Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 94

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 94

Waktu akhirnya datang mengubah warna cakrawala lengkung langit, mendatangkan pagi bersama sang fajar yang masih malu bersembunyi mengintip di ujung bumi.

Kicau burung di atas kuil Muaro seperti nyanyian pagi yang merdu telah membangunkan penghuninya.

Embun pagi di ujung rumput hijau seperti butiran mutiara menggeliat dibelai sang surya yang sudah merata menyirami cahayanya, mengusir sisa-sisa dingin malam.

"Perbaktian kepada Sang Hyang Tunggal tidak terbatas tempat dan waktu. Di mana pun wajahmu berpaling, di mana pun dirimu berdiri, kamu dapat melakukan persembahan dalam bakti," kata Empu Matren kepada Dara Kencana yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri.

"Semoga kesejahteraan selalu membimbing perjalanan kalian," kata Empu Matren ketika Mahesa Amping, Dara Kencana, dan Pranjaya telah bersiap di atas jukungnya.

Sebuah jukung meluncur membelakangi kuil Muaro, diiringi puluhan mata yang terus mengikutinya hingga akhirnya menghilang tidak terlihat lagi di persimpangan cabang sungai yang berkelok.

Dua orang pemuda tengah mengayuh jukungnya menyusuri anak sungai Musi yang berkelok-kelok, dilindungi hutan kayu yang rimbun. Seorang dara cantik duduk di antara mereka, menatap ke depan, membiarkan angin pagi meniup rambutnya yang terbang terurai. Mahesa Amping, Pranjaya, dan Dara Kencana tengah melakukan perjalanan di atas sebuah jukung di pedalaman sungai hutan belantara yang kelam.

Baru ketika matahari sudah merayap tinggi mengintip di sela-sela daun dan batang pohon kayu hutan yang rapat, jukung mereka keluar dari anak sungai Musi, masuk dalam perairan sungai Musi yang luas dan panjang. Terlihat dua buah jung besar beriringan melawan arus sungai purbakala itu.

"Mereka telah kembali," kata Ratu Anggabhaya dari anjungan, melihat sebuah jung merapat di dermaga.

"Seorang putri yang cantik luar biasa," kata Lembu Tal yang melihat seorang gadis bersama Pranjaya dan Mahesa Amping berdiri di atas jukung, melangkah menjejakkan kakinya di ujung bibir dermaga.

Sementara itu, Raden Wijaya dan Lawe sudah turun lebih dahulu, langsung menyongsong kedatangan sahabatnya itu dan menggiringnya dengan berbagai pertanyaan.

"Berkat doa kalian semua, perjalanan kami diberikan banyak kemudahan," kata Mahesa Amping sambil menjawab beberapa pertanyaan Lawe.

"Akan lebih baik bila ceritamu disimpan dulu. Mungkin akan terasa nikmat bila ceritamu mengalir bersama minuman segar dan sepiring lemang berkuah gulai," kata Raden Wijaya yang memaklumi kelelahan dua orang sahabatnya serta Dara Kencana yang baru tiba dari perjalanan panjangnya.

Mereka pun terlihat menuju ke sebuah kedai langganan di simpang jalan yang ramai.

"Mudah-mudahan kami tidak ketinggalan alur cerita," kata Ratu Anggabhaya yang menyusul kemudian bersama Lembu Tal dan Kebo Arema.

"Cerita belum dimulai, menunggu datangnya nasi lemang berkuah gulai," kata Lawe dengan garis wajah yang selalu penuh keceriaan.

Sambil menikmati hidangan yang disediakan di kedai itu, Mahesa Amping bercerita seputar perjalanannya ke kuil Muaro dan perjumpaannya dengan Empu Matren. Sebelum memulai ceritanya, Mahesa Amping memperkenalkan Dara Kencana kepada semua yang ada di kedai itu.

"Jadi kalian semua berasal dari Tanah Singasari?" tanya Dara Kencana yang sudah mulai tidak merasa canggung lagi.

Sementara itu, mentari di atas Bandar Sebukit telah bergeser surut, angin membawa pergi awan hitam berkabut jauh ke hilir sungai. Seiring perjalanan waktu yang terus berlalu, sebuah iring-iringan kecil terlihat tengah berjalan membelakangi Bandar Sebukit. Iring-iringan itu menjadi perhatian banyak orang sepanjang jalan antara Bandar Sebukit menuju Kotaraja.

"Di antara mereka pasti ada seorang pembesar dari Kerajaan Singasari," kata seseorang yang nampaknya banyak mengenal berbagai tanda kebesaran kerajaan kepada seorang kawannya, ketika iring-iringan kecil bersama sekitar sepuluh orang prajurit yang membawa berbagai umbul-umbul kebesaran kerajaan Singasari melewati mereka.

Jarak antara Bandar Sebukit dengan Kotaraja memang tidak begitu jauh. Kotaraja, tempat istana Tanah Melayu, adalah sebuah dataran perbukitan yang cukup luas dikelilingi sungai, salah satunya adalah Sungai Musi.

Tribhuwanaraja dan permaisurinya menyongsong kedatangan iring-iringan kecil itu di depan pintu gerbang istana yang sudah diberitahukan terlebih dahulu lewat beberapa utusan. Dara Kencana telah dipertemukan kembali kepada orang tuanya. Sebuah pertemuan yang sangat mengharukan. Terlihat sang permaisuri memeluk erat putri sulungnya yang terkasih, sepertinya tidak ingin melepaskannya lagi.

"Aku tidak bermimpi, aku memang tidak sedang bermimpi," kata sang permaisuri sambil terus memeluk putrinya.

"Ibunda tidak bermimpi," kata Dara Kencana berusaha mengendalikan perasaan hatinya yang ikut terbawa arus keharuan.

"Kembalinya kedatanganmu membawa karunia kebahagiaan untuk kami," kata Tribhuwanaraja sambil memeluk Mahesa Amping sebagai ungkapan rasa terima kasihnya.

Iring-iringan dari Kerajaan Singasari disambut penuh kehormatan dan keramahan. Mereka dijamu di rumah panggung serapat, sebuah tempat khusus Baginda Raja menerima dan menjamu para pejabat istana serta tamu-tamu terhormatnya.

"Sempurnalah segala suka cita kegembiraan kita, aku akan meminang dua orang putra kalian untuk kedua putri tercintaku, Dara Petak dan Dara Jingga," kata Tribhuwanaraja di sebuah perjamuan.

"Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Dengan segenap penghormatan yang besar mendapatkan karunia pinangan dari penguasa Tanah Melayu yang besar, kami menyerahkan kedua putra kami," kata Ratu Anggabhaya mewakili kepala keluarga pihak lelaki menerima pinangan Tribhuwanaraja.

"Lain ladang lain pula ilalang, kami pun menerima persimpangan adat di antara kita sebagaimana keluasan hati tuan-tuan yang menerima persimpangan adat yang berbeda dengan hati lapang. Untuk dan atas nama darah persaudaraan yang abadi, kami serahkan putri terkasih Dara Kencana sebagai kapur sirih dan pinang hiasan kasih sayang, menerima pinangan sang penguasa Singasari Raya," kata Tribhuwanaraja menerima pinangan utusan Kerajaan Singasari yang diwakili langsung oleh Ratu Anggabhaya.

Gending gamelan kebahagiaan sepertinya mengiringi suara hati dalam kecap suka cita perjamuan di atas rumah panggung serapat itu. Sepekan kemudian dilangsungkan sebuah upacara pernikahan yang dilanjutkan dengan perayaan besar selama tujuh hari tujuh malam, dihadiri segenap warga, pembesar istana, seluruh raja bawahan Kerajaan Melayu Raya, dan beberapa utusan kerajaan sahabat terdekat.

Di dalam catatan kuno seorang pujangga pengembara, perayaan besar itu terjadi di pertengahan musim penghujan. Pada saat itu para pelaut memenuhi daratan, mendamparkan sauh di bandar-bandar besar yang ramai menanti datangnya musim panas kembali, memanggil kerinduan para pelaut untuk mengembangkan layar menyusuri pesisir pantai, menembus selat raya, dan mengarungi samudera.

Selama tinggal di Istana Melayu, Mahesa Amping dan Raden telah banyak memberikan perubahan yang berarti, terutama dalam peningkatan tataran ilmu para prajurit Tanah Melayu. Bersama Pranjaya, mereka telah melatih sepasukan prajurit khusus. Pengalaman mereka sebagai pelatih para prajurit muda pengawal jung Singasari di Bandar Cangu telah mengajarkan mereka berbuat lebih baik lagi dalam meningkatkan kemampuan para prajurit di tanah Melayu, baik secara perorangan maupun kemampuan di medan perang secara berkelompok.

Sementara itu, Ratu Anggabhaya, Lembu Tal, dan Kebo Arema banyak mengisi waktu mereka berkunjung ke rumah Datuk Belang. Hampir sepanjang malam mereka terlihat terlibat dalam pembicaraan yang hangat, melupakan kejemuan. Datuk Belang adalah tuan rumah yang baik, yang mendapatkan kunjungan para tamu yang baik pula. Sepanjang malam, rumah panggung besar itu tidak pernah sunyi dari kehangatan dan kegembiraan.

Di atas langit, ribuan burung pengembara terbang ke arah selatan; itulah bahasa alam bahwa pergantian musim penghujan akan segera tiba.

"Semoga persaudaraan kita abadi," kata Tribhuwanaraja menyampaikan salam perpisahannya kepada iring-iringan kecil yang dipimpin langsung oleh Ratu Anggabhaya.

"Kesetiaanku adalah penantian kesabaran yang abadi, doa keselamatan akan selalu kupanjatkan untuk Kakang Wijaya," kata Dara Petak melepas suaminya, Raden Wijaya.

"Terbanglah, tempatmu adalah puncak-puncak gunung tinggi di belantara samudera raya. Aku akan menjaga putramu, membesarkannya untuk dapat membawaku pergi mencari jejakmu," kata Dara Jingga kepada Mahesa Amping penuh senyum kebahagiaan, tidak ada air mata setetes pun. Dara Jingga tidak menginginkan kesedihannya membawa keraguan langkah suaminya.

Siang itu, Jung Singasari terlihat perlahan bergerak meninggalkan dermaga Bandar Sebukit mengikuti aliran sungai Batanghari yang hangat disinari matahari musim panas yang cerah. Senja telah menanti Jung Singasari di muara besar sungai Batanghari. Layar pun terlihat telah terkembang membawa Jung Singasari menyusuri pantai Swarnabumi yang damai. Setelah dua hari dua malam berlayar di lautan, mereka melewati muara sungai Musi. Terlihat Jung Singasari tengah mengarah ke Pulau Banca.

"Pulau Banca adalah tempat persinggahan yang tepat untuk mengisi persediaan air tawar dan pangan kita selama berlayar," kata Kebo Arema menjelaskan mengapa harus singgah di Pulau Banca.

Demikianlah, mereka bersandar di dermaga Pulau Banca.

"Selamat datang, saudaraku," kata Gagak Seta, juragan besar Pulau Banca, menyambut kedatangan mereka.

"Musim melaut telah kembali, kulihat banyak jung besar bersandar di pulaumu," kata Kebo Arema kepada Gagak Seta.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment