Chapter 162
Namun, belum sempat sampai di rumah Ki Buyut, sekelompok orang berkuda telah mengepungnya.
"Jangan coba melawan!" teriak Badrun dengan suara keras dan parau sambil mengangkat tinggi-tinggi golok panjangnya yang berkilau di bawah cahaya malam.
Beberapa lelaki yang tidak bersenjata itu sangat terkejut dan ketakutan melihat pasukan berkuda mengepung mereka, terutama saat melihat senjata tajam yang mengancam nyawa.
Salah seorang penunggang kuda turun dan segera mengikat lelaki-lelaki yang pucat ketakutan itu tanpa perlawanan sama sekali.
"Bawa mereka ke rumah Ki Buyut," perintah Badrun kepada anak buahnya sambil memberi isyarat kepada yang lain untuk mencari warga yang masih bersembunyi di rumah masing-masing.
Dalam waktu singkat, puluhan lelaki warga padukuhan itu telah berhasil dilumpuhkan dan diikat di halaman rumah Ki Buyut.
"Ki Buyut!" panggil Kebo Arema dengan wajah tertutup cadar hitam sambil menempelkan golok panjang di leher Ki Buyut.
Ki Buyut yang sudah tua itu gemetaran merasakan dinginnya logam tajam di kulit lehernya, membayangkan nyawanya akan segera melayang.
"Masuklah ke semua rumah wargamu, bawalah semua barang berharga yang kau temui ke halaman ini," perintah Kebo Arema dengan nada penuh ancaman.
Ki Buyut mengangguk dengan wajah pucat pasi. "Ingat, aku bisa membantai semua wargamu dan membakar padukuhan ini. Jadi, bekerjasamalah dengan baik," tambah Kebo Arema dengan suara yang membuat nyali Ki Buyut kian menciut.
Bersama pembantunya, Ki Buyut memasuki rumah demi rumah untuk mengambil barang berharga milik warganya.
"Ingat Nyi Made, suamimu berada di bawah ancaman gerombolan perampok itu," ujar Ki Buyut kepada seorang wanita di salah satu rumah.
"Kalung emas ini warisan nenekku, hanya ini satu-satunya harta berharga yang kami miliki," kata wanita itu dengan wajah penuh cemas memikirkan suaminya yang disandera.
"Demi suamimu dan keselamatan warga," bujuk Ki Buyut. Wanita itu pun melepaskan kalung emas dari lehernya dengan berat hati.
"Jangan keluar rumah, aku khawatir gerombolan itu berbuat jahat jika melihatmu," pesan Ki Buyut kepada wanita muda itu.
Setelah selesai, Ki Buyut dan pembantunya kembali ke halaman rumah untuk menyerahkan barang-barang tersebut demi keselamatan para sandera.
"Kamu belum masuk ke rumahmu sendiri," tegur Kebo Arema saat menerima barang-barang itu.
"Aku akan segera mengambilnya," jawab Ki Buyut dengan wajah ketakutan, lalu melangkah masuk ke rumahnya sendiri. Di sana, ia berpapasan dengan istrinya.
"Aku tidak akan memberikan cincin bermata mutiara ini. Ini barang yang sudah lama kuimpikan sejak gadis," tolak Nyi Buyut keberatan.
"Jika gerombolan itu masuk dan melihat cincin di tanganmu, urusan akan menjadi panjang," tegas Ki Buyut.
"Seandainya aku ini lelaki, aku akan melawannya," cetus Nyi Buyut sambil melepas cincin kesayangannya dengan wajah masam.
"Tidak cukup dengan keberanian, kita harus memikirkan kekuatan kita," jawab Ki Buyut yang tersinggung dengan sindiran istrinya.
"Bukankah jumlah kita lebih banyak dari mereka?" tanya Nyi Buyut dengan wajah cemberut.
"Banyak, tapi tidak ada keberanian," sahut Ki Buyut menyanggah.
"Keberanian kalian hanya muncul saat berjudi di Tajen," cibir Nyi Buyut.
Ki Buyut tidak membalas lagi dan segera keluar rumah membawa barang-barang berharga miliknya.
"Mengapa lama sekali?" tanya Kebo Arema.
"Ada beberapa barang yang kusimpan di atas wuwungan," dalih Ki Buyut, sengaja menutupi percekcokan dengan istrinya.
"Aku akan memeriksanya ke dalam, mungkin masih ada yang kamu sembunyikan," ancam Kebo Arema.
"Percayalah, semua sudah kukeluarkan," pinta Ki Buyut yang takut gerombolan itu akan mengganggu keluarganya di dalam.
"Untuk saat ini aku percaya padamu," kata Kebo Arema, diam-diam merasa kasihan melihat wajah pucat Ki Buyut. Sementara itu, salah seorang anak buah Badrun telah membawa dua ekor kuda milik Kebo Arema.
"Dengarlah semua!" seru Kebo Arema dari atas kudanya. "Apa yang kami lakukan ini adalah untuk perjuangan Raja Adidewalancana, Penguasa Pura Besakih, dalam menghadapi prajurit Singasari yang akan menguasai seluruh kehidupan kita."
Tak lama kemudian, gerombolan itu pergi meninggalkan halaman rumah Ki Buyut, diiringi puluhan pasang mata warga yang masih terikat. Debu mengepul di belakang kuda-kuda yang melesat menghilang ditelan kegelapan malam.
Keesokan harinya, kejadian tersebut menjadi perbincangan hangat di setiap ladang, pasar, dan kedai. Berita perampokan menyebar bak angin ke seluruh penjuru Balidwipa.
"Teganya Raja Adidewalancana mengambil milik warga yang sudah menderita," keluh seorang warga di kedai.
"Itulah tanda akhir zaman. Penguasa tidak lagi memikirkan penderitaan kawula, yang diutamakan hanyalah kejayaan dirinya sendiri," timpal yang lain.
Di sudut kedai, dua orang sedang mencuri dengar pembicaraan mengenai perampokan yang mengatasnamakan perjuangan Raja Adidewalancana tersebut.
"Perang pencitraan telah kita mulai," bisik Kebo Arema kepada Mahesa Amping.
"Nampaknya berita itu telah menyebar jauh," sahut Mahesa Amping.
"Beberapa padukuhan mulai menyiagakan diri," tambah Kebo Arema.
"Akan sulit bagi kita, benturan tidak terelakkan," ujar Mahesa Amping khawatir akan ada korban di kalangan warga.
"Kita harus mencari celah agar tidak ada korban," jawab Kebo Arema dengan wajah tenang, seolah telah menyusun rencana baru.
"Aku melihat Paman sudah menemukan celah itu," kata Mahesa Amping melihat senyum di wajah Kebo Arema.
"Mari kita bicarakan di tempat persembunyian," ajak Kebo Arema. Keduanya pun keluar dari kedai menuju bulakan yang sepi, lalu melangkah ke arah hutan kecil yang terhalang rawa galam. Jarang ada orang yang berani ke sana, sehingga tempat itu menjadi lokasi persembunyian gerombolan mereka yang ideal.
Di dalam hutan yang teduh itu, Kebo Arema memberi instruksi kepada Badrun untuk aksi malam nanti, dengan target dua saudagar kaya dan rumah Ki Buyut kembali.
"Sebuah tipu daya yang cemerlang," puji Mahesa Amping.
Saat matahari mulai terbenam, berita perampokan itu telah sampai ke Padukuhan Padang Bulia. Meski hari masih sore, gardu ronda sudah dipenuhi warga yang waspada. Selain karena berita perampokan, warga juga merasa perlu melindungi dua saudagar kaya yang menjadi tumpuan ekonomi mereka.
"Ternyata nyaman menjadi orang tidak punya," celetuk seorang lelaki di gardu ronda.
"Mengapa berkata begitu?" tanya kawannya.
"Karena aku tidak punya harta apa pun selain pakaian di badan, jadi tidak ada yang perlu kutakutkan jika perampok itu datang ke sini."