Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 131

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 131

"Ilmu Aji Kawah Ari-Ari!" seru Guru Dewa Bakula tanpa sengaja.

"Kami bukan bayangan semu, kami adalah bayangan sejati," sahut ketiga Mahesa Amping secara bersamaan.

Guru Dewa Bakula menyangka bahwa pasti hanya ada satu Mahesa Amping yang asli. Ternyata, persangkaan Guru Dewa Bakula salah! Ketiga Mahesa Amping menghentakkan sinar dari sorot mata mereka masing-masing.

Darr!

Terdengar suara benturan keras yang bersumber dari satu jengkal di depan dan sisi kanan-kiri kaki Guru Dewa Bakula, akibat hentakan sorot mata ketiga sosok Mahesa Amping tersebut.

"Tiga buah lubang kecil itu bukan bayangan semu, silakan diperiksa," ujar Mahesa Amping sambil tersenyum.

Guru Dewa Bakula langsung memeriksa tiga bongkahan tanah dan rumput yang terangkat akibat hentakan sinar sorot mata itu.

"Gila!" seru Guru Dewa Bakula setelah memeriksa ketiga bongkahan tanah yang ternyata semuanya asli, bukan bayangan semu sebagaimana yang disangka sebelumnya.

"Aku dapat berbuat lebih keras lagi!" kata salah seorang Mahesa Amping kepada Guru Dewa Bakula.

Darrrrrrrrrr!

Tiba-tiba terdengar suara keras menghantam batu sebesar kepala kerbau yang tidak jauh dari tempat Guru Dewa Bakula berdiri. Batu itu hancur luluh berhamburan menjadi tepung yang sangat halus. Ternyata, itu adalah akibat hentakan dahsyat dari kekuatan sorot mata salah seorang Mahesa Amping.

"Tuan Pendeta, dapatkah Tuan melayani kami bertiga?" tanya Mahesa Amping yang telah kembali menjadi satu sosok tubuh.

Merinding bulu roma Guru Dewa Bakula melihat apa yang terjadi.

"Anak muda, kali ini kuakui bahwa kamu memang pantas menjadi lawan tandingku," kata Guru Dewa Bakula sambil merangkapkan kedua tangan di atas dadanya. Terlihat asap tipis keluar dari ubun-ubunnya.

"Sang Buddha meninggalkan istana," gumam Guru Dewa Bakula dengan suara berdesis, seolah berbicara kepada dirinya sendiri.

Seketika itu juga, sosok Guru Dewa Bakula tidak terlihat lagi, seolah menghilang ditelan bumi. Mahesa Amping langsung meningkatkan kewaspadaannya, memusatkan segenap panca indranya ke dalam kekuatan panca indra batin.

Beruntung Mahesa Amping telah menguatkan panca indra batinnya, karena tiba-tiba ia merasakan seleret cahaya merah mengarah ke punggungnya. Dengan cepat, Mahesa Amping melenting ke samping. Belum sempat kakinya berpijak di tanah, serangan cahaya merah kembali meluncur ke arahnya. Ia pun terpaksa menjatuhkan diri dan berguling di tanah.

Terdengar suara tawa membahana dari segala penjuru; suara tawa kegembiraan dari Guru Dewa Bakula yang merasa kali ini mampu mengalahkan lawannya. Ki Arya Sidi, Ki Nyoman, dan keempat sisya Padepokan Panca Agni tampak mencemaskan keadaan Mahesa Amping. Namun, Mahesa Amping yang dicemaskan itu telah dengan cepat berdiri tegak kembali.

Ia langsung menghentakkan kekuatan dari dalam dirinya. "Kabut datang mengiringi perjalanan Sang Buddha," ucapnya lirih.

Terperanjat Guru Dewa Bakula melihat kabut tiba-tiba turun menutupi halaman depan Padepokan Panca Agni. Siapa pun yang berada di dalamnya tidak lagi dapat melihat apa pun; batas pandang benar-benar tertutup rapat.

"Tuan Pendeta, aku dapat melihat di mana Tuan berdiri, namun Tuan Pendeta tidak dapat melihat keberadaanku," suara Mahesa Amping terdengar dari berbagai arah mata angin.

"Pantas anak muda ini begitu percaya diri. Entah apalagi yang mampu ia lakukan dengan perbendaharaan ilmunya yang lain," batin Guru Dewa Bakula yang diam-diam mengagumi kesaktian pemuda itu. Ia kembali teringat batu yang hancur menjadi tepung halus.

"Terima kasih untuk tidak meluluhkan tubuh tuaku ini menjadi tepung halus," ujar Guru Dewa Bakula, menyadari bahwa jika Mahesa Amping menginginkannya, ia sudah lama dapat dikalahkan.

Mendengar hal itu, Mahesa Amping perlahan melepas kekuatan yang memancar dari dalam dirinya. Kabut pun menipis dan menghilang seperti tertiup angin. Jarak antara Guru Dewa Bakula dan Mahesa Amping kini hanya sepuluh langkah. Mahesa Amping berdiri tegak dengan wajah penuh senyum.

"Siapakah namamu, anak muda?" tanya Guru Dewa Bakula kepada pemuda yang telah ia akui memiliki kemampuan lebih tinggi tersebut.

"Namaku Mahesa Amping," jawabnya.

"Nama yang baik. Aku mengakui kekalahanku atas dirimu," kata Guru Dewa Bakula.

Ki Arya Sidi menarik napas lega; kecemasannya selama pertempuran berganti dengan perasaan gembira karena Mahesa Amping, yang mewakili perguruannya, berhasil memenangkan pertandingan.

"Bagaimana dengan kesepakatan kita?" tanya Mahesa Amping.

"Ucapan seorang lelaki tidak dapat ditarik ulur. Mulai hari ini, seluruh sisya di Pura Indrakila kuserahkan kepadamu. Sejak hari ini, dirimu adalah guru tunggal di Pura Indrakila," jawab Guru Dewa Bakula.

Mahesa Amping tertegun sejenak. Awalnya ia hanya mewakili perguruan Panca Amping dan tidak terpikir akan menjadi guru tunggal di Pura Indrakila. Namun, ia memiliki pandangan luas. Ia tahu hampir seluruh pangeran dari berbagai pura di Balidwipa menjadi sisya di Pura Indrakila.

"Kehadiranku di Pura Indrakila dapat membantu rencana Singasari menaklukkan kekuasaan Balidwipa ini," pikirnya dalam hati.

"Aku menerima kesepakatan itu. Nantikan diriku pada bulan purnama mendatang di Pura Indrakila," ujar Mahesa Amping.

"Sejak saat ini, sebutan guru di depan namaku sudah kuhapus. Aku, Dewa Bakula, menanti kehadiranmu di Pura Indrakila," kata Dewa Bakula. Ia kemudian menjura penuh hormat kepada Ki Arya Sidi, "Berbahagialah dirimu yang mempunyai seorang saudara seperti pemuda ini. Mohon maaf bila kehadiranku telah mengganggu kenyamanan Padepokan Panca Agni."

"Semoga kesejahteraan dan keselamatan selalu menyertai Tuan Pendeta," jawab Mahesa Amping melepas kepergian Dewa Bakula.

Dewa Bakula melangkah menuju regol halaman, lalu menghilang di balik pagar batu. Matahari telah bergeser dari puncaknya, sinarnya tidak lagi terik. Awan putih bergumpal-gumpal mengisi lengkung langit di atas Padepokan Panca Agni.

"Mari kita ke pendapa menunggu Ki Nyoman menyiapkan makan siang," ajak Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping, yang telah banyak membantunya, mulai dari pertolongan melawan Raja Leak hingga kemurahan hatinya dalam meningkatkan ilmu perguruan.

Mereka pun beriringan menuju anak tangga pendapa, sementara keempat sisya telah lebih dahulu mohon diri untuk kembali ke sanggar.

"Masaknya terburu-buru, mudah-mudahan bumbunya tidak ada yang ketinggalan," ujar Ki Nyoman yang datang membawa hidangan.

"Terima kasih, Ki Nyoman. Lauk yang paling nikmat adalah rasa lapar," balas Mahesa Amping dengan senyum.

Saat menikmati makan siang, suara burung ramai melompat di ranting pohon beringin besar. Di pendapa, Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi bercakap-cakap akrab.

"Mungkin aku meminta bantuan Ki Arya Sidi," ujar Mahesa Amping.

"Bantuan apa yang bisa kulakukan?" tanya Ki Arya Sidi, belum menangkap arah pembicaraan.

"Aku telah berjanji bahwa purnama mendatang akan berada di Pura Indrakila."

"Adakah hubungannya dengan diriku?"

"Hubungannya sangat erat sekali. Pertama, kuanggap ilmu jurus perguruanmu sudah cukup baik dan sempurna. Kedua, aku tidak lama di Balidwipa ini," kata Mahesa Amping sambil menatap Ki Arya Sidi dengan senyum penuh arti.

"Aku masih belum dapat menangkap arah pembicaraanmu," ujar Ki Arya Sidi bingung.

"Aku ingin menyerahkan semua sisya di Pura Indrakila kepada Ki Arya Sidi," ucap Mahesa Amping, yang sontak membuat Ki Arya Sidi terbelalak tidak percaya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment