Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 133

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 133

"Mari kita beristirahat, masih ada sisa malam untuk sekadar meluruskan badan," ujar Ki Arya Sidi yang mengingatkan bahwa malam sudah hampir habis.

Mahesa Amping, Empu Dangka, dan Ki Arya Sidi terlihat meninggalkan pendapa menuju bilik masing-masing. Suasana pendapa yang baru saja ditinggalkan penghuninya itu menjadi begitu sunyi senyap. Pelita di pojok kanan pendapa terlihat cahayanya telah redup menyentuh setiap sudut dinding kayu, ditingkahi desir angin yang datang memaksa lidah api pelita meliuk-liuk dalam tarian kesendiriannya di penghujung malam.

Pagi yang cerah menaungi bumi dalam setiap lengkung kaki langit. Awan putih bersih berbias cahaya hangat mentari menyapu butir-butir embun di ujung setiap tangkai daun hingga menguap menghilang. Bumi pagi berselimut keceriaan manakala Empu Dangka dan Mahesa Amping di padang ilalang di puncak Bukit Pejeng Gundul tengah berlatih ilmu cambuk. Dua buah cambuk yang sama terlihat saling menyerang seperti dua ekor ular sakti yang dapat terbang dan bertempur di atas bumi. Daun ilalang beterbangan manakala tersambar sabetan cambuk yang mengayun melingkar. Tanah tempat mereka berpijak terlihat sudah menjadi lingkaran rata, tersapu bersih tergilas langkah kaki yang terus bergerak menyerang atau menghindari setiap serangan lawan berlatihnya.

"Tahap pertama telah kamu kuasai," kata Empu Dangka sambil menarik cambuknya yang sedang bergerak menerjang tubuh Mahesa Amping. "Saatnya memahami setiap unsur gerakan," lanjutnya sambil menjelaskan pemahaman setiap unsur gerakan ilmu cambuknya. "Cambuk adalah senjata yang sangat lembut, namun di balik kelembutan itulah letak kekuatannya."

"Aku mulai jatuh cinta kepada senjata ini," jawab Mahesa Amping sambil tersenyum memahami uraian yang disampaikan Empu Dangka.

"Biarkan kekuatan tenaga murni yang ada di dalam tubuhmu mengalir mengisi setiap jengkal cambukmu," instruksi Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang sedang berlatih memindahkan kekuatan tenaga murninya ke dalam cambuk.

"Kekuatan tenaga murni melindungi cambuk dari tajamnya pedang," ucap Mahesa Amping yang telah mampu mengalirkan kekuatan tenaga murninya ke setiap jengkal cambuk.

"Aku ingin melihat gerakan ilmu cambukmu yang telah dimuati sumber kekuatan tenaga murni," tantang Empu Dangka.

"Mudah-mudahan aku tidak mengecewakan Empu Dangka," ujar Mahesa Amping sambil mengurai cambuknya.

Mahesa Amping mulai bergerak. Diawali dengan gerakan perlahan, ia mulai menyalurkan tenaga murninya. Gerakan ilmu cambuk yang ia mainkan terlihat semakin kencang dan keras. Ketika cambuk itu berputar dengan cepat, terdengar suara seperti gasing bambu yang mengaum. "Geledarr!" Suara menggelegar terdengar seperti petir manakala cambuk itu dilepaskan dengan gerakan sambal pancing. Mahesa Amping pun berdiri tegak dengan tangan kiri memegang ujung cambuknya.

"Dengan beberapa hari latihan lagi, aku yakin kamu dapat menghentakkan cambukmu dengan lebih sempurna," kata Empu Dangka yang merasa puas melihat hasil latihan awal Mahesa Amping.

"Terima kasih, aku akan terus berlatih," sahut Mahesa Amping.

"Kurasa latihan hari ini sudah mencukupi, nanti malam kita dapat berlatih kembali," ujar Empu Dangka.

Mereka pun berjalan beriringan menuju Padepokan Panca Agni di bawah terik matahari. Setibanya di pendapa, Ki Arya Sidi telah menunggu. "Ki Nyoman telah menyiapkan makan siang untuk kalian," sambut Ki Arya Sidi. Sambil berbincang, mereka menikmati hidangan makan siang.

"Bagaimana perkembangan para sisya di sanggar?" tanya Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.

"Aku bangga mempunyai empat orang sisya yang punya semangat tinggi. Hari ini aku melihat perkembangan yang begitu pesat," jawab Ki Arya Sidi bercerita tentang para sisya-nya.

"Di Pura Indrakila, kita akan menghadapi lebih banyak lagi para sisya," ujar Mahesa Amping.

"Semoga semangat mereka tidak jauh berbeda dengan para sisya di Padepokan Panca Agni," timpal Ki Arya Sidi.

Matahari mulai bergeser dari puncaknya. Langit berawan cerah memayungi Bukit Pejeng Gundul. Terdengar suara angin bergemuruh datang tanpa penghalang, menggulung dan merebahkan ilalang yang merunduk tak berdaya.

"Beristirahatlah kalian, aku akan kembali ke sanggar," pamit Ki Arya Sidi.

"Nanti malam kami akan berlatih kembali," kata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi yang tengah menuruni anak tangga.

Sepeninggal Ki Arya Sidi, Mahesa Amping dan Empu Dangka lebih leluasa membicarakan tugas Mahesa Amping sebagai petugas sandi Singasari. "Diterima di Padepokan Panca Agni dan menjadi guru para sisya di Pura Indrakila adalah setengah kemenangan untuk kerajaan Singasari," ujar Empu Dangka.

"Ada yang Empu Dangka lupa menyebutkan, bahwa aku sudah terikat persaudaraan dengan Raja Leak," ujar Mahesa Amping yang disambut gelak tawa Empu Dangka.

"Benar, aku lupa. Raja Leak dan kaumnya adalah kekuatan yang dapat diandalkan," kata Empu Dangka memberikan masukan yang dirasakan sangat berguna bagi rencana Singasari menguasai Balidwipa.

Cahaya surya semakin lemah tertutup awan tebal. Di udara bebas, terlihat puluhan burung pipit terbang ke utara, sementara seekor elang berputar-putar di atas padang ilalang, mengincar mangsa.

"Di alam bebas, siapa pun yang mempunyai kekuatan akan menjadi penguasa," ujar Mahesa Amping sambil menatap elang tersebut.

"Kekuatan di tangan manusia berbudi adalah payung kehidupan," jawab Empu Dangka. "Penguasaan Singasari atas Balidwipa ini tidak untuk mengubah tatanan yang sudah ada, melainkan untuk mengembalikan keseimbangan sumber kehidupan sebagaimana mestinya."

"Apakah yang Empu Dangka maksudkan adalah mengembalikan keseimbangan perdagangan di Balidwipa ini, di mana saat ini kekuasaan perdagangan berada di tangan para saudagar dari negeri Hindu?" tanya Mahesa Amping.

"Ternyata penglihatanmu sangat tajam," jawab Empu Dangka tersenyum.

"Akhirnya aku menemukan tempat berpijak dan arah pengabdian," ujar Mahesa Amping. "Terima kasih, selama ini aku sering meragukan ke mana arah pengabdianku. Hari ini hatiku sudah ajeg bahwa aku berada bersama seekor Rajawali Singasari."

Empu Dangka hanya membalas dengan senyuman. Suasana pendapa menjadi hening sesaat sebelum dipecahkan oleh kedatangan Ki Arya Sidi kembali.

"Apakah Ki Nyoman tidak mengeluarkan minuman brem sehingga suasana pendapa ini begitu membisu?" canda Ki Arya Sidi.

"Bremnya masih ada, bahan ceritanya yang habis," jawab Empu Dangka.

Tak lama, Ki Nyoman muncul membawa ancemon hangat lengkap dengan kelapa dan gula aren. "Silakan dinikmati," ucapnya.

"Jadi ingat masa kecil saat melihat ancemon. Dulu bila ibuku pergi ke pasar, yang kutunggu adalah buah tangannya membawa ancemon kesukaanku," kenang Ki Arya Sidi.

"Masa kecil adalah masa penuh kesenangan," ucap Ki Arya Sidi sambil menuangkan segelas air putih.

"Bermain mencari kesenangan, hanya itulah pekerjaan seorang anak kecil," sahut Empu Dangka.

"Sewaktu kecil dulu, Ki Nyoman sering membawaku keluar padepokan ini. Biasanya menjelang senja, aku dibawanya ke sungai untuk membuat pliridan. Bukan main senangnya ketika esok harinya kami mendapatkan banyak ikan yang terjebak masuk lubang," cerita Ki Arya Sidi.

"Ternyata orang Bali mengenal juga tentang pliridan, kukira cuma orang Jawa saja yang punya cara menjebak ikan seperti itu," ujar Mahesa Amping.

"Sebagai bukti bahwa orang Bali dan orang Jawa berasal dari satu keturunan, masih banyak lagi kesamaan yang kutemui dalam berbagai hal, bukan cuma dalam cara menangkap ikan," pungkas Empu Dangka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment