Chapter 66
"Kutawarkan jalan yang mudah; julurkan lehermu di dekatku agar aku dapat memilih urat yang baik tanpa rasa sakit," ujar Bango Samparan dengan wajah penuh jumawa.
"Sayangnya leherku sangat alot untuk senjata murahan yang kamu miliki," balas Ragasuci sambil menunjuk golok besar yang ada di tangan Bango Samparan.
Mendengar senjatanya dihina, darah Bango Samparan langsung naik ke ubun-ubun.
"Kawan-kawan, habisi semua orang yang ada di sini!" perintah Bango Samparan dengan suara bergetar menahan amarah. Ia melompat panjang menerjang Ragasuci dengan golok panjang yang terlihat bening berkilat, menandakan itu bukan senjata sembarangan.
Bersamaan dengan itu, kawan-kawannya langsung merubung Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya yang berjajar di bawah tangga panggung, menjaga agar tidak seorang pun dapat naik ke atas pendapa. Maka, terjadilah dua kelompok pertempuran yang terpisah. Pertama, pertempuran antara Bango Samparan dengan Ragasuci. Kedua, pertempuran para gerombolan yang menyerang Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya.
"Ternyata Baginda Raja bersama orang-orang yang dapat diandalkan. Pantas aku cuma diperintahkan sebagai penonton," kata Ki Mantul dalam hati sambil mengamati pertempuran dari atas pendapa. Dilihatnya Mahesa Amping, Lawe, dan Raden Wijaya dengan mudah melumpuhkan siapa pun yang mendekat.
"Tuanku Baginda masih bermain-main," gumam Ki Mantul saat menilai pertempuran Ragasuci dengan Bango Samparan. Mata Ki Mantul cukup jeli; Ragasuci memang belum mengeluarkan ilmu tingkat tinggi dan hanya mengandalkan kecepatan gerak.
Bango Samparan mulai penasaran karena ke mana pun goloknya menyambar, Ragasuci selalu dapat mengelak tanpa kesulitan. Setingkat demi setingkat Bango Samparan meningkatkan ilmunya, namun Ragasuci terus mengimbanginya.
"Gila, masih saja ia dapat menghindar dengan mudah," umpat Bango Samparan.
Sementara itu, kekuatan gerombolan penyerang yang menghadapi Lawe, Mahesa Amping, dan Raden Wijaya semakin menyusut. Jumlah mereka tinggal tujuh orang. Meski gentar, mereka terpaksa terus menyerang.
"Ayo, jangan surut! Aku masih siap melayani kalian," tantang Lawe sambil menendang seorang lawan hingga tersungkur dengan tulang iga yang terasa retak. Orang itu masih bersyukur tidak menjadi korban dua bilah belati Lawe yang sudah melukai rekan-rekan lainnya dengan parah.
Mahesa Amping dan Raden Wijaya hanya melumpuhkan lawan dengan pukulan ringan yang terukur. Lucunya, para gerombolan itu lebih memilih melawan Raden Wijaya dan Mahesa Amping daripada menghadapi Lawe yang dianggap lebih bengis.
"Ternyata lapakku sudah tidak laku lagi," celetuk Lawe sambil bertolak pinggang melihat lawan-lawannya menyingkir.
*Buk!* Sebuah pukulan Raden Wijaya telak menghantam dada seorang lawan hingga pingsan. *Plak!* Tamparan keras menghantam rahang kanan lawan yang lain hingga roboh tak berdaya. *Dess!* Sebuah tendangan membuat lawan terlempar dengan napas sesak.
Melihat Raden Wijaya dan Lawe tak lagi mendapat lawan, Mahesa Amping mulai tidak sabaran. *Plak, plak, plok!* Tiga gerakan cepat Mahesa Amping membuat tiga lawannya roboh seketika dengan gigi rontok setelah menerima pukulan di rahang kiri.
"Luar biasa!" seru Ki Mantul takjub. Sementara itu, Dara Puspa, Dara Petak, dan Dara Jingga dapat bernapas lega melihat gerombolan tersebut telah takluk.
Pertempuran Ragasuci pun segera berakhir. Ragasuci memanfaatkan kelengahan Bango Samparan yang tenaganya mulai habis. Saat senjata mereka beradu, Ragasuci menyentakkan kaki kirinya dan menghantam perut Bango Samparan dengan telak. Lawannya terlempar lima langkah ke belakang. Meski mencoba bangkit, Bango Samparan akhirnya tak berdaya ketika Ragasuci melumpuhkan pangkal paha kirinya.
"Menyerahlah, semua anak buahmu telah kami lumpuhkan!" seru Ragasuci.
"Aku mengaku kalah," ucap Bango Samparan sambil melempar goloknya.
Bango Samparan pasrah saat Ki Mantul mengikatnya. Setelah situasi terkendali, Ragasuci meminta Ki Mantul segera pergi ke Kotaraja untuk mendatangkan prajurit. Ki Mantul pun berangkat menunggang kuda, membelah padang ilalang hingga akhirnya tiba di Kotaraja Kawali saat malam menyelimuti kota.