Chapter 03
Petani sahabat-sahabat Kwee Han itulah yang akan membantu. Kwee Han orang kecil, memang sahabatnya terdiri dari orang-orang kecil pula. Dan ketika seminggu para nelayan itu mogok, entah dari mana Kwee Han mampu menyumbang makan minum untuk temannya sebelum mendapat penghasilan, maka pemilik perahu dan juga Cu-wangwe mencak-mencak.
"Keparat, siapa Kwee Han itu? Orang macam apa dia?" "Dia nelayan sederhana, wangwe. Memiliki sebuah perahu sendiri, namun butut." "Hah, dan sekarang mengacau dengan pemogokan massal?" Kami tak berdaya, mereka telah pergi dan terpengaruh pemuda itu." "Keparat, siapkan kereta. Biar aku menghadap Lie-taijin!" Cu-wangwe marah, berang, dan minta disiapkan sebuah kereta, di mana kemudian dia buru-buru menghadap Lie-taijin, kepala atau pemimpin daerah itu, Walikota Ming-ciang.
Dan ketika hartawan itu melaporkan tindakan Kwee Han dan betapa seluruh kehidupan nelayan berhenti total, maka pemilik perahu yang lain, yang diajak hartawan itu untuk membumbui dan memanaskan keadaan, disambut kerut dalam oleh pembesar ini, menyuruh panggil pemuda she Kwee itu. "Panggil dia, biar kuminum penjelasannya." Kwee Han menghadap. Dengan tenang dan sedikit pun tidak takut, pemuda itu dihadapkan dengan Lie-taijin dan pihak "oposisi", rata-rata semua mata melotot memandangnya dengan gusar. Cu-wangwe apalagi.
Dan ketika pemuda itu ditanya dan ganti berganti mendapatkan serangan gencar, maka pemuda ini, yang juga mengajak beberapa temannya untuk mendatangi hartawan-hartawan itu, lalu berkata. "Taijin, kami semua dengan juragan-juragan perahu tak ada ikatan resmi. Boleh kau tanya mereka itu. Sekarang kalau kami meninggalkan mereka, bukankah tak perlu mereka marah-marah? Lihat dan tanya mereka, taijin, apa jawab mereka kalau kami menuntut imbalan yang pantas? Tentu akan dijawab boleh kami pergi kalau kami tak suka. Nah, sekarang kami pergi, kenapa marah? Bukankah kami tak bersalah?" "Tapi mereka meninggalkan hutang, bocah she Kwee. Puluhan buruh nelayanku membawa hutang!" Cu-wangwe membentak. "Itu dapat diatur," Kwee Han tenang-tenang saja. "Kami bukan sebangsa manusia yang tidak bertanggung jawab, wangwe. Kalau kami berhasil dengan membuka lahan itu, tentu kami akan membayar dan melunasinya."
"Tapi hutang mereka berbunga! Kapan akan dibayar?" "Kami akan membayar sesuai kemampuan kami, wangwe. Dan masalah bunga juga dapat diatur." "Keparat kau pandai bicara dan main aturanmu sendiri. Kau pengacau, kau patut ditangkap!" Dan Cu-wangwe yang marah berseru pada Lie-taijin, lalu menyuruh tangkap pemuda itu, memberi tanda, dan juragan-juragan yang lain mengangguk. Mereka tentu saja setuju kalau Kwee Han ditangkap.
Tapi Kwee Han yang mengedikkan kepala berseru lantang, tiba-tiba membentak, "Cu-wangwe, jangan kau sombong. Sebenarnya kalau bukan karena kau, tak mungkin semuanya ini akan terjadi! Lihat, siapa yang mulai membuat gara-gara? Siapa yang menurunkan tarif seenaknya? Kaulah, wangwe. Kau memeras dan menindas buruh-buruhmu. Kau menimba keuntungan besar dari keringat buruhmu dan terus menekan mereka. Bagi hasil kau atur seenak perutmu, kau tak menghiraukan mereka, dan berkali-kali menantang mereka untuk keluar kalau tak setuju dengan tindakanmu. Sekarang mereka keluar. Sekarang mereka tak mau menangkap ikan lagi dan akan memulai hidup baru, bertani. Kenapa kalian sewot dan gusar? Lie-taijin boleh saja menangkap aku, wangwe, tapi seluruh temanku akan berontak dan membuat kekacauan lebih besar. Ya, mereka akan melawan dan tak mau lagi diperas dan dihina!"
Dan Kwee Han yang memaki habis-habisan hartawan itu dan berkobar, meneriakkan kata-katanya, lalu disambut suara hiruk-pikuk di luar, dan para nelayan yang mengikuti pemuda ini ternyata bersorak, mendengar, dan menyetakan setuju, dan Cu-wangwe serta lain-lainnya tentu saja puat. Mereka tiba-tiba seolah-olah ditantang oleh buruh mereka. Bukan main!
Dan ketika Cu-wangwe melotot dan Lie-taijin bergerak menyuruh pengawalnya mengamankan pemuda itu, maka Ming-ciang geger ketika para nelayan minta agar Kwee Han dibebaskan. Mereka tak mau pemuda itu ditangkap. Selama seminggu ini, kaum nelayan merasa berhutang budi besar kepada Kwee Han. Pemuda itulah yang menghidupi mereka selama ini, memberi makan minum, juga anak isteri mereka!
Dan ketika nelayan ribut-ribut dan Cu-wangwe serta pemilik perahu yang lain terbelalak memandang Lie-taijin, maka buruh nelayan tiba-tiba memasuki gedung dan minta agar Kwee Han dibebaskan. "Bebaskan Kwee Han, atau gedung ini kami bakar!" "Ya, bebaskan Kwee Han, taijin. Atau gedung orang-orang kaya akan kami bakar semuanya!" Dan ketika ribut dan gaduh itu semakin memuncak, dan Lie-taijin ternganga melihat perlawanan kaum buruh, tiba-tiba seseorang sudah menyulut api dan mau membakar gedung pembesar itu!
"Hei, jangan. Tunggu!" Orang itu disergap. Pengawal Lie-taijin sudah bergerak cepat dengan menghantam orang ini, orang itu roboh, dan mengaduh. Tapi ketika nelayan yang lain marah dan berteriak melihat temannya dipukul, tiba-tiba kaum buruh ini meluruk, dan sudah menyerang si pengawal. Kekacauan terjadi. Kaum nelayan bagai api disiram minyak, selama ini mereka sudah memendam bibit kebencian. Teman mereka yang dipukul dan disergap tadi membuat mereka naik pitam.
Maka begitu si pengawal merobohkan dan menghajar teman mereka, mendadak ratusan buruh menerjang dan menubruk maju. "Bunuh... hajar pengawal itu!" Kekalutan terjadi, kemarahan kaum nelayan meledak dalam bentuk kasar. Mereka sudah menangkap dan menghajar pengawal itu, dipukul beramai-ramai, tentu saja pengawal yang lain tak terima, dan mereka itu membela teman mereka. Pengawal yang melawan dan meronta-ronta di tengah kerumunan kaum nelayan, babak belur, dan sebentar kemudian bentrokan fisik tak dapat dihindari. Kaum nelayan berkelahi melawan para pengawal.
Cu-wangwe dan teman-temannya buru-buru menyingkir dari amukan buruhnya itu. Keadaan memang berbahaya. Amukan kaum nelayan dapat menjadi ajang pembunuhan, tentu saja Cu-wangwe pucat. Dan ketika para pengawal justeru dihajar dan dikeroyok kaum nelayan yang jumlahnya lebih banyak dari mereka, maka Lie-Taijin berteriak teriak agar kerusuhan diakhiri. "Hei... kalian berhenti. Jangan ribut!" Namun, suara pembesar ini tidak digubris kaum nelayan, justeru semakin kelap. Mereka mengamuk dan memukuli pa saja. Kebencian kemarahan selama ini tiba-tiba seolah-olah pelampiasan, para pengawal yang lain buru-buru menyelamatkan diri dan lari. Mereka benar-benar dapat dibunuh, keberingasan kaum nelayan itu tak lagi terbendung.
Dan ketika Lie-taijin coba melerai, kaum nelayan melihat pembesar itu, mendadak mereka lari, dan malah menghambur ke arah Lie-taijin. "Lie-taijin, antek Cu-wangwe! Bunuh dia..." Lie-taijin pucat. Kaum nelayan yang maju menuju dirinya, dan kini mau menyerang, tiba-tiba tanpa sadar dia terkencing-kencing, dan tentu saja memutar tubuh, siap menyelamatkan diri.
Tapi sebuah tangan kuat yang mencengkeramnya mendadak membuat pembesar ini tertegun. "Kau masih mau menangkap aku, taijin? Kau ingin kekacauan lebih besar lagi? Teman-temanku hanya aku yang dapat meredakan, terserah kau mau menuruti nasihatku atau tidak!" "Ah, ya... ya... Kau bebas, aku tak jadi menangkapmu! Tolong redakan kemarahan teman-temanmu itu, dan suruh mereka berhenti!" Kwee Han, yang mencengkeram pembesar itu, tak bergerak. Tali ikatan tubuhnya sudah buru-buru dilepaskan Lie-Tai-jin, kini pembesar itu berlindung di punggung pemuda ini. Lucu melihatnya.
Dan ketika Kwee Han membalikkan dan mengangkat tangan nya tinggi-tinggi, menunjukkan diri nya bebas, tiba-tiba pemuda ini berseru kuat dan nyaring. "Kawan-kawan, berhenti. Lihat. Lie-taijin telah membebaskan aku, dan jangan berkelahi lagi. Berhenti, jangan menyerang..." Kaum "demonstran" berhenti. Mereka telah mendengar seruan Kwee Han itu, melihat pemuda itu bebas.
Tapi belasan nelayan yang telah membiru dan mau menyerang Lie-taijin tiba-tiba berteriak. "Kami boleh berhenti, Kwee Han. Tapi serahkan Cu-wangwe!" Lie-taijin itu, dia sahabat dan pelindung. Lie-taijin gemetar. "Kau tolonglah aku, Kwee Han. Jangan teman-temanmu menangkap aku!" Kwee Han mengangguk. "Tunggu...!" Serunya. "Kalian dengarkan aku, kawan-kawan. Lie-taijin memang sahabat Cu-wangwe, tapi bukan dia musuh kita. Dia aparat pemerintah, kita harus menghargainya, dan dengarkan kata-kataku. Sekarang Cu-wangwe telah melarikan diri. Aku tak jadi ditangkap, dan jangan kalian ribut. Apa yang sudah terjadi, biar dibuat pelajaran, dan kita minta Lie-taijin bertindak adil!"
Lalu memandang pembesar itu, Kwee Han bertanya. "Taijin, kau tentunya tahu bahwa selama ini Cu-wangwe dan juragan-juragan lain selalu memeras kami, para nelayan. Tentu sudah kau ketahui, bahwa Cu-wangwe mencekik buruhnya dengan upah yang kecil, kenapa kau diam saja, dan tidak menolong?" "Ah-ah, aku tak tahu... aku tak tahu..." Pembesar itu buru-buru menjawab. "Aku tak mendapatkan laporan atau berita mengenai ini. Kwe Han. Baru sekarang kudengar, dan tahu-tahu kalian sudah membuat onar..." "Kami tidak membuat onar, Cu-wangwe itulah biang keladinya!" "Ya, ya, aku keliru. Cu-wangwe biang keladinya."
"Dan tindakan apa yang sekarang akan kau lakukan?" "Apa yang kalian minta?" "Cu-wangwe diseret ke sini, taijin. Suruh dia meminta maaf, dan merubah perbuatannya yang menindas!" "Ah, tapi..." "Tapi apa!" Kwee Han tertawa mengejek. "Kalau begitu, teman-temanku yang akan menyeretnya ke sini, taijin. Dan kami dapat menyuruh dia mengubah sepak terjangnya di depanmu!" "Tidak, jangan... aku, a..." Lie-taijin bingung, teringat bayangan menteri Khek, dan dia ketakutan. Tentu saja takut karena itu akan mengancam kedudukannya. Keributan bisa terjadi lagi, dan dia dipaksa memilih. Dan karena Ci-wangwe selama ini banyak memberikan kebaikan, dan dia berhutang budi, maka pembesar itu di persimpangan jalan, dan bingung untuk menetapkan sesuatu, memenuhi kehendak Kwee Han, atau kah membiarkan saja pemuda itu bersama kawannya menangkap Cu-wengwe. Ini berarti lembaran baru.