Chapter 157
"Terima kasih, ternyata kamu memang pandai membaca perasaan hatiku," kata Wantilan dengan wajah penuh senyum.
Demikianlah, lima orang kesatria dari Padepokan Bajra Seta sepertinya telah menemukan kembali suasana pengembaraan yang telah lama mereka tinggalkan. Seperti biasa dalam setiap pengembaraan, malam itu mereka mengatur waktu secara bergiliran untuk berjaga demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Jiwa para pengembara memang selalu dipenuhi naluri kewaspadaan yang tinggi; meski dalam keadaan tertidur, mereka selalu siaga. Malam di hutan itu perlahan merayapi waktu dalam kesenyapan yang dingin, ditingkahi berbagai suara binatang hutan yang terkadang mengusik kesunyian malam.
Ternyata sepanjang malam itu tidak ada hal yang mengganggu. Ketika pagi menjelang, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke Bandar Cangu. Ditemani cahaya matahari yang terus bersinar sepanjang hari, lima orang ksatria dari Padepokan Bajra Seta memacu kudanya, menghadang angin di sepanjang jalan tanah yang berdebu. Akhirnya, ketika matahari telah bergeser sedikit ke barat, mereka telah mendekati Bandar Cangu.
"Selamat datang wahai saudaraku," kata Rangga Lawe menyambut semua yang baru saja tiba bersama Kebo Arema di Balai Tamu.
Setelah menyampaikan beberapa kata keselamatan, mereka yang baru tiba itu dijamu dan beristirahat.
"Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan bersama Senapati Mahesa Pukat," kata Raden Wijaya di tengah percakapannya.
"Aku juga sudah begitu rindu dengan Kakang Mahesa Pukat," tambah Mahesa Semu.
"Di akhir senja kita bersama ke Benteng Cangu," ujar Kebo Arema.
Demikianlah menjelang senja, mereka semua turun dari Balai Tamu menuju Benteng Cangu.
"Kakang Mahesa Murti dan semua warga Padepokan Bajra Seta menyampaikan salam untuk Kakang Mahesa Pukat," kata Mahesa Amping kepada Mahesa Pukat sambil bercerita tentang Padepokan Bajra Seta yang baru saja dikunjungi.
"Dalam kesendirian, kadang aku sangat rindu dengan kehidupan di Padepokan Bajra Seta," kata Mahesa Pukat setelah mendengar cerita Mahesa Amping.
Akhirnya mereka masuk dalam pembicaraan yang lebih mendalam, membahas beberapa hal sehubungan dengan rencana Singasari mengamankan Balidwipa.
"Seribu orang prajurit di Benteng Cangu ini dapat membantu pasukanmu," kata Mahesa Pukat kepada Raden Wijaya.
"Terima kasih, dua ribu pasukan muda Bahtera Laut dan seribu prajurit dari Benteng Cangu adalah kekuatan yang dapat diandalkan," sahut Raden Wijaya dengan gembira.
"Berapa yang kamu butuhkan untuk memperkuat pasukanmu?" tanya Mahesa Pukat kepada Mahesa Amping, adik angkatnya yang ternyata telah mengikuti jejaknya menjadi prajurit Singasari.
Sepertinya baru kemarin pemuda di hadapannya itu masih menjadi bocah kecil yang selalu dikhawatirkannya saat pertempuran pecah. Dahulu, dialah yang dengan keras mengancam Mahesa Amping kecil agar tidak keluar dan bersembunyi di bawah tumpukan lumbung padi dan jagung.
"Ada beberapa kekuatan dari Balidwipa yang dapat kuandalkan untuk membantu," ujar Mahesa Amping menyampaikan siapa saja kekuatan di Balidwipa yang akan diajak bergabung.
"Aku pernah mendengar bahwa seorang pengikut Raja Leak setara dengan sepuluh orang prajurit?" tanya Kebo Arema, ikut bangga bahwa Mahesa Amping dapat memanfaatkan para pengikut Raja Leak.
"Raja Indrakila juga telah berjanji untuk mendukung perjuangan kita," tambah Mahesa Amping mengenai daftar orang pribumi yang akan mendukung perjuangan mereka.
"Pasukan khususnya akan menjadi kunci pembuka kemenangan gelar yang akan kita turunkan di Balidwipa," kata Mahesa Pukat kepada Mahesa Amping.
"Yang harus diperhitungkan adalah mengalirnya pasukan musuh dari luar Balidwipa yang dibawa oleh para saudagar dari Tanah Hindu. Prajurit bayaran itu akan mencari tempat selain Bandar Buleleng yang telah dipenuhi para prajurit Singasari," kata Kebo Arema memberikan masukan.
"Sebelum datangnya bantuan, para prajurit bayaran itu akan berhadapan dengan pasukanmu. Hal itu perlu disiapkan dengan baik," ujar Mahesa Pukat mengingatkan Mahesa Amping untuk membuat perencanaan yang lebih matang.
"Artinya aku perlu pasukan yang kuat untuk dapat menutup bocoran-bocoran mengalirnya prajurit bayaran masuk ke Balidwipa," kata Mahesa Amping, diam-diam mengagumi ketelitian sudut pandang Kebo Arema dan Mahesa Pukat.
"Bukan cuma pasukan yang kuat, kamu juga butuh banyak mata yang terus berjaga. Tidak mustahil para prajurit bayaran itu masuk lewat penyamaran berbagai topeng," kata Kebo Arema kembali memberikan pandangan.
"Ternyata mata Sri Baginda Maharaja sangat jeli. Jauh-jauh telah berpesan kepadaku untuk membawa seorang ahli siasat seperti Pamanda Kebo Arema," cerita Mahesa Amping tentang amanat Sri Baginda Raja Singasari.
"Sebenarnya Sri Maharaja Singasari menjadi iri melihat kehidupanku sebagai pengangguran di Bandar Cangu ini, sementara kalian tengah berjuang berkeringat darah di Balidwipa," kata Kebo Arema sambil mengelus janggutnya yang panjang.
"Pamanda Kebo Arema pandai merendahkan diri. Para prajurit bayaran yang sehari-harinya sebagai perompak akan berpikir ulang manakala mengetahui nama besar Karaeng Taka menjadi lawan mereka," sahut Raden Wijaya yang mengetahui nama besar Kebo Arema di sepanjang Selat Malaka sebagai pendekar muda yang sangat ditakuti.
Terlihat Kebo Arema tidak berkata apa pun selain hanya tersenyum sambil memainkan tangannya mengelus janggut panjang yang sudah berubah dua warna. Sementara itu, langit malam di atas Benteng Cangu sudah begitu kelam, menyisakan kesenyapannya.
Pada hari berikutnya, Raden Wijaya langsung melakukan berbagai persiapan, di antaranya menyiapkan tiga ribu prajurit menjadi sebuah kesatuan yang sangat diandalkan. Yang menggembirakan lagi, seorang senapati tangguh yang dinantikan telah datang sesuai waktu yang direncanakan, yaitu Akuwu Mahesa Bungalan, salah seorang putra Mahendra, pahlawan Singasari yang sudah sangat dipercaya kesetiaan serta pengalamannya. Dialah yang dipercayakan Sri Baginda Maharaja Singasari untuk menjadi senapati prajurit Singasari yang akan berjuang membawa kewibawaan serta keagungan Singasari di Balidwipa.
Hal pertama yang dilakukan oleh Akuwu Mahesa Bungalan adalah mempersatukan semangat prajuritnya dalam satu pandangan.
"Dalam waktu dekat ini kita akan bersama menuju sebuah medan perang besar. Semboyan kita adalah tidak akan pulang sebelum membawa kemenangan besar, dan lebih memilih mati bebantenan ketimbang pulang menjadi pecundang," kata Mahesa Bungalan dengan suara yang keras penuh wibawa.
Seketika itu suasana menjadi begitu senyap, tiga ribu prajurit sepertinya menahan napas menanti apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh panglima besar mereka.
"Hari ini aku masih membuka peluang untuk kalian pikirkan. Keluar dari pasukanku hari ini adalah sebuah kehormatan daripada lari dari pasukanmu di medan perang," lanjut Akuwu Mahesa Bungalan dengan suara yang menghentak hati para prajuritnya.
Sengaja Mahesa Bungalan berhenti bicara untuk memberikan kesempatan prajuritnya berpikir. Ternyata, tidak satu pun dari tiga ribu prajurit itu yang memilih untuk keluar.
"Terima kasih telah memutuskan menjadi bagian dari pasukan besar ini," kata Mahesa Bungalan dengan bangga.
"Aku bangga ada di antara kalian, para prajurit Singasari yang akan membawa kebesaran dan keagungan Singasari, para prajurit sejati kebanggaan Singasari Raya," kata Mahesa Bungalan yang diiringi gemuruh suara tiga ribu prajuritnya.
Maka pada hari yang ditentukan itu, dua buah bahtera besar Singasari telah disiapkan untuk membawa tiga ribu prajurit menuju Balidwipa. Namun, sepekan sebelumnya, lima puluh orang prajurit telah mendahului menuju Balidwipa. Mereka adalah pasukan khusus yang dipimpin langsung oleh perwira muda Mahesa Amping yang bertugas sebagai pasukan tidur; pasukan kecil yang tidak mudah terlihat namun memiliki fungsi ganda.
Kelima puluh prajurit pasukan khusus ini berangkat secara bertahap dalam berbagai penyamaran. Tidak sebagaimana pasukan inti yang menuju Balidwipa lewat Bandar Curabhaya, mereka menuju Balidwipa lewat Sungai Porong dan menyeberang lewat muara sungai tersebut. Mahesa Amping, Kebo Arema, dan tiga orang cantrik terbaik dari Padepokan Bajra Seta berangkat dalam rombongan pertama yang tiba di muara Porong saat senja.
Kebo Arema mengajak mereka bermalam di perkampungan nelayan, di gubuk tempat tinggalnya yang sudah lama ditinggalkan. Seorang perempuan tua terbungkuk-bungkuk berjalan mendekati gubuk itu, mungkin merasa heran ada orang di gubuk yang sudah lama kosong tersebut.