Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 109

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 109

Malam itu, para penduduk boleh bernapas lega sebab mulai malam itu Mahesa Rangga melarang anak buahnya turun gunung. Mereka harus beristirahat karena di siang harinya wajib melakukan latihan di bawah bimbingan langsung dari Mahesa Rangga.

Demikianlah, ketika malam mulai merayap, beberapa orang yang masih berkerumun satu per satu bergeser masuk ke pembaringannya. Akhirnya, ketika pertengahan malam, suasana di sekitar gubuk-gubuk itu sudah begitu sepi; semua penghuninya telah tertidur. Hanya beberapa peronda yang bertugas di malam itu sesekali berkeliling untuk memastikan tidak ada sesuatu yang mungkin membahayakan.

Suasana tanah datar tempat gerombolan Mahesa Rangga yang tenang dan sepi itu tiba-tiba saja berubah seratus delapan puluh derajat, dimulai dengan sebuah panah api sanderan yang terlihat membumbung tinggi. Itulah tanda pasukan panah api dari para prajurit Singasari yang sudah lama mengepung hunian itu beraksi. Dari tangan mereka meluncur anak panah berapi menghujani gubuk-gubuk beratap daun alang-alang yang mudah terbakar.

Paniklah para penghuni gubuk-gubuk itu. Mereka berlari keluar menyelamatkan diri dari kobaran api yang dalam sekejap sudah menjalar memakan tiang dan dinding pagar. Beberapa orang tidak sempat membawa senjata, namun sebagian lagi adalah orang-orang yang memiliki kesiagaan kuat; mereka sudah menyadari ada musuh yang akan menyergap.

Para prajurit Singasari tidak menyia-nyiakan keadaan lawan yang tengah panik. Dari kegelapan malam, mereka bermunculan dan langsung menyerang gerombolan Mahesa Rangga. Akibatnya sudah dapat ditebak, beberapa orang yang tidak sempat membawa senjata langsung menjadi bulan-bulanan para prajurit Singasari dan dalam waktu singkat dapat dilumpuhkan. Sementara itu, beberapa orang yang sudah siap membawa senjata terlihat dapat bertahan mengimbangi serangan para prajurit.

Belum sempat para prajurit Singasari menguasai gerombolan yang panik dan terjepit, tiba-tiba saja dari rumah jati meluncur sesosok tubuh yang langsung menerjang beberapa prajurit. Terlihat di tangannya sebuah cambuk pendek berputar ke sana kemari. Siapa pun yang dekat dengannya terlempar dan terluka oleh sabetan cambuknya.

"Aku lawanmu," kata Mahesa Amping kepada orang itu yang ternyata adalah Mahesa Rangga, sang ketua.

"Bukankah kamu si pandai besi itu?" tanya Mahesa Rangga sambil berdiri menghadap Mahesa Amping.

"Mulai hari ini aku sudah pensiun," jawab Mahesa Amping sambil tersenyum.

"Sebentar lagi kamu akan pensiun hidup," sahut Mahesa Rangga sambil memegang ujung cambuknya.

"Empu Nada berpesan untuk berhati-hati menghadapi senjata cambukmu," ujar Mahesa Amping.

"Sudah kuduga, pasti ulah orang tua itu yang membawa pasukan Singasari datang ke hutan ini," kata Mahesa Rangga dengan kemarahan yang terlihat dari kilatan matanya.

"Empu Nada sudah berbuat sesuai kata hatinya," jawab Mahesa Amping.

"Kata hati seorang yang menerima keadaan, kata hati seorang yang tidak punya cita-cita dan keinginan," sergah Mahesa Rangga.

"Keinginanmu terlewat tinggi," balas Mahesa Amping, mencoba memancing kemarahan Mahesa Rangga.

Ternyata pancingan itu mengenai sasaran. "Kamulah tumbal pertama cita-citaku!" seru Mahesa Rangga sambil melepaskan gerakan menyentak, menyerang dengan cambuknya ke arah Mahesa Amping.

*Tar!* Terdengar suara cambuk mengenai tempat kosong karena Mahesa Amping berhasil bergeser ke belakang. Namun, ia masih merasakan getaran kekuatan tenaga cambuk sebagai tanda pemiliknya mempunyai tenaga cadangan yang kuat. Ternyata cambuk itu seperti bermata; ke mana pun Mahesa Amping menghindar, cambuk itu terus mengejarnya. Mahesa Amping sepertinya telah menjadi bulan-bulanan orang bercambuk itu.

Sementara itu, para prajurit Singasari masih terus mendesak gerombolan lawan yang berkelahi dengan cara kasar, baik gerakan maupun ucapannya.

*Trang!* Dua buah pedang beradu dengan keras. Salah satunya terlihat patah. Itulah pedang buatan usulan Mahesa Amping yang rapuh.

*Trang! Trang!* Beberapa senjata beradu dengan keras, dan hasilnya adalah sumpah serapah dari beberapa anak buah Mahesa Rangga yang kecewa dengan senjata barunya.

"Senjata jelek!" maki orang itu sambil melempar golok besarnya yang sudah patah.

"Menyerahlah!" gertak seorang prajurit Singasari kepada lawannya yang sudah tidak bersenjata.

Di waktu yang sama, Mahesa Amping dan Mahesa Rangga terlihat bertempur semakin seru. Mahesa Amping telah mengubah siasat berkelahinya; ia tidak lagi terus menghindar, tetapi sesekali berbalik menyerang masuk ke pertahanan lawannya. Bukan main kagetnya orang bercambuk itu mendapatkan serangan balik dari Mahesa Amping yang begitu cepat serta tidak terduga.

Terlihat Mahesa Rangga telah bergeser beberapa langkah ke samping, menghindari serangan belati pendek Mahesa Amping yang terus mengejarnya. Namun, Mahesa Rangga adalah orang yang telah digembleng langsung oleh Empu Nada hingga mencapai tataran tingkat tinggi. Maka, sambil bergeser menjauh, ia kembali menyerang dengan cambuknya secara melingkar.

Pertempuran antara dua Mahesa ini semakin seru dan menegangkan. Pertempuran menjadi cepat dan kuat, masing-masing telah mengeluarkan seluruh kemampuannya, meningkatkan tataran ilmu selapis demi selapis.

Sementara itu, para prajurit Singasari yang dipimpin oleh Raden Wijaya dan Lawe, dibantu dua cantrik utama Padepokan Bajra Seta yaitu Sembaga dan Wantilan, telah hampir dapat menguasai lawannya.

*Trang! Trang!* Dua buah pedang kembali terlihat patah. Sumpah serapah pun kembali terdengar.

"Senjata setan!" umpat dua orang anak buah Mahesa Rangga.

"Menyerahlah!" kata Lawe kepada lawannya yang hanya memegang sisa senjata yang sudah patah setengah.

"Setengah pedangku ini masih lebih panjang dari belatimu," sahut orang itu sambil menyerang, membabat leher kepala Lawe.

Lawe bukan lagi anak muda biasa; keterampilan kanuragannya telah dilambari tenaga cadangan. Maka, sambil merendahkan tubuhnya, ia membiarkan pedang patah itu lewat di atas kepalanya, lalu membenturkan belatinya ke senjata tersebut.

*Trang!* Kali ini pedang lawan kembali patah hingga hampir mendekati gagangnya.

"Apakah kamu masih belum juga menyerah?" tanya Lawe sambil menggoyang-goyangkan belatinya, ingin menunjukkan bahwa senjatanya sekarang jauh lebih panjang daripada pedang lawan yang hanya tersisa gagangnya saja.

"Pedang murahan!" teriak orang itu sambil melempar gagang pedang ke wajah Lawe.

Untungnya Lawe selalu waspada. Hanya dengan memiringkan kepalanya, gagang pedang itu lolos beberapa senti dari wajahnya.

*Plok! Plok!* Tangan Lawe yang sudah tidak sabaran telah dua kali menampar kanan dan kiri wajah lawannya. Tamparan itu ternyata sangat kuat dan keras. Lawan Lawe langsung roboh dengan kepala terasa berkunang-kunang, jatuh rebah ke tanah, mungkin telah pingsan.

Sementara itu, Mahesa Amping dan Mahesa Rangga masih bertempur sengit. Dua senjata yang mereka miliki mempunyai perbedaan mencolok: cambuk harus dimainkan dengan jarak yang cukup, sementara belati pendek harus menyerang pada sisi yang dekat. Mahesa Rangga berusaha mencari jarak agar serangannya mengenai sasaran, sementara Mahesa Amping berusaha mendekat agar belati pendeknya mudah mencari sasaran.

Mereka meningkatkan tataran ilmunya lebih tinggi lagi, bergerak lebih cepat. Pertempuran kedua orang berilmu ini sudah tidak mudah disimak; mereka seperti tidak menginjak bumi lagi, terbang melenting, melesat, dan melejit. Begitu cepatnya hingga hanya terlihat bayang-bayang yang tersamar.

Lecutan cambuk Mahesa Rangga sudah tidak terdengar lagi, justru getarannya yang merangsek, menyesakkan dada. Mahesa Amping menyadari hal itu dan diam-diam telah melambari kekuatan kekebalan tubuhnya.

"Gila anak muda ini," kata Mahesa Rangga dalam hati melihat Mahesa Amping tidak terpengaruh sama sekali dengan lecutan cambuk yang telah dikerahkan dengan kekuatan ilmu puncaknya.

Beberapa lawan tandingnya selama ini sudah langsung rontok isi dadanya hanya dengan satu hentakan cambuk. Namun, Mahesa Amping tidak terpengaruh apa pun, bahkan dengan cepat merangsek mendekatinya dengan serangan belati yang berbahaya.

Tiba-tiba saja Mahesa Rangga melompat menghindar jauh. "Senjata ini tidak dapat berbuat banyak," katanya sambil melilitkan tali cambuk di pinggangnya.

"Agar seimbang, aku juga tidak memerlukan senjata," balas Mahesa Amping sambil menyimpan belati pendeknya di balik kain.

"Aku ingin mengukur sejauh mana kekuatanmu, anak muda," kata Mahesa Rangga yang langsung menerjang Mahesa Amping dengan sebuah tendangan.

Mahesa Amping menyadari bahwa di ujung serangan itu ada angin yang mendesis begitu panas. Ternyata Mahesa Rangga telah mengeluarkan ilmu pamungkasnya, menyerang dengan pukulan angin panas. Untungnya, Mahesa Amping memiliki kekuatan tersembunyi yang selalu melindungi segala bahaya. Kekuatan itu keluar dengan sendirinya, meredam hawa panas tersebut dengan hawa dingin yang muncul seketika.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment