Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 90

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 90

"Apakah Tuan adalah orang upahan pemilik ayam cemani?" berkata Mahesa Amping ragu, melihat penampilan Tengku Sancang yang perlente juga tidak garang.

"Rangkayo Kamparu adalah keponakanku, tetapi aku berdiri di sini tidak ada urusan dengan sabung ayam ini. Aku hanya ingin mengenal lebih dekat kehebatan ilmu Manusia Dewa," berkata Tengku Sancang sambil memilin kumisnya yang panjang jatuh melebihi bibirnya.

"Aku cuma ingin meluruskan kecurangan di arena sabung ayam ini, jadi tidak ada tambahan urusan lainnya," berkata Mahesa Amping berusaha menghindari urusan menjadi panjang.

"Semakin kamu menghindar, semakin aku menjadi penasaran. Selama ini aku tidak pernah menjual ilmuku, kecuali hanya membeli siapa pun yang berani mengusikku. Tetapi kali ini biarlah aku yang datang menjual ilmu, bersiaplah!" berkata Tengku Sancang sambil mengeluarkan senjata andalannya, sebuah rencong panjang.

Mahesa Amping tidak dapat mengelak lagi, apalagi melihat orang di hadapannya telah melepas senjatanya. Adalah sebuah penghinaan meninggalkan orang yang telah menelanjangi senjatanya.

"Mudah-mudahan aku dapat membeli rasa penasaranmu," berkata Mahesa Amping yang telah bersiap diri dan tidak ada keinginan untuk mengeluarkan senjata.

"Namamu sudah melangit di sepanjang Selat Malaka setelah kejadian di Tanah Melayu, nyaris membenamkan namaku, itulah urusan yang ingin kuselesaikan hari ini," berkata Tengku Sancang.

"Ternyata ada banyak yang kalian tutupi selama di Tanah Melayu, pasti ada sebuah kejadian yang sangat luar biasa yang tidak kalian ceritakan kepadaku," berkata Lembu Tal kepada anaknya, Raden Wijaya, sambil matanya tidak pernah lepas ke tengah arena sabung ayam, di mana Mahesa Amping dan Tengku Sancang telah saling berhadapan.

"Aku sudah sering mendengar tentang kehebatan ilmu anak muda itu, tetapi baru hari ini aku melihat sendiri kehebatannya dalam bergerak yang menurutku nyaris begitu cepat, dan nyaris begitu sempurna melampaui perkiraanku semula," berkata Ratu Anggabhaya.

"Bila ada kesempatan, hamba siap menuturkan cerita selengkapnya," berkata Lawe sambil tersenyum.

Sementara itu, di arena sabung ayam, pertempuran sudah berlangsung. Tengku Sancang sudah memulai serangannya dengan langsung melayangkan rencongnya ke leher Mahesa Amping. Melihat awal serangan itu, Mahesa Amping dapat mengukur kekuatan lawan. Angin serangan itu datang begitu kuat sebagai tanda bahwa lawannya mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa. Mahesa Amping tidak berani bermain-main sembarangan. Dengan hati-hati menghindari setiap serangan dan balas menyerang. Mahesa Amping telah melapisi dirinya dengan kekuatan kasat mata. Seandainya senjata itu mengenainya tidak akan melukainya, tetapi Mahesa Amping tidak akan menyodorkan tubuhnya sia-sia. Dirinya masih bisa menyelinap dalam setiap sergapan, bahkan membalas serangan tidak kalah dahsyatnya.

Lingkaran sabung ayam sepertinya menjadi lebih luas dari semula. Abu yang beterbangan memaksa semua orang mundur dengan sendirinya. Tetapi, semua orang tidak berusaha meninggalkan tontonan yang menegangkan itu, melebihi tontonan sabung ayam yang paling seru sekalipun yang pernah mereka saksikan.

Mahesa Amping dan Tengku Sancang telah melewati ratusan jurus. Mereka pun telah meningkatkan tataran ilmunya setahap demi setahap. Pertempuran menjadi semakin seru dan begitu cepat. Kadang yang terlihat adalah dua bayangan yang saling berkelebat.

"Kamu belum mengeluarkan senjata?" berkata Tengku Sancang yang merasa diremehkan karena dihadapi Mahesa Amping tanpa senjata.

"Aku merasa belum perlu mengeluarkan senjata," berkata Mahesa Amping, membuat Tengku Sancang semakin panas mendengarnya.

"Kamu akan menyesal!" berkata Tengku Sancang sambil menerjang dengan rencongnya ke tubuh Mahesa Amping.

Mahesa Amping menyadari bahwa serangan datang dengan kekuatan berlapis, setingkat lebih tinggi dari tataran sebelumnya. Maka, Mahesa telah mempersiapkan dirinya, meningkatkan tataran ilmunya lebih setingkat lagi agar dapat mengimbangi kemampuan lawan.

Kembali terjadi pertempuran yang lebih sengit, seru, dan dahsyat dari sebelumnya. Rencong di tangan Tengku Sancang berputar keras seperti gasing, menerjang ke mana pun Mahesa Amping menghindar. Untungnya, ilmu meringankan tubuh Mahesa Amping sudah melampaui tataran tertinggi. Sambil menghindar, ia masih dapat mengancam pertahanan lawan.

"Baru kali ini aku berhadapan dengan orang yang begitu licin seperti anak muda ini," berkata Tengku Sancang yang diam-diam mengagumi ilmu Mahesa Amping yang masih saja mengimbangi perlawanannya, meskipun sudah diterapkan segala tataran kemampuannya yang tertinggi.

Tiba-tiba saja tubuh Tengku melenting ke belakang. Mahesa Amping menyadari pasti Tengku Sancang ingin berbuat sesuatu yang berbahaya. Maka, Mahesa Amping telah bersiap melepas segala kemampuannya dalam batas kesadarannya yang tinggi. Benar saja dugaan Mahesa Amping! Tiba-tiba saja tanah tempat berpijaknya terasa bergoyang. Ternyata semua orang di sekitarnya merasakan hal yang sama. Serentak semua orang dengan penuh rasa takut dan gentar berlari menjauh. Anehnya, ketika mereka menjauh, getaran tanah yang bergoyang tidak lagi mereka rasakan.

"Ilmu Aji Abu-abu," berkata Ratu Anggabhaya kepada Raden Wijaya. "Hanya orang yang mempunyai pikiran yang kuat yang mampu menggerakkan alam khayal orang di sekitarnya," berkata kembali Ratu Anggabhaya yang sepertinya tidak terpengaruh atas apa yang terjadi.

Mendengar keterangan Ratu Anggabhaya, Raden Wijaya, Lembu Tal, dan Lawe segera memusatkan alam pikirannya, menyerahkan akal dan budinya ke dalam kebesaran Sang Hyang Gusti Sejati, Gusti Yang Maha Karsa.

Sementara itu, Mahesa Amping telah dapat menguasai dirinya. Permainan pikiran sudah bukan barang asing bagi dirinya. Tetapi, Mahesa Amping adalah pemuda yang cerdas, juga cerdik. Di hadapan Tengku Sancang, ia sepertinya terpengaruh, merasakan seakan-akan dirinya terkejut atas apa yang terjadi. Terlihat Mahesa Amping seperti orang yang tengah berusaha tegak mengimbangi tanah yang bergoyang, seperti tengah terjadi gempa besar.

"Sebentar lagi namaku akan menjulang ke langit, Manusia Dewa dapat kukalahkan!" berkata Tengku Sancang sambil tertawa melihat Mahesa Amping sudah masuk dalam perangkap pikirannya.

Tengku Sancang tidak melepas kesempatan yang ada, langsung melakukan serangan sebagaimana sebelumnya, berharap pikiran Mahesa Amping menjadi bercabang dengan pengaruh tanah yang terasa bergoyang. Tetapi, Mahesa Amping ternyata masih saja dapat mengimbanginya, masih juga melakukan tekanan yang tidak kalah dahsyatnya, meskipun dengan berpura-pura terpengaruh dengan keadaan di sekitarnya sebagaimana orang yang tengah menghadapi sebuah gempa sungguhan.

Tengku Sancang merasa tidak sabaran, dihentakkan segenap kekuatan pikirannya. Maka, luar biasa dampak penguasaan alam pikiran itu. Semua orang menyaksikan angin puyuh besar menyambar tubuh Mahesa Amping dan terus mengejarnya ke mana pun dirinya menghindar. Mahesa Amping menghadapi dua serangan: serangan angin puyuh yang seperti bernyawa terus mengejarnya, juga serangan rencong Tengku Sancang yang juga sedahsyat putaran angin puyuh menyerang dan mengejarnya. Menghadapi angin puyuh, Mahesa Amping sudah menyadari sebagai sebuah kekuatan palsu yang bersumber dari kekuatan pikiran Tengku Sancang. Mahesa Amping masih berusaha bersandiwara seakan-akan terpengaruh. Namun, diam-diam ia telah menerapkan ajian yang sama. Kekuatan akal pikiran Mahesa Amping adalah kekuatan yang berlandaskan pada kekuatan alam tak terbatas. Maka, kekuatan akal pikiran Mahesa Amping, tanpa disadari oleh Tengku Sancang, berbalik telah memperangkapnya.

Tengku Sancang merasa gembira melihat Mahesa Amping telah digulung oleh angin puyuh buatannya, bahkan telah dibawa terbang tinggi. Tetapi, matanya terbelalak melihat Mahesa Amping bersama angin puyuhnya datang bersama-sama turun. Mahesa Amping seperti dewa terbang mengejar dirinya dengan kecepatan yang tidak dapat dihindari. Angin puyuh buatannya sendiri telah melemparkan dirinya terhempas jauh. Tengku Sancang seperti tidak percaya atas apa yang terjadi pada dirinya. Bermula dengan kekuatan pikirannya yang telah mampu bermain-main dengan sebuah angin puyuh buatan, namun pada saat terakhir angin puyuh itu telah menjadi nyata, berbalik menyerangnya, bahkan mampu menghempaskan dirinya terlempar jauh.

Mahesa Amping tidak mengejar Tengku Sancang yang terjengkang, membiarkan Tengku Sancang berdiri dan mempersiapkan dirinya.

"Tengku Sancang!" berkata Mahesa Amping dengan suara yang dilapisi tenaga saktinya, terdengar seperti bergema menghentakkan dada Tengku Sancang.

"Kamu tidak akan berhasil merusak pikiranku. Aku dapat mendatangkan gempa sungguhan, aku mampu membawa angin puyuh sungguhan, bahkan aku dapat membawa bongkahan hujan es yang begitu dingin yang akan membekukan jantungmu!" berkata Mahesa Amping kembali dengan suara yang telah dilapisi tenaga sakti, terasa menghentak-hentak dada Tengku Sancang.

Tengku Sancang berusaha meningkatkan ketahanan tubuhnya. Namun, hentakan suara itu sepertinya tidak mudah dibatasi, seperti langsung mencekik rongga dadanya yang terasa menjadi sesak.

"Ilmu anak muda ini memang sudah seperti dewa," berkata Tengku Sancang seperti sudah merasa putus asa, tidak ada kepercayaan diri lagi untuk melawan pemuda di hadapannya.

"Apakah pertempuran ini masih dilanjutkan?" bertanya Mahesa Amping yang berdiri tidak jauh darinya.

Tengku Sancang menatap Mahesa Amping seperti menatap seorang dewa. Dilihatnya mata Mahesa Amping seperti dua bola api yang menyala. Tengku Sancang terbelalak sampai jantungnya terasa berhenti ketika menyaksikan sendiri dari kedua bola mata Mahesa Amping keluar cahaya seperti kilat menyambar.

Tengku Sancang masih dapat bernapas lega. Cahaya kilat itu hanya menyambar sebuah batu sebesar kepala di sampingnya. Seperti tidak percaya apa yang telah dilihatnya, batu sebesar kepala itu hancur hilang, berganti sebagai serbuk debu yang beterbangan.

"Aku memang bukan tandinganmu, aku menyerah kalah," berkata Tengku Sancang sambil membayangkan dirinya yang akan menjadi sasaran dari cahaya kilat kedua mata Mahesa Amping.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment