Chapter 49
Kali ini, Raden Wijaya tidak sekadar mengelak, tetapi balas menyerang dengan sebuah tendangan menusuk ke perut Pranjaya.
Serangan Raden Wijaya luar biasa; datangnya begitu cepat dan tiba-tiba. Terlihat Pranjaya melintirkan tubuhnya dalam keadaan melayang untuk menghindar, lalu langsung menyerang kembali begitu kakinya menyentuh pasir pantai.
Demikianlah latihan pertempuran itu menjadi semakin seru. Mereka saling menyerang seperti harimau dan raja elang yang sedang bertempur. Mahesa Amping telah melihat kelebihan Raden Wijaya dalam kecepatan gerak, padahal itu baru seperlima dari kecepatan yang sesungguhnya.
Raden Wijaya terlihat seperti kapas yang ringan, melayang ke sana kemari menghindari setiap serangan. Namun, tiba-tiba saja ia menukik begitu cepat layaknya seekor burung cikatan menyambar Pranjaya yang langsung tergagap menghindar, bahkan kadang terguling di atas pasir putih yang lembut. Butir-butir keringat membasahi wajah dan tubuh Pranjaya, sementara Raden Wijaya masih tampak segar tanpa menunjukkan kelelahan.
Datuk Belang juga melihat kelebihan Raden Wijaya dalam kecepatan geraknya. Ratusan jurus telah berlalu, beberapa pukulan kadang telak mengenai tubuh Pranjaya yang sudah tampak kotor karena berguling menghindari serangan Raden Wijaya yang datang begitu cepat di luar perhitungannya.
"Cukup, napasku sudah hampir habis," ujar Pranjaya sambil melompat ke belakang.
"Benar-benar pertandingan yang hebat," sahut Argalanang sambil berdiri mengibaskan pakaiannya yang tanpa disadari sudah banyak terkena pasir basah.
"Sebuah kecepatan gerak yang luar biasa," puji Datuk Belang. Diam-diam, ia mengagumi sosok bangsawan dari Singasari ini yang menurutnya mempunyai rasa percaya diri yang tinggi.
"Terima kasih telah membukakan mataku. Ternyata kecepatan gerakku masih terlalu lambat," kata Pranjaya kepada Raden Wijaya.
"Dua hari memang bukan waktu yang baik untuk meningkatkan kemampuan, tetapi setidaknya hari ini kita telah berlatih dengan lawan yang berbeda aliran untuk memperkaya wawasan dan pengalaman," timpal Datuk Belang.
"Benar, Ayah. Masih ada dua hari yang panjang," kata Pranjaya dengan gembira karena banyak hal yang ia dapatkan dari latihan tadi.
"Aku siap untuk menjadi lawan berlatihmu," ujar Raden Wijaya sambil tersenyum melihat semangat Pranjaya yang begitu menggebu.
Mereka pun akhirnya kembali ke rumah panggung bersama-sama. Malam telah datang bersama bulan yang belum bulat penuh, menyinari taman halaman rumah panggung yang dipenuhi rumput halus dan tanaman bunga yang terawat rapi. Beberapa anak muda tengah menikmati suasana malam di halaman itu.
"Ada beberapa lubang kelemahan yang dapat disempurnakan dari jurus pukulan harimau, bahkan bisa menjadi lebih dahsyat lagi," kata Mahesa Amping memberikan pandangannya sambil memberikan contoh gerakan.
Pranjaya memperhatikan dengan penuh semangat dan langsung ikut memperagakannya. "Luar biasa, seperti mengikuti alur air yang mengalir," puji Pranjaya sambil terus mengulang jurus baru hasil usulan Mahesa Amping. Demikianlah Pranjaya berlatih sampai jauh malam ditemani Mahesa Amping dan Raden Wijaya, sementara Lawe dan Argalanang sudah lebih dulu beristirahat di bilik yang disediakan.
"Hari sudah jauh malam, besok kita teruskan latihan kita," kata Raden Wijaya.
Malam telah larut dalam keremangannya. Bulan yang belum bulat sempurna masih terus menghiasi langit gelap bertabur ribuan bintang, menjaga bumi yang terkantuk lelah dalam irama nada bunyi binatang malam. Ketika fajar menyingsing, malam lari bersembunyi. Sayup-sayup terdengar suara ayam jantan berkokok bersahutan, kian mendekat dari arah belakang rumah panggung.
Setelah membersihkan diri di parit sungai kecil yang jernih, Mahesa Amping dan kawan-kawannya kembali naik ke pendapa. Beberapa potong ubi rebus dan minuman hangat telah menanti mereka. Dari atas pendapa, terlihat beberapa monyet bersayap melompat dan meluncur dari satu pohon pinang ke pohon pinang lainnya yang banyak tumbuh di Tanah Melayu. Sebuah peragaan alam yang sangat menakjubkan.
Pagi itu, langit di atas pantai Tanah Melayu begitu cerah. Terlihat dua sosok tubuh tengah mengadu diri, saling menyerang dan menghindar. Dua sosok itu adalah Raden Wijaya dan Pranjaya. Sementara itu, tidak jauh dari sana, Mahesa Amping, Lawe, dan Argalanang duduk menyaksikan latihan di atas pasir pantai yang kering.
"Serangan Pranjaya sudah lebih cepat dan sukar diduga, pertahanannya juga semakin rapat," nilai Mahesa Amping.
"Keluarkan seluruh kemampuanmu," perintah Raden Wijaya.
Pranjaya pun mengerahkan kekuatan di luar wadaknya; pukulannya menjadi begitu berisi, dilambari tenaga yang sangat berbahaya.
*Dessssssssss!!*
Pukulan Pranjaya menghantam telak di perut Raden Wijaya. Pranjaya tidak percaya dengan apa yang terjadi. Dirinya seperti memukul kapas, tenaganya hilang tertelan ruang kosong. Dilihatnya Raden Wijaya tersenyum memandangnya.
"Sebuah pukulan yang luar biasa," ujar Raden Wijaya sambil tersenyum, lalu kembali melanjutkan serangan yang dihindari Pranjaya dengan serangan balik. Ternyata, diam-diam Raden Wijaya mengeluarkan ajian kekebalan tubuhnya.
"Aji Rampas Putung," gumam Mahesa Amping dalam hati, mengagumi Raden Wijaya yang diam-diam telah menyempurnakan diri menguasai ilmu yang dapat meredam kekerasan dengan kelembutan.
"Seranganmu sudah jauh berbeda dari yang kemarin," kata Raden Wijaya sambil menghindari serangan yang keras dan cepat bergulung seperti ombak.
"Tapi aku seperti bertempur dengan bayang-bayang," keluh Pranjaya yang seluruh tubuhnya telah basah oleh peluh.
"Simpan tenaga wadagmu, biarkan tenaga cadangan bekerja dengan sendirinya," ujar Raden Wijaya.
"Akan aku lakukan," sahut Pranjaya mengerti.
Latihan itu pun berlangsung lebih lama daripada hari sebelumnya. Tidak terasa matahari semakin naik, membakar pasir pantai yang semakin surut. Deru ombak semakin jauh meninggalkan pantai.
"Biarkan tenaga yang ada di dalam dirimu bekerja dengan sendirinya, seperti saat kita berlenggang, seperti saat mata ini berkedip. Dari situlah bermulanya pengenalan yang Maha tak terbatas," kata Mahesa Amping kepada Pranjaya dalam perjalanan kembali ke rumah panggung.
"Terima kasih, aku sudah mulai merasakannya," jawab Pranjaya yang mulai merasakan hal baru dalam latihannya; ia bisa menyimpan tenaga wadagnya agar tidak cepat terkuras.
"Seandainya aku mengenal kalian tiga bulan yang lalu, aku akan merasa lebih siap lagi menghadapi sayembara besok," ujar Pranjaya lagi.
"Tentunya aku sudah dapat jodoh seorang gadis jelita di Tanah Melayu ini," celetuk Lawe yang disambut tawa oleh kawan-kawannya.
Ketika sampai di rumah panggung, Datuk Belang sudah menunggu di pendapa. "Lama nian kalian baru kembali, kupikir kalian telah tertidur di atas pasir pantai," sambut Datuk Belang. Hidangan telah menanti, dan mereka pun menikmatinya dengan lahap, terutama Pranjaya dan Raden Wijaya yang kelelahan setelah berlatih sejak pagi.
"Baginda Raja terkejut sekali manakala kuceritakan tentang prahara di Selat Sunda," kata Datuk Belang. Sebagai bangsawan Melayu yang bertugas di Sungai Kampar, Datuk Belang merasa prihatin dengan kejadian tersebut sehingga ia merasa perlu melapor. "Baginda Raja merasa prihatin. Prahara di Selat Sunda itu akan mengganggu kebijakannya yang selama ini menginginkan kedamaian dan persahabatan dengan kerajaan mana pun, terutama Kerajaan Nusa Jawa."
"Ternyata prahara di Selat Sunda di luar kendali Baginda Raja Melayu," kata Raden Wijaya.
"Tugas kalian adalah menyampaikan hal yang sebenarnya," ujar Datuk Belang.
"Kami akan menyampaikannya langsung kepada Pangeran Kertanegara agar Singasari tidak terpancing melakukan tindakan yang salah," tegas Raden Wijaya.
"Pelaku yang bertanggung jawab atas prahara di Selat Sunda juga harus secepatnya diungkap," tambah Mahesa Amping.
"Untuk hal itu, Baginda Raja meminta diriku langsung menanganinya sebagai tugas rahasia," kata Datuk Belang.
"Bagus Kemuning tidak berdiri sendiri," ucap Lawe.
Hari yang dinantikan pun tiba. Panggung di depan alun-alun istana Melayu sudah dipadati orang-orang dari berbagai penjuru kerajaan. Mereka berdiri berhimpit. Sementara itu, panggung khusus untuk Raja dan para undangan istimewa juga telah terisi. Tampak Baginda Raja Melayu duduk di kursi paling depan bersama para bangsawan dan undangan dari negeri tetangga. Datuk Belang, Pranjaya, Bagus Kemuning, dan Ragasuci pun telah bergabung di panggung tersebut.
Seorang kepercayaan Raja berdiri di atas panggung tempat pertandingan sayembara. Dengan suara keras, ia menyampaikan beberapa hal, di antaranya pemberitahuan bahwa peserta kali ini hanya berjumlah delapan orang dari berbagai daerah dan kerajaan terdekat, yaitu dari Kerajaan Tumasik, Kerajaan Pasai, Kerajaan Sunda, dan lima orang bangsawan Melayu sendiri.