.

"Ada apa dengan tiga orang wanita itu?" tanya Empu Dangka kepada seorang pemuda di dekatnya.

"Sore tadi mereka turun mandi di sungai, selesai mandi mereka merasakan gatal yang sangat," jawab pemuda itu.

"Apakah sudah ada tabib yang mengobati?" tanya Empu Dangka lagi.

"Ki Tabib Jaran Wungu sejak pagi tadi telah berangkat ke Pura Besakih dan sampai saat ini belum pulang. Biasanya Ki Tabib menginap di rumah anaknya di padukuhan dekat Pura Besakih," jelas pemuda itu.

"Mohon maaf, siapa kerabat terdekat dari ketiga wanita ini?" tanya Empu Dangka kepada orang-orang yang berkerumun.

"Aku suami dan ayahnya," jawab seorang lelaki yang sudah berumur.

"Aku mohon izin, mudah-mudahan dapat mengobatinya," kata Empu Dangka kepada lelaki yang wajahnya terlihat sangat putus asa itu.

"Silakan, aku berterima kasih atas kesediaan Kisanak," jawab lelaki itu, merasa ada harapan meski belum mengenal siapa Empu Dangka.

Empu Dangka langsung mendekati wanita yang sudah berumur itu. Ternyata penglihatan Empu Dangka sangat tajam; hanya sekali pandang ia sudah melihat keganjilan di tubuh wanita itu. Empu Dangka menggosok-gosokkan tangannya dengan tanah yang diambil di dekatnya. Setelah tangannya rata dengan tanah merah, dengan hati-hati ia mengambil sesuatu benda halus yang menempel di tubuh wanita itu.

"Istri dan dua orang anakmu terkena bulu daun pulus," kata Empu Dangka sambil memperlihatkan bulu halus kepada lelaki itu. "Di tempat asalku, kami menyebutnya daun pulus, sementara di Tanah Bali ini menyebutnya daun Lateng."

"Kedua nama daun itu baru kali ini aku mendengarnya," sahut lelaki itu.

"Lumuri seluruh tubuh istri dan anakmu dengan tanah merah, setelah itu bersihkan dengan air bersih yang bukan berasal dari sungai tempat mereka mandi," instruksi Empu Dangka.

Lelaki yang putus asa itu langsung mengikuti petunjuk Empu Dangka dengan membawa istri dan anaknya ke rumah mereka yang bersebelahan dengan banjar desa. Dua orang tetangga terlihat mengumpulkan tanah merah dan membawanya ke rumah keluarga yang kemalangan itu. Beberapa orang yang berkerumun tampak menunggu hasil pengobatan tersebut. Hampir semua mata tertuju ke arah gerbang rumah keluarga itu.

Akhirnya, yang mereka tunggu datang juga. Dari arah gerbang, lelaki suami dan ayah para wanita itu datang dengan wajah terang, tidak lagi suram.

"Terima kasih, istri dan anak-anakku sudah hilang rasa gatalnya," kata lelaki itu sambil menyalami Empu Dangka dengan penuh rasa syukur.

"Bersyukurlah kepada Sang Hyang Widi yang telah membawa langkah kakiku ke Kademangan ini," kata Empu Dangka sambil tersenyum, ikut merasakan kebahagiaan lelaki itu yang telah terbebas dari rasa cemas.

"Atas nama warga Kademangan, aku menghaturkan terima kasih kepada Tuan Tabib," kata seorang pria berwajah bersih yang tampak terhormat.

"Aku bukan tabib, hanya sedikit mengenal beberapa tumbuhan," jawab Empu Dangka merendah.

"Aku Demang di sini, bolehkah aku mengenal nama Tuan?" tanya pria itu.

"Ternyata aku berhadapan dengan Ki Demang. Orang-orang memanggilku dengan sebutan Empu Dangka. Kebetulan sekali aku dan anakku melewati Kademangan ini," jawab Empu Dangka.

"Kalian pasti datang dari tempat yang jauh, mari beristirahat di rumahku," ajak Ki Demang.

Beberapa orang tampak sangat hormat kepada Empu Dangka, mungkin karena ikut merasa berterima kasih atas kesembuhan keluarga tetangga mereka. Dengan penuh hormat, mereka berpamitan kepada Empu Dangka dan Ki Demang untuk kembali ke rumah masing-masing.

"Sebaiknya kalian tidak mandi dulu di sungai, besok aku akan memeriksa keadaan sungai kalian," pesan Empu Dangka.

"Mari ke rumahku," ajak Ki Demang meminta Empu Dangka dan Mahesa Amping mengikutinya. Malam itu, di Kademangan Rendang, hujan turun rintik-rintik.

"Di Kademangan Rendang ini hampir setiap hari hujan, mungkin karena berada di kaki Gunung Agung," kata Ki Demang kepada Empu Dangka dan Mahesa Amping di bale tamu depan rumahnya.

"Besok pagi aku akan memeriksa keadaan sungai," kata Empu Dangka.

"Besok aku akan meminta Ki Jagaraga menemani ke sungai," jawab Ki Demang.

"Hanya orang yang sangat dengki dan sakit hati yang telah berbuat jahat menabur daun pulus di sungai," sahut Mahesa Amping.

"Kita harus menemukan orang itu agar tidak kembali menimbulkan korban," kata Ki Demang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment