Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 02

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 02

Akibat ancaman terhadap pemilik perahu lain yang berpotensi bangkrut jika tidak mengimbangi sistem bagi hasil Cu-wangwe, mereka terpaksa menetapkan bagi hasil baru yang sama dengan Cu-wangwe. Hal ini tentu saja mengorbankan para nelayan, yang semakin terhimpit. Orang kecil biasanya mudah dipermainkan oleh orang besar dan kuat.

Ketika nelayan terpaksa menerima alasan para juragan, para juragan perahu tertawa di balik rumah mereka karena berhasil menyelamatkan keuntungan mereka, tanpa memedulikan nasib anak buah mereka.

Namun, Cu-wangwe kembali membuat gebrakan. Ia tiba-tiba membuat peraturan baru tentang bagi hasil, yaitu empat banding satu, bukan tiga banding satu. Alasannya adalah persaingan harga yang ketat dengan juragan lain, persaingan yang tidak sehat. Hartawan ini mengandalkan posisinya yang kuat untuk menekan para buruhnya lagi. Ia membuat peraturan empat banding satu. Siapa yang tidak suka boleh pergi, karena pasaran buruh sedang melimpah. Hartawan ini mulai sewenang-wenang dengan kekayaannya.

Ketika keputusannya membuat gempar dan gelisah para buruhnya, A-liok kembali memprotes. "Kami rasanya tak sanggup lagi bekerja, wangwe. Mana mungkin kami hanya menerima seperlimanya saja? Sedang menerima seperempat saja kami sudah mulai tertimbun utang, apalagi seperlima!"

"Hmmm, aku sudah bilang jika kalian tak suka boleh pergi, A-liok. Aku tidak memaksa atau menyuruh kalian. Juragan ini membanting harga ikannya, apakah aku harus ikut dengan menjual harga tinggi yang berakibat tidak laku? Tidak. Aku terpaksa melakukan ini, aku perlu menyelamatkan hartaku dan hidupku. Ini persaingan ketat, aku tak mau kalah!"

"Tapi kami menjadi korban, kami seakan diperah!"

"Siapa memerah kalian? Kalau tak suka boleh pergi, A-liok. Jangan macam-macam dan membantah!" Cu-wangwe malah melotot, menatap nelayannya itu dan meninggalkannya pergi.

Kata-kata itu membuat telinganya marah. Ketika hartawan itu masuk rumah, ia menyumpah nelayan ini, maka A-liok termangu-mangu dan lagi-lagi tidak bisa bicara.

"Kalian mau, kawan-kawan?" tanyanya lirih. "Bisakah kita hidup dengan pembagian yang semakin menyolok itu?"

"Habis apa yang dapat kita lakukan? Kita buruh kecil selamanya susah, A-liok. Kita terima saja dan serahkan nasib kepada Tuhan!"

Omongan ini menghentikan pergunjingan. Memang itu seakan hiburan akhir bagi mereka, menyerahkan nasib kepada Tuhan. Biarlah Tuhan mengatur hidup mereka dan mereka bekerja lagi.

Karena para nelayan ini menerima dan Cu-wangwe menekan harga ikannya lagi, para pemilik perahu yang lain terbelalak merasa dipukul. "Cu-wangwe melakukan bagi hasil macam itu? Wah, kita celaka, teman-teman. Bisa bangkrut dan gulung tikar kita nanti. Apa boleh buat, tentu kita pun harus mengerti dan kita mengikuti tindakan Cu-wangwe itu!"

Buruh nelayan di tempat lain dihantam. Mereka diberi tahu perobahan itu, bahwa masing-masing majikan mereka terpaksa mengimbangi jejak Cu-wangwe, ikut-ikutan membuat bagi hasil empat banding satu. Tentu saja ini mengejutkan dan membuat nelayan tersirap. Jerat di leher mereka kian ke atas, sedikit ke atas lagi mereka bisa menggelepar. Ah, orang kecil memang susah.

Ketika mereka terpaksa menerima dan banting-membanting harga terjadi di pasaran ikan, Cu-wangwe dan saingannya pukul-memukul di balik tabir, sementara kaum nelayan akan tercekik dan putus asa, dihantam lagi gelombang permainan para majikan yang turun-menurunkan harga, semuanya selalu dimulai Cu-wangwe.

Agaknya hartawan itu tak puas-puasnya bermain curang dan menindas nelayannya dengan bagi hasil yang lebih rendah lagi, lima banding satu dan akhirnya enam banding satu. Dalam waktu begitu cepat hartawan ini pukul-memukul harga, tentu saja kaum nelayanlah yang menjadi korban.

Ketika perbandingan menjadi satu banding sepuluh dan para nelayan tak kuat lagi, ketika itulah muncul Kwee Han, seorang nelayan muda yang gagah berani. "Kita hentikan permainan curang kaum majikan ini. Semua mogok bekerja dan jangan menangkap ikan!"

Kaum nelayan ribut. Itu berarti fatal bagi mereka, periuk di rumah tak akan mengepul dan alamat anak istri mati kelaparan. Mereka bersuara gaduh, tentu saja ada yang setuju dan tidak setuju.

Ketika yang tidak setuju menentang pendapat Kwee Han, seorang laki-laki tua maju ke depan, Pwe lopek, kakek itu, mengacungkan tangan. "Kwee Han, enak saja kau menyuruh berhenti bekerja. Makan apa anak istri kami nanti? Minum apa mereka kalau berteriak haus? Kau mau mengajak kami menjadi perampok?"

"Kalian semua pindah pekerjaan, lopek. Banting setir dan tidak menangkap ikan lagi!"

"Bagus, kau mau mengajak kami merampok?"

Tempat itu geger. Debat yang dilancarkan Pwe-lopek ini benar, mereka mengangguk dan setuju. Keahlian mereka memang menangkap ikan, bertahun-tahun hidup sebagai nelayan, tak ada keterampilan lain. Tapi Kwee Han yang gagah berdiri di antara kerumunan teman-temannya menggeram, merasa dipojokkan.

"Lopek, kenapa hanya pikiran perut melulu yang ada di benakmu? Apakah aku menyuruh kalian merampok? Siapa bilang kita harus bekerja sebagai penyamun? Tidak, kita tetap mengerjakan pekerjaan yang halal, lopek. Dan jangan kalian kira aku akan menyesatkan kalian!"

"Tapi pekerjaan sekarang susah, di mana-mana kaum majikan selalu menolak!"

"Itu karena kebanyakan tenaga. Kita semua hanya memiliki keterampilan yang itu-itu saja, kita berbakat menjadi buruh! Siapa tidak tahu bahwa hal ini pun disebabkan kesalahan kita, sistem masyarakat kita yang ingin hidup melulu ketergantungan diri kepada majikan? Tidak. Kita harus merobah keadaan ini, teman-teman. Dan itu semua diawali dengan pemogokan kerja!"

Para nelayan kembali ribut. Waktu itu belum ada larangan mogok. Masalah ini masih belum meluas dan bersifat intern saja, baru terjadi di Ming-ciang itu. Pemerintahan di kota raja atau daerah belum ikut campur. Jadi apa yang diusulkan Kwee Han masih baru, baru kali itu didengar kaum nelayan.

Dan demi mereka menuntut apa yang dimaui Kwee Han sesungguhnya kalau bukan merampok atau menyamun, maka pemuda berkulit kehitaman ini berkata berapi-api. "Kalian semua tahu bahwa ini semua gara-gara Cu-wangwe. Dia semena-mena dengan kekayaannya, ia mentang-mentang dan menindas kita. Dan karena kita sudah dicekik dan juragan perahu yang lain hanya membeo dan menumpang sepak terjang hartawan itu, maka kalian kuajak mogok dan melakukan tindakan balasan. Tunjukkan pada semua juragan itu bahwa kita dapat hidup tanpa mereka, bahwa kita bukan tikus yang mudah diinjak dan dipermainkan. Bagaimana kalau kita bertani? Bagaimana kalau kita merubah haluan dan nasib kita sendiri?"

"Bertani?" Seorang nelayan tertawa, mengejek. "Kau mimpi, Kwee Han. Tak ada di antara kita yang memiliki tanah dan dapat bercocok tanam. Kau mengkhayal dan membual. Atau barangkali kau memiliki tanah ratusan hektar dan kini secara cuma-cuma hendak membagikannya kepada kami, ha-ha!"

"Benar!" Kwee Han tiba-tiba berteriak, mengacungkan tinju. "Kalian semua akan mendapatkan tanah itu, kawan-kawan. Dan satu yang dituntut dari kalian ialah kerja keras, Maukah kalian bekerja keras? Maukah kalian membabat hutan dan membuka lahan? Nah, di depan itu tanah harapan kita, teman-teman. Kita dapat bertani dan mencukup makan minum kita tanpa menggantungkan diri kepada majikan!"

"Membabat hutan?" Kaum nelayan terkejut. "Kau gila, Kwee Han? Kau mabuk?"

"Tidak, hutan itu adalah milik kita, teman-teman. Tanah dan seisinya ini adalah milik kita, rakyat! Kita dapat bertani dan membuka lahan itu."

Kaum nelayan geger. Mereka tiba-tiba gaduh dan melihat kesempatan baru itu, kebenaran itu. Ketika mereka ribut dan saling bicara sendiri, maka Kwee Han mengangkat tangannya lagi, tinggi-tinggi. "Kawan-kawan, bagaimana sekarang pendapat kalian? Salahkah bila kukatakan bahwa kita dapat merubah nasib dan hidup kita dengan cara seperti yang kusebutkan tadi? Kita sudah berbulan-bulan ditindas juragan perahu, kawan-kawan. Dan kita harus berontak dan berani meninggalkan mereka. Hidup tidak melulu dengan menangkap ikan saja, banyak jalan menuju keberhasilan asal kita mau bekerja keras! Ayo, siapa mau ikut aku? Siapa mau membabat hutan dan banting setir menjadi petani?"

"Aku..." "Aku..." "Aku juga!" Dan ketika susul-menyusul teriakan para nelayan itu gembira menyambut ajakan Kwee Han, maka yang lain-lain, yang tadi merasa ragu dan mengejek pemuda itu tiba-tiba tergerak dan ikut-ikutan mengacungkan tangan. Mereka dapat melihat itu dan sebuah kehidupan baru menantang mereka, mereka akan bekerja keras dan membabat hutan. Dikerjakan secara beramai-ramai tentu asyik dan menyenangkan.

Ketika hari itu Kwee Han berhasil mempengaruhi teman-temannya dan seluruh nelayan mogok bekerja, maka para juragan perahu menjadi ribut dan gempar. "Kami siap meninggalkan kalian daripada ditindas seperti anjing. Biarlah kami memulai hidup baru dan bekerja dengan lebih terhormat, toh kami adalah manusia yang layak hidup pantas dan bukan binatang!" Begitu rata-rata jawaban mereka.

Para pemilik perahu tertunduk, mula-mula tak percaya namun akhirnya melihat kesungguhan itu. Kebulatan tekad dan mata yang bersinar-sinar dari buruh nelayan yang berhasil dibangkitkan semangatnya oleh Kwee Han itu memang tak main-main. Mereka siap meninggalkan pekerjaan lama berganti dengan pekerjaan baru. Membabat hutan, bercocok tanam, dan Kwee Han berjanji akan membantu mereka dalam masalah ini, pemuda itu mempunyai teman yang dapat menuntun mereka sebagai petani mahir. Kwee Han memang dikenal sebagai pemuda yang banyak bergerak, aktif dan beberapa di antaranya adalah petani yang tinggal di luar Ming-ciang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment