Chapter 134
"Gara-gara cerita masa kecilku, kulihat kalian belum juga menyentuh ancemon buatan Ki Nyoman," kata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka, mempersilakan tamunya menikmati hidangan yang telah disediakan.
Sementara itu, langit di atas halaman Padepokan Panca Agni sudah terlihat kelabu; senja telah turun memayungi bumi dalam warna beningnya. Sejauh mata memandang, warna senja telah memberikan suasana keheningan yang indah.
Seekor kelelawar terlihat terbang melayang, mungkin sudah tidak sabar berburu, meninggalkan saudaranya yang masih enggan membuka mata dan tengah tidur menggantung di dalam guanya. Hari memang belum gelap benar. Hamparan padang ilalang luas di atas puncak Bukit Pejeng Gundul itu telah dipayungi langit malam. Cahaya bulan yang tertutup awan kelabu masih memberi penerang pada setiap gerak dan bayangan yang ada.
Manakala mata telah terbiasa melihat di alam terbuka pada malam hari, di padang ilalang itu terlihat dua sosok tubuh tengah bertempur begitu serunya. Terlihat dua bayangan kembar dengan gerakan yang indah; kadang melenting, maju, dan melompat ke sana kemari. Keduanya menggunakan senjata yang sama, yakni cambuk. Mereka adalah Mahesa Amping dan Empu Dangka yang tengah asyik berlatih di malam hari.
"Permainan cambukmu sudah begitu sempurna," kata Empu Dangka sambil bergeser ke kiri menghindari sabetan cambuk Mahesa Amping. Empu Dangka tidak sekadar menghindar; cambuknya dengan cepat memutar, menyerang bagian kaki Mahesa Amping. Melihat serangan balasan yang datang begitu cepat, Mahesa Amping dengan gerakan sigap pula langsung melompat sambil menggerakkan cambuknya dengan gerak sendal pancing.
Sekejap, terlihat senyum kegembiraan dari Empu Dangka saat mendapatkan serangan balasan yang tidak terduga dari Mahesa Amping yang tertuju ke dada lawan tandingnya.
"Bagus! Gerakanmu tidak dapat dibaca," kata Empu Dangka sambil memutar badannya.
"Ilmu meringankan tubuh yang hebat," sahut Mahesa Amping yang melihat putaran tubuh Empu Dangka begitu cepat sebelum ia menyerang balik.
Demikianlah, semakin lama gerakan mereka semakin cepat. Mata kasat akhirnya tidak mampu lagi mengikuti gerakan mereka. Yang terlihat hanyalah padang ilalang yang terkuak membentuk lingkaran luas. Ternyata, setiap putaran dan sabetan cambuk mereka telah menciptakan prahara angin panas yang kuat. Ilalang di sekitar mereka terlihat hangus terbakar.
"Bagus, kamu telah dapat mengalirkan kekuatan hawa murnimu lewat setiap gerak cambukmu," puji Empu Dangka penuh kegembiraan saat merasakan angin panas menerjang dari sabetan cambuk di tangan Mahesa Amping. Kalau saja bukan Empu Dangka, mungkin ia sudah menjadi arang. Empu Dangka mengimbanginya dengan tenaga hawa dingin yang sama kuatnya.
"Gila!" seru Empu Dangka yang tubuhnya melenting keluar dari lingkaran arena ilalang yang telah hangus terbakar. Ternyata, Mahesa Amping dengan cepat menyerangnya dengan angin pukulan hawa dingin yang kuat.
"Apakah Empu Dangka sudah lelah?" tanya Mahesa Amping sambil tersenyum. Ia berdiri tegak dengan tangan kiri menjurai ujung cambuk di tengah lingkaran ilalang yang menghitam.
"Aku hanya kaget bahwa dengan cepat kamu telah mengubah tenaga hawa panas menjadi tenaga hawa dingin yang kuat. Jarang sekali orang yang dapat berbuat seperti itu, sementara bagimu hal itu dilakukan seperti sedang bermain," jawab Empu Dangka yang telah berdiri di luar lingkaran.
"Semua berkat bimbingan Empu Dangka," kata Mahesa Amping merendah.
"Aku sekadar memberikan sedikit cara, sementara di dalam dirimu telah bertumpuk segala macam aji kesaktian," balas Empu Dangka yang merasa gembira karena Mahesa Amping dengan mudah melaksanakan semua yang diajarkannya dengan hasil yang gemilang.
"Malam sudah begitu larut," ujar Mahesa Amping sambil menatap lengkung langit.
"Besok kita mencari tempat yang jauh dari jangkauan manusia. Aku ingin melihat sejauh mana engkau mampu menghentakkan puncak kekuatan dirimu lewat ilmu cambukmu," kata Empu Dangka.
"Artinya, sekarang kita kembali ke Padepokan Panca Agni untuk beristirahat. Keesokan paginya kita sudah siap mencari tempat sesuai yang Empu Dangka inginkan," sahut Mahesa Amping.
Ketika mereka sampai di Padepokan Panca Agni, Ki Arya Sidi sudah beristirahat lebih dulu karena tenaganya banyak dicurahkan untuk membimbing para siswanya sepanjang hari.
"Ki Arya Sidi sudah lama tertidur. Hari ini kulihat beliau begitu lelah hingga masih sore sudah masuk ke pembaringannya," kata Ki Nyoman sambil membawa air kendi. "Kulihat kalian juga sangat lelah," tambahnya sambil mempersilakan Mahesa Amping dan Empu Dangka untuk beristirahat.
Tidak lama kemudian, Mahesa Amping dan Empu Dangka masuk ke bilik masing-masing. Suasana pendapa Padepokan Panca Agni kembali sepi. Api pelita di sudut pendapa melenggut, cahayanya semakin surut. Di luar halaman, cahaya remang malam penuh kebisuan. Langit malam berkabut awan kelabu dengan sedikit angin bertiup sejuk membelai daun dan dahan beringin putih di tengah halaman. Malam terus berlalu mendekap wajah bumi bersama nyanyian kesunyian; lengking tenggorek yang panjang, sesekali dicuri bunyi burung hantu yang menjauh, atau suara kodok buduk yang memanggil kekasihnya.
Malam akhirnya lelah melepaskan bumi dari pelukannya dan sang fajar datang membelai bumi dengan senyum hangatnya.
"Hari ini tidurku terasa lelap," kata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka yang sudah bangun sejak pagi.
"Tidur saat lelah memang mengasyikkan. Ketika bangun, badan menjadi sangat segar," sahut Empu Dangka menanggapi. Sementara itu, Ki Nyoman terlihat membawa beberapa hidangan untuk sarapan.
"Hari ini kami bermaksud keluar dari Padepokan Panca Agni," kata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi, menjelaskan tujuannya untuk mencari tempat yang baik guna menguji kemampuan puncak ilmu cambuk Mahesa Amping.
"Apakah aku boleh ikut?" tanya Ki Arya Sidi.
"Bila Ki Arya Sidi menginginkan, kami tidak mampu melarang," jawab Empu Dangka sambil tersenyum.
"Aku dapat memberikan sebuah tempat yang baik," sahut Ki Arya Sidi dengan gembira.
"Tidak ada salahnya mengajak Ki Arya Sidi. Pasti sebagai orang asli Balidwipa, tidak ada sejengkal pun tanah di pulau ini yang belum disinggahi olehnya," kata Empu Dangka.
Sementara itu, hamparan bumi pagi sudah terlihat benderang dihangati cahaya matahari. Di halaman muka Padepokan Panca Agni, suasana mulai diramaikan oleh suara anak ayam yang mencicit mengejar induknya.
"Kami pergi tidak akan lama," pesan Ki Arya Sidi kepada para siswanya di dalam sanggar sebelum berangkat. "Berlatihlah dengan giat dan semangat," lanjutnya sambil melambaikan tangan.
Tiga orang itu melangkah keluar dari regol pintu halaman Padepokan Panca Agni. Langkah mereka terlihat begitu semangat, menjelajahi ngarai, jurang, dan bukit.
"Langkah kita mengarah ke matahari terbenam," kata Ki Arya Sidi.
"Mudah-mudahan pemandu kita tidak lupa arah," canda Mahesa Amping sambil tersenyum.
Ketika mereka menuruni sebuah lembah, matahari terlihat mengiringi di belakang mereka. Namun, manakala mereka memasuki sebuah kademangan yang cukup ramai, matahari sudah berlari mendahului mereka dan bergantung di puncak langit. Hari pun terasa sangat terang dan panas menyengat.
"Kita sudah ada di Kademangan Pejeng yang ramai," kata Ki Arya Sidi ketika mereka tiba di sebuah perempatan. Terlihat di ujung jalan sebuah pasar yang masih ramai karena hari itu adalah hari pasaran.
"Mari kita manjakan perut kita," ajak Empu Dangka ke sebuah kedai makanan.
Saat mereka masuk, seorang pelayan tua menghampiri dan menunjukkan tempat kosong.
"Sediakan masakan terbaik di kedai ini," pinta Ki Arya Sidi.
"Hari ini kami menyediakan masakan Lawar Ayam dan Jukut Mapelencing," jawab pelayan itu.
"Tambahkan brem untuk kami," sahut Ki Arya Sidi.
"Ada lagi?" tanya pelayan tua itu.
"Lawarnya jangan terlalu pedas," pesan Ki Arya Sidi.
"Dan jangan pakai lama," sambung Mahesa Amping yang disambut tawa oleh Ki Arya Sidi dan Empu Dangka.
Ternyata pesanan mereka tidak menunggu terlalu lama. Pelayan tua itu datang membawa makanan dengan senyum lebar.
"Sebagaimana pesan Tuan, masakan kami memang tidak pakai lama," kata pelayan itu.
"Ucapan kami tadi cuma bercanda," kata Mahesa Amping sambil mengangguk dan tersenyum.
Setelah pelayan tua itu pergi ke belakang, Ki Arya Sidi, Mahesa Amping, dan Empu Dangka pun mulai menikmati makan siang mereka.