Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 91

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 91

"Aku serahkan keponakanmu kepadamu. Bila di suatu waktu kudapati ulahnya yang menyusahkan sesama, maka kesalahan akan kujatuhkan kepadamu," ucap Mahesa Amping dengan lembut dan penuh wibawa.

"Aku akan berusaha mengurus keponakanku. Itu adalah hukuman teringan yang kudapat dibandingkan hilangnya nyawaku dengan tubuh hancur berdebu tanpa pemakaman," sahut Tengku Sancang seperti telah mendapatkan kembali hadiah satu nyawa untuknya.

"Kami akan berlayar ke Tanah Melayu, suatu waktu mungkin akan berlayar sampai ke tempat asalmu. Aku berharap kita berjumpa kembali dalam suasana yang berbeda, setidaknya sebagai seorang sahabat," tutur Mahesa Amping.

"Tersanjung diriku bila saja kita bertemu di tempat asalku. Aku akan memperkenalkan kepada semua kerabatku bahwa engkau adalah sahabatku. Aku akan menantikan kedatanganmu," jawab Tengku Sancang penuh kegembiraan.

"Saatnya aku menyalami seorang sahabat," kata Mahesa Amping sambil mengulurkan tangannya. Tengku Sancang menyambut dan menggenggam tangan itu dengan penuh keakraban. Banyak orang bernapas lega menyaksikan dua orang yang semula saling menyerang itu kini telah bersalaman.

"Sampai berjumpa kembali, Sahabat," ujar Tengku Sancang sambil memanggil keponakannya, Rangkayo Kamparu, untuk meninggalkan tempat itu diiringi tatapan banyak orang.

"Kamu telah menyelesaikan urusan ini dengan penuh kebijaksanaan," puji Lembu Tal yang datang menghampirinya.

"Ayahku tidak akan memaafkan dirinya bila saja kamu bernasib buruk di arena itu. Bukankah Ayah yang menyuruh Mahesa Amping turun ke arena itu?" tanya Raden Wijaya.

"Tanpa disuruh pun, aku yakin Mahesa Amping akan turun dengan sendirinya," jawab Lembu Tal berusaha mengelak.

"Sebenarnya sebelum Mahesa Amping turun ke arena, aku sudah ada niat," sahut Lawe sambil bergaya seperti layaknya seorang yang gagah. Hal itu membuat Ratu Anggabhaya, Raden Wijaya, dan Lembu Tal tersenyum serta menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan ulah Lawe yang masih senang bergurau.

Sementara itu, beberapa orang di sekitar tempat tersebut sudah berkumpul kembali untuk mengikuti sebuah upacara pernikahan.

"Kami akan merasa terhormat bilamana tuan-tuan menghadiri upacara pernikahan anak-anak kami," ujar seorang tua yang dikenal Mahesa Amping sebagai orang yang sempat disuruhnya menepi dari arena sabung ayam untuk menghindari perkelahian.

"Menyaksikan sebuah pernikahan adalah sebuah rahmat, begitulah pendeta Brahmana mengajarkan umatnya," kata Ratu Anggabhaya sembari mengajak rombongannya menerima undangan tuan rumah yang ramah tersebut.

Sebagai orang asing yang melihat upacara yang berbeda, mereka benar-benar menikmati dan menyaksikan prosesi tersebut sebagai tayangan istimewa. Hal yang sangat berkesan adalah acara berbalas pantun; semua yang hadir berusaha tampil menunjukkan keahliannya sebagai ahli pantun yang tidak pernah mau menyerah. Untungnya, keluarga calon pengantin cukup bijaksana; mereka akhirnya mengalah kepada pihak calon pengantin pria demi kelancaran puncak acara dan hidangan besar yang sangat dinantikan.

Ketika hari menjelang malam, Ratu Anggabhaya dan rombongannya berpamit diri kembali ke Bandar Sebukit untuk bermalam di sana. Bandar Sebukit memang tidak pernah tidur, sebagaimana suasana bandar besar pada umumnya. Para buruh terlihat masih memanggul barang dari jung menuju gudang penyimpanan atau datang dari arah sebaliknya.

"Hari ini kita untung besar. Dagangan yang kita bawa sudah habis terjual, berganti dengan barang dagangan yang banyak dibutuhkan di Tanah Singasari," kata Kebo Arema di anjungan tempat mereka berkumpul menghabiskan malam di Bandar Sebukit.

"Sebentar lagi lima jung Singasari telah siap berlayar mendatangi bandar-bandar besar ke timur dan ke barat, membawa berbagai barang dagangan, kembali membawa keberuntungan," ujar Ratu Anggabhaya penuh keyakinan.

"Bendahara terus menghitung harta kerajaan yang bertambah, para petani bergembira menikmati panen di tanahnya, para pedagang berkeliling membawa peruntungannya. Sementara para ksatria sepanjang hari berpesta bersama keluarganya, menjaga nagari tanpa peperangan," ucap Lembu Tal membacakan puisi karya pujangga terkenal pada zaman itu, Empu Bara Kembara.

Waktu terus berlari menggulung malam, membangunkan pagi yang terkantuk dalam selimut angin dingin. Beberapa nelayan yang semalaman suntuk menjaring udang terlihat tengah mendayung jukungnya pulang membawa harapan bagi keluarganya. Sepasang angsa berenang menyusuri tepian Sungai Musi yang mulai hangat disinari cahaya matahari pagi.

"Kita berangkat menjelang siang," kata Kebo Arema.

"Masih ada waktu menikmati pagi di Bandar Sebukit yang hangat," ujar Ratu Anggabhaya.

Sebagaimana dikatakan Ratu Anggabhaya, mereka masih sempat berjalan-jalan di sekitar Bandar Sebukit, melihat-lihat berbagai jung besar dari berbagai penjuru dunia dan bangsa. Akhirnya, ketika matahari telah hampir beranjak di puncak cakrawala, Jung Singasari meninggalkan Bandar Sebukit, hanyut terapung di atas Sungai Musi yang luas dan panjang. Terlihat gerumbul hutan hitam membatasi tepian sungai. Kadang mereka juga melintasi perkampungan nelayan dengan rumah-rumah panggung kecil berbilik kayu hitam.

"Kita akan tiba di ujung muara Sungai Musi menjelang malam. Semoga angin laut bertiup cukup bagus untuk mengantar kita sampai ke Tanah Melayu," tutur Kebo Arema menjelaskan arah perjalanan mereka.

Jung Singasari yang besar terlihat seperti kotak kayu hitam yang terapung di tengah kolam yang luas. Sungai Musi memang sangat luas; sebatang pohon kelapa yang tinggi akan terlihat kecil sebesar telunjuk jari dari seberang tepi sungai lainnya. Setelah menempuh perjalanan panjang di atas Sungai Musi, Jung Singasari mendekati muara saat hari telah gelap. Lampu suar dinyalakan di anjungan dan di buritan, sementara temali layar telah dilepaskan dan dikembangkan.

Jung Singasari melaju di atas laut purbakala dalam kelam malam dan iringan debur ombak yang saling mengejar di belakang buritan. Di bawah sisa malam, dari sisi kiri jung, daratan Swargadwipa terlihat bagai raksasa hitam yang tidur terbujur panjang. Namun, warna kelam malam bukanlah warna abadi. Perlahan, waktu mengubahnya menjadi warna merah buram menyala, hingga akhirnya fajar muncul di ujung timur bumi. Semua menjadi terlihat jelas; lengkung langit berawan kelabu di atas Bukit Barisan yang jauh berwarna biru. Barisan ombak bergiliran mencium bibir tepian pantai berpasir putih, berlatar hijau kerimbunan hutan pohon-pohon besar purbakala.

"Muara Sungai Batanghari ada di balik bukit batu karang itu," kata Kebo Arema sambil menunjuk ke arah batu karang yang menjulang tinggi.

Jung Singasari melewati bukit batu karang tersebut. Warna air laut terlihat hijau keabu-abuan sebagai tanda tidak jauh lagi akan menemui muara besar.

"Kita sudah mendekati muara Sungai Batanghari," ujar Raden Wijaya dengan gembira.

Ternyata muara Sungai Batanghari sudah begitu dekat. Terlihat tiga buah jung besar tengah memasuki bibir muara, juga beberapa jukung nelayan yang baru pulang melaut ikut meramaikan suasana. Angin laut berhembus lembut, cahaya perak sinar matahari membiaskan warna pelangi di atas air yang berwarna kehijauan. Jung Singasari memasuki bibir muara Sungai Batanghari yang lebar dan panjang. Semakin masuk ke dalam, mereka semakin banyak menemui sungai bercabang yang membelah daratan menjadi seperti gugusan pulau.

"Tanah seribu pulau, itulah nama lain untuk Tanah Melayu," ujar Kebo Arema kepada Ratu Anggabhaya sambil memperhatikan cabang-cabang sungai yang berliku.

Sementara itu, ketika matahari telah bergeser dari puncaknya, Jung Singasari mendekati Bandar Melayu. Terlihat tiang-tiang layar jung besar bergoyang dipermainkan gelombang air sungai di sepanjang dermaga. Akhirnya, Jung Singasari merapat di tepi dermaga.

"Jung raksasa itu pastilah Jung Singasari dari Bandar Cangu. Jauh lebih besar dari apa yang pernah kubayangkan," kata seorang pedagang India kepada kawannya saat melihat jung tersebut merapat.

"Dengan jung sebesar itu, aku berani mengarungi lautan yang keras," sahut kawannya.

Di atas Jung Singasari, terlihat beberapa kesibukan kecil. Para prajurit dengan cekatan melompat ke tepi dermaga, membawa tali temali untuk diikatkan pada tonggak dermaga. Di buritan, dua orang prajurit menurunkan tali jangkar, memastikan bahwa jangkar benar-benar sudah menyentuh dasar sungai.

"Kami menunggu kabar dari kalian bertiga," ujar Ratu Anggabhaya kepada Raden Wijaya, Mahesa Amping, dan Lawe yang akan turun lebih dulu.

Telah disepakati sebelumnya bahwa ketiga pemuda itu akan menjadi penghubung yang mengabarkan kepada pihak Istana Tanah Melayu bahwa utusan dari Kerajaan Singasari akan datang berkunjung untuk menyampaikan sebuah pinangan.

"Ada baiknya bila kita menemui Datuk Belang. Mungkin beliau dapat membantu serta memberikan beberapa pertimbangan," kata Raden Wijaya ketika mereka sudah hampir mendekati kotaraja Tanah Melayu.

Rumah Datuk Belang memang tidak jauh dari kotaraja. Setelah menempuh perjalanan yang singkat, mereka sampai di rumah panggung yang besar milik sang datuk.

"Mudah-mudahan beliau ada di rumah," ujar Mahesa Amping sambil melangkah mendekati anak tangga.

Seorang pria seumur Datuk Belang menyongsong mereka; ternyata dia adalah pelayan Datuk Belang yang sudah mereka kenal.

"Selamat berjumpa kembali," sapa pelayan tua itu. "Sore nanti Datuk Belang dan Pranjaya pasti kembali. Saat ini mereka masih ada di istana menghadap Sri Baginda," lanjutnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment