Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 142

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 142

"Hari sudah malam, mari kita masuk untuk beristirahat," kata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

Semilir angin malam membasuh dedaunan dan ranting pepohonan di sekitar Bale Guru Pura Indrakila. Cakrawala langit terlihat sedikit berkabut; tidak ada satu pun bintang yang tampak. Itulah pertanda alam akan datangnya hujan.

Tidak lama kemudian, hujan pun turun. Hujan tidak begitu deras, hanya rintik-rintik gerimis yang mengisi sisa hari yang panjang hingga datangnya pagi. Gerimis turun merata hampir di seluruh Balidwipa, termasuk mengguyur Bukit Pejeng Gundul.

Pagi itu, enam orang lelaki terlihat tengah berjalan menuju regol gerbang Padepokan Panca Agni.

"Kutitipkan padepokan ini kepadamu," kata Ki Arya Sidi sambil memeluk erat Ki Nyoman, orang yang selama ini begitu setia melayani dirinya.

"Semoga Tuan dapat menjaga kesehatan," hanya itu yang terucap dari bibir Ki Nyoman. Tenggorokannya terasa tersumbat sehingga tidak mampu mengatakan hal lain.

"Jarak Pura Indrakila tidak begitu jauh. Bila ada waktu, datanglah ke sana," ujar Ki Arya Sidi seraya melepaskan pelukannya.

Ki Arya Sidi bersama keempat siswanya berjalan menjauhi Padepokan Panca Agni, diiringi tatapan mata Ki Nyoman, sang pelayan tua yang setia. Akhirnya, kelima orang yang selama ini dilayaninya itu menghilang di sebuah jalan menurun.

"Mereka adalah orang-orang baik. Bumi akan menerima mereka di mana pun tanah dipijak," gumam Ki Nyoman sambil menarik napas panjang untuk meredakan kesedihan hatinya.

Hari itu adalah hari pasaran ketika mereka mendekati sebuah pasar di padukuhan yang mereka lewati. Sementara itu, matahari pagi terlihat begitu terang memancarkan cahayanya.

"Sudah lama rasanya tidak minum dawet," kata Dewa Ketut Akasa saat melihat penjual dawet di muka pasar.

Ki Arya Sidi tersenyum mendengar siswa terkecilnya itu berbicara tentang dawet. "Mari kita mampir sejenak merasakan nikmatnya dawet," ajak Ki Arya Sidi kepada para siswanya.

Bukan main gembiranya Dewa Ketut Akasa mendengar gurunya memberikan kesempatan untuk mampir.

"Buatkan kami empat mangkuk, Pak Tua," kata Wayan Dewa Bayu, siswa tertua di antara mereka berempat.

Pak Tua penjual dawet tampak terampil meracik pesanan. Gula aren dan santan disiapkannya dalam wadah terpisah. Dewa Ketut Akasa menelan ludah saat melihat Pak Tua menuangkan gula aren cair ke dalam mangkuk satu per satu.

"Silakan dinikmati," ujar Pak Tua penjual dawet.

"Kurang satu," kata Nyoman Dewa Teja yang terlihat sangat teliti.

"Tadi pesannya empat mangkuk," sahut Pak Tua penjual dawet.

"Aku yang salah, aku memesan empat mangkuk yang seharusnya lima," kata Wayan Dewa Bayu mengakui kesalahannya.

"Biarlah aku yang menunggu pesanan terakhir," ujar Made Dewa Apah, siswa kedua yang terlihat bijaksana dan sering mengalah.

Ki Arya Sidi diam-diam tersenyum melihat keberagaman watak keempat siswanya. "Sikap ksatria telah terlihat dalam diri mereka," batin Ki Arya Sidi sambil menikmati dawet yang terasa begitu nikmat.

Ketika mereka sedang menikmati minuman, tiba-tiba seorang anak kecil sebaya Dewa Ketut Akasa berlari ke arah mereka sambil menangis.

"Paman, hasil penjualan taliku dirampas semuanya," adu anak itu kepada Pak Tua penjual dawet.

"Mengapa kamu tidak melawannya?" tanya Pak Tua penjual dawet dengan nada kesal.

"Mereka terlalu besar untuk dilawan," jawab anak itu masih sambil menangis.

"Apa yang terjadi, Pak Tua?" tanya Nyoman Dewa Teja penasaran.

"Anak ini adalah keponakanku. Setiap hari pasaran, ibunya membuat tali dari pelepah pisang untuk dijual di pasar ini. Anak inilah yang menjualnya. Namun, seperti kemarin, anak-anak berandal telah merampas hasil penjualannya," jelas Pak Tua penjual dawet.

"Itulah mereka yang telah merampas hasil..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment