Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 52

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 52

Rupanya bangsawan dari Tumasik mempunyai gerakan yang begitu cepat, baik dalam mengelak maupun dalam setiap serangannya. Dalam sekejap saja, pertandingan itu menjadi begitu seru dan sengit. Ternyata mereka berdua sama-sama mempunyai kegesitan yang setara. Sejurus demi sejurus telah berlalu, tidak terasa ratusan jurus telah mereka keluarkan. Selapis demi selapis tataran ilmu mereka telah ditingkatkan. Gerakan mereka semakin cepat hingga tidak mudah diikuti mata wadag biasa, seperti bayang-bayang yang saling menyambar.

Untuk kecepatan dan kegesitan, mereka nampaknya setara, tetapi dalam hal kekuatan diri, ternyata Ragasuci selapis di atas bangsawan Tumasik itu. Terlihat dalam setiap adu pukulan, bangsawan Tumasik itu seperti meringis menahan rasa sakit. Kesempatan itulah yang digunakan Ragasuci untuk menekan lawannya. Ia tidak segan-segan menangkis setiap serangan yang dilakukan lawannya. Tangan bangsawan Tumasik itu sudah begitu ngilu dan nyeri; ia tidak berani lagi beradu tangan dan lebih banyak mengelak menghindari serangan.

Hingga dalam sebuah serangan, bangsawan Tumasik itu terpaksa menangkis dengan tangannya. Akibatnya, tangan yang sudah ngilu dan nyeri itu seperti retak tak bertenaga. Serangan pukulan tangan terbuka dari Ragasuci bahkan langsung merangsek sisi dada bangsawan Tumasik itu. "Bukkk!"

Bangsawan Tumasik itu merasakan tulang dadanya bergetar remuk, lalu limbung dan tergelincir jatuh ke bawah panggung. Terlihat bangsawan itu masih terbaring sambil merasakan nyeri di bagian dadanya. Penonton bersorak menyaksikan pertempuran yang seru itu. Sudah dipastikan bahwa Ragasuci memenangkan pertandingan tersebut, karena dalam peraturan, siapa pun yang keluar dari panggung—sengaja atau tidak—dinyatakan gugur.

"Gong!" Sebuah bende berbunyi sebagai tanda pertandingan telah usai. Seorang kepercayaan raja naik ke atas panggung dan menyatakan bahwa pertandingan akan dilanjutkan kembali esok hari untuk memberikan kesempatan para peserta beristirahat. Sementara itu, matahari telah bergeser turun tertutup awan putih tebal. Rombongan terakhir orang-orang mulai meninggalkan alun-alun istana kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Alun-alun istana kembali sepi, menunggu matahari rebah di ufuk barat bersama deretan pohon pinang yang terkantuk tertiup semilir angin laut. Senja yang dinantikan tiba, membelah keterangan dalam larut warna bumi yang kabur. Perlahan tapi pasti, bayang-bayang malam mulai datang memanggil senja untuk membuai bumi yang lelah agar dapat terlelap dalam mimpi.

"Silakan naik, Tuanku. Rumah kami memang tidak berpagar," ucap Pranjaya sambil mempersilakan Ragasuci yang berdiri di bawah tangga.

"Terima kasih, mudah-mudahan kehadiranku tidak mengganggu," kata Ragasuci ketika sudah naik ke atas pendapa.

"Silakan bergabung, kehadiran Tuanku adalah sanjungan bagi kami," jawab Pranjaya dengan ramah. Ragasuci langsung duduk bersila bersama mereka. Setelah menanyakan kabar, Ragasuci langsung menyampaikan maksud kunjungannya.

"Kehadiranku di sini sebatas mencairkan perasaanku yang aneh, terutama ketika bertemu salah satu di antara kalian," ujar Ragasuci.

"Siapakah di antara kami yang Tuan maksudkan?" tanya Datuk Belang penasaran.

Ragasuci menunjuk ke arah Raden Wijaya. "Anak muda itu."

"Perasaan apa yang Tuan rasakan terhadapku?" tanya Raden Wijaya sambil tersenyum.

"Aku seperti menemukan kehadiran kakakku di dalam dirimu," jawab Ragasuci. Tergetar perasaan Raden Wijaya, "Ternyata ikatan batin ada dan tidak dapat dibohongi," batinnya.

"Apakah yang Tuan maksudkan diriku dengan kakak Tuan sendiri?" tanya Raden Wijaya untuk mengetahui lebih jauh. Wajah Ragasuci tampak buram, garis wajahnya menunjukkan ia tengah mengingat masa lalu.

"Aku mempunyai seorang kakak putri lain ibu. Meski lain ibu, kami bersaudara saling mengasihi layaknya saudara kandung," Ragasuci memulai ceritanya. "Ternyata kakak putriku itu tidak berumur panjang, seseorang telah membunuhnya dengan kejam. Sampai saat ini ada perasaan bersalah di dalam hatiku sebagai seorang adik yang belum dapat berbakti menuntut balas dan mengungkap siapa di balik pembunuhan itu. Hari-hari telah mengubur perasaan bersalah itu, aku telah dapat melupakannya. Hingga kemarin, ketika aku diperkenalkan dengan dirimu, perasaanku kembali teringat kepada kakakku yang telah tiada itu."

Suasana pun terhenyak ke dalam kesunyian. Semua mata memandang Raden Wijaya yang perlahan mendekati Ragasuci. "Maafkan keponakanmu ini, Paman. Akulah putra Ibunda Jayadarma," ucap Raden Wijaya sambil bersimpuh di kaki Ragasuci.

"Sanggrama!" seru Ragasuci menyebut nama asli Raden Wijaya.

"Benar, Paman. Akulah Sanggramawijaya," kata Raden Wijaya dengan wajah haru.

"Puji syukur Sang Hyang Karsa yang telah mempertemukan kita," kata Ragasuci sambil mengusap kepala keponakannya. Semua yang hadir ikut terhanyut dalam suasana haru pertemuan dua orang yang terikat dalam satu garis darah keluarga.

Suasana pun pecah ketika kerabat Datuk Belang keluar membawa hidangan makan malam. Percakapan berlanjut ke hal yang serius, mengenai sebuah racun kuat, yakni racun ikan buntal.

"Sebentar," ujar Ragasuci. "Sepertinya semua kejadian ini dapat dirangkai. Berawal dari terbunuhnya kakakku dengan racun ikan buntal, kematian dua orang kepercayaan pamanku Bagus Kemuning, dan terakhir sebuah nama yang tidak asing, yaitu Raja Belang."

"Tuanku mengenal orang bernama Raja Belang?" tanya Datuk Belang terperanjat.

"Ketika kakakku terbunuh, Raja Belang ada di sana. Ia adalah orang kepercayaan pamanku, Bagus Kemuning. Tapi mengenai racun ikan buntal, aku belum tahu apakah ia menguasai senjata duri ikan buntal itu," jelas Ragasuci.

"Kita harus dapat mengungkapkannya, bila perlu dengan jalan paksa," ujar Raden Wijaya penuh semangat.

"Siapapun yang menguasai duri ikan buntal, dialah orang yang kita cari. Meski harus berhadapan dengan pamanku sendiri, Bagus Kemuning," tegas Ragasuci. Mereka pun sepakat untuk bersama mengungkap misteri tersebut.

Malam semakin dalam, Ragasuci bermaksud pamit kembali ke istana. "Apakah diperlukan pengawal?" tanya Pranjaya bercanda saat melepas Ragasuci menuruni tangga.

"Besok kita akan bertemu sebagai musuh di panggung sayembara. Doakan saja aku selamat sampai di istana," jawab Ragasuci sambil tersenyum.

"Selamat beristirahat, Paman," ucap Raden Wijaya. Ragasuci kembali melambaikan tangan. Malam di depan matanya tidak segelap keterangan di dalam hatinya; Raden Wijaya seperti cahaya yang menerangi kerinduannya.

"Kami mengkhawatirkan Tuanku yang begitu lama keluar istana," ujar seorang penjaga saat Ragasuci kembali.

"Aku hanya berkeliling menikmati udara di Tanah Melayu," jawab Ragasuci ramah.

"Syukurlah, kukira Tuanku tersasar," kata penjaga gerbang itu.

"Istana ini mempunyai menara yang tinggi, tidak mungkin seseorang asing tersasar," sahut Ragasuci sambil menunjuk menara panggung yang menjulang.

Malam berganti, pagi itu matahari kembali mengintai bumi bersama kicau burung. Tanah Melayu terbangun jauh lebih pagi. Berbondong-bondong orang keluar menuju alun-alun istana hingga kembali sesak. Seorang kepercayaan raja dengan kata-kata yang mendayu menyampaikan pengumuman bahwa pertandingan kali ini adalah yang terakhir untuk menentukan siapa yang akan menjadi menantu Baginda Raja, memperistri putri yang cantik jelita bernama Dara Puspa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment